Mimpi 25 Tahun: Mariah Carey Live In Concert – Lumbini Borobudur

I’ve been waiting for 25 years for this moment! Yaaa… karena di kunjungan Mbak Mariah ke Indonesia sebelumnya aku belum bisa menyisihkan rejeki untuk beli tiketnya..

Pardon the wrinkling dress 😀

Sejak release jadwal konsernya di bulan April lalu, tanpa babibu langsung book dua tiket festival. kenapa festival? Yang pertama karena paling murah (😂). Yang kedua dan justru alasan utamanya, supaya bisa berinteraksi lebih dekat dan bisa jejingkrakan pas lagu ngebeat. I knew she would sing ‘Honey’ and ‘Heart Breaker’! Tidak terbayang kalau duduk di platinum atau bahkan VVIP. Tidak bisa bergerak, harus duduk manis, cuma bisa goyang jempol dan ketuk-ketuk kaki 😑

Awalnya browsing aja mau beli tiket di mana. Nemu beberapa toko tiket online. Harganya bikin cegukan. Untung mbak Ibit teliti melihat posternya. Penjualan resmi tiketnya di tiketapasaja.com. Harganya masuk akal.

Karena ndak yakin bisa langsung pulang seusai nonton konser, aku memesan sebuah homestay sederhana tidak jauh dari lokasi. Kurang dari 500 meter, supaya bisa jalan kaki berangkat dan pulang nonton konser. Di Desa Borobudur yang sudah menjadi desa wisata, memang banyak pilihan homestay sederhana.

Open gate untuk penukaran tiket sudah dibuka sejak pukul 15.00. Tapi pada jam itu hujan turun walau tidak terlalu deras. Baru sekitar setengah jam kemudian reda. Aku sempat mbatin, ini panitianya apa ndak pakai pawang hujan?

lebih banyak penonton cowoknya!

 

Alhamdulillah bisa foto bareng dengan (yang mirip) Mariah Carey… hiburan selama menunggu open gate 😀


Sehabis tukar tiket, tampak sudah banyak yang berdiri di depan gate sejak pukul. Padahal open gate panggungnya pukul 18, dan itu pun masih menunggu hingga Mariah muncul pukul 20 lewat. Untung rajin latihan penguatan kaki dengan yoga 😁

Seneng lihat Mariah Carey berdamai dengan dirinya. Badannya sudah bagus lagi (untuk usianya, dan mengingat riwayat perjuangannya dengan bentuk badannya), tidak memaksakan diri lipsync untuk nada tinggi dan lebih memilih improvisasi. Panggungnya mungkin kurang wah (untuk sekelas Mimi), tapi sound systemnya lumayan buat kupingku. Lighting dan band dan penari dan penyanyi latarnya keren. Penontonnya apalagi. Banyakan laki daripada perempuannya, dan hapal semua lagu, ikut nyanyi terus. Aku takjub!

Ada hal lain yang lebih bikin takjub. Ngobrol-ngobrol dengan sesama penunggu open gate di pintu festival, ada sekeluarga berisi ayah ibu dan dua anak, yang hanya tahu beberapa lagu Mariah Carey tapi datang nonton, ‘Pengin tahu aja kaya apa konsernya.’ Doh! Dan karena di area festival aku berdiri lumayan agak belakang, sesekali aku iseng memperhatikan yang duduk di kursi SVVIP. Selama pertunjukan banyak banget yang ndak konsen sama Mbak Mariah. Ada yang sibuk main HP. Diam bengong tampak bosan. Dan ada yang tidur. Woooy… what did you come here for?

Meskipun sempat gerimis rintik sebentar sebelum pertunjukan mulai, yang bikin panggung basah dan licin dan Mariah harus sangat hati-hati berjalan dengan high heels-nya, sepanjang pertunjukan hujan menahan diri, dan baru turun dini hingga pagi hari. Pakai pawang hujan mungkin ya. Sakti pun.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Danang Sukendro, orang tersenyum, dekat

Setelah menunggu berbulan-bulan ditambah beberapa jam, satu setengah jam lebih yang diberikan Mariah Carey serasa kurang. Ikut bernyanyi sepanjang pertunjukan belum juga puas. Harusnya kemarin nonton yang di KL juga, jadi bisa puas bahagianya ya….

