Perempuan yang Memaku Kakinya di Lantai Ruang Tamu

paku kaki

ilustrasi olehku sendiri

Perempuan itu sudah lama menjual mobilnya. Sebuah city car buatan Korea, yang biasa dia bawa pergi bekerja. Yang menjadi semacam kamar berjalan baginya. Di dalamnya ada baju ganti, handuk, sepatu, sabun, bedak, hand body lotion, sisir, sandal. Ada tas kecil berisi piranti make up lengkap. Ada botol minum yang dia isi dengan air galon setiap pagi ketika berangkat dari rumah, dan sore di kantor. Ada tempat sampah. Ada sekotak tisu. Ada tas kecil berisi buku dan piranti sketsa.

Dia juga sudah menjual motornya. Sebuah motor bebek  manual 125 cc, yang seringnya hanya dipakai untuk ke warung atau ke mana perlu di sekitar rumah. Sesekali dibawanya juga pergi bekerja, ketika merasa tak banyak yang perlu dibawa, atau dia musti buru-buru.

Dulu dia memerlukan mobil atau motor untuk pergi ke mana-mana. Dia pergi bekerja di pagi hari, setelah menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Suaminya… ah. Suaminya kadang sarapan di rumah, tapi lebih sering bangun tidur mandi berangkat. Sarapan di mana saja nanti, katanya. Dan perempuan itu tidak mau membantah. Berbantah cuma bikin lelah.

Siang memang dia tak perlu pulang. Anak-anaknya bersekolah sampai sore, mereka mendapat makan siang di sekolah. Barulah di sore hari dia harus pulang. Memastikan anak-anaknya mandi dan makan, belajar, mengerjakan PR, sembahyang, bermain di luar, tidak melulu main video game atau menghadap komputer.

Dia adalah jenis perempuan yang tidak bisa diam. Bukan, bukan mulutnya banyak bicara. Tubuhnya yang terus bergerak. Juga otaknya yang tak bisa diam. Selalu ada ide yang terlahir dari kepalanya. Kalaupun belum ada ide baru, dia akan terus mengerjakan ide-ide yang sudah muncul di kepalanya. Selalu ada hal yang ingin dikerjakannya. Dan dia butuh untuk bergerak ke mana-mana. Tidak bisa berhenti di suatu tempat berlama-lama.

Dia bekerja di kantor. Sambil diam-diam mengerjakan pekerjaan lain yang sama sekali bukan urusan kantor. Dia membuat gambar desain mulai dari kartu nama sampai detil interior rumah dan kantor. Dia mengurus web majalah online. Dia ikut mengurus sebuah yayasan nirlaba yang membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Sepulang kerja dia berolahraga. Menggerakkan segala alat di pusat kebugaran, atau menggolakkan air di beberapa kolam renang indoor di seputar kota.

Dia percaya seni adalah penyeimbang jiwa. Manusia yang menghayati seni adalah manusia seutuhnya. Maka meski dia merasa tidak bisa berkarya, dia berusaha menyempatkan diri dan menikmati banyak karya seni. Dia mendatangi pameran-pameran lukisan. Menyaksikan berbagai pertunjukan: tari, teater, kethoprak, wayang kulit, musik. Kadang ikut terlibat dalam penyelenggaraannya. Jadi apa saja, sepanjang tenaga dan idenya bisa berguna.

Bukan, dia bukan tidak suka berada di rumah bermain dengan anak-anaknya. Atau menyiapkan segala apa keperluan mereka. Dia bukan tak suka menemani mereka menonton televisi atau membaca. Atau sekedar berguling-guling di kasur dan bercanda. Dia membutuhkannya. Dia bahkan tidak bisa hidup tanpa melakukannya. Dia mencintai semua gerak yang mengharuskan dia mencium bau asam keringat anak-anaknya yang mulai beranjak remaja. Kadang hal ini membuatnya heran sendiri. Bau mereka, anak-anaknya itu, begitu harum ketika masih bayi. Tak bosan dia menciumi. Lalu ketika mereka mulai berlari ke sana kemari, bau harum itu mulai bercampur asam yang segar. Dan masih saja dia suka menciumi. Kini bau mereka begitu menyengat, kadang membuatnya ingin muntah. Tapi masih saja dia tidak bisa berhenti mencandui.

