Lima Tahun Kemudian.

Untuk Prompt Quiz #6 di Monday Flash Fliction

Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung. Entah itu baik atau buruk. Apakah dia siap? Apa yang akan mereka katakan? Bagaimana dia akan menghadapi mereka? Dan Warti?

Warti akan memandangnya penuh kebencian. Atau mungkin tidak peduli lagi. Ada Parwanto. Joko tahu Parwanto sangat mencintai Warti, dan rela melakukan apa pun demi Warti. Karena itulah Joko sama sekali tidak ragu untuk minggat waktu itu;  Parwanto yang akan menjaga Warti.

Semua orang menganggapnya pengecut, dia tahu. Menghilang ketika orang sekampung sudah bersiap untuk menghadiri pernikahan dia dan Warti. Mereka yakin itu akan terjadi kurang dari setahun lagi, meskipun Joko sendiri belum memutuskan.

Joko sempat berpikir, Wartilah yang menghembuskan bisik-bisik kabar bahagia itu. Sengaja membangun suasana yang memaksa, sehingga Joko mau tidak mau akan menikahinya. Joko bukan tidak mau. Joko sangat mau. Ingin.

Mereka tidak pernah resmi pacaran. Meskipun begitu semua orang tahu di antara mereka ada rasa yang kuat. Warti tidak pernah peduli laki-laki lain. Joko tidak pernah peduli perempuan lain. Tidak ada yang mengerti kenapa Joko tidak mau dengan tegas nembung Warti menjadi kekasih. Warti juga tidak mengerti, tapi dia tetap yakin dan menanti.

Sore itu, dua tiga bulan sebelum kepergiannya. Orang sedusun berombongan naik 2 bus tanggung mengantar Lilis yang baru saja menikah, ke desa tempat tinggal suaminya di kabupaten tetangga. Joko dan Warti tidak kebagian tempat duduk. Tidak bisa masuk walaupun penumpang sudah dipetel-petel.

“Kamu naik motor saja sama Warti ya, Ko. Kan masih muda. Boyokmu masih kuat to motor-motoran sejam aja?” begitu kata Pak Bayan. Sialan, pikir Joko. Ini konspirasi.

Mereka sedang beristirahat di POM Bensin setelah numpang kencing.

“Senangnya, Lilis. Akhirnya menikah dengan lelaki baik pilihan hatinya,” Warti membuka bicara.

“Iya…” Joko asal menyahut saja.

“Kamu memang tidak pernah bilang. Tapi aku tahu kamu mencintaiku, Mas.”

“Iya, Warti. Aku mencintaimu. Lebih dari apa pun.”

“Apakah kamu akan menikahiku Mas?”

“Warti, jika ada perempuan di dunia ini yang ingin kunikahi, itu pasti kamu…”

“Kalau laki-laki lain yang ngomong begitu, aku yakin itu gombal…”

“Kalau aku? Bagaimana kalau ternyata aku juga nggombal?”

“Nggak Mas. Kamu nggak nggombal. Aku percaya…”

“Itu karena kamu berharap aku berkata begitu, jadi kamu percaya…”

“Pokoknya aku percaya.”

“Sebaiknya kamu tidak percaya…”

***

Hari ini, setelah lima tahun Joko menolak mendengar kabar apa pun dari siapa pun, dia menjejakkan kaki di sub terminal kecil ini. Dalam hati ada kecamuk antara syukur dan maki, tentang pertemuan tanpa sengaja dengan Maryanto di Pasar Burung minggu lalu. Sekian lama membuta tuli, Maryanto membuatnya ingin kembali…

Bapak dan Ibu menyambut Joko seolah dia baru pulang dari pergi kemarin sore. Tidak ada pertanyaan apa pun.

Parwanto menikah dengan Yakini dan sudah punya seorang bayi.

Warti masih menanti. Dan masih belum tahu bahwa Joko berkelamin ganda.

(454 kata)

Advertisements

26 thoughts on “Lima Tahun Kemudian.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s