Advertisements

Tandus.

Musim kering di puncak kering. Hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun, setia menunggu hujan turun. Siang terik berdebu. Tanpa angin. Tapi Mbah Nah menutup semua pintu dan jendela. Kera-kera mulai turun bukit mencari makan di rumah-rumah penduduk. Mbah Nah takut.

Sedikit lebih turun dari kaki bukit, dua saudara peripean duduk di teras, sambil memangku anak mereka yang belum genap selapan dan hanya selisih dua minggu. Puji istri Eko. Fitri istri Dwi, adik Eko. Mbah Wujil ketiban durian runtuh, tampa putu dua sekaligus, laki-laki semua.

“Anakku ni kayanya ga puas nyusu aku, Yu. Masih nangis terus walau udah diteteki kanan kiri. Untung Mamak sudah siap botol dan susu formula.”

“Ya sama. Ini juga gitu. Udah diteteki, udah ditambahi susu formula, masih nangis juga. Kayanya minta maem.”

“Lah mbok dikasih maem,” kata Mbah Wujil.

“Tapi kata bidan, kalau belum enam bulan belum boleh dikasih maem, Mak,” kata Fitri.

“Kenapa katanya, kok harus nunggu enam bulan? Bojomu dulu belum puput juga sudah tak suapi. Lihat sekarang gedenya gagah rosa begitu.”

“Wah ya ndak tahu. Pokoknya gitu. Biar sehat, sampai enam bulan diteteki thok. Kalau bisa jangan disambung susu dot.”

“Ya karepmu. Dikandhani wong tuwek kok ngeyel.”

“Ya kan ini sudah disambung, Mak, pakai dot dan susu yang Mamak beliin…. Nanti kalau masih nangis terus, boleh deh Mamak kasih maem.”

.

Bayi itu bisanya menangis. Pipis. Eek. Sumuk. Minta digendong. Digigit semut. Lapar. Nangis. Dan bayi lapar itu makanannya susu. Bukan tajin. Bukan pisang. Bukaan biskuit mari digerus dicampur air.

Bayi udah diteteki masih nangis mungkin karena pengin ngempeng dan nyaman dipeluk. Mungkin belum kenyang karena belum cukup nyusu. Belum tentu air susu emaknya kurang. Bisa jadi ngemutnya ndak pas jadi susunya ndak ngalir lancar. Bisa jadi anaknya males ngenyut. Kalau tetekmu sampai mbangkaki keras dan bajumu basah oleh tetesan air susu tak terminum, bagaimana bisa kamu bilang susumu kurang?

Bayi itu bisanya menangis. Kalau dia langsung ngomong nanti emaknya pingsan. Dan seandainya bisa ngomong, mereka mungkin akan bilang, ‘Mak, aku mau nyusu, netek yang banyak. Aku ndak mau maem pisang!’

.

Apakah tandus bukit dan kampung ini, akan terus menjaga ketandusan pikir orang-orang yang tinggal di sana?

Umuk

Makan siang selalu lebih menyenangkan kalau ada teman, meski kadang aku ingin sendirian. Kali ini aku menyambut ajakan Mbak Lala untuk makan siang bareng di kantin. Aku cuma harus siap mendengar curhatnya tentang teman-teman group whatsapp SMP atau gosip panas seputar teman-teman kantor.

Kantin penuh. Tinggal ada dua kursi kosong di meja yang sudah terisi. Ada Ida dan Miska. Gabung dengan mereka sepertinya asyik juga. Mereka sudah hampir selesai makan tapi jelas sama sekali tidak keberatan tetap tinggal sampai kami selesai makan. Kesempatan untuk bergosip lebih lama dan seru.

“Anakku itu lho,” Mbak Lala memulai, “nggak bisa diakali ayahnya.”

“Diakali gimana, Mbak?”

“Ayahnya udah janji, kalau diterima di SMP 2 mau dibeliin motor.”

“Lho tahun ajaran barunya bukannya sudah lama lewat? Ini semester 2 kan?” tanya Miska.

“Masuk SMP dijanjiin motor? Lha anak segitu mau dibolehin naik motor?” aku ikut bertanya.

