Pulang adalah.

pintu bergembok palang

Pulang adalah serangkaian desah. Debu yang menyelimuti permukaan seisi rumah seluas setengah blok perumahan tempat kami tinggal. Hanya ada jalur tapak kaki setiap hari, dari pintu depan, ke depan tivi, ke meja makan, ke ruang sholat, ke dapur, ke kamar mandi, ke pintu belakang. Menyambung dari satu titik ke titik yang lain membentuk jaring. Entah kapan terakhir kali dibersihkan. Mungkin terakhir kali aku pulang.

Pulang adalah bak cuci piring yang berlumut. Air di satu bak bersih, di bak yang lain berminyak, dan beberapa sisa makanan. Simbah masih setia dengan cara mencuci perabotan ala jaman dulu. Sabuni, celup di satu air bilas, bilas sekali lagi. Masih belum merasa perlu membilas dengan air mengalir. Masih merasa cukup dengan selalu mengganti air sehari sekali tidak peduli dipakai cuci berapa kali, atau seberapa sering perlu mencuci baknya.

Aku sering mencuri bilas cuci di padasan, yang segera kuisi penuh lagi setelahnya. Mencuri. Karena bagi Simbah, padasan adalah wadah suci tempat mengambil air wudlu. Bukan untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Bukan untuk membilas asah-asahan, apalagi mengguyur celana anakku yang terkena ompol.

***

Pagi-pagi Simbah berkata, “Nasinya sudah kupanaskan.” Aku mengangguk saja meski agak bingung, kenapa nasi harus dipanaskan, jika dimasak dengan panci penanak nasi elektrik yang sekaligus penghangat?

Selesai menggoreng lauk cepat saji aku membuka si panci ajaib, dan terkuar bau basi.

“Mbah, apa semalam kabelnya dicabut?”

“Iya, pagi ini barusan taktancepke lagi. Dipanaskan.”

Kalau tidak ada kami, Simbah masak nasi untuk dirinya seorang dengan mentim di panci kecil, memakai tungku kecil. Dia membiarkan aku meletakkan kompor gas di meja dapur, juga rice cooker, yang hanya dipakai jika aku pulang.

Simbah terlanjur memedomani hemat energi, mematikan semua lampu dan semua piranti listrik yang tidak diperlukan. Maka seperti biasa sebelum tidur, Simbah mematikan semua lampu (yang sebagian hanya  menyala jika aku pulang) kecuali lampu teras, juga mencabut kabel tivi. Dan kabel rice cooker. Aku lupa belum memberi tahu, atau sudah tapi Simbah yang lupa, bahwa nasi bisa tahan sehari semalam di dalamnya, tapi harus terus terhubung listrik.

Kubuang nasi yang masih setengah panci. Menanak lagi. Dan menyuapi anakku yang sudah kelaparan dengan tiga potong bolu marmer dan segelas susu.

***

Pulang adalah memasuki wilayah nyaris bebas sinyal telepon seluler. Sesekali SMS masuk dan bisa terbalas. Tapi bisa menelpon atau menerima telpon adalah berkah, terlebih lagi jika bisa berinternet.

Kadang hal itu menyenangkan, membebaskan diri dari denting-denting notifikasi. Tapi kadang membuat sunyi.

Pulang adalah sekian banyak pintu dengan masing-masing sekian banyak pengaman yang harus dilepaskan pagi hari ketika ingin membiarkan udara dan cahaya masuk ke rumah. Dan harus dipasang kembali setiap senja datang, atau setiap rumah hendak ditinggalkan. Beberapa pintu tidak merasakan bongkar pasang pengaman itu jika aku tidak pulang.

Pulang adalah sesaat memecah keheningan yang menjadi sahabat rumah besar dan lengang ini. Untuk kemudian aku pulang ke rumahku sendiri, yang kecil namun riuh.

“Pamit Mbah…”

Simbah melambaikan tangan sampai mobil menghilang di tikungan, hingga kututup jendela yang tadi kubiarkan terbuka.

Meninggalkan Simbah dan rumah. Entah mana dari keduanya yang lebih kesepian.

22 thoughts on “Pulang adalah.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s