Operasi

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Pukul delapan malam lewat sedikit. Suster baru saja menyuntikkan lagi satu ampul Torasic untuk meredakan nyeri di perutku. Malam kedua aku berbaring di ranjang rumah sakit, dan masih belum tahu apa yang terjadi pada diriku. Hari ini kuisi dengan serangkaian pengambilan foto rontgent, USG dan pengambilan sampel. Dan sekarang aku masih menunggu nasib.

Foto dan hasil lab sudah keluar. Suster sudah menelpon dokter. Malam ini Dokter akan mengusahakan datang. Kau sebaiknya datang, Dok.

Hasil lain dari telpon Dokter, setelah selang infus, satu selang lain disusupkan melalui hidungku menuju lambung. Untuk mengurangi kembung dan mencegah muntah. Aku tidak muntah lagi kemudian, memang. Cairan kuning mengalir sendiri lewat selang itu, ditampung di plastik yang dipasang di ujungnya. Tapi perutku tetap kembung, dan menggembung, dan sakit.

Terbayang lagi ekspresi dokter jaga UGD yang terkejut – kalau bukan shock – memeriksa perutku. Tuhan, kalau dokter saja sampai tidak bisa menyembunyikan rasa ngeri, bagaimana aku harus menenangkan diri?

Pukul sepuluh lewat dua puluh, Dokter datang membawa hasil rontgen. Menunjukkan padaku gambar usus yang membengkak sebesar lengan. Dokter menjelaskan. Aku mendengarkan, sambil mencoba mengabaikan sakit yang kembali mulai datang. Pereda nyeri yang disuntikkan perawat tadi mulai kehilangan kendali.

Pasti ada sumbatan. Tapi belum bisa dipastikan di sebelah mana. Jalan satu-satunya harus dibedah, Dokter harus melihat langsung, karena tidak bisa terlihat dari foto. Perutku mendadak seperti diinjak kuda.

“Kita jadwalkan besok pagi ya,” lanjut Dokter, “Lebih cepat lebih baik. Tapi mempersiapkan ruang operasi juga butuh waktu. Paling tidak jam dua baru siap. Lebih baik kita lakukan pagi sekalian, ketika semua sudah lebih segar.”

“Ibu istirahat dulu, persiapkan diri,” Dokter menyentuh lenganku pelan, lalu pamit.

Dua perawat datang tidak lama kemudian. Mengambil sampel darah lagi. Mengukur tekanan darah. Merekam jantung. Semua untuk persiapan operasi.

Tiba-tiba napasku sesak. Tanganku kesemutan.

“Suster… dada saya sakit, saya tidak bisa bernapas… tangan saya… kesemutan… jari-jari saya…”

“Tangannya dingin…” perawat yang baru saja mengambil darahku bicara pada kawannya yang baru bersiap merekam jantung, “matikan AC-nya…”

Aku mendengar perawat yang satu lagi menyingkirkan alat rekam jantung, “Ini besok pagi saja…,” lalu mematikan AC.

“Oksigen!” seru perawat yang satu lagi lirih.

“Saya kenapa, Suster? Jari saya…”

Jariku mati rasa. Yang kiri. Lalu yang kanan. Tidak bisa kugerakkan. Ini stroke. Aku terlalu terguncang oleh gambar mengerikan yang ditunjukkan dokter tadi. Aku akan mati, aku akan mati…

“Tenangkan diri Bu… ambil napas panjang… pelan…”

Tapi aku tidak bisa bernapas.

“Gerakkan jarinya Bu…”

Tapi jariku makin kaku. Mati rasa itu merambat naik ke lengan. Ke siku. Ke bahu. Ke leher. Ke dagu. Ke bibir. Ke seluruh wajahku.

“Tidak bisa, Suster. Kesemutannya sampai ke wajah…”

“Ah… Bagaimana wajah bisa kesemutan?” Aku tidak tahu pertanyaan itu ditujukan padaku atau pada kawannya.

“Lihat bibirku, Suster. Bibirku gemetar seperti ini. Saya kenapa? Saya kenapa??”

