Kapal Phinisi: Cetak Biru di Kepala

Akhir pekan kemarin aku dan anak-anak berkesempatan jalan-jalan ke Pantai Bira, di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Pantai Bira menyenangkan. Bersih, airnya jernih, dan tenang. Terlalu tenang malah. Minim ombak, jadi kurang seru, kata anak-anak.

Pantai Bira

Tapi aku ingin bercerita tentang satu tempat yang tak kalah eksotis. Pembuatan kapal Pinisi. Kapal Pinisi adalah kapal layar tradisional berukuran besar yang dibuat oleh orang Bugis atau Makassar Sulawesi Selatan. Ada dua tiang layar utama yang, yang mewakili dua kalimat syahadat, dan tujuh layar tambahan yang mewakili jumlah ayat di Surat Al-Fatihah.

Konon kapal Pinisi sudah mulai dibuat sejak sebelum tahun 1500. Nama Pinisi diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang menyarankan perbaikan struktur layar dari kapal-kapal yang sudah ada. Dia dianggap memiliki kemampuan mendesain kapal yang lebih baik. Dan kapal Pinisi yang dibuat sampai sekarang adalah sesuai bentuk yang disarankan Pinisi.

Tempat pembuatan kapal di Desa Bira ini terletak di pantai tidak jauh dari jalan raya. Agak turun sedikit, melewati jalan yang agak serem juga kalau dilewati pakai mobil. Jadi kami memutuskan parkir di jalan raya dan turun dengan jalan kaki kira-kira 200 meter.

Saat kami tiba di sana, ada lima kapal besar dan tiga kapal berukuran lebih kecil yang sedang dikerjakan. Ada rangkaian upacara yang harus dijalani di setiap tahap pembuatan. Mulai dari penebangan kayu, peletakan lunas, sampai ke peluncurannya.

IMG_8077

Calon-calon pengarung lautan.

Kami sempat ngobrol dengan seorang Bapak pembuat kapal (dia menyebutkan nama tapi kurang jelas, dan kami juga rikuh mau nanya lagi). Dia berdelapan sedang mengerjakan satu kapal besar, beratnya nanti jika sudah jadi kira-kira 1000 ton. Kapal itu sudah dikerjakan hampir satu tahun, dan diperkirakan selesai tiga bulan lagi.

IMG_8065

Anak-anak berpose bersama Pak Azhar atau Pak Hajar (atau siapa?)

IMG_8053

Papan kayu dikeringkan maksimal sebelum dipasang.

Kayu yang dipergunakan adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari.

IMG_8054

Kapal Pinisi masa kini dilengkapi baling-baling. Hanya satu baling-baling ini untuk kapal seberat 1000 ton.

Yang menakjubkan adalah, bapak-bapak itu tidak punya gambar kerja atau cetak biru. “Pembeli tinggal bilang saja, dia mau kapal ukuran berapa, nanti kami bikin,” kata si Bapak. Setelah tahu ukuran kapal yang diminta, mereka langsung bekerja begitu saja. Menjalankan tahap demi tahap sampai selesai. Kapal itu sudah jadi sebelum dibuat, katanya. Raksasa cantik ini dipesan oleh pengusaha ekspedisi dari Jakarta, dan dibanderol 8 milyar rupiah.

IMG_8063

Celah antar papan dan lubang-lubang baut ditambal dengan dempul yang terbuat dari serbuk kayu dan lem khusus. Kerasnya sama dengan kayu besi yang asli.

IMG_8052

Si cantik dalam pengerjaan

Badan kapal yang dikerjakan Pak Azhar(?) sudah selesai. Kapal ini setinggi pohon kelapa. Dalam masa pembuatannya, untuk naik ke bagian atas kapal hanya ada tangga darurat dari papan-papan dan balok. Setiap diinjak mentul-mentul, dan licin pula. Para pembuat kapal itu santai saja naik turun sambil lari. Aku sudah mencoba naik pelan-pelan tapi tetap tidak berani sampai atas. Padahal aku pengin melihat, apakah geladak sudah dikerjakan. Akhirnya cukup harus merasa puas melihat kabin tampak dari bawah sedang dikerjakan.

Delapan orang. Satu tahun. Tanpa gambar kerja. Seribu ton. Delapan milyar. Dan kelak akan mengarungi samudera. Menjadi kapal ekspedisi, atau kapal pesiar keliling dunia. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Pinisi bisa beroperasi lebih dari 15 tahun.

Kami meninggalkan tempat itu membawa ketakjuban. Beberapa kali aku menoleh ke belakang melihat lagi, dan takjub lagi, sebelum akhirnya masuk kendaraan dan melanjutkan perjalanan.

***

Kalau punya uang delapan milyar, kamu pilih beli Lamborghini atau Kapal Pinisi?

 

Advertisements

7 thoughts on “Kapal Phinisi: Cetak Biru di Kepala

  1. 8 milyar? aku upgrade sepeda, sisanya utk ongkos sepedaan keliling Indonesia ^^ #lospokus

    ah aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke tanah salah satu leluhurku disitu, malah duluan njenengan 🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s