“Iya… makanya itu. Udah bagus dia nggak ngamuk karena ditunda beberapa bulan. Maksud suamiku ya mau ditunda beberapa bulan lagi. Bukan karena nggak ada uangnya, cuma buat nunggu sampai dia agak gede dikit. Ya kelas dua apa kelas tiga gitu lah… Tapi anaknya udah nagih terus. Ya udah terpaksa deh…”

“Kelas tiga SMP juga belum boleh kan?” aku tanya lagi.

“Trus nggak bisa diakalinya di mana?” Miska juga lanjut bertanya.

“Alaaah… anak jaman sekarang itu bongsor. Nggak kaya kita jaman dulu, kurang gizi, badan kuntet. Ini naik Vixion udah nyampai lho kakinya! Udah kuat pegang setang juga. Aku sempat degdegan lihat dia wara wiri…”

“Wah Vixion…!”

Wajah Mbak Lala berbinar bangga. Makin bangga oleh ‘wah’ dari kami bertiga.

“Wah lumayan juga itu harganya, buat beli skuter matic-ku bisa dapet dua,” Ida melambungkan Mbak Lala lebih tinggi lagi sambil meminum sisa es jeruknya.

“Iya. Itu yang kubilang nggak bisa diakali. Maksudku beli skuter matic aja, yang agak kecilan. Judulnya beliin dia tapi nanti aku juga bisa pakai. Eh jebul nggak mau. ‘Kalau motorku ya aku yang milih,’ katanya.”

Pembicaraan tentang ‘uang bukan masalah’ dan ‘masih SMP udah boleh naik motor’ masih berlangsung sampai beberapa saat, sebelum berganti topik tentang gosip tentang Tari yang merayu bos lantai dua…

.

Esok harinya, pagi-pagi, aku baru saja duduk dan mulai membuka-buka berkas, Mbak Lala mendekat ke mejaku.

“Ning, ini kalau bukan ke kamu aku ndak berani.”

“Ada apa mbak?”

“Aku pikir ini tanggal 25, ternyata belum ya.”

Jreng jreng.

“Maksudnya?”

“Aku barusan cek rekening, belum ada transfer gaji.”

“Ya belum lah mbak. Besok gajiannya.”

“Aku pinjem dari kamu dulu ya. Lima ratus. Ada kan?”

“Nggak bawa Mbak, kalau cash segitu.”

“Kamu bisa ambil ke ATM to?”

“Lha kenapa kamu nggak ambil ke ATM kamu sendiri?”

“Rekeningku yang ada ATM-nya udah kosong. Tinggal di rekening satunya yang nggak pakai ATM. Malas lah kalau ke teller cuma mau ambil segitu.”

“Ya kalau memang butuh cash ya gimana lagi? Jangan-jangan rekeningmu emang ndak ada isinya…”

“Enak aja. Ada. Tapi memang aku nggak bikin ATM karena rekening itu sengaja buat tabungan, biar ga sebentar-sebentar ambil sebentar-sebentar ambil. Jadi nggak boros.”

“Ya udah sana ambil. Ini kan keadaan mendesak.”

“Udah dibilangin nggak cucok antri di teller ambil dikit…”

“Ya ambil yang banyaaaak! Biar cucok!”

“Aku nggak butuh banyak… cuma butuh lima ratus aja buat menyambung hidup hari ini. Nanti malem suamiku pulang bawa uang buat aku. Kan sayang kalau tabunganku aku ambil sekarang.”

“Ya tapi aku nggak ada cash lima ratuuuus…”

“Ya makanya kamu ke ATM…”

“Lihat ini kerjaanku segini… aku nggak tahu kapan kelar dan bisa ke ATM. Ini aja kayanya buat maksi aku bakalan pesen GoFood dan makan di ruangan.”

“Nggak harus sekarang, Non. Pokoknya hari ini. Kamu masih punya waktu sampai nanti sore. Oiya, hari ini aku harus pulang tepat jam empat. Jadi sebelum itu ya?”

Jreng jreng! Ini orang mau pinjam uang kok perintahnya seperti dia yang punya uang dan aku kacungnya.

