Aku dan Ketakutan (akan) Dokter Gigi

Seingatku, awalnya aku tidak punya masalah pergi ke dokter gigi. Hingga pada suatu saat, aku TK atau mungkin kelas 1 SD, diajak ibuku ke rumah sakit untuk mencabut gigi gerahamku. Antriannya penuh, Bapak Petugas dengan sabar menanyai setiap pengunjung. Sudah pernah periksa? Kira-kira kapan? Lalu dengan sabar membuka kartu periksa satu persatu di setiap box tahun dan bulan. Belum ada kartu periksa, dan pengarsipan masih sangat manual.

Setelah pemandangan yang membosankan itu, namaku dipanggil. Masuk ke ruang periksa, aku diminta duduk di kursi kayu seperti bangku sekolah itu. Seorang petugas mendekat, menempelkan kapas dingin ke gusiku, lalu mencabut gigiku.

Langit serasa runtuh. Aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa, merambat dari gusi ke kepala dan seluruh tubuhku. Entah biusnya kurang atau bagaimana…

.

Pada masa-masa selanjutnya, aku sebisa mungkin menghindari dokter gigi. Cabut gigi sendiri, digoyang-goyang diongkek dipuntir. Hasilnya deretan gigi yang pating besasik jauh dari rapi. Pada titik Bapak mengira aku telah selesai berganti gigi, Bapak mengirim aku ke dokter gigi untuk merapikan gigi. Memakai kawat. Tetap bukan kunjungan yang kunikmati. Yang dirapikan gigi atas saja, padahal yang bawah juga zigzag. Tapi karena dana yang terbatas, mungkin pertimbangannya gigi atas yang lebih tampak, jadi itu saja yang dirapikan. Setahun pakai kawat, lalu dilepas. Badala, ternyata masih ada satu gigi seri yang belum ganti. Di antara gigi yang sudah dirapikan Bu drg. Joyo, satu gigi melesak ke dalam. Bapak sudah tidak mau keluar biaya merapikan gigi lagi.

.

Kunjungan dokter gigi berikutnya terjadi jauh bertahun berikutnya ketika gigi geraham bawah kanan mulai bolong. Itu setelah melahirkan anak kembarku, meski tidak ingat kapan tepatnya. Aku cuma ingat dokter gigi yang kukunjungi adalah dekat rumah kontrakan dulu. Bolongnya lumayan parah. “Kenapa terlambat sekali periksanya,” tanya Bu Dokter. Karena saya takut ke dokter gigi, tentu saja, jawabku. Meski lubangnya sudah cukup parah, Bu Dokter masih menyetujui opsi merawat ketimbang mencabut.

Di perjalanan, tambalannya lepas, gigi makin habis, sampai tinggal akar. Aku masih bertahan tidak berkunjung ke dokter gigi, sampai kemudian gusiku mulai infeksi. Sakitnya bukan main.

Terpaksa, lagi, aku ke dokter gigi. Kuingat itu sekitar beberapa bulan setelah melahirkan Aik. Dokter yang lain, yang sepi. Karena drg. Umi yang menambal gigiku dulu antriannya bisa sampai 30 pasien sehari. Bisa sampai pukul 12 malam. Dokter Susi memarahi aku, “Gigi busuk kaya gini kok dipelihara.” Ciut benar nyaliku. Aku diberi obat, dijadwalkan cabut. Jangan tanya ketakutan yang kurasakan. Ini cabut (akar) geraham dewasa. Teringat aku akan langit runtuh waktu kecil dulu.

Tindakan membersihkan tunggak itu sungguh depressing. Bu Dokter bukan hanya memakai masker dan sarung tangan karet, tapi juga goggle. Di dadaku dipasang celemek plastik. Semua itu untuk menapis darah yang mungkin menyiprat, katanya. Betapa seramnya!

Sepanjang tindakan yang berlangsung lebih dari satu jam, Bu Dokter beberapa kali mengeluhkan sulitnya mengambil akar gigiku yang sudah fraktur. Gusiku harus dibedah, pecahan akarnya diambil satu-persatu. Lagi-lagi menegurku yang terlambat periksa, menanamkan rasa bersalah tiada habisnya. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya semua itu selesai.

.

