Kuis: Pembantu Oh Pembantu.

image1

Pagi ini dengan mengucap bismillah aku berangkat menuju sebuah desa di lereng gunung Sumbing. Tujuanku adalah menemui mantan pembantuku. Ada tiga orang di sana. Ketiganya keluar karena akan menikah. Aku berharap bisa bertemu setidaknya salah satu. Aku butuh bantuan. Mencari pembantu.

Karena pembantu yang sekarang, yang sudah lebih dari delapan tahun bertahan, minta ijin berhenti bekerja. Bukan. Bukan karena akan menikah juga. Tapi karena dia pengin istirahat bekerja. Alasan yang mungkin terdengar absurd. Tapi bagiku tidak. Ya. Karena aku sudah terbiasa dengan keabsurdannya….

Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak mengambah desa itu. Banyak yang berubah. Jalan-jalan yang dulu makadam berubah jadi aspal atau rabat beton. Banyak rumah yang dulu gubug menjadi tembok. Tapi aku masih mengenali rumah Mbak Tin dan Mbak Nay. Pertama aku mengunjungi Mbak Tin. Anaknya sudah dua. Perempuan semua.

Setelah kangen-kangenan beberapa saat, aku menyampaikan maksud kedatanganku.

“Oh. Sebentar. Siapa ya Bu, dekat sini yang bisa diajak…”

Lalu dia teringat ada seorang. Aku diminta tinggal di situ, dia mau mendatangi seorang yang mungkin mau. Beberapa menit kemudian dia kembali.

“Ada Bu. Tapi anaknya hari ini sedang pergi bekerja ke kota. Kata ibunya, untuk kepastiannya nunggu dia pulang nanti sore.”

Itu. Agak sulit. Aku harus pulang sebelum sore, agar tidak kemalaman tiba di rumah. Jadi aku pesan saja nanti supaya ditanyakan, dan aku dikabari hasilnya lewat telepon.

Lalu kami berdua mengunjungi rumah Mbak Nay. Mbak Nay juga sudah punya dua anak. Ih, gemes.

“Adik saya bisa diajak Bu. Dia lagi cari kerja.”

Karena Mbak Tin sudah nembung ke tetangganya, Siti, dia minta adik Mbak Nay untuk menunggu keputusan Siti nanti sore. Kalau Siti tidak bisa, baru tawarkan kesempatan ke adiknya. Kami sepakat.

Lepas dhuhur aku pulang. Di perjalanan, Mbak Nay menelpon, “Ibu, kata suami saya, Siti itu kurang baik. Sebaiknya jangan dia.”

Hm. Aku menduga Mbak Nay berkata begitu karena ingin adiknya yang diajak. Demi menghargai Mbak Tin, aku bilang, “Kita lihat nanti ya Mbak. Nanti aku cek lagi ke Mbak Tin.”

Belum lagi sampai di rumah, Mbak Tin menelpon. Siti mau.

Antara ingin bilang alhamdulillah atau astaghfirullah. Jaman sekarang cari pembantu bukan hal gampang. Jika ada yang mau, dengan keadaan yang sudah terlebih dulu kuceritakan, itu anugerah. Tapi aku teringat kata-kata Mbak Nay.

“Oke Mbak Tin. Aku ingin memastikan Siti benar-benar mantap dan bukan coba-coba. Supaya aku tidak repot musti cari-cari lagi kalau dia nanti tidak kerasan.”

Mbak Siti menelpon aku sendiri. Meyakinkan bahwa dia sudah mantap. Dan siap dijemput kapan saja.

Aku mengabari Mbak Nay lewat SMS. Minta maaf karena tidak bisa menerima adiknya bekerja. Mendoakan adiknya segera dapat bekerja di tempat yang baik.

“Ya Bu. Ndak papa. Tapi nanti Ibu tolong hati-hati ya.”

Kenapa?

Suami Mbak Nay menelpon. Dia minta maaf, menjelaskan bahwa dia bukan bermaksud menyodor-nyodorkan adik istrinya dan menghalangi Siti. Tapi menurut anak-anak muda di sekitar rumah mereka, Siti itu. Nganu. Suka mengambil yang bukan miliknya.

Oh. Ini adalah kabar yang paling tidak ingin kamu dengar tentang seorang (calon) pembantu. Mendadak aku ingat meme tentang memercayakan dompet dan anak pada pembantu. Sialan.

Okay. Jadi harus ada yang dipikirkan lagi.

Malam sebelum Isya, Siti SMS lagi.

Bu, sy dijemput bsk pagi ya, biar sy tdk usah kerja d krtk lg.

Oh, maaf Mbak, kalau besok pagi ga bisa. Aku kerja, Bapak juga harus  keluar kota. Kamu kerja aja dulu seperti biasa. Nanti kalau mau jemput aku kabari.

