Pengakuan Seorang Penulis

Ijinkan aku mengaku.

Pada satu masa aku menemukan keasyikan baru yang kurasa jauh lebih bermutu ketimbang bergosip, ubyang-ubyung atau nonton sinetron. Menulis. Awalnya aku menuliskan apa saja. Perjalanan naik angkutan umum, acara makan di restoran, jalan-jalan ke tempat wisata. Lalu aku mulai menuliskan curhat ketika aku jatuh cinta. Patah hati. Jatuh cinta lagi. Dikecewakan. Lalu aku mulai menuliskan cerita orang-orang yang curhat kepadaku. Lalu aku mulai mengemas kata-kata dalam bentuk cerita fiksi. Dan aku merasa hebat.

Aku merasa cerita-cerita fiksi yang kutulis bagus dan istimewa. Layak dibaca bahkan dimuat di majalah dan koran. Bahkan dibukukan. Maka begitulah aku berani menerbitkan sebuah buku. Lewat penerbit? Tidak. Untuk apa? Aku punya uang. Aku bisa mencetak dan menerbitkan sendiri bukuku tanpa harus bertarung dengan editor penerbit.

Bukuku terbit. Dan dengan demikian aku telah resmi menjadi penulis. Bukan begitu?

Begitu beraneka respon orang-orang yang membaca bukuku. Aku menerima banyak pujian, tapi tak sedikit juga kritik dan masukan. Aku menerima semua kritik, tapi terserah aku kan, untuk memilah mana yang kupakai dan mana yang kuabaikan? Banyak kritik yang disampaikan dengan kata-kata pedas dan menyakitkan. Meraka itu mau membangun atau sengaja ingin membuat iritasi? Jika memang ingin membangun agar aku dapat meningkatkan diri menjadi lebih baik, kenapa tidak dengan cara yang menyenangkan? Dan kalau memang mereka bermaksud menyakiti, untuk apa kupikirkan?

Maka aku memilih tidak mendengarkan mereka-mereka yang katanya mengkritik, tapi dengan membikin sakit. Aku anggap mereka hanya ingin bersenang-senang dengan seorang penulis cemerlang baru sebagai bahan mainan. Aku menolak. Well, tentu saja aku tidak bisa melarang mereka bicara. Tapi aku bisa memilih menganggap mereka tidak ada. Dan terus menulis untuk mereka yang menyukai tulisanku. Ya kan?

***

Kini aku seorang penulis. Maka selayaknya aku berkawan dengan sesama penulis. Berbincang tentang dunia kepenulisan. Tentang teori teknik menulis. Teori mencari sumber dan data. Tentang kebahasaan. Ya ampun, aku mencintai dunia kepenulisan. I love being an author!

Maka kuceritakan pada dunia setiap kali aku berproses. Tentang metode yang kupakai. Jenis cerita yang kupilih. Rincian riset yang kulakukan. Dunia harus tahu bagaimana aku begadang malam-malam mengejar jumlah kata. Menambahkan 2000 mengurangi 750, seperti penjual nasi pecel menakar nasi di pincukan. Harus kuceritakan berapa gelas kopi dan berapa bungkus camilan yang menemaniku di depan laptop. Orang harus tahu bahwa aku menulis dengan penuh perjuangan melawan enggan, melawan ngantuk, melawan lelah, melawan jenuh, melawan writers block.

Jika prosesku menulis saja begitu menarik, bagaimana mereka yang mengetahuinya tidak akan tertarik membaca apa yang kutulis? Tentu saja, memang itu tujuanku. Menarik perhatian (calon) pembaca. Jika kau belum seterkenal, minimal, Raditya Dika, kau harus melakukan sesuatu untuk mempromosikan dirimu. Lakukan apa saja. Maksudku, bukan apa saja yang sungguh-sungguh apa saja. Tentunya apa saja yang membuatmu terlihat sebagai penulis hebat. Setidaknya layak dinanti hasil karyanya. Kira-kira seperti itu lah.

***

Lalu kudengar komentar itu, “Penulis itu? Aku tidak selesai membaca bukunya. Bahkan berhenti di halaman 25.”

Huh. Salahmu, kenapa berhenti di halaman 25? Buku itu ada 160 halaman, harusnya kau baca sampai habis supaya tahu bagaimana bagusnya.

Lalu kudengar komentar itu, “Logikanya jumpalitan, banyak bolong-bolong di sana-sini. Lucu.”

Huh. Kamu yang tidak bisa mengerti jalan cerita yang kubangun. Cerita yang lurus dan datar akan sangat membosankan, karena itu aku bikin lompatan setting dan kejadian. Aku tidak mau bikin jalan cerita yang mudah diduga. Itu tidak istimewa.