Setelah itu aku tetap (bahkan makin) rajin menyikat gigi. Bukan hanya setiap kali mandi, tapi juga sebelum tidur. Ternyata masih saja ada gigi berlubang lagi di geraham belakang sisi yang lain. Aku lupa di mana menambal lubangnya. Yang jelas tambalan itu tidak bertahan lama karena kemudian gigiku pecah. Pecahannya lepas sendiri secuil demi secuil. Dan kejadian gigi tinggal akar pun berulang.

Traumaku pada cabut geraham belum hilang. Berkali-kali gusiku meradang bahkan sampai berdarah. Setiap kali aku hanya memperbanyak minum vitamin C dan memastikan gigiku bersih. Berhasil? Tidak. Sekali lagi aku harus menyerah pada dokter gigi.

Kali ini aku memilih periksa di RS. Elisabeth Semarang. Ada dua dokter yang praktik pagi, yang satu putri, masih muda, cantik dan ramah. Dia yang mencabut gigi susu Aik yang tumbuh sanggar (gigi dewasa tumbuh tapi gigi susu masih kukuh). Satu lagi putra, dari namanya kubayangkan lebih senior, drg. Darto. Aku memilih dia dengan pertimbangan, pengalamannya lebih banyak dan, tenaganya lebih besar untuk mencabut gigiku yang mungkin stubborn.

Bayangku tentang usia dokternya tidak meleset terlalu jauh, tapi tentang penampilannya jauh dari yang kubayangkan. Bukan dokter tua yang kaku dan galak. Tapi ramah dan sabar. Penuh senyum dan suaranya lembut.

Di kunjungan pertama, gusiku masih infeksi radang dan bengkak. Aku hanya diberi obat dan disuruh kembali jika sudah tidak sakit lagi. Setidaknya tiga hari setelah kunjungan itu. Aku benar-benar datang lagi di hari ketiga.

“Masih sakit?”

“Tidak.”

“Sudah kempes?”

“Sudah.”

“Jadi cabut?”

“Jadi, Dok. Saya takut, tapi saya tidak mau sakit-sakit lagi.”

Aku duduk di kursi periksa.

“Sudah pernah cabut sebelumnya?”

“Sudah, Dok. Hampir satu jam lamanya. Makanya saya takut mau cabut lagi.”

Pak Dokter tersenyum, “Yang ini kayanya gampang kok, ndak akan terlalu lama.” Dia hanya pakai masker dan sarung tangan karet. Tanpa goggle.

Suntik anestesinya tidak sakit sama sekali. Cuma cekit-cekit seperti digigit semut. Yang sakit adalah ingatanku tentang tindakan cabut gigi sebelumnya. Maka ketika dokter mulai mengeluarkan ‘linggis’ untuk menggali akar gigiku, aku memejamkan mata. Bernapas ujjay sebisanya.

Tidak sampai lima menit kemudian, “Sudah,” kata dokternya.

“Sudah?”

“Sudah, kumur pelan lalu gigit kapasnya ya…”

.

Sudah. Begitu saja. Tumpukan trauma bertahun-tahun di kepalaku, runtuh seketika.

Kenapa tidak semua dokter gigi seperti dia?

.

Ada janji tambahan pada diriku sendiri setelah ini. Tidak cukup rajin sikat gigi. Harus rajin periksa ke dokter gigi walau tidak ada keluhan. Tidak perlu tunggu  lubang kecil membesar sampai parah.

Ada keinginan menabung untuk merapikan gigi. Tapi kupikir-pikir, ketika tabungan terkumpul cukup mungkin aku sudah pensiun. Apa masih efektif pasang kawat gigi?

Advertisements

Aib

Sejak awal aku memang sudah datang dengan aib.

Aib. Di desa ini perempuan akan segera menikah setelah lulus SMA. Bahkan setelah lulus SMP, kalau tidak melanjutkan ke SMA. Aku menikahi laki-laki desa ini saat usiaku hampir 25, usia ketika perempuan-perempuan lain sudah punya dua tiga anak.

Aib. Di desa ini perempuan harus merantau dan bekerja. Para suami yang tinggal di rumah mengolah sawah. Aku memilih berhenti belerja setelah menikah, dan membiarkan suamiku bekerja mencari nafkah.

