Ngidam

Untuk Prompt #39 Monday Flash Fiction: Bowls of  Balls

========================================

“Aku mau bakso Mas. Bakso kuah dengan mi putih. Nggak pakai mi kuning.”

Lagi-lagi aku cuma bisa dheleg-dheleg. Sejak dipastikan hamil dua bulan yang lalu, sering sekali minta yang aneh-aneh. Katanya karena ngidam. Menurutku karena cari perhatian. Bagaimana lagi. Sebagai seorang buruh mebel penghasilanku sangat pas-pasan. Dengan akan hadirnya seorang anak banyak yang harus kupersiapkan. Biaya melahirkan, dan biaya-biaya lain setelah si kecil hadir.

Jadi aku selalu menjadi orang pertama yang siap lembur ketika order mebel tinggi dan dikejar tenggat. Kalau kebetulan tidak ada lembur dan aku terpaksa harus pulang tepat jam empat, aku cari tambahan dengan menarik ojek.

Begitulah. Maka paling tidak pukul sembilan aku baru sampai di rumah. Jadi kupikir, istriku memang hanya cari perhatian saja. Merasa diabaikan seharian.

“Mas….” Istriku merajuk lagi.

“Ini jam satu pagi Dik. Ke mana aku mau cari bakso dini hari begini?”

“Pasti ada. Pasti. Terserah carinya di mana. Kamu mau anakmu besok ngiler?”

“Ngiler hambok biar. Aku capek Dik. Dan ndak tahu harus cari bakso ke mana malam-malam begini…”

“Mas! Kamu tega…”

Lalu dia mulai menangis.

Aku beranjak menyambar jaket. Kukeluarkan sepeda jengki, lalu mulai mengayuh keluar gang sempit tempat tinggal kami. Tiga hari yang lalu dia minta pisang. Pisang matang yang tidak dimasak. Bukan pisang goreng. Pisang buah. Hampir satu jam aku mengayuh sepeda sampai keliling seputar pasar. Untung ada sebuah warung tegal yang hampir tutup. Aku sudah membayangkan wajah sumringah istriku melihat aku pulang membawa apa yang dia inginkan. Tapi ternyata dia tertidur menunggu di kasur. Dan ketika melihat pisang yang kubawa, dia cuma bilang ‘terima kasih’ lalu tidur lagi. Dan sampai sekarang belum disentuh sedikit pun.

Dan sekarang aku harus mencari bakso kuah dengan mi putih. Aku berharap ada toko 24 jam yang khusus menyediakan permintaan orang-orang ngidam.

Tapi yang ada di hadapanku adalah minimarket 24 jam biasa. Aku berhenti, minggir. Masuk. Mendekat ke kasir.

“Mas, ada bakso kuah dengan mi putih?”

Aku sudah siap jika si mas menjawab dengan sopan sambil menahan tawa, ‘Tidak ada, Pak,’ atau dengan jengkel berkata, ‘Ini bukan warung bakso Pak.’

“Ada Pak. Mari..”

***

Istriku sedang menikmati bakso kuah yang kusajikan. Tidak sia-sia perjuanganku kali ini.

Rupanya mas kasir minimarket itu pernah mengalami hal yang sama. Lalu dia mengambilkan untukku bakso kuah kemasan dari freezer, dan satu plastik kemasan kecil bihun kering yang kuseduh sebentar tadi sebelum kubangunkan istriku.

Advertisements

9 thoughts on “Ngidam

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s