Petir

Ada semacam indikator baterai menyala di sisi kiri layar. Layar yang seolah menempel di wajahku, aku bisa melihatnya (aku tak bisa mengalihkan pandang) ke arah mana pun wajahku berpaling.

Sementara keresahan tumbuh dari sudut-sudut layar yang lain. Seperti jamur di pinggiran langit-langit atap yang lembab. Kuhapus tak hilang, kuusap tak lenyap. Di luar, hujan masih mendendangkan gemuruh. Seperti seiya dengan gemuruh di dalam rongga kepalaku. Di dadaku. Lamat-lamat dari kejauhan kudengar suaraku sendiri melantunkan kesepian. Timbul tenggelam oleh tawa yang sesekali menggema. Berebut ruang dengan jeritan biola yang tercekik penyesalan.

Indikator baterai itu terus berkedip. Tinggal segaris tipis berteriak minta diisi. Diisi apa? Layar makin redup. Bukan gelap. Mungkin mataku mulai lamur. Atau warna-warna mulai luntur. Ada asap. Atau kabut. Atau kabut asap. Sesak.

Petir.

Layar di mataku pecah terbelah. Hangus. Aku melihat isi kepalaku: telur ceplok setengah matang.

Advertisements

2 thoughts on “Petir

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s