Karena Kau Lubang, Bukan Keledai

  
I.

Ketika setahun yang lalu aku divonis harus operasi karena usus yang mluntir dan lengket, itu mengerikan sekaligus melegakan. Mengerikan saat melihat hasil x-Ray keadaan perutku (dan karenanya masuk akal bagaimana sakit yang ditimbulkan) dan hasil foto ususku yang diambil dengan HP dokterku saat operasi berlangsung. Melegakan karena itu adalah jawaban dari penderitaan bertahun-tahun di mana aku didagnosa maag (yang ternyata bukan). Oh, dan menakjubkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi.

II.

Beberapa orang dengan serius menasehatiku untuk berhenti beryoga, karena menganggap itulah penyebab lengket ususku. Yang lain mengingatkan untuk tidak terlambat makan karena menganggap itulah penyebabnya: perut kosong, tidak ada makanan yang lewat, usus merapat. 

Sebagai pasien yang didiagnosa ‘maag kronis’ selama bertahun-tahun tentu saja aku sudah mewaspadai segala penyebab kambuhnya. Tidak telat makan, tidak pedas, tidak asam, tidak soda. Makanya aku selalu heran, separah apa kerusakan lambungku sampai sebegitu parah tiap bulan kambuh padahal sudah dijaga sebisa mungkin. Dan sungguh aku tidak nemu penjelasan ilmiah tentang beryoga dapat menyebabkan usus mluntir…

III.

Kata dokter, lengket karena adhesi bisa terjadi lagi tapi bisa dicegah. Banyak olah raga dan mengkonsumsi vitamin E. Olahraga yang dilakukan pun harus yang variatif, yang memungkinkan posisi perut dinamis tidak statis. Lari, misalnya, meskipun keras dan melelahkan tapi posisi tubuh/perut tegak terus. Dokter menyarankan berenang. Atau latihan di gym dengan berbagai alat. Atau pilates. Atau yoga. Supaya ada variasi posisi tubuh; tegak, miring, berbaring. Jadi bagaimana yoga yang disarankan oleh dokter untuk mencegah terjadinya adhesi usus, justru menjadi penyebab adhesi?

IV. 

Muntah dan kembung bukan melulu disebabkan telat makan lalu maag kambuh. Tapi juga oleh sakit ‘sesederhana’ masuk angin dan kecapekan.

V.

Tidak ada orang yang ingin sakit. Kamu tidak tahu apa yang dilalui orang lain — dan trauma yang mungkin dialami; tidak cukup untuk mengatakan seseorang telah lalai menjaga kesehatan dan membiarkan diri jatuh ke lubang yang sama. 

VI.

Orang mungkin perlu mengalami ‘bagaima rasanya’ untuk berhenti asal bicara.

Advertisements

11 thoughts on “Karena Kau Lubang, Bukan Keledai

  1. Sebetulnya adhesi intestinal hanya pernah aku lihat di buku-buku tanpa merasakan pengalaman pasiennya langsung.

    Jadi sewaktu Mbak Latree menceritakan sakit ini yang sebenarnya kepadaku, aku mulai merasa adhesi intestinal itu masalah serius, yang mungkin terabaikan oleh banyak orang. Hanya dokter SpB yang memperhatikan perlengketan usus ini, lain-lainnya jarang. Karena memang jarang yang dipublikasikan.

    Senang membayangkan dirimu nggak sakit perut lagi, Mbak.

    • kalau tidak merasaka sendiri mungkin aku juga tidak menganggap serius… kata dokter jika tidak diatasi bisa infeksi bahkan sampai perforasi. ga bisa bayangin usus meletus…
      terima kasih Vic, semoga kita sehat selalu…

  2. Orang mungkin perlu mengalami ‘bagaima rasanya’ untuk berhenti asal bicara.

    QOTD


    semenjak saya divonis kanker, banyak banget yg ngasi wejangan lah, apalah. saya tahu mereka mendukung sepenuhnya atas kesembuhan saya, tapi mungkinmereka kurang tahu caranya. untung ini saya :))

  3. Sakit perut yang “seperti” maag ternyata bisa merupakan penyakit lain ya. Temanku ada juga yg gejala mirip maag, ternyata usus buntu.
    Duh jadi kepikiran nih nggak pernah olahraga.
    Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya mba.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s