NASI PADANG DAN LIDAHKU

‘Di Padang susah cari nasi padang’

Tiga hari di Padang beberapa waktu yang lalu, teman-teman antusias mencoba kuliner asli Padang. Warung makan yang di Jawa (mungkin juga di tempat lain di luar Padang) selalu ditambahkan judul ‘RM PADANG’ atau setidaknya ‘masakan Padang’.

Warung pertama nemu aja yang kelewatan dalam perjalanan dari Bandara menuju kota, judulnya Minang -Jawa. Di antara piring kecil yang disajikan di meja, ada pecel dan urap. Walaupun masakan Padang tapi cita rasanya kok njawani. Jebul yang punya itu walaupun lahir dan besar di Padang, bapaknya orang Sukoharjo.

Warung Padang kedua rekomendasi teman, nama warungnya sama dengan Warung Padang yang ada di Jakarta dan Semarang: Pagi Sore, buka sejak 1947. Lucunya, si pemilik mengaku tidak buka cabang. Kami datang ketika warung hampir tutup dan menu habis-habisan. Rasanya sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, tapi tidak setajam yang kukhawatirkan.

Warung berikutnya, yang katanya must visit kalau ke Padang: Soto Simpang Karya. Enak, mirip Tauto Pekalongan. Lupa moto sotonya.

.

Jadi bagaimana pendapatku tentang kuliner Padang yang sempat dicoba?

Biasa saja. Maksudku, enak. Ya enak seperti seharusnya makanan yang dijual di warung dan rumah makan. Tapi aku tidak mengerti apa yang membuat kita ‘harus mencoba’.

Pada dasarnya aku bukan penggemar masakan Padang. Doyan, tapi bukan suka. Kalau ada pilihan lain (bisa masakan Jawa atau Amerika atau mana saja) aku akan cenderung pilih yang lain. Apakah merasakan masakan asli Padang mengubah selera? Tidak.

Aku tidak pernah memuja makanan. Selama enak dimakan ya ditelan. Kecuali yang parah tidak enaknya, atau memang sejak awal aku tidak doyan.

.

“Jadi kamu nggak menikmati kulineran Padang, Mbak?”

Biasa saja. Rasanya seperti makan pagi, siang, sore yang kulakukan setiap hari.

“Kok bisa siiih… Aku tuh beberapa hari di Padang rasanya belum terpuaskan lho kulineran! Emang kamu ni ndak suka makanan kok ya mbak, makanya langsing…!”

Ya ndak gitu amat. Aku suka makan, tapi tidak memuja makanan. Makan ya karena perlu makan. Kalau bisa makan ‘enak’ ya syukur alhamdulillah, tapi tetep ndak bisa makan lebih dari yang dibutuhkan…

Aku lebih menyesal karena tidak sempat mengunjungi tempat-tempat ikonik di Padang dan sekitarnya. Dan masih tidak bisa mengerti kenapa ada yang ‘terpaksa’ ikut ke pantai dan berakhir duduk di warung sambil minum es degan, ogah turun menginjak pantai dan membasah di pecahan ombak…

Paling tidak, aku sudah merasakan angkot ikonik kota Padang yang sound systemnya tidak kalah dengan kamar karaoke Inul Vista.

.

Semalam di akhir kelas yoga, beberapa member berkomentar, “Enak ya, kalau kaya Mbak Latree, badannya enteng. Pakai jins jadinya bagus, mau gerak aja apa enak.”

Kataku, “Jauhi dulu nasi padang.”

Dan mereka mengerang.

Advertisements

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s