Aku buka dompet, ada tiga lembar ratusan ribu. Kuambil dua lembar dan kusodorkan ke depannya.

“Nih ada dua ratus. Kalau mau ambil. Kalau nggak mau ya sudah. Aku nggak ke ATM hari ini.”

Dengan cemberut dia mengambil lembaran uang itu dariku lalu balik kanan.

“Besok gajian, jangan lupa balikin ya!” teriakku. Tidak ada jawaban. Ah Su.

Melar Mungkret Di Pasar Karetan

Sebenarnya sudah lumayan lama penasaran, pengin nginguk Pasar Karetan. Lokasinya memang di Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Tapi karena dapat diakses dari Kota Semarang, jadilah Pasar Karetan ini lebih kondang sebagai Wisata Semarang. Untuk menuju ke Pasar Karetan aku mengambil jalur dari Kecamatan Gunungpati, Semarang (dengan kendaraan pribadi). Sepertinya belum ada angkutan umum menuju Desa Meteseh. Tapi taksi atau taksi online mungkin bisa.

Berlokasi di area perkebunan karet, tepatnya di area Radja Pendapa Camp, pasar ini dibuka setiap hari Minggu mulai pukul 06.00 – 11.00. Sekitar 800 meter sebelum lokasi pasar, disediakan lahan parkir untuk mobil maupun motor, karena jalan menuju lokasi lumayan sempit. Pengelola pasar menyediakan odong-odong gratis untuk mobilisasi pengunjung dari parkiran ke Pasar.

Belanja di Pasar Karetan tidak bisa pakai uang rupiah yang kita pakai sehari-hari. Kita harus menukarkan uang kita dengan ‘girik’ khusus untuk berbelanja di Pasar Karetan. Jika ternyata uang yang kita tukarkan tidak habis dibelanjakan, bisa ditukarkan ke uang rupiah kembali.

Pusat Penukaran Girik

Mata Girikan

Ada pecahan 10.000, 5.000, dan 2.500.

Ada banyak gerai kuliner khas yang bisa dikunjungi. Di antaranya adalah:

Gendar Pecel

Aneka Bubur

Gubug Khusus Pecinta Kopi

Ada aneka dawet dan minuman segar, serta rupa-rupa kuliner tradisional lainnya.

Banyak obyek foto buat yang suka fotografi…

Ada aneka permainan tradisional yang bisa dicoba. Dijamin tidak kalah seru dengan game di handphone

Egrang dan hulahoop

Kalau capek muter dan sudah kenyang, bisa leyeh-leyeh sebentar di hammock yang disediakan…

Sambil mendengarkan live music

Bojakarta!

Dan ada area khusus pecinta selfie! Ada spot-spot instagrammable dengan background view yang menarik (baca: mainstream :D). Juga ada arena panahan lengkap dengan instruktur berpengalaman, bagi yang ingin mencoba belajar salah satu sunnah Nabi….

Area wajib.

Kendaraannya mungkin ‘hanya’ odong-odong, tapi penumpangnya (diharapkan) tertib seperti di Singapura atau Hongkong.

Budayakan antri!

Jadi gimana, apakah infonya cukup menarik? Cukup lengkap? Atau kurang lengkap? Ya… itu kan supaya penasaran…. Supaya tidak penasaran, silakan deh kunjungi. Kalau ada yang terlewat olehku, siapa tahu, tolong kabari ya!

Bersahabat dengan Glaukoma

Mata adalah jendela tubuh dan jiwa kita. Lewat mata kita menangkap segala hal di luar kita secara visual. Lewat mata pula, orang lain bisa melihat ke dalam diri kita. Lepas dari kawan-kawan tuna netra yang dianugerahi pengganti berupa indra peraba dan perasa yang luar biasa peka; bisakah kau bayangkan, kehilangan penglihatan yang telah melekat di tubuh kita sejak lahir?

Glaucoma (glaukoma) mungkin tidak sepopuler kanker, tapi dia telah menjadi penyebab kebutaan terbesar kedua di dunia setelah katarak. Kedatangannya sering tidak disadari. Tahu-tahu tekanan bola mata tinggi, lalu perlahan saraf dan retina rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Terlahir di keluarga dengan riwayat glaukoma, membuat kami anak-anak Bapak harus lebih waspada. Ayah kami kehilangan penglihatan di usia menjelang 70. Bapak tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama.

