Umuk

Makan siang selalu lebih menyenangkan kalau ada teman, meski kadang aku ingin sendirian. Kali ini aku menyambut ajakan Mbak Lala untuk makan siang bareng di kantin. Aku cuma harus siap mendengar curhatnya tentang teman-teman group whatsapp SMP atau gosip panas seputar teman-teman kantor.

Kantin penuh. Tinggal ada dua kursi kosong di meja yang sudah terisi. Ada Ida dan Miska. Gabung dengan mereka sepertinya asyik juga. Mereka sudah hampir selesai makan tapi jelas sama sekali tidak keberatan tetap tinggal sampai kami selesai makan. Kesempatan untuk bergosip lebih lama dan seru.

“Anakku itu lho,” Mbak Lala memulai, “nggak bisa diakali ayahnya.”

“Diakali gimana, Mbak?”

“Ayahnya udah janji, kalau diterima di SMP 2 mau dibeliin motor.”

“Lho tahun ajaran barunya bukannya sudah lama lewat? Ini semester 2 kan?” tanya Miska.

“Masuk SMP dijanjiin motor? Lha anak segitu mau dibolehin naik motor?” aku ikut bertanya.

“Iya… makanya itu. Udah bagus dia nggak ngamuk karena ditunda beberapa bulan. Maksud suamiku ya mau ditunda beberapa bulan lagi. Bukan karena nggak ada uangnya, cuma buat nunggu sampai dia agak gede dikit. Ya kelas dua apa kelas tiga gitu lah… Tapi anaknya udah nagih terus. Ya udah terpaksa deh…”

“Kelas tiga SMP juga belum boleh kan?” aku tanya lagi.

“Trus nggak bisa diakalinya di mana?” Miska juga lanjut bertanya.

“Alaaah… anak jaman sekarang itu bongsor. Nggak kaya kita jaman dulu, kurang gizi, badan kuntet. Ini naik Vixion udah nyampai lho kakinya! Udah kuat pegang setang juga. Aku sempat degdegan lihat dia wara wiri…”

“Wah Vixion…!”

Wajah Mbak Lala berbinar bangga. Makin bangga oleh ‘wah’ dari kami bertiga.

“Wah lumayan juga itu harganya, buat beli skuter matic-ku bisa dapet dua,” Ida melambungkan Mbak Lala lebih tinggi lagi sambil meminum sisa es jeruknya.

“Iya. Itu yang kubilang nggak bisa diakali. Maksudku beli skuter matic aja, yang agak kecilan. Judulnya beliin dia tapi nanti aku juga bisa pakai. Eh jebul nggak mau. ‘Kalau motorku ya aku yang milih,’ katanya.”

Pembicaraan tentang ‘uang bukan masalah’ dan ‘masih SMP udah boleh naik motor’ masih berlangsung sampai beberapa saat, sebelum berganti topik tentang gosip tentang Tari yang merayu bos lantai dua…

.

Esok harinya, pagi-pagi, aku baru saja duduk dan mulai membuka-buka berkas, Mbak Lala mendekat ke mejaku.

“Ning, ini kalau bukan ke kamu aku ndak berani.”

“Ada apa mbak?”

“Aku pikir ini tanggal 25, ternyata belum ya.”

Jreng jreng.

“Maksudnya?”

“Aku barusan cek rekening, belum ada transfer gaji.”

“Ya belum lah mbak. Besok gajiannya.”

“Aku pinjem dari kamu dulu ya. Lima ratus. Ada kan?”

“Nggak bawa Mbak, kalau cash segitu.”

“Kamu bisa ambil ke ATM to?”

“Lha kenapa kamu nggak ambil ke ATM kamu sendiri?”

“Rekeningku yang ada ATM-nya udah kosong. Tinggal di rekening satunya yang nggak pakai ATM. Malas lah kalau ke teller cuma mau ambil segitu.”

“Ya kalau memang butuh cash ya gimana lagi? Jangan-jangan rekeningmu emang ndak ada isinya…”

“Enak aja. Ada. Tapi memang aku nggak bikin ATM karena rekening itu sengaja buat tabungan, biar ga sebentar-sebentar ambil sebentar-sebentar ambil. Jadi nggak boros.”

“Ya udah sana ambil. Ini kan keadaan mendesak.”

“Udah dibilangin nggak cucok antri di teller ambil dikit…”

“Ya ambil yang banyaaaak! Biar cucok!”

“Aku nggak butuh banyak… cuma butuh lima ratus aja buat menyambung hidup hari ini. Nanti malem suamiku pulang bawa uang buat aku. Kan sayang kalau tabunganku aku ambil sekarang.”

“Ya tapi aku nggak ada cash lima ratuuuus…”

“Ya makanya kamu ke ATM…”

“Lihat ini kerjaanku segini… aku nggak tahu kapan kelar dan bisa ke ATM. Ini aja kayanya buat maksi aku bakalan pesen GoFood dan makan di ruangan.”

“Nggak harus sekarang, Non. Pokoknya hari ini. Kamu masih punya waktu sampai nanti sore. Oiya, hari ini aku harus pulang tepat jam empat. Jadi sebelum itu ya?”

Jreng jreng! Ini orang mau pinjam uang kok perintahnya seperti dia yang punya uang dan aku kacungnya.

Aku buka dompet, ada tiga lembar ratusan ribu. Kuambil dua lembar dan kusodorkan ke depannya.

“Nih ada dua ratus. Kalau mau ambil. Kalau nggak mau ya sudah. Aku nggak ke ATM hari ini.”

Dengan cemberut dia mengambil lembaran uang itu dariku lalu balik kanan.

“Besok gajian, jangan lupa balikin ya!” teriakku. Tidak ada jawaban. Ah Su.

Advertisements

7 thoughts on “Umuk

  1. di sebuah warung, kafe, angkot atau di tempat kerja lama, karena tak ada pilihan lain, aku malah sengaja memperhatikan, nguping para perempuan yang ngomonggggg mulu. ya isinya seputar keluarga dan ngrasani orang lain….*pernah sekali waktu di bus, aku sampe pindah kursi karena benar-benar tidak tahan.

    apa sebenarnya tujuan mereka bercerita, ngasih info? semua materinya tak penting banget diceritakan, gak menarik blas…..kedua kenapa mereka seperti tidak bisa berhenti? mungkin harus belajar yoga kali….*wkwkwkwkkwkwkwwkwk

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s