“Tenangkan diri Bu. Istighfar, berdoa. Sedang ditelponkan dokternya…”

Sekarang kakiku. Kakiku mulai mati rasa juga. Aku akan mati. Ini benar stroke. Aku akan mati. Atau hidup tapi lumpuh. Habis. Aku tidak bisa. Tuhan.

Suster memijat dan terus menggerakkan jariku. Oksigen yang dihembuskan kencang ke lubang hidungku sedikit membantu. Perawat yang tadi keluar sebentar kemudian kembali,

“Kata Dokter, Ibu hanya terkejut dengan rencana operasi. Ibu tenangkan diri. Berdoa. Istirahat. Tidur dulu, agar besok segar saat akan menjalani operasi. Yakinlah besok semua akan ditangani, dan akan baik-baik saja…”

Perlahan kesemutan itu hilang. Kuda yang menginjak perutku pergi. Aku bisa bernapas lagi, tapi selang oksigen masih dibiarkan menghembus di hidungku. Selamat malam, Suster.

***

Malam merambat begitu pelan. Hampir pagi. Aku masih mengenakan atasan mukena yang kupakai sholat Isya setelah berhasil menenangkan diri tadi. Aku sudah menelpon siapa saja yang terlintas di benakku.

“Besok pagi aku operasi, doakan”

“Tidak, aku tidak bisa jelaskan, pokoknya ususku membengkak. Harus. Tidak bisa tidak.”

“Pagi, kata Dokter. Entah. Jam enam, mungkin. Jam enam itu sudah pagi kan?”

“Ya ya… selamat malam. Aku harus tidur. Supaya segar badanku menjalani operasi.”

Tapi aku tidak bisa tidur. Aku terpejam, lalu membuka mata menyaksikan jarum jam bergeser setiap lima menit. Begitu berulang kali. Aku minta obat tidur. Aku berharap dokter menginstruksikan satu suntikan. Tapi suster membawakan pil yang dimintakan dari farmasi. Yang benar saja. Setiap teguk air yang kuminum pasti akan keluar lagi. Bagaimana aku bisa menelan pilnya?

“Terima kasih Suster, saya akan mencoba tidur saja.”

Aku tetap tidak bisa tidur. Satu jam membuka menutup mata. Satu jam menyalakan televisi, memindah saluran ke sana kemari. Memejam lagi. Membiarkan televisi berdengung. Lalu kumatikan. Aku ingin berguling ke kanan, atau ke kiri. Tapi perutku seperti dipasangi kait dan digantung di langit-langit kamar. Kuda itu seperti datang lagi setiap aku mencoba bergerak.

Pukul dua dini hari, kutekan bel. Suster datang tidak sampai dua menit kemudian.

“Suster, boleh saya minta disuntik pereda nyeri lagi?”

Ususku, apa kabarmu? Kenapa kau tidak bisa berhenti mengirimkan nyeri? Apakah kau masih terus menggelembung lebih besar  lagi? Maukah kau berhenti dan menunggu sampai aku dioperasi?

Dokter, benarkah kita harus menunggu pagi? Mungkin aku tidak jadi mati karena stroke. Tapi bagaimana jika ususku terus membengkak menunggu jadwal operasi? Bagaimana jika ususku pecah? Bisakah dijahit lagi? Atau harus dipotong dan dibuang? Lalu bagaimana tubuhku mencerna makanan? Apakah ada transplantasi usus? Atau mungkin usus buatan?

***

Aku masih belum bisa tidur. Memejam lima menit lagi, dan jam dinding di atas televisi akan menunjukkan pukul lima pagi. Aku sudah tayamum sendiri dan sholat shubuh dengan mukena yang kukenakan semalaman.

Jika operasi dilakukan pukul enam, mestinya sekarang segala sesuatu sudah disiapkan. Suster belum jadi merekam jantungku. Bajuku belum diganti. Sepertinya semua orang tenang-tenang saja. Seorang pembantu perawat datang membawa baskom dan menawari mandi.

“Harusnya saya operasi pagi ini.”

Iya, dia sudah dengar tentang itu. Dia mulai membasuhkan waslap ke tubuhku.

“Jam enam,” kataku lagi.

