Kisah Serumpun Bambu *)

Tak ada ikatan seperti saudara kandung. Ikatan secara biologis yang tidak bisa dimungkiri, bahwa orang-orang yang hidup sebagai pribadi-pribadi yang berbeda, lahir dari darah yang sama. Aku tahu, ikatan darah tak selalu sebanding dengan ikatan rasa. Tak sedikit yang begitu sulit menjadi dekat lahir batin dengan saudara sekandung. Bahkan bermusuhan.

20140326-084917.jpg

ilustrasi oleh Mbakyuku. dia pengen pulang >.<

Pada setiap cerita yang masuk telinga di hari-hariku, aku bersyukur bahwa kami bersaudara tetap hidup sebagai saudara, meskipun mungkin tidak sempurna di mata sebagian orang. Sejak kecil sampai sekarang setelah kami bisa dibilang tua, persaudaraan kami penuh warna. Kami bukan orang-orang penuh kelembutan, yang mengisi hidup hanya dengan penuh senyum dan belaian. Kami bisa bertengkar. Saling berteriak. Banting pintu. Banting handphone. Melempar kata-kata yang menyakiti. Meskipun seingatku, belum pernah kami saling menyakiti secara badani. Tapi hal-hal seperti itu tidak pernah disimpan lama.

Barangkali itu hanya cara kami (yang terbentuk menjadi keras) untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran masing-masing, ketika suara pelan tidak sanggup menyampaikan. Lebih baik begitu. Toh akhirnya kami lebih suka kembali ke suasana tawa tanpa memendam apa-apa. Sungguh tak enak menyimpan perasaan dan pemikiran, tidak berani mengungkapkan, hanya karena takut dikatakan tidak sopan. Tidak hanya pada saudara, pada orang tua kami pun, kami selalu mengungkapkan apa yang kami pikirkan. Apa adanya. Dan berkah bagi kami, bahwa Bapak Ibu begitu terbuka menerima setiap pemikiran yang berbeda.

Kami mendapat cinta yang kurang lebih sama dari Bapak dan Ibu. Mungkin saja Bapak atau Ibu mencintai salah satu dari kami lebih dari yang lain. Tapi orang tua kami adalah orang hebat yang sanggup mengelola kecintaan mereka sehingga tidak pernah ada cemburu di antara kami. Ketika kami berlima telah menikah semua, anak Bapak Ibu menjadi sepuluh. Kami menjadi sepuluh bersaudara. Tidak ada (rasa) menantu. Tidak ada (rasa) ipar. Kadang aku merasa, Ibu lebih menyayangi suamiku ketimbang aku, hahaha…

Anak-anak kami, cucu-cucu Bapak Ibu, hidup lebih dari sekedar bersepupu. Anakku bisa mbingungi  kalau sudah rindu pada anak bungsu kakak sulungku. Melihat mereka bertemu bisa tertawa sampai berurai air  mata. Seperti yang perlahan menetes dari sudut mata mereka, ketika gembira saat jumpa, atau ketika harus berpisah dengan penuh enggan.

Di rumah kami ada jilbab besar yang sampai (hampir) menutup jari. Ada kerudung yang tidak pernah nyaman melewati bahu dan dipakai seperlunya. Ada kepala yang dibiarkan terbuka rambutnya ke mana-mana. Di rumah kami berkibar banyak bendera partai, juga bendera golput. Rumah kami penuh warna, dan tidak sekali pun warna-warna itu kami biarkan menjadi perusak suasana.

Kami tinggal terpisah di beberapa kota di Pulau Jawa. Tapi tidak pernah kami berhenti bicara. Selalu ada denting dari chat group  keluarga yang anggotanya adalah semua anak dan cucu Bapak Ibu (kecuali bayi-bayi yang belum diperkenankan memegang handphone). Kami jauh. Tapi dekat. Dan sebisa mungkin kami mengatur waktu untuk bisa semuanya bertemu.

Tulisan ini mungkin lahir dari rindu. Bulan ini ada tanggal merah dekat Minggu. Barangkali kami bisa merancang sebuah acara kemah atau naik gunung. Atau sekedar nglesot saja di teras rumah Bapak sambil main kartu.

*) Judul diambil dari judul sebuah sinetron di TVRI tahun 80-an.

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Serumpun Bambu *)

  1. semoga bisa ngumpul ya mbak… aku juga kalau jauh, suka kangen ma cici dan koko, walau pernah berantem, apalah sebagainya, sampai kadang aku mikir mama lebih sayang cici karena dia dokter, tapi aku selalu merindukannya juga hehehe
    rumah pasti ramai yah mbak kalo semua ngumpul.. satu yang tak bisa dibeli dengan uang.. kebersamaan

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s