Pesta Dongeng 1 di Blog Dongeng Anak

Tanpa terasa, Blog Dongeng Anak sudah berumur satu tahun. Lagi lucu-lucunya nih kalau manusia, sedang belajar jalan. Untuk menandai kebahagiaan ini, tiga admin Blog Dongeng Anak yang keren-keren ingin mengadakan sedikit keramaian.

Tanggal 17 November 2013 nanti akan ada Pesta Dongeng Offline, yang insya Allah akan diselenggarakan di Kantor Lespi Semarang. Acaranya baca dongeng, menyanyi dongeng, ngobrol dongeng… Kami mengundang teman-teman untuk ikut memeriahkan acara ini.

mimi dan uno

Bagi yang belum bisa gabung di even offline-nya, jangan khawatir. Ada Pesta Dongeng online kok. Blog Dongeng Anak mengadakan proyek menulis bareng, kami mengajak para pecinta dongeng dan cerita anak untuk ikut bergabung dalam proyek ini. Proyek ini akan jadi bentuk sumbangan lain dari Blog Dongeng Anak untuk anak-anak Indonesia, selain bacaan online yang tersedia di web.

Berikut persyaratannya:

  1. Proyek terbuka untuk umum.
  2. Cerita/dongeng untuk anak dengan tema ‘aku dan bumi’.
  3. Panjang maksimal 1000 kata.
  4. Tulisan harus baru dan orisinil, dan belum pernah dipublikasikan di media manapun termasuk blog pribadi. Bukan jiplakan, dan bukan terjemahan.
  5. Setiap penulis hanya boleh mengirim 1 (satu) tulisan.
  6. Tulisan diketik dalam file berformat .doc atau .docx, halaman A4, huruf Times New Roman, font 12, spasi 1.5. Format judul file: Judul – Nama Penulis. Contoh: Mumpung Tak Ada Ibu – Latree Manohara
  7. Kirimkan sebagai attachment (bukan ditulis di badan email) dengan subyek: [PestaDongeng 1] Judul Tulisan – Nama Penulis via email ke  blogdongenganak@gmail.com sebelum tanggal 30 November 2013 pukul 23.59 WIB.
  8. Sertakan sedikit bio data tentang diri penulis, tak lebih dari 50 kata, dituliskan di akhir naskah.
  9. Bagi yang memiliki akun twitter silakan melakukan konfirmasi setelah mengirimkan karyanya, dengan mention kami di twitter: @elmanohara @putrimeneng @redcarra #PestaDongeng1 – Judul Tulisan – Nama Penulis. (Optional).

Tulisan yang masuk akan disaring dan dipilih untuk diterbitkan secara indie sebagai Kumpulan Cerita untuk Anak. Penulis yang karyanya lolos akan mendapatkan 1 (satu) nomor bukti, dan berhak membeli buku dengan harga khusus. Keuntungan dari penjualan buku (jika ada) akan digunakan untuk membiayai kegiatan Blog Dongeng Anak selanjutnya, seperti untuk mengadakan lomba dongeng, merchandise untuk para kontributor, disalurkan untuk taman-taman bacaan yang membutuhkan, dan sebagainya..

Ingin ikut menyumbangkan karyanya untuk anak Indonesia? Ini saatnya. Ditunggu partisipasinya ya 🙂

Matinya Badut Kami

Badut itu datang ke kampung kami setahun sekali, seperti musim durian atau rambutan. Begitu dinanti. Sejak kuncup-kuncup bunganya mulai tumbuh, lalu mekar mabluk di sela-sela daun, menyebar wangi. Sebagian gugur menjadi bahan pasaran anak-anak perempuan. Sisanya melanjutkan penyerbukan, menjadi buah-buah yang bakal tumbuh membesar. Ketika tiba saat panen, semua orang sibuk memetik, memilah, mengikat. Lalu orang-orang dari luar daerah akan berdatangan. Membeli banyak untuk kulakan, atau sekedar seikat-dua ikat untuk langsung dimakan.

Ah. Tidak. Sebenarnya kami tidak pernah merasakan musim durian atau rambutan. Tidak ada yang bertanam pohon buah itu. Di sini orang lebih suka bertanam kecemasan, curiga, kegelisahan. Dan itu jelas bertentangan dengan kegembiraan menantikan buah durian dan rambutan. Kecemasan dan curiga tumbuh kapan saja di mana saja. Pada orang yang menemukan wangi parfum di baju suaminya. Pada guru yang kaget melihat murid yang biasanya bodoh tiba-tiba tinggi nilainya. Pada ibu-ibu yang melihat guru mengaji memangku anak perempuan mereka. Kegelisahan menjadi seperti benalu yang tumbuh subur bersama dua tanaman itu.

