Rush

 

IMG_7845

Anakku cuma Aik. Danang menitipkan aku dan Aik di sebuah hotel. Atau mungkin apartemen. Kami berbagi kamar dengan seorang Ibu dan anak perempuannya. Sore menjelang malam, seorang pria dibawa masuk ke kamar kami dan dibaringkan di ranjangku. Ada balutan perban di beberapa bagian tubuhnya, dan infus terpasang di lengannya.

“Apa?” tanyaku. Perempuan yang mengantar laki-laki itu menjawab, “Dia baru saja menjalani operasi. Dia akan tinggal di sini sambil menunggu operasi berikutnya.”

“Tapi ini kamar saya.”

“Ini rumah sakit, dan kamar penuh. Anda yang masih sehat masa tidak mau berbagi ruang dengan yang kondisinya gawat?”

Perempuan itu pergi. Aku bertanya kepada ibu di ranjang sebelahku, “Rumah sakit?” Dia hanya tersenyum sambil menggeleng.

Apa-apaan ini?

Aik sedang bermain iPad bersama anak perempuan itu. Aku mengendap keluar kamar, melongok ke kedua arah lorong. Sepi. Aku beranikan diri berjalan keluar ke satu arah. Ada wastafel di ujung lorong. Tiba-tiba sebuah tangan menerobos pintu di samping wastafel, langsung menarik keran wastafel sampai lepas. Terdengar suara wanita tertawa keras melengking. Pintu terbuka, dan keluarlah wanita pemilik tangan itu, tinggi kurus dan berambut merah. Dia menatapku tajam. Aku kamitenggengen tidak bisa bergerak. Dia tertawa lalu lari entah ke mana. Air dari bekas keran di wastafel tidak mengalir, entah kenapa.

Buru-buru aku kembali ke kamar. Aik masih bermain bersama temannya. Si ibu duduk diam saja di ranjangnya. Laki-laki yang habis operasi tidur di ranjangku. Aku menelpon Danang. Sekali, dua kali. Baru diangkat.

“Ini bukan hotel, ini rumah sakit.”

“Rumah sakit apa?”

“Ada orang yang baru selesai operasi dibaringkan di kasurku. Ada perempuan berambut api mencabut keran wastafel di ujung lorong.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Kamu harus cepat ke sini! Segera!”

Perempuan di ranjang sebelah melihat semua kesibukanku tanpa komentar. Pria yang berbaring di ranjangku membuka mata, berkata lirih, “Ya, lebih baik kalian pergi, meskipun aku tidak yakin mereka akan diam saja.”

“Apa maksudmu? Mereka siapa?”

“Mereka mengincar ginjal anakmu.”

Aku bergidik, “Mereka siapa?”

Laki-laki itu tidak menjawab, memejamkan matanya lagi.

Aku mengemasi tas lalu menggandeng Aik keluar kamar. Kartu ATM BRI aku selipkan di saku celana, supaya nanti tidak ribet harus buka dompet kalau mau tarik uang setelah keluar hotel — atau rumah sakit atau apa pun nama tempat ini.

“Ke?” tanya Aik.

“Pergi.”

“Pergi ke?”

“Belum tahu.”

“Pad Aik?”

“Di tas Mami. Biar Aik tidak berat membawanya, ayo lari.”

“Lari ke?”

Aku tidak menjawab. Aik kugandeng berjalan setengah lari menuruni tangga darurat. Aik menghitung anak tangga dengan suara keras. “Sixty one, sixty two, banyak sekalli!”

Tangga darurat berakhir di pintu samping gedung. Kudorong dengan bahu karena satu tanganku memegang tas dan tangan yang lain menggandeng Aik. “Berat. Ugh,” Aik membantu mendorong walau bagiku tampak hanya menempelkan telapak tangannya di pintu.

Di samping depan bangunan ada mesin ATM, tanganku sudah hampir meraih pintu ketika seorang laki-laki mendahului membuka pintu sambil tersenyum sinis  kepadaku. Aku mundur selangkah, mengambil kartu di saku. Damn. Kartunya tertekuk. Ini kartu ATM apa kartu nama? Sambil menunggu laki-laki itu selesai aku terpaksa membuka tas, mengambil dompet, mengambil kartu lain sambil menyimpan kartu BNI yang rusak.

“Pad Aik,” Aik  melihat padnya di tas.

“Nanti.”

“Di rumah?”

Aku tidak menjawab, karena tidak yakin kami mau ke mana. Aku mencoba menelpon Danang lagi. Nada sibuk. Laki-laki itu keluar, aku menarik uang di jumlah maksimal penarikan.

“Ayo kita pergi,” kataku sambil menarik Aik.

“Ke?”

“Belum tahu.”

“Naik?”

“Taksi.”

“Ke?”

Aku tidak menunggu taksi di lobi. Kalau masuk lobi, mungkin aku malah tidak akan bisa pergi dari sini. Masih setengah berlari aku mengajak Aik keluar area gedung. Kulambaikan tangan ke taksi yang kebetulan lewat di sudut seberang jalan.

“Aik duduk depan.”

“Tidak. Aik duduk sama Mami.”

“Tidak boleh duduk depan?”

“Tidak.”

Kami duduk. Taksi jalan.

“Ke mana, Bu?”

“Keluar dari mimpi ini, Pak.”

Advertisements

One thought on “Rush

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s