Memori Hape Pertama

Sesungguhnya ini adalah postingan yang akan menyibak tabir usia. Tapi siapa peduli, ada kenangan yang kita akan selalu ingat dan dengan senang hati membaginya dengan orang lain.

Aku tidak tahu seberapa banyak orang masa kini yang tahu, pernah ada handphone seperti ini:

henpon

Gambar dipinjam dari sini.

 

Dulu aku malah tidak memperhatikan serinya apa, selain bahwa merknya Motorola. Baru tahu sekarang ini karena googling gambarnya. MicroTAC 9800x. Kabarnya, itu first handphone ever  yang benar-benar pas di genggaman dan bisa masuk saku jaket. Diproduksi tahun 1989 dan aku memilikinya pada tahun 1999. Sepuluh tahun kemudian. Buset. Sedang sekarang tiap bulan keluar bermacam handphone jenis baru.

Hape pertamaku ini lungsuran dari suamiku, yang ganti hape GSM dengan merk yang sama. Dulu beli seken harganya 150 ribu. Lumayan berat. Kayanya ada deh kalau 200 gram. Kalau buat mbandhem marem lah pokoknya. Layarnya masih pakai dot matrix dari lampu LED. Operatornya Metrostar. Basisnya analog. Konon kabarnya, Metrostar ini cikalbakal Fren. CMIIW. Dulu sekali mengisi voucher senilai 50 ribu, pakai kartu yang digosok bagian belakangnya itu, lalu masukkan kode 16 digit. Tarif nelpon waktu itu mahal banget, jadi diirit-irit kalau nelpon. SMS juga mahal. Kalau tidak salah RP. 500 kalau antar operator, dan 350 kalau sesama operator. Gila.

Walaupun bentuknya nggilani begini, hape ini kuat banget menangkap sinyal. Di rumah mertuaku yang terkepung gunung, di masa itu ketika BTS belum banyak, dan hape-hape GSM milik suamiku, adik iparku, dan mertuaku tidak bisa dapat sinyal; dia tetap dapat sinyal dua strip dan bisa menelpon dengan lancar.

Hape itu sangat berjasa selama masa pasca kelahiran anak pertamaku. Karena Ibit adalah cucu pertama dari pihak keluarga suamiku, mertuaku ingin sehabis melahirkan aku tinggal di rumah mertua, sampai setidaknya satu bulan. Waktu itu memang aku belum bekerja. Sementara itu suamiku di Semarang, tilik tiap Sabtu Minggu. Dan mengingat kultur di sana yang masih kolot, masa itu adalah momen-momen yang cukup bikin frustrasi. Setiap saat harus berbantah dengan mertua, Embah, tetangga, bahkan seisi kampung, dalam hal merawat bayi. Mereka masih memaksakan pakai cara tradisional dan jamu-jamuan, sementara aku ingin merawat anakku dengan cara modern yang aku baca dari majalah dan tabloid wanita. Berbantahnya bisa sampai nangis-nangis.

Kalau sudah begitu aku bisa nelpon Ibuk atau Bapak, wadul sambil nangis juga. Minta mereka datang menjenguk. Bahkan pernah minta Bapak untuk jemput aku saat itu juga. Bapak Ibu mertua dan Embah kaget waktu tiba-tiba Bapakku datang. Mereka nangis dan bingung, mereka salah apa sampai aku pengin minggat. Bapak juga bingung dan merasa ndak enak, karena aku ndak bilang kalau minta dijemput. Superduper drama, saking frustrasinya. Waktu itu masih darah muda, jadi aku ndak peduli. Pokoknya aku mau ke Ibuk-ku, yang tidak serba ngatur dan lebih suka ikut merawat anakku dengan cara yang aku pilih. Selalu bertanya ini mau gimana, harus seperti apa…

However, tragedi itu sepertinya cukup membuka mata mertua dan embah mertuaku, bahwa aku punya cara yang berbeda dengan mereka. Bukan hanya dalam mengurus bayi, tapi juga dalam banyak hal. Perlahan dan butuh waktu agak lama, tapi akhirnya kami bisa saling mengerti dan tidak memaksakan metode masing-masing. Mereka memberi saran tapi tidak lagi memaksakan. Iya, kalau dulu harus nurut. Kalau aku ndak manut, dibentak sama Embah. Untunglah akhirnya Embah juga bisa mengerti, cucu mantunya yang satu ini ndak bisa dikerasi. Kalau dipukul bisa mental lebih keras.

