The Dancing Athlete

Meskipun bukan atlet ping pong yang ikut sekolah atlet atau pelatda, aku mengenal tenis meja sejak belum gaduk. Bapak yang sangat cinta olahraga, meminta tolong seorang teman yang tukang kayu untuk membuatkan meja ping pong.

Aku mulai suka memegang bet dan ikut-ikutan main sejak hidungku masih setinggi meja. Saking inginnya main aku jinjit-jinjit. Pernah juga mancik dhingklik. Tentu saja itu hanya pas saat serve, tapi tidak berguna ketika harus menerima bola dari lawan main.

Demikianlah setiap sore teras rumah kami ramai anak-anak yang ingin main pingpong. Untuk hari Senin – Jumat, hanya boleh main mulai ba’da ashar sampai jelang maghrib. Sedang malam Minggu boleh sampai malam. Yang datang juga lebih banyak dan lebih ramai lagi. Bukan hanya anak-anak tapi juga mas-mas yang sudah SMP dan SMA.

Hanya mas mas. Ndak ada mbak-mbak. Ketika aku SMA, meja pingpong itu perlahan merana karena tidak ada lagi yang datang main. Tak jelas sebab pastinya. Sepertinya karena para pemainnya mulai kuliah di luar kota. Seingatku, sampai saat tamatnya riwayat meja pingpong Bapak itu, memang hanya aku dan satu tetangga sebayaku, perempuan yang main pingpong. Sisanya laki-laki.

***

Adikku sempat ikut sekolah Tenis Meja dan mewakili kabupaten di kejurda. Ketika sekolah itu buka aku sudah SMP dan merasa terlalu ‘tua’ untuk bergabung. Rata-rata murid barunya kelas 2-3 SD. Namun begitu keakrabanku dengan pingpong cukup memadai, untuk ikut meramaikan kejuaraan antar RT di kampung, atau class meeting di sekolah. Bapak sendiri yang mengajariku jenis-jenis pukulan dan trik. Kadang Bapak mengundang teman-temannya yang lebih jago untuk berbagi ilmu.

Setelah kuliah, aku seperti benar-benar lepas dari pingpong. Sepanjang kuliah hanya satu kali main tanpa latihan dalam pertandingan antar angkatan di jurusan. Lalu blas.

Setelah kerja beberapa kali mewakili kantor di even kejuaraan antar kantor. Tetap tanpa latihan. Dan tentu saja tidak menang. Haha.

Kemarin di kampung, dalam rangka peringatan kemerdekaan, aku dan dua ibu lain dengan gagah berani maju mewakili RT untuk pertandingan tenis meja. Aku heran, atau mungkin tidak semestinya heran, sulit sekali mengajak ibu-ibu untuk main pingpong. Alasan yang muncul selalu saja ‘tidak bisa main pingpong.’ Padahal dua pemain RT kami selain aku, juga tidak pernah punya sejarah dengan pingpong. Modalnya nekat. Seperti aku yang mau saja main badminton meskipun aku tahu, seorang yang main pingpong pasti kalau main badminton bakalan rusak. Prinsip pukulannya bertentangan.

Bagiku sendiri, acara pertandingan-pertandingan di kampung seperti ini lebih sebagai ajang srawung, bergembira. Yang penting bisa sorak-sorak dan lunjak-lunjak. Kalah menang soal kesekian. Tapi sepertinya cuma sedikit yang berpikir sepertiku. Dari 13 RT yang ada di RW kami, hanya empat RT yang mengirimkan kontingen badminton/pingpong putri. Dan hampir semua juga seadanya. Yang penting ada orang yang datang. Pertandingan ibu-ibu adalah seru-seruan penuh jejeritan dan lelucuan. Kadang harus diingatkan lagi soal posisi berdiri dan siapa yang harus memukul.

Dan seperti sejak dulu setiap kali main, aku bukan hanya memukul tapi juga ‘menari’. Kaki dan tanganku selalu saja bergerak spontan meliuk merentang seperti orang menari. Aku sempat minder ketika dulu ada yang menjadikan kebiasaanku itu sebagai bahan olok-olokan untuk menjatuhkan mental. Untung Bapak selalu mengingatkan, itu style, dan tidak merusak pukulanku. Jadi tak perlu berusaha mengubah atau menghilangkannya.

IMG_7706.JPG

*semua gambar diambil secara diam-diam oleh bojoku*

Jadi begitulah. Ketika kemarin beberapa supporter menganggap gayaku aneh, meneriaki ‘sing penting gayaaaaa!’ aku cuek saja. Kalau pun sekedar gaya juga kenapa? Anggap saja pertunjukan bukan hanya bisa dilakukan di panggung ketika menggenggam mic, tapi bisa juga di lapangan tenis meja menggenggam bet. Toh akhirnya bisa dilihat bahwa sambil nggaya pukulanku lumayan juga. Paling tidak panitia sudah meminta ‘Nanti ikut mewakili tim RW tanding di kelurahan ya Buk!’

Siap Pak, silakan hubungi manajer Swaranabya!

8 thoughts on “The Dancing Athlete

  1. Iya mbak Laaaa, kenapa buibu ini hampir pada ngga bisa (atau suka) main pingpong ya, pdhl kan gampil2 ajah *halah* qiqiqiqi. Kapan2 ketemuan kita ngepingpong baru yak😀

  2. dulu aku juga dimodalin meja pingpong oleh bapak, sering pukul-pukul bola juga, walau ga jago, tapi sekarang sepertinya bola pingpong terasa lebih liar😀

  3. gayanya mantap😀

    saya suka juga main pingpong, cuma nggak mahir. di kantor ada meja ping pong tapi udah lama saya nggak ikutan main… sejak awal 2014. karena sudah mulai pulang tepat waktu😀

  4. dancing athlete, keren beud !
    dan skarang mau tanding pun musti nelpun manajer
    jangan2 mau bertamu pun musti ngecek jadwal ama manajer
    susahnya jd seleb😐

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s