Dia sering pulang malam. Dia bisa berhari-hari tak pulang mengurus pekerjaan. Pada saat-saat seperti itu dia tidak mau melihat foto anaknya di hand phone atau di laptop. Itu hanya membuatnya merindu, dan tidak bisa konsentrasi bekerja. Dia hanya sesekali menelpon pengasuh anak-anak di rumah, memastikan mereka baik-baik saja. Sudah makan, sudah mandi, tidak jajan sembarangan, tidak nakal ketika bermain dengan teman-teman. Ya, walau diakuinya, dia senang mendengar suara anak-anak di telpon. Yang sekedar bertanya ‘Mama sedang apa?’ atau ‘Mama pulang jam berapa?’ atau ‘Mama, tolong belikan bahan prakarya’ atau ‘Mama, bantuin aku bikin PR matematika….’

Suaminya baik. Sangat. Bekerja banting tulang siang sampai malam. Sering pula berhari-hari tidak pulang. Karirnya menanjak dan cemerlang.  Kehidupan mereka juga terasa makin sejahtera. Rumah baru. Mobil baru. Motor baru. Gadget baru. Makin tinggi jabatannya, makin sibuk dia. Makin luas jaringan relasinya. Makin banyak orang yang harus ditemuinya. Makin jarang mereka punya kesempatan makan bersama.

Iya, dulu mereka sering makan siang bersama. Tapi lama-kelamaan makan siang menjadi agenda acara suaminya untuk meeting dengan rekanan. Juga makan malam. Juga sekedar ngopi di kafe atau restoran. Juga main golf, yang sekedar latihan mukul bola sampai yang turun ke lapangan. Mulai dari lapangan yang itu-itu saja di tengah kota, sampai lapangan yang lebih luas dan variatif di lain kota.

Meskipun begitu, hubungan mereka baik-baik saja. Suaminya masih mau mengantar perempuan itu pergi ke mana saja, selagi tidak ada janji dengan rekanan, tentu saja. Mereka masih menyempatkan nonton film berdua. Atau makan malam sepulang kerja. Janjian ketemu di mana. Iya, karena keduanya membawa kendaraan sendiri-sendiri. Tapi kadang perempuan itu ingin bermanja. Mobilnya sengaja dia tinggalkan di parkiran kantor suaminya. Lalu dia masuk ke mobil suaminya, “Aku pulang bareng kamu ya.” Dan jika sudah begitu suaminya akan langsung pulang usai kerja. Membatalkan meeting di kafe anu, atau janjian driving dengan Pak Anu. Tidak, tidak sering terjadi begitu. Hanya ketika si perempuan benar-benar rindu berduaan dengan suaminya, tanpa diganggu urusan kerjaan atau anak-anak.

“Klien-klienmu sudah sering membuatmu membatalkan janjimu denganku. Biar sesekali aku yang berbuat begitu pada mereka.”

Perempuan itu juga memberi ‘tugas’ kepada suaminya, untuk memberi uang saku mereka setiap awal minggu. Bukan, bukan dia tidak mau menyisihkan sebagian gajinya sendiri, atau pun gaji suaminya yang ditransfer ke rekeningnya setiap tanggal 27, untuk uang jajan anak-anaknya. Dia cuma ingin suaminya tetap terikat dengan anak-anak, walau sekedar oleh uluran selembar puluhan ribu rupiah. Agar setidaknya ada yang harus diingat untuk diberikan kepada anak-anak walau sekedar memberikan uang recehan. Tidak, bukan sekedar uang recehan. Karena di dalam aliran uang recehan itu ada percakapan, ada gelayutan. Ada rajukan anak-anak karena ayah mereka telat memberikan uang saku. Ada peluk. Ada gendong. Ada rasa terima kasih. Ada kasih sayang.

