Malam Puisi Semarang 3: Cinta Untuk Semua

Meskipun ini sudah gelaran yang ke-tiga di Semarang, baru kali ini aku menuliskannya di blog. Maklumilah blogger dong-dongan macam aku. Dong rajin, dong males, dong serius, dong slengekan.

flyer

Malam Puisi Semarang adalah bagian dari Malam Puisi, sebuah gerakan ‘mari mencintai puisi secara sederhana’ yang dimulai di Bali oleh Commaditya dan kawan-kawan. Setelah Bali, kemudian muncul Malam Puisi ‘cabang’ di banyak kota. Jakarta, Surabaya, Balikpapan, dan seterusnya. Aku tidak tahu dengan pasti, Semarang menjadi kota ke berapa, yang ikut mengadakan gerakan ini. Konsep acara ini begitu sederhana dan (mestinya) kompatibel untuk semua. Kita berkumpul, membaca (dan mendengarkan) puisi. Kadang diselingi diskusi. Ada yang menyanyi. Tidak perlu khawatir dianggap ndak paham puisi. Yang ‘amatir’ atau ‘profesional’ boleh datang dan berpartisipasi.

Berawal dari saling mention di Twitter, bulan Oktober 2013 lalu Dhanang, Zenna, Mega, Indra dan aku mencoba untuk ikut menjadi bagian dari Malam Puisi. Dengan segala keterbatasan kami mencoba membangun wadah sederhana bagi pecinta puisi, untuk berkumpul dan saling berbagi merayakan puisi. Beruntunglah di Semarang masih ada Taman Budaya Raden Saleh yang memberikan ruang (walaupun seadanya) bagi gerakan seni dan budaya. Maka digelarlah Malam Puisi Semarang 1 yang dihadiri lebih dari seratus audiens. Wow. Malam Puisi Semarang 2 digelar bulan Desember 2013 bertema ‘Ibu’. Pesertanya tidak sebanyak yang pertama namun tetap syahdu…

#LovePoetry: Cinta Untuk Mendiang Suami, Mantan, Gebetan, Idola, Ayah, Ibu, Hingga Negeri.

Khusus edisi bulan Februari, Malam Puisi diadakan serentak di 24 kota dengan tema Love Poetry. Barangkali ini dipas-paskan dengan tanggal 14 yang katanya hari kasih sayang. Banyak juga yang jadi enggan karena merasa ini dikait-kaitkan dengan Valentine yang, oleh sebagian orang diyakini haram, minimal tidak benar.

zenna-karlina

Zenna dan Karlina membuka acara

Well, itu ketetapan hati masing-masing ya. Aku sendiri juga tidak merayakan Valentine atau hari kasih sayang. Jika aku tetap ikut dalam acara ini, ya aku anggap saja memang kebetulan tanggalnya pas, temanya pas. Karena kita bisa memilih memaknai cinta dalam arti lebih luas. Bukan terpaku pada ‘love’ dan ‘make love’ yang menjadi dasar anggapan perayaan ini sebuah ketersesatan.

Buktinya di Malam Puisi Semarang kemarin, cinta hadir untuk banyak arah.

audiens

Dhanzo bukan cuma penyair ternyata, dia juga fotografer…

Salah satu yang mengharukan adalah, seorang Eyang datang jauh dari Temanggung bersama putrinya. Ibu Leila, seorang penyair, membacakan puisi yang beliau tulis untuk mendiang suaminya tercinta. Aku mendengarnya sampai berkaca-kaca.

leila

Eyang Leila…

Memang tidak bisa dihindari jika hadir puisi-puisi cinta akan kekasih. Misalnya Indra yang membawakan puisi ‘Kepada Hawa’ milik Aan Mansyur, yang dipersembahkan untuk T*****  nun jauh di sana. Sementara Deska membawakan puisi cinta yang ditulisnya sendiri, untuk orang-orang yang menyakitinya: Valentine, Cokelat dan Tisu.

indra

Indra dan Iwan. Kepada Hawa.

deska

Deska, ‘untuk orang-orang yang pernah menyakiti saya…’

Cinta pada kehidupan dibacakan Mbak Yani dengan puisi tulisan @sabdaliar, Malam Ini Aku Ingin Menjadi Dirimu. Ibit Sukma membawakan Darah Kerinduan untuk Ayah, puisi Devi Maya.

image

Yani: Malam Ini Aku Ingin Menjadi Dirimu

image_1

Aditya, menembus hujan abu dari Demak demi #LovePoetry

image_2

Mas Joko @sabdaliar yang selalu membacakan puisinya tanpa teks

ibitsukma

Ibit Sukma: cinta untuk Ayah

Ada yang istimewa dan so sweet banget tadi malam, ketika seorang penggemar Zenna membacakan puisi dalam bahasa Inggris, dan mempersembahkan setangkai bunga. Owh…

ramanzenna

Momen paling manis di Malam Puisi…

Yang tak kalah istimewa, pada Malam Puisi Semarang kali ini, juga hadir @absurdnation, sebuah band beraliran jazz yang digawangi Nanda Goeltom. Lagu-lagu manis yang dibawakan mampu menghadirkan romantisme yang lembut sekaligus riang. Dan bikin melted down to earth ketika Mas Nanda, sang vokalis, mengajak audiens menyanyikan Bagimu Negeri. Cinta banget Indonesia. Sayangnya Mas Nanda ndak terlalu hapal dan kebolak-balik liriknya. Piye to mas!

absurdnation

Absurd Nation, you’re absurd but we love you

Ada cinta lain yang dihadirkan di acara semalam. Donasi untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah erupsi Gunung Kelud. Kotak kardus air mineral yang diletakkan di tengah pendopo penuh oleh keikhlasan kawan-kawan Malam Puisi. Nanti, bersama-sama dengan donasi dari kota-kota lain, akan segera dikirimkan untuk yang membutuhkan.

latreenfriends

Ejangan diprotes, yang punya blog juga mau nampang. Latree&Friends membawakan ‘Bangun Tengah Malam’ karya Irwan Bajang

Aku pribadi, dan juga teman-teman ‘panitia’ menyampaikan terima kasih atas dukungan semua yang hadir. Special thanks untuk Absurd Nation dan Mas Nanda atas sumbangan sound system-nya. Juga Mbak Ika yang sudah membawakan kudapan, Mbak Niniek yang capek baru datang dari Yogya, dan kawan-kawan yang tidak dapat disebut dan disapa satu per satu…

Sampai jumpa di Malam Puisi Semarang berikutnya. Kapan? Err… itu tergantung mood panitia. Jadi silakan follow linikala @malampuisi_SMG supaya tidak ketinggalan info. See ya!

Advertisements

2 thoughts on “Malam Puisi Semarang 3: Cinta Untuk Semua

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s