Atur Pangabekti dalam Sekantung Tas Kresek

Desa mawa cara. Setiap desa punya adat kebiasaan sendiri-sendiri.

Aku dan suami, berasal dari dua kabupaten yang bertetangga. Meskipun secara geografis kampung halamanku hanya berjarak sekitar 20km dari kampung halaman suamiku, nyatanya begitu banyak adat kebiasaan yang tidak kuketahui. Masa kecilku kuhabiskan di tempat yang bisa dibilang kota, walaupun kecil. Kampungku adalah kampung bentukan baru di tahun 70-an, yang semula adalah hutan. Kalau jaman sekarang semacam perumahan gitu, kira-kira. Orang-orang di tempat kami tinggal kebetulan kebanyakan juga pendatang. Bapak dan Ibukku, menurutku termasuk orang jaman dulu yang berwawasan luas, berpikiran terbuka, sekali gus demokratis. Banyak yang menurut mereka tidak harus dilakukan seperti kebiasaan. Karena tidak diajarkan, aku bahkan kesulitan mengingat apa sebenarnya adat kebiasaan yang spesifik di kampung kami. Yang jelas kuingat misalnya, nyadran, ziarah kubur sebelum bulan puasa. Bapak tidak pernah mengajarkan kami hal itu. Kami ziarah ke makam Simbah bisa kapan saja.

Berbeda dengan kampung halaman suamiku, banyak hal-hal kecil yang (awalnya) kuanggap tidak prinsip, namun ternyata bisa mengundang ‘kisruh’ jika diabaikan. Beberapa kali aku dianggap tidak sopan dan sombong karena tidak berlaku sesuai kebiasaan. Repotnya, tidak ada seorang pun dari keluarga (atau tetangga) suamiku yang mengajariku kebiasaan-kebiasaan kecil itu. Mungkin aku dianggap sudah tahu, mestinya hal yang sama juga diajarkan padaku oleh orang tuaku. Karena ternyata, di desa-desa kerabat suamiku yang jaraknya lumayan jauh tapi masih dalam satu kabupaten, kebiasaan yang ada kurang lebih sama.

Maka seiring waktu dalam beberapa bulan bahkan tahun, banyak hal yang kuamati, kupelajari, dan kusimpulkan sendiri. Misalnya ketika menyuguhkan minuman kepada tamu, air harus penuh sampai ke bibir gelas. Jika tidak, kita akan dianggap pelit. Oh wow. Padahal ibuku mengajarkan untuk mengisi gelas paling tinggi satu sentimeter dari bibir gelas. Bukan apa-apa, hanya untuk berjaga, supaya air tidak tumpah ketika kita berjalan membawanya dari dapur dan menyajikannya di meja.

Aku juga pernah ditegur karena menyajikan potongan brownies yang dianggap terlalu kecil. Itu juga diartikan pelit. Oh wow. Padahal aku memotongnya seperti wajarnya potongan brownies, kira-kira 4cm x 4cm. Lalu simbah memotong brownies itu sebesar dua kali lipatnya; sebesar ukuran biasanya Simbah menyajikan jadah. Hasil potonganku tidak boleh disajikan, “Ini buat kita makan sendiri saja.”

Banyak hal kecil semacam itu. Dan juga hal-hal yang menurutku kecil tapi bagi penduduk kampung suamiku adalah hal besar. Misalnya tentang memakai perhiasan emas. Kali lain akan kuceritakan, kalau ingat 😀

Atur Pangabekti dalam Gula Teh

Sekurang ajar-kurang ajarnya aku sebagai manusia, aku selalu berusaha menjaga sopan santun sebagai mantu. Walaupun banyak hal dan pendapat kadang tidak sejalan dengan mertua (dan embah mertua, terutama), aku berusaha ngerem agar tidak terjadi gesekan. Paling tidak berusaha diam agar tidak berbantah. Karena bagaimana pun keadaannya, mereka sudah menjadi orang tuaku juga.

Salah satu hal yang kujaga adalah rutin mengunjungi Simbah (mertua), sebisa mungkin sebulan sekali. Setiap kali berkunjung, kami membawakan Simbah barang-barang kebutuhan sehari-hari. Karena beras sudah selalu tersedia (Simbah selalu menyimpan sebagian hasil panen untuk dimakan sendiri), ya aku bawakan sabun, detergen, minyak goreng, telur, mi instan, dan kue-kue untuk cemilan.

