Jalan Berliku Menuju Gossip

Laili sedang mengedit laporan yang diminta Bu Rini, dia tidak menyadari Widha yang  mengendap-endap berjalan menuju ke kursinya.

“Lel,” Widha menyentuh pundak Laili.

“Ya?” Laili sedikit terkejut.

“Ng… begini… tadi aku ke lantai satu, mencari Parjio… itu… Parjio kurir… ternyata dia nggak ada…”

Laili tidak berhenti mengetik, tapi mulai mengernyit. Ada apa dengan Parjio?

“Jadi aku tidak bisa menitipkan suratnya…”

Barulah Laili berhenti, lalu melihat ke arah Widha, “Surat apa?”

“Surat yang pajak-pajak tadi lho…”

Yang dimaksud Widha pasti lah formulir pendaftaran e-FIN, pajak online, yang harus diisi semua karyawan dan diserahkan secara kolektif ke bagian keuangan. Entah bagaimana Widha bisa tetap bekerja di sini. Mengurus surat pun sering tidak beres.

“Parjio itu kan saudaranya Bu Wati, Lel…” lanjutnya.

Laili mengerutkan dahi. Ini apa lagi, kenapa sampai ke Bu Wati?

“Trus kenapa?”

“Bu Wati kan cuti seminggu…”

“Iya aku tahu. Lalu apa hubungannya dengan surat pajak?”

“Parjio kayanya juga ngga masuk hari ini…”

“Iya trus kenapa?” Laili mulai geregetan.

“Ya kan aku ngga bisa ngasih suratnya ke Parjio..”

“Ya udah tunggu Parjio ada…”

“Parjio itu nggak masuk Lel…” sekarang Widha yang gemas, merasa Laili begitu bodoh, tidak mengerti maksudnya.

“Ya aku tahu… ya udah tunggu besok kalau Parjio masuk.”

Widha menghela napas, “Lalu surat ini? Bagaimana kalau telat?”

“Nggak papa. Besok nggak papa.”

“Bener?”

“Iyaaa…..”

Widha menyingkir membawa tumpukan formulir yang sudah diisi dan dikumpulkan.

Tidak ada lima menit, Widha mendekat lagi ke samping Laili, tanpa membawa berkas.

“Lel… ada yang bilang Bu Wati itu mantu…”

Laili menghela napas, “Mantu siapa?”

“Ya nggak tahu. Mungkin mantu Nita. Padahal Nita itu kan belum selesai kuliah ya Lel. Eh tapi kan dia juga punya anak tiri, bawaan suaminya…”

“Ya udah ya udah biarin aja. Mau dia mantu Nita, mau mantu anak dari suaminya, mau cuti seminggu itu ada acara apa terserah dia. Kita nggak dikasih tahu ya udah diem aja. Kalau Bu Wati pengin kita tahu nanti dia akan cerita. Kalau enggak ya biarin aja. Bukan urusan kita!”

“Eh.. ttap… tapi suratnya? Aku takut kalau disalahkan karena terlambat mengumpulkan… eh.. ini.. sebenarnya dikumpulkan ke mana ya??”

Widha tergopoh-gopoh kembali ke mejanya. Laili tengkurap di meja. Televisi yang biasanya menyala jika Bu Wati masuk memang hari ini bisu. Tidak ada berisik infotainment. Tapi rupanya bukan jaminan gosip berhenti mengusik telinga.

Advertisements

11 thoughts on “Jalan Berliku Menuju Gossip

    • nggak harus selalu ngetwist lah… yang wajib ngetwist itu kalau flash fiction kayanya…

      menurutku greget bukan selalu terletak di twist. misalnya di emosi pelaku yang diperkuat agar pembaca ikut teraduk emosinya… atau ya di ceritanya sendiri.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s