Dover: Kegetiran Dunia Imigran Gelap

Dover 

Gustaaf Peek

Amsterdam, Em. Querido’s Uitgeverij. 2008.

Alih bahasa: Gabriella Felicia, Maria Leisa Adelia, Meggy Soedjatmiko, Miranda Sapardan, Sri Zuliati, Tyas DM, Vini Widianingsih, Widjajanti Dharmowijono, Zahroh Nuriah.

Gramedia Pustaka Utama, 2015.

dover

===========

Membaca Dover adalah membaca kegetiran dunia imigran gelap. Mimpi dan angan-angan akan hidup yang lebih baik di negara lain, meninggalkan kepedihan masa lalu di negara asal. Tony yang dari Indonesia. Bas yang dari Afrika. Ayline yang entah dari mana. Menjadi bahan perahan tangan-tangan jahat yang menjanjikan harapan. Abdu yang memperdagangkan perempuan. Bernard pengacara bangkrut yang beralih urusan mencarikan jalan pelarian. Tuan Chow yang masih sedikit punya perasaan.

Buku ini dibuka dengan kejadian tenggelamnya kapal yang mengangkut 58 penumpang imigran gelap dengan menggantikan muatan yang dilaporkan sebagai tomat, dari Rotterdam (Belanda) ke Dover (Inggris). Hampir seluruh penumpang mati karena keracunan karbondioksida. Hanya dua yang selamat.

Dover dituturkan bergantian oleh tokoh-tokohnya, dalam lompatan ruang dan waktu. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari masa kini ke masa lalu dan kembali ke masa kini.

Kelihaian Gustaaf menciptakan penggalan-penggalan kisah, kemudian menjalinnya dalam jejaring yang berkaitan, menjadikan novel ini jauh dari membosankan. Setiap bagian kisah seolah adalah cerita tersendiri. Dituturkan oleh tokoh yang berbeda, memiliki alur dan twist masing-masing. Namun semuanya padu menyusun keseluruhan cerita. Kita seperti diajak terayun terombang-ambing ke sana kemari, tapi menikmati.

Di beberapa bagian penuturan tentang kejadian yang sama dilakukan oleh dua tokoh dan terasa seperti pengulangan yang sedikit mubadzir.

Salah satu bagian menarik dari Dover adalah latar belakang Tony, tokoh utamanya, yang adalah imigran gelap asal Indonesia. Gustaaf menceritakan dengan baik detil kejadian kerusuhan Mei 1998. Kisah Tony adalah rekaan, tapi Gustaaf mereka kisah dengan bertanggung jawab, tidak lepas dari fakta bersejarah yang terjadi.

Rentang kisah yang cukup lama (dimulai dari masa kecil Tony hingga awal 2000-an) memberi ruang yang cukup longgar bagi tiap tokoh untuk bertutur tentang dirinya. Gustaaf telah cukup memberikan flash back  bagi pembaca untuk memahami keterkaitan masa lalu dan masa kini masing-masing tokoh, maupun keterkaitan antar tokoh. Meskipun begitu, masih terdapat bagian-bagian ‘gelap’ yang mungkin menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Sebaliknya, terdapat juga bagian-bagian yang terasa tidak penting untuk jalannya kisah.

Sebagai sebuah novel terjemahan, Dover cukup luwes dan nyaman dibaca. Barangkali karena dia adalah penyair. Gustaaf menyajikan kepedihan yang dijalani tokoh-tokohnya dengan indah namun tetap pilu. Kalimat-kalimat yang pendek dan tenang, sanggup mengalirkan keriuhan tanpa berisik. Bahkan pada bagian-bagian yang terasa ‘kejam’ dan ‘ngeri’, Gustaaf bercerita kepada kita dengan halus.

Kita dapat terus membaca sambil sesekali menutup buku, menahan napas, lalu melanjutkan lagi. Setiap bab adalah kegelisahan dan kecemasan yang dirasakan tokoh—tokohnya. Kekejaman pemerintah. Kekejaman hakim-hakim sosial di masyarakat. Masa lalu yang gelap. Bahkan kegelisahan tentang cinta.

Di akhir cerita yang tragis dari masing-masing tokoh, terasa seolah Gustaaf menusukkan pisau ke jantung pembaca dengan perlahan, sambil mendongeng tentang khayalan penuh keindahan. Sakit. Tapi indah. Dan kita menelannya penuh rasa terima kasih.

(Dimuat di Harian Solo Pos, 30 Agustus 2015)

Advertisements

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s