***

Keinginan seperti tumbuhan. Yang semakin lama bertumbuh mekar menjalar melebar. Otak dan tubuh perempuan itu semakin banyak bekerja, tak bisa berhenti. Waktu terasa semakin kurang tersedia untuk semua yang ingin dilakukannya. Lalu satu dua undangan mulai ditolak. Satu dua tawaran pekerjaan sampingan dijawab dengan ‘tidak.’ Banyak acara pertunjukan diabaikan. Karena dia harus mengantar anaknya les piano, meski sebenarnya dia bisa membayar tukang ojek atau memanggilkan taksi. Karena dia ingin mengajak anak-anaknya berjalan-jalan, sekedar membeli es krim atau minum wedang ronde, meskipun sebenarnya dia bisa meninggalkan uang berapa saja agar anak-anak bisa membeli apa saja yang mereka mau. Karena dia ingin sesekali menemani anaknya belajar, meskipun dia bisa membayar guru les untuk datang setiap hari.

Karena anak-anak mulai tidak  menelpon lagi untuk bertanya ‘Mama sedang apa?’ atau ‘Mama pulang jam berapa?’ atau ‘Mama, tolong belikan bahan prakarya’ atau ‘Mama, bantuin aku bikin PR matematika….’

Karena mereka tidak peduli lagi ibu mereka sedang apa, jawabnya pasti ‘sedang bekerja.’ Karena mereka tidak peduli lagi ibu mereka pulang jam berapa, mereka akan tidur ketika mengantuk.  Karena mereka tidak lagi butuh ibu mereka untuk membelikan bahan prakarya, Pak Udin tetangga sebelah mau mengantar mereka membeli segala kebutuhan mereka. Karena ternyata belajar dengan guru les yang dipilihkan ibu mereka lebih menyenangkan dan membuat nilai-nilai mereka lebih bagus dari sebelumnya.

Maka perempuan itu menjual mobil dan motornya, sehingga dia tidak akan pergi ke mana-mana. Dia memilih memaku kedua telapak kakinya di lantai ruang tamu. Dia tetap pergi bekerja. Mengerjakan beberapa pekerjaan sambilan. Mendatangi beberapa pertunjukan. Tapi tidak benar-benar pergi. Dia hanya perlu menjulurkan tubuhnya ke tempat tujuannya, dan kakinya tetap terpaku di rumah. Tungkainya melentur, mulur, memanjang mengantar badannya ke mana saja. Karena itu dia tidak membutuhkan lagi mobilnya yang seperti kamar berjalan, yang memuat segala apa yang dibutuhkannya. Bajunya ada di lemari. Sepatunya ada di rak sepatu. Sabun ada di kamar mandi. Peralatan make up ada meja rias. Semua ada di rumah. Semua bisa diambilnya kapan saja dia membutuhkan, dia tinggal membiarkan tubuhnya mengerut lagi kembali pada kakinya yang tertancap dengan paku, di lantai ruang tamu. Dan dia tetap bisa bersama anak-anak.

Perempuan itu tetap bergerak tanpa perlu pergi-pergi. Agar bisa terus menciumi bau prengus  keringat anak-anaknya. Menemani anak-anak makan, belajar, bermain, menonton televisi, atau sekedar berguling-guling di kasur bercanda. Sambil menunggu suaminya yang kini bertugas di lain kota, pulang dua minggu sekali.

Semarang, Maret 2013

=================

keb MOTHER'S DAY

Diposting dipas-paskan di Hari Ibu, juga diikutkan dalam posting serentak KEB

Advertisements

43 thoughts on “Perempuan yang Memaku Kakinya di Lantai Ruang Tamu

  1. aaaaaahh….. kakiku terpaku di depan meja di ruanganku di kantor mbak! kalau terpaku di ruang tamu nanti aku malah ndakbisa makan! #lalucaribojobaruyangkayaraya #lah :))

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s