Lalu datang seorang kawan dan bertanya, “Kamu sudah baca buku ini?” sambil menunjukkan sebuah buku. Aku menggeleng. “Kalau yang ini?” lanjutnya sambil menunjukkan buku lain. Aku menggeleng lagi. “Ini?” lanjutnya sambil menunjukkan buku yang lain lagi. Dan aku lagi-lagi menggeleng.

“Dan kamu merasa tulisanmu bagus?”

Dia memberikan semua buku itu padaku, “Bacalah, besok kucarikan bacaan lain lagi. Jangan menulis sebelum selesai membaca.”

***

Betapa aku begitu percaya diri menyematkan kata ‘penulis’ di diriku. Aku tahu, jelas aku tidak pantas membandingkan diri dengan sastrawan-sastrawan ternama yang buku-bukunya harus kubaca itu. Tapi aku mendadak merasa malu telah merasa hebat dan bangga pada diriku sebagai penulis. Kata-kataku mentah. Kalimat-kalimatku banyak patah. Logikaku sulit diterima.

Aku memang tidak terlalu banyak membaca. Aku hanya membaca satu dua. Buku ringan-ringan yang bisa kubaca sambil tertawa. Yang bahasanya lebih seperti kita bicara sehari-hari. Yang, aku menyebutnya, bahasa manusia dan bukan bahasa dewa. Aku hanya membaca cerita-cerita populer. Enggan membaca buku-buku yang sedikit saja berbau filsafat. Selalu merasa berat. Aku enggan membaca koran dan lebih menyukai fesbukan.

Mendadak aku merasa tulisan-tulisanku adalah sampah.

Aku mencabut predikat ‘penulis’ yang telah sempat kusematkan sendiri di dadaku. Aku ingin menjadi pembaca. Itu dulu. Sampai aku merasa punya kemampuan dan bekal yang cukup layak, untuk menulis yang lebih dari sekadar sampah. Agar aku tak perlu mendengar kritik pedas menyakitkan. Bukan karena aku memilih tidak mendengarkan, tapi karena memang tidak ada yang perlu merasa melontarkan.

Permisi. Aku pamit.

Advertisements

24 thoughts on “Pengakuan Seorang Penulis

  1. Terkadang gak bisa dipungkiri segala sesuatu yang kita anggap berarti namun dalam persepsi orang lain bukanlah apa-apa. Kenapa begitu? Karena kita semua melakukan perjuangan dimasa lalu untuk menatap masa depan masing-masing.

    Ego adalah letak dimana semu persepsi itu gak dikalahkan. Tapi bukan berarti kita harus pasrah menerimanya. Banyak dari kita berpihak kepada satu sisi yang baik saja. Sedangkan satu sisi yang mengurangi selalu dihindari. Gak ada ruginya dan mungkin ada baiknya kalau kita menjawab kekurangan yang dipersepsikan kepada kita.

    Kalau kamu memberikan misteri dalam tulisanmu, berikan juga “clue” yang harus orang lain perankan dalam kisahmu. Jangan terlalu mengenali diri sendiri, karena orang lain juga berinteraksi dengan penilaian mereka.

    Menulis bukan sekedar ungkapan rasa, bukan pekerjaan, menulis lebih dari hanya bercerita, karena didalam menulis kamu harus menghidupkan intrik, memberikan pengetahuan, solusi masalah, dan menjadi referensi.

    • setiap orang punya cara yang berbeda ya. aku dijuluki ‘Simon Cowell’ di MFF, padahal itu cuma akting πŸ˜€

    • waduh, kok malah dibilang nyindir… susah ya, kalau kita ngomongin apa (atau siapa) trus pihak yang sama sekali tidak terpikirkan malah merasa tersindir…
      btw, kok komennya pakai nama dan link palsu ya? ga berani menunjukkan identitas sendiri? hmm…

  2. BISA KARENA BIASA.
    Mau jadi penulis ? yasudah, nulis aja, apapun itu. Kalau sudah biasa nulis, lama lama pasti baik sendiri tulisannya. Karena pada dasarnya, semakin hari kita akan semakin terasah. Peka pada tulisan kita sendiri.
    -ini kata senior saya-

    Salam kenal mbak πŸ™‚ keep writing !

  3. wah, keren πŸ˜€
    saya juga selalu merasa kayak nulis sampah…
    tapi kadang-kadang suka mikir “sebagus apa pun tulisan, tidak mungkin membuat semua orang suka”

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s