KRAM

Pukul dua dini hari, perut berkeriyut. Aku bangun, beringsut. Kata Ibu, kalau perutmu mulai terasa perih malam-malam, kunyah nasi satu dua suap saja. Nasi saja. Aku pergi ke dapur.

Tapi kemarin sore kami tidak masak nasi, kami makan malam di warung bakso.

Aku kunyah biskuit marie dua biji. Dan dua sendok madu. Semoga keriyut perut ini berhenti. Kuambil air wudhu, sholat dan berdoa. Tuhan, kalau aku berdzikir lebih lama apakah akan kau hentikan nyeri perutku? Kudengar Tuhan tertawa geli. Aku berbaring menenangkan diri.

Adzan subuh. Perih itu makin naik ke ulu hati. Lambung diaduk. Tumpah pertama tepat ketika adzan selesai dikumandangkan masjid terdekat. Baiklah, aku minum obat  maag cair yang kutemukan di kotak obat.

Pukul setengah enam pagi. Anak-anak sudah selesai subuhan. Si kembar membuka pintu perlahan, “Ibu, kami mau pergi berenang bareng teman-teman…”

“Boleh Ibu minta tolong belikan obat di apotek?”

Mereka berpandangan.

“Tidak bisa telpon minta dikirim?”

Aku menggeleng. Petugas 108 bilang apotek di alamat itu tidak terdaftar. Berdua naik sepeda mereka membawa catatan tiga jenis obat yang dismskan dokter  kesayanganku. Aku menunggu, sambil muntah sekali lagi.

Suara teman-teman anakku memanggil di luar pintu.

“Mereka sedang ke apotek,” kataku, “tunggu sebentar ya.”

Mereka duduk menunggu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kembar hanya membawa selembar uang, bagaimana kalau kurang?

“Boleh Ibuk minta tolong?’ tanyaka pada dua kawan anakku itu.

“Ya boleh…” kata yang satu.

“Tolong susul kembar ke apotek ya, takut uangnya kurang…”

Berdua mereka jalan kaki menyusul anakku ke apotek.

***

Pukul setengah tujuh, empat anak laki-laki itu kembali. Membawa dua obat dari tiga yang kupesan.

“Yang satu tidak ada,” kata anakku, “tapi itu ada catatannya.”

Tersedia dalam kemasan patennya.

“Tolong belikan ya, yang ada di catatan mbak apotek ini,” pintaku memelas. Aku bisa melihat rasa enggan. Tapi aku tahu mereka kasihan melihatku yang baru saja muntah lagi.

“Kalau ada sisa uangnya boleh beli jajan?”

Aku mengangguk. Tentu saja boleh. Dan berempat mereka berjalan kaki, lagi, ke apotek. Berjalan kaki, dan hampir satu jam menunggu mereka kembali. Langsung kuminum obat yang dibeli penuh perjuangan dan rasa iba itu. Dan mereka berangkat berenang dengan berjalan kaki, lagi.

Pukul setengah delapan pagi, aku tumpah lagi. Kuraih handphone dan menelpon tetangga ujung blok, “Bu, mau temani aku ke rumah sakit?”

***

Seperti dejavu, seperti biasa. Petugas UGD bertanya aku kenapa, kujawab dengan semestinya. Dokter memeriksa, mengetuk-ketuk perut kembung.

“Disuntik ya?”

Ya, Dok. Suntik saja. Maka dua perawat datang menyibak lengan bajuku, mencari-cari  pembuluh darah di bagian dalam lenganku. Dua tusukan di lengan kanan nyasar karena pembuluh yang terlalu tipis dan kecil. Untunglah tusukan ketiga, yang terpaksa dilakukan di  lengan kiri, berhasil menyuntikkan 40 mg topazol dan 4 mg kliran.

Lima belas  menit kemudian, nyeri dan mual mereda. Ibu boleh pulang, kata Dokter.

Di perjalanan pulang aku mengirim pesan ke kawan-kawan di sana sini: maaf, aku tidak bisa berangkat untuk perform.

***

Pukul dua siang. Hujan. Di perutku tinggal sisa-sisa kram dan perih sesekali. Aku bisa saja nekat berangkat ke Malam Harmoni Puisi #BookLoversFestival. Tapi kurasa itu tidak terlalu bijaksana. Dokter bahkan menyuruhku untuk istirahat dan tidak ke kantor dulu besok harinya.

Kuketik sms ke violistku.

– Yoh, mangkat, aku digendong
+ Tak cangklek gelem ra?
– Gelem.
+ Ngko saben 10 meter mandheg, aku njaluk pijet.
– Yo siap.
+ Yowis, ngko sore tak ampiri rono.
– Ya, tak pakpung sik.
+ Pakpung sing resik ya.

Kuletakkan handphone dan tidur. Tidak pakpung, karena aku tahu dia tidak akan menjemput dan menggendongku berangkat ke Yogya. Istirahat saja, kata si Ladangsandiwara. Begitu lebih baik. Ya kan?

Advertisements

7 thoughts on “KRAM

  1. ” Kudengar Tuhan tertawa geli. Aku berbaring menenangkan diri.” –> saya kurang sreg dengan kalimat tersebut karena mempersonifikasikan Tuhan 😀

    • iya mas ndakpapa kalau njenengan ndak sreg. aku tidak bermaksud menyamakan-Nya dengan kita, tapi aku menganggap Tuhan bisa diajak bercakap, jadi tempat mengadu. maka kubayangkan dia bicara padaku, dan juga tertawa mendengar keluhanku. begitu caraku bisa merasakan kehadirannya dekat denganku 🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s