Beli Atau Tidak.

“Itu pisangnya sesisir berapa?”

“Dua puluh Bu..”

“Kok cuma dua puluh, biasanya lima puluh?”

“Ah Ibu bisa aja…”

“Kamu ndak bawa duku?”

Ndak Bu… dukunya asem asem, ndak ada yang manis. Saya bawa intip, barangkali Ibu mau?”

“Berapa satu?”

“Empat ribu?”

“Hah, kok cuma empat ribu? Bukan lima ribu?”

Gadis penjual itu tersenyum lalu berlalu. Hari ini dia kurang beruntung. Tidak seorang pun membeli apa yang ditawarkan. Si Ibu mulai bicara pada kawan di sebelahnya.

“Jualan kok mahalnya ndak karuan. Semua orang bilang lho kalau memang mahal. Ya kan? Itu Retno pernah sampai komentar, mosok harganya kalah murah dengan Toko Ada, Makro…”

“Ya kan toko besar kulakannya skala besar Bu,” kataku, “dia bisa ambil margin laba paling rendah.”

“Tapi kan toko besar begitu operasionalnya  mahal. Pakai listrik, AC, bayar pegawai. Lha si embak itu paling-paling kan bayar angkot.”

“Kemarin jual apel fuji 35.000 sekilo. Aku beli di Pasar Prembaen cuma 25.000. Yah, emang keterlaluan aja ngambil labanya,” timpal sebelahnya.

Itu. Diulang lagi. Sudah sejak minggu lalu perbandingan harga apel itu diceritakan lagi dan lagi. Aku lihat sendiri kemarin di sebuah supermarket. Apel fuji ada macam-macam jenisnya. Yang merk ini memang 23.500 per kilo. Ada yang 30.000, dan ada yang 35.000. Seingatku, yang dijual si embak itu memang yang harganya 35.000.

“Padahal kalau mau mampir Pasar Bulu sebentar kita bisa dapat yang lebih murah dari pada di mbake itu. Tapi mampir sebentar aja kita sok males ya… hahaha…”

“Ya itu lah, dianggap aja selisih harganya upah dia nganter ke mari,” kataku.

“Si Emak telur belum kelihatan ya hari ini?” kata si ibu lagi, “apa ndak jualan dia?”

“Jualan,” kata yang lain, “tadi aku ketemu di bawah, aku pesen sejinah.

“Aku sudah kapok beli telur di emak itu. Barangnya jelek. Banyak yang busuk. Mbak Wiwik dulu aku ceritain ndak percaya. Dikiranya aku mengada-ada. Mbak Wiwik sih, sukanya ndak percaya kalau aku yang ngomong. Setelah dia mengalami sendiri baru percaya. Beli sepuluh yang busuk empat. Sudah komplen ke si emak. Bisa-bisanya si emak bilang ndak tahu, ndak sengaja. Malah katanya, kalau memang busuk suruh mbungkus, tunjukin ke dia, nanti ditukar dua. Yang bener aja. Ngapain coba, mbungkus telur busuk, nggilani…”

“Ya kalau mau beli lah, niatnya bantu dia biar dagangannya laku. Kalau ndak suka ya ndak usah bilang dagangannya jelek lah, harganya mahal lah… Aku menghargai orang yang mau kerja keras begitu, timbang yang ngemis di jalanan…,” lalu kupasang headset dan memutar musik paling berisik, agar aku tidak mendengar lagi lanjutan percakapan miring itu.

 

Advertisements

3 thoughts on “Beli Atau Tidak.

  1. kalau dagang barang misal buah2an yang tertutup, si pedagang sepertinya juga nggak tahu isinya seperti apa, kecuali dibuka satu-satu… tapi kalau dibuka semua, dianya dagang apa 😀

    • iyah… menurutku kalau sedikit lebih mahal ya ndak papa, wong barang diantar sampai ke hadapan. kita ndak perlu jalan panas-panas ke pasar… hehe..

  2. Yang jualan kurang pandai tuh, harga dimahalin padahal yg penting dapat langganan. Bolehlah mahalin tapi jangan terlalu jauh. Tapi gak bagus juga jelek2in orang lain berjualan, saya setuju.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s