Tandus.

Musim kering di puncak kering. Hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun, setia menunggu hujan turun. Siang terik berdebu. Tanpa angin. Tapi Mbah Nah menutup semua pintu dan jendela. Kera-kera mulai turun bukit mencari makan di rumah-rumah penduduk. Mbah Nah takut.

Sedikit lebih turun dari kaki bukit, dua saudara peripean duduk di teras, sambil memangku anak mereka yang belum genap selapan dan hanya selisih dua minggu. Puji istri Eko. Fitri istri Dwi, adik Eko. Mbah Wujil ketiban durian runtuh, tampa putu dua sekaligus, laki-laki semua.

“Anakku ni kayanya ga puas nyusu aku, Yu. Masih nangis terus walau udah diteteki kanan kiri. Untung Mamak sudah siap botol dan susu formula.”

“Ya sama. Ini juga gitu. Udah diteteki, udah ditambahi susu formula, masih nangis juga. Kayanya minta maem.”

“Lah mbok dikasih maem,” kata Mbah Wujil.

“Tapi kata bidan, kalau belum enam bulan belum boleh dikasih maem, Mak,” kata Fitri.

“Kenapa katanya, kok harus nunggu enam bulan? Bojomu dulu belum puput juga sudah tak suapi. Lihat sekarang gedenya gagah rosa begitu.”

“Wah ya ndak tahu. Pokoknya gitu. Biar sehat, sampai enam bulan diteteki thok. Kalau bisa jangan disambung susu dot.”

“Ya karepmu. Dikandhani wong tuwek kok ngeyel.”

“Ya kan ini sudah disambung, Mak, pakai dot dan susu yang Mamak beliin…. Nanti kalau masih nangis terus, boleh deh Mamak kasih maem.”

.

Bayi itu bisanya menangis. Pipis. Eek. Sumuk. Minta digendong. Digigit semut. Lapar. Nangis. Dan bayi lapar itu makanannya susu. Bukan tajin. Bukan pisang. Bukaan biskuit mari digerus dicampur air.

Bayi udah diteteki masih nangis mungkin karena pengin ngempeng dan nyaman dipeluk. Mungkin belum kenyang karena belum cukup nyusu. Belum tentu air susu emaknya kurang. Bisa jadi ngemutnya ndak pas jadi susunya ndak ngalir lancar. Bisa jadi anaknya males ngenyut. Kalau tetekmu sampai mbangkaki keras dan bajumu basah oleh tetesan air susu tak terminum, bagaimana bisa kamu bilang susumu kurang?

Bayi itu bisanya menangis. Kalau dia langsung ngomong nanti emaknya pingsan. Dan seandainya bisa ngomong, mereka mungkin akan bilang, ‘Mak, aku mau nyusu, netek yang banyak. Aku ndak mau maem pisang!’

.

Apakah tandus bukit dan kampung ini, akan terus menjaga ketandusan pikir orang-orang yang tinggal di sana?

Advertisements

3 thoughts on “Tandus.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s