Aku Malu Jadi Ibu

Mestikah aku berdarah-darah berkisah tentang Ibuk (lagi)?

Meski aku tahu tak pernah cukup kata-kata menceritakan tentang Ibuk. Bahkan sampai sekarang setelah sekian lama aku jadi ibu, Ibuk tetaplah ibu bagiku. Dan aku tetap anak perempuannya yang bengal.

Akhir-akhir ini, di banyak momen di hari-hariku, aku diam sejenak mengingat Ibuk. Ketika bangun di pagi hari, aku mengingat Ibuk yang pada jam sama pasti sudah selesai menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Ketika melemparkan baju kotor ke dalam mesin cuci, aku mengingat Ibuk yang sering harus mencuci malam-malam. Dengan air yang harus ditimba seember-demi seember dari sumur. Karena pagi sampai siang dia mengajar. Dan kadang banyak hal lain harus dikerjakan sepulangnya.

Ketika sakit aku ingat Ibuk. Ketika makan aku ingat Ibuk. Ketika bercermin memakai baju sebelum berangkat berkerja aku ingat Ibuk.

Ibu apa lah aku ini dibanding Ibukku.

Lalu aku menghibur diri dengan melihat anak-anakku. Kebutuhan sandang pangan juga hiburan mereka tercukupi. Mereka belajar di sekolah terbaik yang bisa aku berikan.

Lalu aku pamer di blog tentang kehebatan anak-anakku. Aku memajang keceriaan dan kehebatan mereka seperti lukisan di dinding ajang pameran. Yang juara kelas. Yang juara lomba ini itu. Yang pinter main musik. Yang kreatif. Yang rajin membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Sebenarnya dengan sadar aku sedang menutupi segala kekuranganku menjadi ibu. Yang masih sering egois mementingkan kesenangan sendiri. Yang masih sering mengabaikan anak. Dengan memamerkan kehebatan anak-anakku, sebenarnya aku juga sedang ingin dilihat sebagai ibu yang hebat, karena berhasil mendidik anak menjadi seperti itu.

Aku memamerkan ketabahan mempunyai anak yang berkebutuhan khusus. Memajang setiap kemajuan hasil terapinya, seolah itu adalah buah kesabaranku.

Sedang sebenarnya aku sering tertekan dan mungkin depresi. Mengutuki diri sendiri karena kesalahan yang sampai mati aku sendiri tidak akan sanggup memaafkan — apa lagi anakku.

Aku menggambar citra di mana-mana bahwa aku ini ibu ideal pujaan anak-anak. Yang melimpahkan cinta tiada habis dan mendapat balasan cinta yang sama. Seolah aku ini ibu bijak yang memberi ruang pilihan terarah pada anak-anakku. Seolah aku ini ibu yang demokratis, yang selalu mengajak mereka duduk bicara dari hati ke hati.

Sedang sebenarnya segala kehebatan anak-anakku adalah milik mereka. Hanya Tuhan dan aku sendiri yang tahu ibu macam apa aku ini.

Aku malu jadi ibu. Karena asal-asalan menjadi ibu. Karena tidak bisa menjadi ibu yang lebih baik, sebaik yang seharusnya aku mampu.

16 thoughts on “Aku Malu Jadi Ibu

  1. Nenek, yang mengasuhku sejak bayi, selalu bilang; “kowe, ora nurun mamakmu blas. cah wedok kok ora iso masak, ora gelem ngurus omah”
    *tutup muka pake bantal*

  2. Setelah jadi ibu, barulah kita sadar betapa beratnya perjuangan seorg ibu dlm membesarkan anak2nya. Bagiku, mamaku betul2 luar biasa. Dan aku? Mungkin cuma seujung kukunya, belum bisa menjd mama yg terbaik buat anak2ku *merenung

  3. “Sedang sebenarnya segala kehebatan anak-anakku adalah milik mereka. Hanya Tuhan dan aku sendiri yang tahu ibu macam apa aku ini”
    langsung meleleh saya mak…I feel you soo much…

  4. Tulisan yang bikin saya tercenung. Kelemahan kita dalam banyak hal termasuk kesabaran dan sebangsanya dihadapan tugas2 besar sbg ibu semoga membuat kita paling nggak selalu bersemangat utk mau terus belajar menjadi lebih baik.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s