Aku adalah Celana Pensil Bunga-bunga

Flowering branches Royalty Free Stock Vector Art Illustration

gambar dari iStockPhoto

Apa yang kau bayangkan tentang celana pensil bunga-bunga?

Kau tidak akan menemuinya di bioskop. Mungkin bisa. Tapi jarang. Sangat jarang.

Film bioskop bisa membuatmu tertawa, menangis diam-diam, menjerit ketakutan. Tapi itu cuma gambar dan suara rekaman. Dan saat kita nonton semua lampu dimatikan. Kita tidak bisa melihat reaksi orang-orang. Ya, orang yang menonton ataupun orang yang bercerita.

“Film itu. Itu cerita kan? Cerita yang disampaikan. Lalu sebenarnya siapa yang menyampaikan cerita film? Aktor dan aktrisnya? Sutradaranya? Mereka tidak bisa melihat bagaimana respon kita, para penontonnya, melihat cerita yang disajikan. Dan kita tidak bisa melihat ekpresi mereka atas respon kita. Tidak secara langsung. Apa asyiknya?”

Dia lebih suka menonton stand up comedy. Pertunjukan di mana penonton berhadapan langsung dengan penutur cerita. Mereka bisa melihat respon kita. Dan kita bisa melihat respon mereka melihat respon kita. Kita bahkan bisa menyahut kalimat-kalimat mereka dengan kata-kata kita. Menunjukkan kita suka, tidak suka; memancing supaya keluar lebih banyak pemancing tawa. Tawa saja.

“Aku suka melihat para comic menertawakan kita, menertawakan kehidupan sehari-hari di dekat kita. Hal-hal sepele yang kadang tidak pernah terlintas di kepala.”

Bukan berarti dia hanya suka tertawa dan tidak peduli dengan segala persoalan dunia. Bukan berarti dia tidak peka, tidak bisa berduka. Dia bisa menjadi begitu sentimentil dengan caranya sendiri.

“Jika kita bisa menyikapi persoalan dengan tertawa, kenapa harus dibikin berlinang air mata? Bersedih itu menyakiti jiwa. Percayalah, selalu ada sisi kesedihan yang bisa kita pandang lucu. Agak sulit menemukannya. Tapi kalau kita rajin melatihnya, pasti bisa.”

Baginya cara itu lebih menghibur, lebih baik mengatasi kekecewaan. Juga kemarahan. Dan aku setuju.

Sepanjang aku bersamanya, dia adalah orang yang terlihat tidak punya waktu untuk galau. Oleh masalah apa pun.

“Galau merusak badan dan pikiran. Jangan dikira hanya pekerjaan mencangkul atau mengayuh becak saja yang membutuhkan banyak tenaga. Berpikir juga. Apalagi pikiran menggalau. Sudahlah kita jadi tidak doyan makan, yang berarti asupan energi berkurang, masih pula diperas untuk berpikir keras; tentang hal-hal yang tak perlu. Benar-benar mubadzir.”

Mungkin karena itu dia menikmati momen makan. Bukan makan asal kenyang. Dia pecinta kuliner sejati. Mencicipi segala jenis hidangan. Menikmati, menilai.

“Makanan adalah sebaik-baik hiburan.”

Hiburan yang bisa kau nikmati meskipun sedang sendiri. “Tapi tentu saja lebih menyenangkan untuk dinikmati bersama-sama,” katanya padaku ketika kami mencicipi gulai kepala ikan yang konon paling enak di Semarang.

“Aku tidak suka gulai ikan. Terlalu amis buatku. Dan repot,” kataku, “kenapa kita tidak makan gulai daging ikan saja?”

“Kau melewatkan ‘seni’-nya. Jangan makan hanya untuk kenikmatan lidah dan perut kenyang. Kerepotanmu mencuplik daging di kepala ikan ini mestinya membuatmu lebih merasa nikmat mengunyahnya. Ada usaha keras di balik secuil daging yang masuk ke mulutmu.”

Kali ini aku tidak setuju. Cukup aku bekerja keras untuk membeli apa yang kumakan, dengan nguli berangkat pagi pulang sore (atau kadang malam). Tidak perlu ditambah lagi dengan kesulitan teknis saat makan.

Dia selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jika tidak, dia akan melakukan sesuatu untuk itu. Dia paling tidak bisa terima ketika orang tidak melihat ke arahnya, apalagi menganggap dia tidak ada.

“Membuatku kehilangan percaya diri.”

Jadi kau akan bisa mengerti kenapa dia sering memakai pakaian yang menurut orang lain ‘tidak umum’ atau bahkan tidak pantas.

Well, itu soal selera saja, ya kan?”

Dan pantas ndak pantas itu tergantung tingkat percaya diri yang pakai, katanya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran atau bentuk tubuh.

“Kita telah dicuci otak oleh produk kecantikan dan merek mode dunia. Pada kita disuguhkan definisi kecantikan dan proporsi bentuk tubuh ideal yang hanya cocok dipadukan dengan produk mereka.”

Aku bisa mengerti yang dia maksudkan. Segala produk yang diiklankan menjadi serasi dengan model yang mereka pakai. Tapi aku, juga kalian, hidup di dunia nyata. Bukan di  catwalk atau majalah dan televisi. Tidak semua orang cungkring tinggi langsing, berkulit putih dan berambut lurus.

“Jadi tidak perlu peduli kalau ada yang bilang ‘model bajumu tidak sesuai dengan bentuk tubuhmu,’ bebaskan selera kita dari penjara produsen fesyen dunia.”

Bagaimanapun aku terkejut ketika dia mengakui bahwa sebenarnya ketika dia melakukan hal-hal yang menarik perhatian, itu bukan selalu karena dia begitu percaya diri. Kadang justru sebaliknya.