Aib. Di desa ini perempuan yang habis melahirkan meminum jamu-jamu, memakai param dan pilis di jidatnya. Lalu setiap hari kerjanya hanya menyusui si bayi. Semua cuci popok dan memandikan bayi adalah tugas neneknya. Aku menolak minum jamu dan mengoleskan param dan pilis. Aku melarang nenek bayiku mencucikan apa pun, juga terus-terusan menggendong bayiku. Aku minggat ketika peringatanku tidak dihiraukan.

Aib. Di sini bayi-bayi baru lahir langsung disuapi pisang atau biskuit mari dicampur air. Aku menentang keras siapa pun yang akan menyuapkan selain air susuku sampai habis masa ASI ekslusif. Katanya bayiku menangis karena lapar. Kubilang aku akan kasih makan kalau bayiku bisa bilang ‘aku lapar.’

Aib. Di sini bayi berumur satu tahun dipasangi perhiasan lengkap mulai cincin, gelang, dan kalung, juga anting untuk yang perempuan. Aku menolak memasang apa pun. Aku dianggap bikin malu karena keluarga kami jadi tampak miskin di mata orang sedesa.

Aib. Karena kemudian aku hamil anak kembar. Di sini punya bayi kembar adalah kutukan, pembawa sengsara, pembawa sial. Setiap orang berusaha menghibur dengan berkata, “Jangan malu, jangan sedih. Manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan.” Gila. Tuhan memberiku anugerah ganda tapi aku diperlakukan seolah sedang menerima musibah.

Aib. Karena kemudian aku melahirkan anak istimewa yang mereka bilang tidak normal. Aku melihat sendiri, di desa ini seorang anak berkebutuhan khusus yang mengidap epilepsi bunuh diri karena dikucilkan, dianggap gila dan semua orang takut tertular.

Ada masa aku mencoba menahan diri untuk tidak membuat lebih banyak aib. Mencoba beradaptasi dengan apa-apa yang masih bisa aku jalani. Tapi aku lelah. Aku tidak peduli lagi jika segala aku membawa lebih banyak aib bagi mereka, sedang sebenarnya aku melakukan yang terbaik untuk diriku dan anak-anakku.

Mimpi 25 Tahun: Mariah Carey Live In Concert – Lumbini Borobudur

I’ve been waiting for 25 years for this moment! Yaaa… karena di kunjungan Mbak Mariah ke Indonesia sebelumnya aku belum bisa menyisihkan rejeki untuk beli tiketnya..

Pardon the wrinkling dress 😀

Sejak release jadwal konsernya di bulan April lalu, tanpa babibu langsung book dua tiket festival. kenapa festival? Yang pertama karena paling murah (😂). Yang kedua dan justru alasan utamanya, supaya bisa berinteraksi lebih dekat dan bisa jejingkrakan pas lagu ngebeat. I knew she would sing ‘Honey’ and ‘Heart Breaker’! Tidak terbayang kalau duduk di platinum atau bahkan VVIP. Tidak bisa bergerak, harus duduk manis, cuma bisa goyang jempol dan ketuk-ketuk kaki 😑

Awalnya browsing aja mau beli tiket di mana. Nemu beberapa toko tiket online. Harganya bikin cegukan. Untung mbak Ibit teliti melihat posternya. Penjualan resmi tiketnya di tiketapasaja.com. Harganya masuk akal.

Karena ndak yakin bisa langsung pulang seusai nonton konser, aku memesan sebuah homestay sederhana tidak jauh dari lokasi. Kurang dari 500 meter, supaya bisa jalan kaki berangkat dan pulang nonton konser. Di Desa Borobudur yang sudah menjadi desa wisata, memang banyak pilihan homestay sederhana.

Open gate untuk penukaran tiket sudah dibuka sejak pukul 15.00. Tapi pada jam itu hujan turun walau tidak terlalu deras. Baru sekitar setengah jam kemudian reda. Aku sempat mbatin, ini panitianya apa ndak pakai pawang hujan?

lebih banyak penonton cowoknya!