Mengenali glaukoma lebih dini.

Glaukoma bisa terjadi pada siapa saja. Penjelasan tentang glaukoma dapat dibaca di sini. Intinya, glaukoma adalah gangguan penglihatan yang ditandai dengan kerusakan saraf akibat tekanan bola mata. Penyebabnya ada beberapa, baik akibat produksi cairan mata yang berlebihan, maupun akibat terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, di antaranya adalah mengukur tekanan bola mata. Jika tekanan bola mata sudah di atas 20mmHg, maka harus diwaspadai.

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang berisiko tinggi terkena glaukoma. Di antaranya berusia 40 tahun ke atas, memiliki riwayat glaukoma dalam keluarga, rabun jauh, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Gejala awal yang dirasakan bisa mirip rabun jauh (penglihatan kabur), sering pusing/migrain, kadang sampai mual. Selain itu ketika melihat cahaya (misalnya lampu), tampak lingkaran bayangan di sekeliling cahaya.

Tidak boleh lagi latihan yang begini-begini 🙂

Bersahabat dengan glaukoma.

Seperti ketika ada hal lain yang tidak bekerja semestinya di tubuh kita, ada beberapa hal yang harus dihindari pasien glaukoma (atau yang beresiko mengalami glaukoma). Karena kerusakan saraf atau retina akibat glaukoma tidak dapat diperbaiki, yang bisa dilakukan adalah mencegah kerusakan itu, yaitu dengan mencegah tekanan bola mata menjadi tinggi.

Bagi kami yang sudah terdiagnosa dengan tekanan bola mata tinggi (elevated IOP), juga yang sudah positif glaukoma, tidak ada pilihan selain bersahabat dengan (gejala) glaukoma. Dokter yang memeriksaku menyarankan untuk disiplin meneteskan obat tetes mata, rajin kontrol tekanan bola mata, berhenti mengkonsumsi kopi dan coklat. Terakhir (dan yang terberat bagiku) adalah berhenti berlatih inversion dalam beryoga. Bagaimana ndak berat, inversion (handstand dan headstand) adalah salah satu yang membuat aku tertarik berlatih yoga pada awalnya. Tapi hidup adalah tentang pilihan dan konsekuensi. Toh yoga bukan hanya tentang jungkir balik, masih banyak hal yang bisa digali dan dilatih. Kalau melakukan hal menyenangkan tapi tidak baik untuk tubuh, itu jadinya bukan yoga lagi, karena bertentangan dengan prinsip ‘ahimsa‘ (tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain).

***

Januari adalah Glaucoma Awareness Month. Ini hari terakhir, masih Januari, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk ajakan baik. Mari kenali resiko dan tanda-tanda glaukoma, dan deteksi gangguan mata lebih dini. Jangan biarkan glaukoma diam-diam mencuri penglihatan kita.

Perlawanan.

Tidak bisa tidak. Aku harus lari.
‘Pintu Gerbang’ akan dibuka besok pagi. Orang-orang akan berduyun-duyun keluar, memanfaatkan kesempatan sekali dalam seminggu untuk terhubung dengan dunia luar. Aku bisa saja mencoba menyelinap di antara mereka. Mungkin ini justru kesempatan terbaik.
Tapi tidak. Para penjaga dengan anjing-anjing besarnya pasti siap berjaga. Aku tidak bisa mengambil resiko itu.

Lewat tengah malam. Sekarang, atau terlambat. Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang dengan sesenyap mungkin.
“Hey! Mau ke mana?” sebuah suara mengejutkanku.
Itu perempuan tua yang tinggal di sebelah rumah. Kenapa dia masih berkeliaran di luar pada jam segini?
“Tidak ke mana-mana, Bu. Saya tidak bisa tidur. Gerah di dalam. Ingin menghirup udara segar sebentar,” jawabku, “Ibu sendiri mau ke mana?”
“Aku baru selesai mengecek barang dagangan yang mau dibarter di kota besok pa… eh, nanti, haha. Sebentar lagi dermaga akan ramai. Tapi aku tidak ikut pergi. Sudah tua. Biar anak-anak saja.”
Huh, syukurlah. Semoga dia tidak bohong. Semoga dia bukan mata-mata. Dia mengucapkan ‘selamat tinggal’ lalu pergi.