“Oh ya? Saya dengar jam setengah sepuluh…”

Tuhan. Itu masih empat jam lagi.

Tiga perawat datang. Mengukur tensi. Mengukur suhu tubuh. Seperti yang dilakukan setiap dua jam sepanjang tadi malam. Aku sudah selesai dilap. Alat rekam jantung yang menemaniku tidur tadi malam mulai dipasang.

“Saya jadi dioperasi?”

“Jadi, Ibu. Jam sepuluh.”

Jadi benar pukul sepuluh. Bukannya pukul enam? Semalam dokter bilang apa sih? Pagi? Besok pagi. Kenapa pukul sepuluh? Itu siang. Apakah ususku sanggup menunggu empat jam  lagi?

Pukul setengah sepuluh tepat. Dokter datang. Benar, wajahnya lebih segar. Tapi aku yakin aku lebih layu dari tadi malam.

“Ibu bisa tidur?”

Aku menggeleng.

Semua hasil lab bagus, jantung bagus. Aku siap dioperasi.

“Saya tunggu di ruang operasi ya…”

Suster memakaikan baju operasi warna hijau telur bebek. Juga penutup kepala dengan warna yang sama. Dua perawat mendorong ranjangku menuju ruang operasi. Menyapa satpam, melewati lorong-lorong dan tatapan mata di sepanjang perjalanan.

Ruang operasi serba hijau telur bebek. Seorang dokter perempuan memperkenalkan diri sebagai dokter anestesi. Seorang perawat memasangkan pemantau jantung di dadaku.

“Mari kita berdoa, semoga operasinya lancar, Ibu selamat, dan segera kembali sehat…” dokter itu menggenggam tanganku. Aku membaca apa saja. Al Fatihah. Lalu doa dalam Bahasa Jawa.

Gusti, selamatkan aku.

“Sekarang, Dok?” tanya perawat yang satu lagi. Dokter mengiyakan. Dia masih mengajakku bicara, tapi aku tidak bisa mendengar jelas. Aku ingin bertanya, mana dokter yang hendak mengoperasiku? Aku ingin tahu, berapa lam…

***

Ingatanku tentang penggal waktu itu tumpul. Tapi aku masih bisa mengingat, aku tidak melihat dokterku sebelum dan sesudah tak sadarku. Aku ingin bicara padanya. Aku ingin dia ceritakan apa yang terjadi pada diriku.

Aku membuka mata dan hanya melihat dua perawat yang menerimaku di ruang operasi. Menyerahkanku pada perawat ruangan.

“Sudah?” tanyaku.

Sudah. Sekarang hampir setengah satu, kata Suster.

Aku pindah ke ranjangku di ruang perawatan lagi. Mataku berat. Aku tidak bisa merasakan jariku. Aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku tidak bisa merasakan sakit yang menusuk perutku dua hari dua malam sebelumnya.

Tapi aku tahu ini bukan stroke. Aku hidup. Aku belum mati. Kurasakan ada yang mengalir dari sudut mataku, yang kemudian terpejam lagi.

*Dengan segenap terima kasih untuk semua tenaga (para)medis yang menjagaku selama perawatan.*

16 thoughts on “Operasi

    • alhamdulillah sekarang udah sehat… sudah bisa lari-larian lagi hehe..
      tapi belum boleh mluntir-mluntir yoga euy >.<

  1. Mbak, saya juga pernah mengalami sakit dari perut sampai kram ke wajah saat menunggu waktu operasi usus buntu. Tadi saya seolah balik ke waktu yang terasa genting saat menahan sakit dan merasa sudah dekat dengan ajal. Selain itu perasaan selama menuju ruang operasi dan setelah operasi itu terasa lebih seram daripada lewat kuburan. hihihihi

  2. hahaaa keren deskripsiinnya, aku jadi terbawa. semoga kita smeua sehat terus ya, mbak? amin.. btw, aku jg pernah ngerasain dioperasi, tp usus buntu yang udah pecah di dalem. hiiy..

    • amin amin.
      17 tahun lalu aku juga operasi usus buntu. sudah bengkak tapi belum pecah. kalau sudah pecah lebih ngeri katanya…

      njuk kapan kita kopdar ya? =))

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s