Ternyata. Duh Gusti. Ada hal yang baru setelah bertahun-tahun kusadari, terlambat aku mengerti. Tidak lengkap walau kamu mau bawakan satu truk sembako, kalau kamu tidak bawa gula dan teh…

Ini baru kusadari beberapa bulan yang lalu, ketika aku diajak Simbah menjenguk salah satu Pak Dhe yang sakit. Iya, di keluarga suamiku, saudara jauh pun masih dihitung, sampai kadang aku ndak ngerti gimana hubungan persaudaraannya. Pokoknya itu Pak Dhe, itu Lik, itu Embah…

Waktu itu simbah pesan agar aku beli anggur hijau untuk Pak Dhe. Ya aku belikan. Dan kubawa waktu menjenguk Pak Dhe. Kuserahkan pada Budhe. Aku sangat akrab dengan keluarga Pak Dhe yang itu, sehingga sangat biasa kalau aku langsung menyusul ke dapur, membantu salah satu anak Pak Dhe membuatkan minuman untuk kami. Waktu itu lah, aku melihat Simbah menyerahkan sekantung tas kresek kepada Budhe, sambil mengatakan itu atur pangabekti dari aku. Iya, dari aku. Padahal aku tidak merasa membawa apa pun selain anggur hijau pesanan Simbah.

Dengan penasaran aku diam-diam mengintip isi tas kresek itu. Sekilo gula pasir dan satu bungkus teh.

***

20140302-140514.jpg

Ibukku mengajari aku untuk membawa buah tangan ketika mengunjungi orang tua. Tapi tidak harus gula dan teh juga. Ketika kutanyakan padanya tentang gula teh, ternyata itulah yang diajarkan secara turun temurun di banyak tempat seputar Surakarta. Jika orang yang kita kunjungi adalah orang yang lebih tua (atau secara garis keturunan lebih tua), itu adalah bentuk hormat bakti. Dan jika yang kita kunjungi adalah kerabat yang secara ‘awu’ selevel atau bahkan di bawah kita, itu berarti kita berusaha tidak merepotkan tuan rumah. Kita membawa sendiri gula dan teh, yang nantinya akan menjadi minuman yang disuguhkan kepada kita. Kebiasaan bergeser. Ada yang bisa menerima perubahan, ada yang menganggap kebiasaan lama itu adalah kepatutan yang tabu dilanggar.

Mendadak ada rasa malu yang sangat hebat kurasakan. Sudah berapa tahun aku jadi mantu desa itu, dan aku tidak pernah menyadari hal ini? Sudah berapa kali Simbah membawakan tas kresek berisi gula dan teh atas nama hatur baktiku setiap kali kami mengunjungi Pak Dhe, demi menjaga agar tidak ada anggapan aku ini orang yang tidak tahu sopan santun?

Aku lantas mengingat bagaimana, memang, keponakan-keponakan Simbah yang datang berkunjung juga selalu membawa tas kresek berisi gula dan teh. Bodohnya aku, ketika melihat lemari persediaan logistik Simbah penuh gula dan teh, aku malah berkomentar, “Kenapa sih semua orang bawa gula dan teh? Ini lihat, sampai selemari penuh.”

Hahahahaha…

Dengan polosnya aku berpikir, bahwa karena sudah begitu banyak gula dan teh, maka sebaiknya aku membelikan Simbah apa-apa yang belum ada. Ndak usah bawa gula dan teh, persediaan Simbah selalu berlimpah.

Dan kenapa Simbah tidak dari awal saja memberi tahu tentang ini? Kenapa garus diam-diam membawa kresek tambahan? Entahlah… semua kebiasaan benar-benar harus aku tangkap dan pelajari sendiri.

***

Sejak itu tidak pernah aku lupa. Sebanyak apa pun sembako yang aku bawa untuk Simbah, harus ada gula dan teh. Sudah cukup sekian tahun aku menjadi cucu mantu yang tidak pernah menghaturkan hormat bakti dalam sekantung tas kresek.

Advertisements

6 thoughts on “Atur Pangabekti dalam Sekantung Tas Kresek

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s