Perahu-perahu kecil sudah siap di tepi dermaga. Sialan. Seorang penjaga berkeliling menuntun seekor anjing. Rupanya mereka waspada lebih pagi. Berapa orang kira-kira yang mereka tugaskan sweeping sebelum dermaga buka? Apakah mereka sempat ketemu si ibu tua tadi?
Penjaga itu berjalan menjauh ke arah barat. Bagus. Perahuku ada di sudut timur sini. Kupandang langit yang gelap tanpa bulan. Juga tanpa awan. Kalau aku nekat berangkat sekarang, akankah dia melihat gerak-gerikku? Akankah dia mendengar kecipak air oleh dayungku? Lalu mengejarku?
Masa bodoh. Aku harus pergi sekarang. Perlahan kudorong perahu kecilku. Tanpa suara. Aku naik, lalu kudayung menjauh dari sudut teluk. Tidak ada suara yang menunjukkan ada orang yang mendengar atau melihatku. Kudengar percapakan lirih dan gonggong kecil anjing. Orang pertama (yang sebenarnya kedua setelah aku) yang akan pergi pagi ini sudah datang.

Dermaga seberang sudah lebih sibuk. Inilah bedanya kota dan desa. Apalagi ‘desa’ yang sengaja menutup diri, seperti tempat tinggal kami. Kudekati sebuah Vimana yang dikendarai seorang wanita. Kursi utama di bagian tengah masih kosong. Dua bangku kecil tambahan di kanan kiri juga kosong.
“Selamat pagi, Nona. Bolehkah saya menumpang?” tanyaku.
“Silakan,” jawabnya, “ada seorang pria yang akan menumpang juga.”
Rupanya sudah ada penumpang, seorang laki-laki sudah siap naik di bangku tambahan kiri. Aku melihat ke bangku tambahan kanan yang hanya kerangka besi, tidak ada bantalan. Pengemudi itu sepertinya mengerti yang kupikirkan. “Silakan duduk di tengah, tidak apa-apa. Penumpang utama saya menunggu di jalan. Kalau Anda harus turun setelah itu, terpaksa harus pindah ke bangku kanan. Tapi kalau Anda sudah turun sebelum dia naik, silakan saja duduk di tengah.”
Aku naik sambil mengucapkan terima kasih. Memang begitu. Vimana sebenarnya melayani penumpang yang sudah memesan. Tapi karena terbatasnya jumlah Vimana, sementara banyak penumpang yang membutuhkan, bangku-bangku kecil tambahan yang jelas tidak nyaman, menjadi pilihan penumpang-penumpang dadakan. Untunglah aku turun sebelum kendaraan itu tiba di tempat penumpang utama menunggu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, lalu melompat turun.
Berikutnya aku harus mencari rumah kecil yang akan melindungiku. Rumah itu milik perempuan muda yang tinggal hanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Sebenarnya aku tidak mau membahayakan hidup mereka, tapi mereka berkeras untuk menerimaku. Dan aku tidak punya pilihan lain.
Dia menyambutku dengan hangat. Dua anaknya juga langsung menyalamiku. Yang kecil bahkan minta gendong, yang langsung kululuskan.
Mungkin ini ide bagus. Para penjaga itu tidak diperkenankan menyakiti anak-anak dan perempuan. Mereka aman. Dan aku aman. Ugh. Aku merasa jahat, menggunakan mereka sebagai perisai hidup. Dalam hati aku ngilu. Aku juga perempuan, dan peraturan itu tidak berlaku untukku.