Kepercayaan diri itu seperti rindu, seperti cinta, seperti iman. Kadang naik, kadang turun. Menjadi ‘tidak umum’ itu adalah salah satu caraku untuk mengatrol rasa percaya diri ketika sedang jatuh. Orang melihat ke arahku, memperhatikan aku. Taadaaaa… aku hadir kembali di dunia,” katanya sambil tersenyum lebar dan mengembangkan kedua tangannya.

Aku pergi berkaraoke bersamanya, suatu hari sepulang kerja. Aku tidak terkejut ketika dia mengakui, itu adalah tempat lain di mana dia bisa sering kau temui. Kau bisa mengajak dia ke sana kapan saja kau mau. Tentu saja selama dia sedang ada waktu.

“Di karaoke kita bisa menjadi diri sendiri sekaligus menipu diri.”

Ada benarnya juga. Kita membawakan lagu-lagu artis terkenal, lalu bergaya bak artis yang tak kalah ternama, bahkan kadang lebih gila. Dan tidak akan ada yang memrotesmu karena berbuat begitu. Tidak peduli suara yang bahkan lebih fals dari teriakan pedagang roti kelilingan, toh mesin penilai akan memberi kita nilai tinggi. Menipu diri? Tidaaaak… toh kita tahu itu tipuan. Lucu-lucuan, buat senang-senang.

“Saat berkaraoke, kita tidak perlu takut menjadi diri kita sendiri; yang palsu…”

Begitulah dia suka menghabiskan waktu bersenang-senang, sendiri atau bersama.

“Aku suka QT-QT begini, I love you gals…” katanya sehabis menyelesaikan sebuah lagu dangdut koplo.

“Kyuti?”

“QT, Darl. Quality Time… waktu benar-benar milik kita…” dia menjelaskan sambil mengerling dan meneguk soft drink.

Meskipun tidak minum alkohol dia merokok. Dan meskipun berusaha menahan diri, kadang dia masih melakukannya di tempat orang merasa terganggu. Bukan, bukan karena dia merokok di area no smoking, tapi lebih karena orang risih melihat perempuan merokok.

Hanya sebagian orang yang bisa menerima bahwa rokok sama sekali bukan hal maskulin, bukan dominasi laki-laki. “Kau tahu,” katanya sambil menyulut ujung rokoknya waktu itu, “mbah-mbah putri kita jaman dulu, kalau tidak menginang dia merokok. Tidak banyak yang tahu kisah tentang betapa merokok sebenarnya sangat feminin.” Dia menghembuskan asap pertama dari rokok yang disulutnya, “Roro Mendut yang menjual rokok untuk menghidupi dirinya. Dan yang paling menakjubkan adalah, rokok yang sudah dikulumnya, terkena ludahnya, dijual lebih mahal dari rokok yang masih baru bersih tak bernoda…”

Belanja pakaian adalah hiburan lain baginya.

“Apa kau menganggap segala hal yang kau lakukan adalah hiburan? Apa hidupmu selalu dirundung kesedihan hingga selalu butuh hiburan?” tanyaku sambil memandangi dia memilih-milih celana pensil bunga-bunga.

“Dunia ini panggung sandiwara. Hiburan tidak harus kau dapatkan hanya karena sedang bersedih. Aku hanya suka bersenang-senang. Seperti kubilang, dalam kesedihan pun aku memilih tertawa.

“Boleh saja orang menganggap perempuan tak pantas merokok. Tapi aku tidak peduli. Aku punya banyak simbol feminin yang pasti disetujui semua orang,” katanya sambil mengangkat celana pensil bunga-bunga yang dipilihnya. “Bunga adalah wanita. Bunga adalah keindahan, kelembutan, keharuman. Segala hal yang diharapkan terpancar dari wanita. Dan aku tidak segan untuk selalu menaburkan bunga di sekujur tubuhku.”

“Aku justru merinding mendengarnya. Menabur bunga di sekujur tubuh, seperti menabur bunga di makam?”

“Hush. Kenapa kau memilih melihat sisi horornya? Lihat ini saja,” dia mengepaskan sebuah blus bermotif bunga-bunga lebar ke tubuhnya.

“Bunga mawar merah tanda cinta, diberikan untuk membuat hati wanita berbunga-bunga. Pengantin wanita menggenggam buket bunga. Walaupun dekorasi ruangan penuh bunga, tetap saja wanita yang menggenggam buketnya, kan?”

“Bagaimana dengan bunga rafflesia?” tanyaku, “di mana letak indah dan wanginya?”

“Dia mungkin tidak wangi, tapi dia indah. Dan dia istimewa, ukurannya bisa sebentangan depamu…” dia berjalan ke kasir membawa satu stel pakaian bunga-bunga.

Kami pulang masih sambil bicara tentang bunga.

“Aku suka bunga. Segala tanda bahwa aku sepenuhnya wanita. Aku ingin semua orang melihat aku sebagai bunga. Seperti kuharap aku mendapat bunga dari semua orang. Bunga yang sesungguhnya. Atau sekedar kata-kata berbunga. Aku tak suka kata-kata bau.”

“Bunga itu centil,” sahutku.

“Aku tidak keberatan kau menganggap begitu. Bunga itu feminin, anggun. Aku suka bunga. Bunga di taman. Bunga di baju. Bros bunga di dada. Hiasan bunga di kepala. Dan tentu saja, bunga bank.”

Ah, ya. Aku juga suka bunga yang satu itu…

8 thoughts on “Aku adalah Celana Pensil Bunga-bunga

  1. buset, panjang kyk film interstellar, tapi ini asik.
    dan membaca judulnya tadi sekilas aku malah ingat ama sisterhood of travelling pants apa ya, yg novelnya blm pernah aku baca, filmnya pun blm pernah aku tonton😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s