Ya bu. Tp kl bs secepatnya ya.

Lha kenapa to Mbak, kok buru-buru?

***

Sampai bangun pagi hari ini Siti belum menjawab pertanyaanku. Kenapa dia sebegitu ingin secepatnya berangkat bekerja di rumahku? Sementara aku masih belum tahu harus bagaimana.

Menurutmu, aku harus bagaimana?

==============================

Tinggalkan komen pendapat Anda. Salah satu komen menarik berhak mendapatkan sebuah souvenir menarik dari Malaysia seperti ilustrasi di atas. Expired by 9 June 2016. Terima kasih!

14 thoughts on “Kuis: Pembantu Oh Pembantu.

  1. Kalau dari Mba Tin apakah info soal Siti juga sama? soal suka mengambil barang? mungkin bisa minta tolong ke mba Tin untuk mencari info (karena bertetangga) soal Siti. Sekiranya memang iya, lebih baik tidak diterima dari awal… alasannya bisa dikasih tahu setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga kalau keputusannya (maaf) tidak jadi menerimanya…

    Rasa-rasanya mencari pembantu sekarang ini memang susah-susah gampang. Klo dipikir-pikir, kok lebih ‘tentrem’ yah kalau malah menerima adik Mbak Nay dari pada Siti? simpel saja, sudah kenal kakaknya (Mbak Nay beserta keluarganya), dan mestinya kalau adiknya bakal jadi ART dikasih tahu oleh mereka jangan malu-maluin (dengan melakukan tindakan yang tidak pantas)… *imho

  2. mungkin harus klarifikasi mengenai sifat siti lebih dalam. bukan dari satu sumber saja, dari mbak nay dan suaminya. biar lebih yakin dengan perangai si siti.

    tapi dari gelagat siti yang belum juga jawab pertanyaan…. sedikit memberi petunjuk juga seh😀

    yang jelas lebih banyak info akan lebih baik dalam mengambil keputusan. meski terkadang malah nambah pusing juga

  3. 1. Menajamkan rasa lewat sholat sunnah atah ibadah lain. Biasanya akan ada sinyal2 negatif yang cepat tertangkap.
    2. Berdoa minta kepastian dari Allah.
    3. Nunggu jawaban dari siti
    4. Minta foto siti yang dikirim ke hape mbak la, dari wajah biasanya kita bisa lihat ‘sesuatu’
    5. Kalau udah ngerasa ada yang gak beres sama siti, batalkan saja mbak. Ganti adeknya mbak nay

  4. Lebih baik klarifikasi dulu baik ke Pihak mba Tin selaku tetangga Siti maupun ke Suami Mba Nay. Tentu sulit bagi mba dalam situasi seperti ini namun lebih banyak menggali dan mencari informasi saya yakin mba akan mengambil keputusan yang tepat. Tetapi saya sarankan mba jangan devil’s effect terlebih dahulu kepada Siti (karena kabar sepihak) dan juga jangan hallo effect dulu kepada adiknya mba Nay. Belum tentu juga Adiknya mba Nay sama perangainya, satu darah bisa jadi beda tabiat karena masing-masing individu unik. Semoga dapet pencerahan y mba. Mba yang lebih mengetahui sekali kebutuhan mba dengan kandidat pembantu yang ada, jika memungkinkan bisa di tes psikotes kepribadiannya dulu. Tapi jika tidak memungkinkan melalui tes bisa gali pribadi masing-masing melalui interview sudah cukup terlihat dari gesture maupun tutur kata serta konsistensi dalam menjawab. semoga tidak salah pilih y mba. Salam kenal juga ^^

  5. adik Mbak Nay juga belum ngasih keputusan mau kok. jadi kalau melepas Siti pun belum tentu dapat adik Mbak Nay. Mbak Tin malah ndak tau ada info seperti itu hehe. tapi tetep saja bikin mikir kan ya.

  6. Cb tanya ke mba yg pertama gimana si Siti itu orgnya, kalau dia bilang baik bolehlah dicoba. Serem emang punya org yg bantu2 dirumah kalau dr awal udah dikasih peringatan kayak gt

  7. rumit,
    1. tapi berdasarkan kronologi, dirimu duluan yg nawarin, dan yg ditawarin sdh setuju,
    2. rapi menurut beberapa sumber ada hal negatif yang perlu diwaspadai, walaupun tampaknya belum ada bukti yg riil, tapi sudah ada laporan
    3. tapi dirimu juga berhak mengklarifikasi

    jadi ya, tunggu balesan alesannya saja, atau dipertegas lagi, tanya ulang, kirim sms ulang, atau telpon sekalian

    menanti jawaban…
    oh mirip judul lagu

  8. oke ini sudah tanggal 10. terima kasih yang sudah komen. hadiah akan aku kirimkan kepada komen paling menarik, yaitu abang Jampang. terima kasih🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s