 

Alhamdulillah bisa foto bareng dengan (yang mirip) Mariah Carey… hiburan selama menunggu open gate 😀


Sehabis tukar tiket, tampak sudah banyak yang berdiri di depan gate sejak pukul. Padahal open gate panggungnya pukul 18, dan itu pun masih menunggu hingga Mariah muncul pukul 20 lewat. Untung rajin latihan penguatan kaki dengan yoga 😁

Seneng lihat Mariah Carey berdamai dengan dirinya. Badannya sudah bagus lagi (untuk usianya, dan mengingat riwayat perjuangannya dengan bentuk badannya), tidak memaksakan diri lipsync untuk nada tinggi dan lebih memilih improvisasi. Panggungnya mungkin kurang wah (untuk sekelas Mimi), tapi sound systemnya lumayan buat kupingku. Lighting dan band dan penari dan penyanyi latarnya keren. Penontonnya apalagi. Banyakan laki daripada perempuannya, dan hapal semua lagu, ikut nyanyi terus. Aku takjub!

Ada hal lain yang lebih bikin takjub. Ngobrol-ngobrol dengan sesama penunggu open gate di pintu festival, ada sekeluarga berisi ayah ibu dan dua anak, yang hanya tahu beberapa lagu Mariah Carey tapi datang nonton, ‘Pengin tahu aja kaya apa konsernya.’ Doh! Dan karena di area festival aku berdiri lumayan agak belakang, sesekali aku iseng memperhatikan yang duduk di kursi SVVIP. Selama pertunjukan banyak banget yang ndak konsen sama Mbak Mariah. Ada yang sibuk main HP. Diam bengong tampak bosan. Dan ada yang tidur. Woooy… what did you come here for?

Meskipun sempat gerimis rintik sebentar sebelum pertunjukan mulai, yang bikin panggung basah dan licin dan Mariah harus sangat hati-hati berjalan dengan high heels-nya, sepanjang pertunjukan hujan menahan diri, dan baru turun dini hingga pagi hari. Pakai pawang hujan mungkin ya. Sakti pun.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Danang Sukendro, orang tersenyum, dekat

Setelah menunggu berbulan-bulan ditambah beberapa jam, satu setengah jam lebih yang diberikan Mariah Carey serasa kurang. Ikut bernyanyi sepanjang pertunjukan belum juga puas. Harusnya kemarin nonton yang di KL juga, jadi bisa puas bahagianya ya….

Tandus.

Musim kering di puncak kering. Hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun, setia menunggu hujan turun. Siang terik berdebu. Tanpa angin. Tapi Mbah Nah menutup semua pintu dan jendela. Kera-kera mulai turun bukit mencari makan di rumah-rumah penduduk. Mbah Nah takut.

Sedikit lebih turun dari kaki bukit, dua saudara peripean duduk di teras, sambil memangku anak mereka yang belum genap selapan dan hanya selisih dua minggu. Puji istri Eko. Fitri istri Dwi, adik Eko. Mbah Wujil ketiban durian runtuh, tampa putu dua sekaligus, laki-laki semua.

“Anakku ni kayanya ga puas nyusu aku, Yu. Masih nangis terus walau udah diteteki kanan kiri. Untung Mamak sudah siap botol dan susu formula.”

“Ya sama. Ini juga gitu. Udah diteteki, udah ditambahi susu formula, masih nangis juga. Kayanya minta maem.”

“Lah mbok dikasih maem,” kata Mbah Wujil.

“Tapi kata bidan, kalau belum enam bulan belum boleh dikasih maem, Mak,” kata Fitri.

“Kenapa katanya, kok harus nunggu enam bulan? Bojomu dulu belum puput juga sudah tak suapi. Lihat sekarang gedenya gagah rosa begitu.”

“Wah ya ndak tahu. Pokoknya gitu. Biar sehat, sampai enam bulan diteteki thok. Kalau bisa jangan disambung susu dot.”

“Ya karepmu. Dikandhani wong tuwek kok ngeyel.”

“Ya kan ini sudah disambung, Mak, pakai dot dan susu yang Mamak beliin…. Nanti kalau masih nangis terus, boleh deh Mamak kasih maem.”

.

Bayi itu bisanya menangis. Pipis. Eek. Sumuk. Minta digendong. Digigit semut. Lapar. Nangis. Dan bayi lapar itu makanannya susu. Bukan tajin. Bukan pisang. Bukaan biskuit mari digerus dicampur air.

Bayi udah diteteki masih nangis mungkin karena pengin ngempeng dan nyaman dipeluk. Mungkin belum kenyang karena belum cukup nyusu. Belum tentu air susu emaknya kurang. Bisa jadi ngemutnya ndak pas jadi susunya ndak ngalir lancar. Bisa jadi anaknya males ngenyut. Kalau tetekmu sampai mbangkaki keras dan bajumu basah oleh tetesan air susu tak terminum, bagaimana bisa kamu bilang susumu kurang?

