Bangun Tengah Malam

Tidak. Ini bukan cerpen atau puisi. Ini cerita tentang puisi Irwan Bajang, berjudul Bangun Tengah Malam, yang kulagukan bersama Iwan dan Ipank.

Cerita berawal dari selewat wara-wara di twitter tentang lomba musikalisasi puisi tanggal 20 Desember 2013 lalu, Musim Para Penyair, yang diadakan Indiebookcorner bekerja sama dengan Warkopbardiman. Menarik. Apalagi selama ini aku belum pernah ikut lomba semacam ini. Secepat aku sempat, aku download materi yang menjadi bahan lomba. Ada 4 file pdf buku puisi milik Irwan Bajang, Bernard Batubara, Mario Lawi, dan Nanang Suryadi. Aku sengaja hanya mengambil dua buku. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak mau dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Makin banyak buku yang aku buka, pasti makin banyak puisi yang menarik untuk dimusik-kan. Dan aku akan makin bingung.

Jadi setelah scroll-scroll  file Bernard dan Irwan Bajang, aku memilih dua puisi dari masing-masing penyair. Hal pertama yang aku perhatikan dalam memilih puisi yang hendak kumusikkan, adalah tipografinya. Baru kemudian aku lihat isinya. Jika tipografinya asik tapi isinya tidak asik, tidak jadi lah kupilih.

Aku punya kebiasaan, menulis dengan tangan puisi-puisi yang hendak kulagukan. Dari empat puisi yang kupilih itu, Bangun Tengah Malam yang pertama kali kusalin. Pada saat menulis larik pertama, ‘bangun tengah malam’, di benakku langsung mengalir nada untuk kalimat itu. Aku sempat berhenti sejenak sebelum lanjut menulis. Terus terang ini aneh, belum pernah begini. Aku menuliskan baris berikut dan berharap ada nada lagi muncul. Ternyata tidak. Tapi… karena sudah muncul nada, setidaknya di baris pertama, aku memutuskan memilih puisi ini dan mengabaikan tiga lainnya. Aku bahkan lupa yang mana, tiga itu.

Boleh dibilang, keinginanku mengikuti kompetisi ini lebih karena ingin terlibat dengan pelaku musikalisasi dari luar Semarang. Bukan menargetkan kemenangan atau hadiah. Melagukan puisi sejak 2010, selama ini aku dan teman-teman rasanya hanya uplek-uplekan di seputar Semarang, Kendal, Kudus, Pati. Sampai-sampai ada yang menjulukiku ‘jago kandang’. Memang bersama Atisejati aku bisa ke Solo dan Yogya. Tapi itu beda…

Ini benar-benar proyek kebut-kebutan. Dua hari membuat komposisi, satu hari latihan, dan besoknya direkam. Akhirnya ‘Bangun Tengah Malam’ launch di soundcloud. Sungguh lucu, ketika aku mengabari si empunya puisi, aku ditanya apakah aku sudah mendengarkan musikalisasi atas puisi yang sama, di CD yang disertakan dalam buku Kepulangan Ke Lima. Loh. Jadi puisi ini sudah dibuat musikalisasinya? Aku baru tahu. Tentu saja belum pernah dengar. Kubilang: nanti mas, kalau aku menang kompetisi ini, aku akan pakai hadiahnya untuk beli buku dan albumnya.

Sebenarnya, aku tidak pernah pede ikut lomba yang penilaiannya dengan vote dari pemirsa. Untungnya di Musim Para Penyair, vote hanya diberi porsi 25%, sedang 75% penilaian dari juri. Meskipun begitu aku tetap rajin promosi ke sana kemari. Tiap hari pasang link di FB dan Twitter. Bahkan memberanikan diri njawil teman-teman dan terus terang minta dukungan. “Tolong putar ya, tinggalin komen, tinggalin hati….” Aduh.  Jan-jane aku rikuh kalau disuruh melakukan ini… Alhamdulillah aku punya teman-teman baik yang dengan senang hati memberi dukungan. Terima kasih semua. Maaf ya kalau ngiklannya kelewatan…

Setelah sempat diundur seminggu, akhirnya Sabtu, 18 Januari 2014 diumumkan juga hasil lombanya. Juri memilih Bangun Tengah Malam-ku menjadi pemenang lomba. Bersyukur banget. Apalagi saingannya datang dari mana-mana. Yogya, Gresik, Bali, Surabaya. Senang. Tapi kemudian sebal. Sebal yang sekaligus senang. Piye jal. Panitia mengundangku untuk hadir di malam puncak Musim Para Penyair. Untuk menerima hadiah, sekaligus perform beberapa lagu. Senang karena diundang. Sebal karena mendadak. Tapi tetap menang senangnya sih…

image

image_1

MPP3

Jadi kemarin, berangkatlah aku bersama Iwan dan Ipank dan Lulu, menghadiri malam penganugerahan pemenang lomba musikalisasi dan baca puisi di Musim Para Penyair. Ketemu langsung dengan (dan mendapat buku bertanda tangan) penyairnya . Dan yang  lebih menyenangkan adalah perasaan baru yang muncul karena tampil di depan audiens yang benar-benar baru. Berkenalan dengan teman-teman baru. Lihat, aku bukan jago kandang😀

Musim Para Penyair yang mengajak kita merayakan puisi dengan gembira ini menyenangkan. Menjadikan puisi bukan lagi hal yang mengajak kita berkerut dahi. Serius tapi terasa ringan. Kita diajak belajar mengenal, menulis, membaca, dan mengapresiasi puisi dalam bentuk karya yang berbeda. Mudah-mudahan terus berkelanjutan dan lebih meriah lagi.

Bagi yang belum mendengarkan, atau ingin mendengarkan lagi, atau ingin download supaya bisa didengarkan lagi dan lagi, silakan kunjungi soundcloud-ku.

Terima kasih Mas Irwan, Bagustian, Warkopbardiman, kawan-kawan di Yogya. Semoga bisa jumpa di lain kesempatan.

4 thoughts on “Bangun Tengah Malam

  1. Mbak, aku sudah dengarkan ini di Soundcloud. Mengingatkanku akan Ully Sigar Rusady, hihihi.. Nggak pa-pa ya aku bandingin dengan Ully?

    Oh ya, mungkin akan lebih impresif kalau aku nonton video performanya. Apakah Mbak seekspresif suaranya?

    • dibandingin dengan Ulli itu kehormatan buatku hahaha… gapapa lah…

      sudah ada beberapa video performku di youtube sih kalau mau lihat😀

  2. Pingback: Swaranabya: Bukan Hoki Karena Nama Baru | kata dan rasa

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s