Hari baru menjelang sore, kami baru selesai makan siang, ketika sebuah truk berhenti di depan rumah. Aku memandang perempuan muda tuan rumahku. Dia hanya ganti memandangku, membiarkan aku mengambil keputusan.
Anak-anak tidak perlu melihat kekerasan. Aku tidak ingin membuat para penjaga itu turun mendobrak dan berteriak-teriak mencariku. Kuletakkan sendok dan garpu, meneguk sedikit air putih, lalu keluar ke halaman. Para penumpang truk sudah turun. Tidak sebanyak yang kubayangkan. Tapi ada satu yang kuduga pasti datang. Pemimpin mereka. Wajahnya dingin dan bengis. Tanpa kata-kata dia mengarahkan bayonet di ujung senapannya ke dadaku. Aku mengangkat tangan. Ujung bayonet itu pasti tajam dan bisa menusuk menembus dadaku. Tapi dia tidak berkilat. Justru dioles semacam gemuk tebal. Apa mereka pikir, butuh pelumas agar bayonet itu licin menembus dagingku?
Dua orang penjaga mendekatiku. Seorang memegang kedua tanganku erat di belakang punggungku. Aku tidak berusaha melawan. Aku ingin tahu dulu apa yang mereka mau. Penjaga yang satu lagi mengambil gemuk dari ujung bayonet dengan ujung jari telunjuknya, lalu mengoleskan gemuk itu ke dahiku, “Jangan bergerak,” katanya. Dari tadi aku tidak bergerak, batinku.
Tidak lama kemudian wajahku telah pekat hitam oleh gemuk. Gemuk yang tampaknya hanya sedikit itu, menutup sempurna wajahku. Sekarang apa?
Si Pemimpin menarik senapannya, memandang angkuh kepadaku, “Setelah ini kamu akan kami lepas ke Hutan. Kamu punya waktu tiga hari untuk mengumpulkan…”
Yang mereka sebut ‘Hutan’ adalah tempat gelap penuh rawa dan binatang buas. Tidak ada bekal. Aku harus mencari cara sendiri untuk bertahan hidup, dan keluar membawa apa yang mereka inginkan. Tentu saja ini omong kosong. Tak seorang pun yang dilepas di Hutan berhasil keluar hidup-hidup.
Aku tidak mendengar lagi lanjutannya. Alarm berbunyi. Ini sudah Senin pagi. Aku harus bangun dan menyiapkan potato wedges yang kujanjikan untuk sarapan anak-anak.

Yang Terekam dari ‘Doa untuk Darmanto Jatman’

Aku sendiri tidak mengenal beliau secara pribadi; ketemu pun belum pernah. Namun masih terkesan suara beliau di radio, ketika masih sehat dulu. Nama beliau sebagai sastrawan, budayawan, penyair, memberi arti yang besar bagi kehidupan sastra di Semarang.

Sabtu tanggal 20 Januari 2018 lalu, digelar acara ‘Do’a untuk Darmanto Jatman’ di beranda Kantor Suara Merdeka. Mengenang, mengirim doa, dan mengantarkan kepergian beliau seminggu sebelumnya. Sebuah keistimewaan, menjadi bagian dari acara ini, bersama para tokoh sastra Semarang dan bahkan nasional; sahabat-sahabat Pak Darmanto. Sesungguhnya aku merasa kecil, berada di antara Emha Ainun Najib, Prie GS, Sosiawan Leak, Timur Sinar Suprabana, Handry TM, dan tokoh sastra Semarang lainnya.

(Terima kasih Suara Merdeka.)

Mendengarkan ‘kenangan’ dari mereka yang pernah (dan masih) dekat dengan Pak Darmanto Jatman, satu hal yang kutangkap, bahwa setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk. Namun kenanglah yang baik, simpanlah yang baik, lanjutkan yang baik.

Seperti puisi ‘Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua’ yang kubawakan bagian awalnya bersama Ibit Sukma, walau kata-katanya mbeling dan suasananya riang, namun aku menangkap sebuah pengakuan tentang keakuan yang ternyata adalah sebuah kelemahan; juga sanjungan serta terima kasih atas kekuatan kesetiaan yang menghidupkan.

.

Hal yang juga menjadi catatan bagiku, adalah kemuliaan Ibu Mur, garwa  Pak Darmanto Jatman yang setia mendampingi dalam susah dan senang, sampai saat penghabisan. Aku malu.


Semoga pemikiran-pemikiran brilian Darmanto Jatman dapat tetap menginspirasi pelaku sastra di mana saja, juga pelaku kehidupan di masa kapan saja.

Sugeng tindak, Pak.