Bayi itu bisanya menangis. Kalau dia langsung ngomong nanti emaknya pingsan. Dan seandainya bisa ngomong, mereka mungkin akan bilang, ‘Mak, aku mau nyusu, netek yang banyak. Aku ndak mau maem pisang!’

.

Apakah tandus bukit dan kampung ini, akan terus menjaga ketandusan pikir orang-orang yang tinggal di sana?

Umuk

Makan siang selalu lebih menyenangkan kalau ada teman, meski kadang aku ingin sendirian. Kali ini aku menyambut ajakan Mbak Lala untuk makan siang bareng di kantin. Aku cuma harus siap mendengar curhatnya tentang teman-teman group whatsapp SMP atau gosip panas seputar teman-teman kantor.

Kantin penuh. Tinggal ada dua kursi kosong di meja yang sudah terisi. Ada Ida dan Miska. Gabung dengan mereka sepertinya asyik juga. Mereka sudah hampir selesai makan tapi jelas sama sekali tidak keberatan tetap tinggal sampai kami selesai makan. Kesempatan untuk bergosip lebih lama dan seru.

“Anakku itu lho,” Mbak Lala memulai, “nggak bisa diakali ayahnya.”

“Diakali gimana, Mbak?”

“Ayahnya udah janji, kalau diterima di SMP 2 mau dibeliin motor.”

“Lho tahun ajaran barunya bukannya sudah lama lewat? Ini semester 2 kan?” tanya Miska.

“Masuk SMP dijanjiin motor? Lha anak segitu mau dibolehin naik motor?” aku ikut bertanya.

“Iya… makanya itu. Udah bagus dia nggak ngamuk karena ditunda beberapa bulan. Maksud suamiku ya mau ditunda beberapa bulan lagi. Bukan karena nggak ada uangnya, cuma buat nunggu sampai dia agak gede dikit. Ya kelas dua apa kelas tiga gitu lah… Tapi anaknya udah nagih terus. Ya udah terpaksa deh…”

“Kelas tiga SMP juga belum boleh kan?” aku tanya lagi.

“Trus nggak bisa diakalinya di mana?” Miska juga lanjut bertanya.

“Alaaah… anak jaman sekarang itu bongsor. Nggak kaya kita jaman dulu, kurang gizi, badan kuntet. Ini naik Vixion udah nyampai lho kakinya! Udah kuat pegang setang juga. Aku sempat degdegan lihat dia wara wiri…”

“Wah Vixion…!”

Wajah Mbak Lala berbinar bangga. Makin bangga oleh ‘wah’ dari kami bertiga.

“Wah lumayan juga itu harganya, buat beli skuter matic-ku bisa dapet dua,” Ida melambungkan Mbak Lala lebih tinggi lagi sambil meminum sisa es jeruknya.

“Iya. Itu yang kubilang nggak bisa diakali. Maksudku beli skuter matic aja, yang agak kecilan. Judulnya beliin dia tapi nanti aku juga bisa pakai. Eh jebul nggak mau. ‘Kalau motorku ya aku yang milih,’ katanya.”

Pembicaraan tentang ‘uang bukan masalah’ dan ‘masih SMP udah boleh naik motor’ masih berlangsung sampai beberapa saat, sebelum berganti topik tentang gosip tentang Tari yang merayu bos lantai dua…

.

Esok harinya, pagi-pagi, aku baru saja duduk dan mulai membuka-buka berkas, Mbak Lala mendekat ke mejaku.

“Ning, ini kalau bukan ke kamu aku ndak berani.”

“Ada apa mbak?”

“Aku pikir ini tanggal 25, ternyata belum ya.”

Jreng jreng.

“Maksudnya?”

“Aku barusan cek rekening, belum ada transfer gaji.”

“Ya belum lah mbak. Besok gajiannya.”

“Aku pinjem dari kamu dulu ya. Lima ratus. Ada kan?”

“Nggak bawa Mbak, kalau cash segitu.”

“Kamu bisa ambil ke ATM to?”

“Lha kenapa kamu nggak ambil ke ATM kamu sendiri?”

“Rekeningku yang ada ATM-nya udah kosong. Tinggal di rekening satunya yang nggak pakai ATM. Malas lah kalau ke teller cuma mau ambil segitu.”

