Aib

Sejak awal aku memang sudah datang dengan aib.

Aib. Di desa ini perempuan akan segera menikah setelah lulus SMA. Bahkan setelah lulus SMP, kalau tidak melanjutkan ke SMA. Aku menikahi laki-laki desa ini saat usiaku hampir 25, usia ketika perempuan-perempuan lain sudah punya dua tiga anak.

Aib. Di desa ini perempuan harus merantau dan bekerja. Para suami yang tinggal di rumah mengolah sawah. Aku memilih berhenti belerja setelah menikah, dan membiarkan suamiku bekerja mencari nafkah.

Aib. Di desa ini perempuan yang habis melahirkan meminum jamu-jamu, memakai param dan pilis di jidatnya. Lalu setiap hari kerjanya hanya menyusui si bayi. Semua cuci popok dan memandikan bayi adalah tugas neneknya. Aku menolak minum jamu dan mengoleskan param dan pilis. Aku melarang nenek bayiku mencucikan apa pun, juga terus-terusan menggendong bayiku. Aku minggat ketika peringatanku tidak dihiraukan.

Aib. Di sini bayi-bayi baru lahir langsung disuapi pisang atau biskuit mari dicampur air. Aku menentang keras siapa pun yang akan menyuapkan selain air susuku sampai habis masa ASI ekslusif. Katanya bayiku menangis karena lapar. Kubilang aku akan kasih makan kalau bayiku bisa bilang ‘aku lapar.’

Aib. Di sini bayi berumur satu tahun dipasangi perhiasan lengkap mulai cincin, gelang, dan kalung, juga anting untuk yang perempuan. Aku menolak memasang apa pun. Aku dianggap bikin malu karena keluarga kami jadi tampak miskin di mata orang sedesa.

Aib. Karena kemudian aku hamil anak kembar. Di sini punya bayi kembar adalah kutukan, pembawa sengsara, pembawa sial. Setiap orang berusaha menghibur dengan berkata, “Jangan malu, jangan sedih. Manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan.” Gila. Tuhan memberiku anugerah ganda tapi aku diperlakukan seolah sedang menerima musibah.

Aib. Karena kemudian aku melahirkan anak istimewa yang mereka bilang tidak normal. Aku melihat sendiri, di desa ini seorang anak berkebutuhan khusus yang mengidap epilepsi bunuh diri karena dikucilkan, dianggap gila dan semua orang takut tertular.

Ada masa aku mencoba menahan diri untuk tidak membuat lebih banyak aib. Mencoba beradaptasi dengan apa-apa yang masih bisa aku jalani. Tapi aku lelah. Aku tidak peduli lagi jika segala aku membawa lebih banyak aib bagi mereka, sedang sebenarnya aku melakukan yang terbaik untuk diriku dan anak-anakku.

Advertisements

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s