Eh, ini kok malah jadi curhat ke mana-mana sih…

***

Aku lupa tepatnya tahun berapa, ada gosip Metrostar tidak akan beroperasi lagi. Kalau itu terjadi, hapeku itu ndak bisa dipakai lagi. Daripada menunggu saat itu tiba, dengan resiko hape itu tidak akan laku dijual lagi, aku memutuskan pindah ke GSM. Hape itu kujual dan laku dengan harga 100 ribu saja. Lumayan daripada hangus.

Dan inilah hape GSM pertamaku.

henpon2

Gambar dipinjam dari sini.

 

Motorola Timeport P7389i. Bagiku waktu itu sudah keren banget. Layarnya bisa ganti warna, merah – kuning – hijau. Masih monophonic. Tapi aku bisa bikin ringtone sendiri. Agak ribet sih, kamu harus ngerti nada dan not balok. Berhubung aku cuma ngerti sedikit-sedikit, ringtone bikinanku sederhana. Kalau tidak salah lagunya ‘Naik Delman’. 

Masa itu, Motorola bukan hape populer. Raja hape saat itu masih Nokia. Tapi aku tidak tertarik pakai  hape yang semua orang pakai. Nggaya ya?

Hape itu kupakai sampai rusak, dan diganti dengan hape lungsuran dari suamiku. Lalu dia beli baru. Sampai sekarang masih begitu. Kalau suamiku pakai hape baru, otomatis aku dapat lungsurannya. Bedanya, selain yang lungsuran aku punya satu lagi yang aku beli sendiri. Baru bukan seken…

Hape itu sudah entah ke mana bangkainya. Dulu kusimpan, trus dipakai Ibit dan kawan-kawannya, anak-anak tetangga, untuk main drama rumah-rumahan. Kardusnya juga sudah kubuang. Betapa tidak sentimentilnya.

***

Punya cerita menarik tentang hape pertama? Ayo tulis di blog dan ikutan giveaway Istiadzah ini. Asik buat seru-seruan!

giveaway isti

Advertisements

20 thoughts on “Memori Hape Pertama

    • iya.. mana ndak ada sms gratisan. karakter terbatas. makanya jadi kebiasaan menyingkat-nyingkat kata biar bisa kirim kalimat panjang…

  1. dramanya panjang, sepanjang antena hapenya 😐
    hape pertamaku siemens c 30, dapet beli bekas dari adikku plus kartu perdananya, mentari. Mihil bingit !

    • haish. hape seken dengan bentuk yang mengerikan seperti itu… butuh soalnya. tinggal masih di rumah kontrakan yang ndak ada telponnya. mau pasang ya lebih mahal lagi.

  2. Aku malah fokus ke drama mertua-menantu mak hahaha, suka serba salah emang sih ya, kalo mertua ngasih saran beginibegitu trus kita ngga cocok. Aku tinggal di mertua setahun, kadang suami ngga pulang karena tempat kerjanya jauh. Mertuaku baik sih, tapi ya tetep aja ada cara pandang kita yang beda gitu termasuk dalam hal merawat anak.

    Dulu tarip telpon n sms emang masih mahal ya mbak, sekarang sebulan pake pulsa20 ribu aja bisa 🙂

  3. eh..aku dulu juga anti pake Nokia lho mak..sok eksklusip bangetlah..ngenggep Nokia HP sejuta umat :b..btw aku juga baru tau kalo ada hp yang bentuke nggilani kaya gitu..qiqiqi

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s