“Ya kalau memang butuh cash ya gimana lagi? Jangan-jangan rekeningmu emang ndak ada isinya…”

“Enak aja. Ada. Tapi memang aku nggak bikin ATM karena rekening itu sengaja buat tabungan, biar ga sebentar-sebentar ambil sebentar-sebentar ambil. Jadi nggak boros.”

“Ya udah sana ambil. Ini kan keadaan mendesak.”

“Udah dibilangin nggak cucok antri di teller ambil dikit…”

“Ya ambil yang banyaaaak! Biar cucok!”

“Aku nggak butuh banyak… cuma butuh lima ratus aja buat menyambung hidup hari ini. Nanti malem suamiku pulang bawa uang buat aku. Kan sayang kalau tabunganku aku ambil sekarang.”

“Ya tapi aku nggak ada cash lima ratuuuus…”

“Ya makanya kamu ke ATM…”

“Lihat ini kerjaanku segini… aku nggak tahu kapan kelar dan bisa ke ATM. Ini aja kayanya buat maksi aku bakalan pesen GoFood dan makan di ruangan.”

“Nggak harus sekarang, Non. Pokoknya hari ini. Kamu masih punya waktu sampai nanti sore. Oiya, hari ini aku harus pulang tepat jam empat. Jadi sebelum itu ya?”

Jreng jreng! Ini orang mau pinjam uang kok perintahnya seperti dia yang punya uang dan aku kacungnya.

Aku buka dompet, ada tiga lembar ratusan ribu. Kuambil dua lembar dan kusodorkan ke depannya.

“Nih ada dua ratus. Kalau mau ambil. Kalau nggak mau ya sudah. Aku nggak ke ATM hari ini.”

Dengan cemberut dia mengambil lembaran uang itu dariku lalu balik kanan.

“Besok gajian, jangan lupa balikin ya!” teriakku. Tidak ada jawaban. Ah Su.

Melar Mungkret Di Pasar Karetan

Sebenarnya sudah lumayan lama penasaran, pengin nginguk Pasar Karetan. Lokasinya memang di Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Tapi karena dapat diakses dari Kota Semarang, jadilah Pasar Karetan ini lebih kondang sebagai Wisata Semarang. Untuk menuju ke Pasar Karetan aku mengambil jalur dari Kecamatan Gunungpati, Semarang (dengan kendaraan pribadi). Sepertinya belum ada angkutan umum menuju Desa Meteseh. Tapi taksi atau taksi online mungkin bisa.

Berlokasi di area perkebunan karet, tepatnya di area Radja Pendapa Camp, pasar ini dibuka setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 – 11.00. Sekitar 800 meter sebelum lokasi pasar, disediakan lahan parkir untuk mobil maupun motor, karena jalan menuju lokasi lumayan sempit. Pengelola pasar menyediakan odong-odong gratis untuk mobilisasi pengunjung dari parkiran ke Pasar.

Belanja di Pasar Karetan tidak bisa pakai uang rupiah yang kita pakai sehari-hari. Kita harus menukarkan uang kita dengan ‘girik’ khusus untuk berbelanja di Pasar Karetan. Jika ternyata uang yang kita tukarkan tidak habis dibelanjakan, bisa ditukarkan ke uang rupiah kembali.

Pusat Penukaran Girik

Mata Girikan

Ada pecahan 10.000, 5.000, dan 2.500.

Ada banyak gerai kuliner khas yang bisa dikunjungi. Di antaranya adalah:

Gendar Pecel

Aneka Bubur

Gubug Khusus Pecinta Kopi

Ada aneka dawet dan minuman segar, serta rupa-rupa kuliner tradisional lainnya.

Banyak obyek foto buat yang suka fotografi…

Ada aneka permainan tradisional yang bisa dicoba. Dijamin tidak kalah seru dengan game di handphone

Egrang dan hulahoop

Kalau capek muter dan sudah kenyang, bisa leyeh-leyeh sebentar di hammock yang disediakan…

Sambil mendengarkan live music

Bojakarta!

Dan ada area khusus pecinta selfie! Ada spot-spot instagrammable dengan background view yang menarik (baca: mainstream :D). Juga ada arena panahan lengkap dengan instruktur berpengalaman, bagi yang ingin mencoba belajar salah satu sunnah Nabi….

Area wajib.

Kendaraannya mungkin ‘hanya’ odong-odong, tapi penumpangnya (diharapkan) tertib seperti di Singapura atau Hongkong.

Budayakan antri!

Jadi gimana, apakah infonya cukup menarik? Cukup lengkap? Atau kurang lengkap? Ya… itu kan supaya penasaran…. Supaya tidak penasaran, silakan deh kunjungi. Kalau ada yang terlewat olehku, siapa tahu, tolong kabari ya!

Bersahabat dengan Glaukoma

Mata adalah jendela tubuh dan jiwa kita. Lewat mata kita menangkap segala hal di luar kita secara visual. Lewat mata pula, orang lain bisa melihat ke dalam diri kita. Lepas dari kawan-kawan tuna netra yang dianugerahi pengganti berupa indra peraba dan perasa yang luar biasa peka; bisakah kau bayangkan, kehilangan penglihatan yang telah melekat di tubuh kita sejak lahir?

Glaucoma (glaukoma) mungkin tidak sepopuler kanker, tapi dia telah menjadi penyebab kebutaan terbesar kedua di dunia setelah katarak. Kedatangannya sering tidak disadari. Tahu-tahu tekanan bola mata tinggi, lalu perlahan saraf dan retina rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Terlahir di keluarga dengan riwayat glaukoma, membuat kami anak-anak Bapak harus lebih waspada. Ayah kami kehilangan penglihatan di usia menjelang 70. Bapak tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama.

Mengenali glaukoma lebih dini.

Glaukoma bisa terjadi pada siapa saja. Penjelasan tentang glaukoma dapat dibaca di sini. Intinya, glaukoma adalah gangguan penglihatan yang ditandai dengan kerusakan saraf akibat tekanan bola mata. Penyebabnya ada beberapa, baik akibat produksi cairan mata yang berlebihan, maupun akibat terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, di antaranya adalah mengukur tekanan bola mata. Jika tekanan bola mata sudah di atas 20mmHg, maka harus diwaspadai.

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang berisiko tinggi terkena glaukoma. Di antaranya berusia 40 tahun ke atas, memiliki riwayat glaukoma dalam keluarga, rabun jauh, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Gejala awal yang dirasakan bisa mirip rabun jauh (penglihatan kabur), sering pusing/migrain, kadang sampai mual. Selain itu ketika melihat cahaya (misalnya lampu), tampak lingkaran bayangan di sekeliling cahaya.

Tidak boleh lagi latihan yang begini-begini 🙂

Bersahabat dengan glaukoma.

Seperti ketika ada hal lain yang tidak bekerja semestinya di tubuh kita, ada beberapa hal yang harus dihindari pasien glaukoma (atau yang beresiko mengalami glaukoma). Karena kerusakan saraf atau retina akibat glaukoma tidak dapat diperbaiki, yang bisa dilakukan adalah mencegah kerusakan itu, yaitu dengan mencegah tekanan bola mata menjadi tinggi.

Bagi kami yang sudah terdiagnosa dengan tekanan bola mata tinggi (elevated IOP), juga yang sudah positif glaukoma, tidak ada pilihan selain bersahabat dengan (gejala) glaukoma. Dokter yang memeriksaku menyarankan untuk disiplin meneteskan obat tetes mata, rajin kontrol tekanan bola mata, berhenti mengkonsumsi kopi dan coklat. Terakhir (dan yang terberat bagiku) adalah berhenti berlatih inversion dalam beryoga. Bagaimana ndak berat, inversion (handstand dan headstand) adalah salah satu yang membuat aku tertarik berlatih yoga pada awalnya. Tapi hidup adalah tentang pilihan dan konsekuensi. Toh yoga bukan hanya tentang jungkir balik, masih banyak hal yang bisa digali dan dilatih. Kalau melakukan hal menyenangkan tapi tidak baik untuk tubuh, itu jadinya bukan yoga lagi, karena bertentangan dengan prinsip ‘ahimsa‘ (tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain).

***

Januari adalah Glaucoma Awareness Month. Ini hari terakhir, masih Januari, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk ajakan baik. Mari kenali resiko dan tanda-tanda glaukoma, dan deteksi gangguan mata lebih dini. Jangan biarkan glaukoma diam-diam mencuri penglihatan kita.