Kami merasakan ketidaknyamanan itu, tapi tidak bisa berhenti bertanam. Karenanya kami hanya menunggu badut itu datang setahun sekali seperti pembasmi hama. Oh, bagaimana kami tidak akan suka. Melihat mukanya saja kami sudah geli. Hidungnya yang bulat merah. Alisnya pendek kecil naik tinggi di dahi. Rambutnya warna-warni seperti pelangi. Perutnya besar bulat bersaing dengan pantat. Bajunya merah kuning biru dengan polkadot diameter sebesar tutup gelas. Sepatunya lebih dari lima puluh senti, tapi tetap saja dia lincah berlari ke sana kemari. Continue reading

Just For Fun Give Away

Sebenarnya sudah lama pengin bikin giveaway dengan hadiah yang rada serius. Maunya sih nunggu sampai dunia perbloggeran sedikit sepi dari giveaway-giveaway yang terus bermunculan. Tapi kalau mau begitu, sepertinya aku harus nunggu sampai wayu…

Kebetulan kemarin aku dan keluarga jalan-jalan liburan bersenang-senang. Pura-puranya dalam rangka memperingati hari pernikahan *uhuk*. Semacam bulan madu tapi ngajak anak-anak biar lebih seru….

Salah satu hasil jalan-jalan kemarin adalah ini:

tas batok

20130925-074241.jpg
(update 25/09/13 tambahan hadiah untuk 1 orang)

Jadi sementara belum menemukan ide untuk give away yang rada serius, aku ingin memberikan oleh-oleh ini kepada 3 teman yang beruntung dengan cara yang gampang saja. Cukup tinggalkan jejak di postingan ini, juga di postingan tentang pernikahan yang juga kuikutkan di giveaway milad pernikahan mbak Uniek yang ke-10. Pemenang akan diundi dari komentar yang masuk di dua postingan. Jangan lupa isikan alamat email yang bisa dihubungi di form komentar blog ini, tidak akan ditampilkan kok. Siapa tahu menang. Dengan catatan, hanya dikirim ke alamat di Indonesia saja ya…

Komentar akan ditutup pada tanggal 12 Oktober 2013. Masih lama. Jadi santai aja. Tapi jangan lupa. Ditunggu partisipasinya ya 🙂

[Berani Cerita #09] Fatal Ignorance

Sejak tinggal di rusun ini enam bulan yang lalu, aku belum pernah bercakap-cakap dengan perempuan di rumah nomor 307 itu. Paling-paling tersenyum ketika berpapasan di tangga. Itu pun tak selalu. Kadang dia melengos atau menunduk, seolah enggan bertatap mata. Sombong sekali, pikirku.

Belakangan kudengar dari obrolan tetangga, dia itu seorang guru sebuah SD swasta yang tidak terkenal. Aku juga tidak tahu di mana ada SD swasta di sekitar sini. Trayekku rumah-kantor-rumah. By bus. Aku juga jarang ngobrol dengan tetangga lain. Setiap kali pulang aku lebih suka langsung masuk ke rumah dan istirahat. Hanya menyapa dan sesekali bicara tentang hal-hal tak penting dengan ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya sore hari, atau sedang menjemur cucian di pagi hari. Sekedar sopan santun bertetangga.

Aku tidak suka terlibat obrolan yang ujung-ujungnya menggosipkan tetangga. Entah barangkali mereka juga pernah menggosipkan aku di belakang. Yang jelas aku setuju dengan mereka soal penghuni 307. Sombong. Tidak mau bergaul. Ada yang bilang perempuan itu sakit jiwa. Aku sama sekali tidak pernah memperhatikan aktivitas mereka. Pintu rumahnya selalu tertutup. Hey, aku bahkan baru beberapa kali melihat suaminya. Pakaian dan rambutnya berantakan. Badannya bau. Mungkin asap rokok bercampur alkohol dan parfum murahan yang kubayangkan tertular dari baju-baju perempuan mainannya. Kurasa memang sebaiknya aku tidak berurusan dengan mereka.

***

Hari ini aku pulang agak malam. Tadi sepulang kerja aku mampir ngopi dengan beberapa teman. Ada yang aneh ketika aku masuk gang. Sebuah mobil ambulans dengan sirene yang meraung-raung parkir di depan pintu utama rusun. Di belakangnya ada sebuah mobil polisi. Orang-orang berkerumun di pinggir jalan, di depan pintu rumah, di tangga, melongok di jendela. Beberapa polisi menahan kerumunan untuk tidak mendekati garis polisi. Rumah 307 dibatasi garis polisi.

“Apa yang terjadi?” tanyaku berbisik pada ibu penghuni 215.

“Perempuan aneh itu mati…”

“Ha? Kenap…”

“Dibunuh suaminya. Mungkin tidak bermaksud membunuh. Tapi badan perempuan itu penuh memar bekas pukulan. Dari telinganya keluar darah. Tadi dia sempat menjerit-jerit minta tolong. Pak RT dan beberapa bapak ke sana, sampai mendobrak pintu. Masih sempat dibawa ke rumah Pak RT, perempuan itu. Tapi…”

Aku mundur merapat ke tembok, mencengkeram lengan ibu di sebelahku. Dua polisi lewat menggiring laki-laki 307 yang sudah diborgol tangannya. Dalam hati aku meminta maaf pada perempuan malang itu. Andai warga rusun ini, termasuk aku, memilih peduli ketimbang berprasangka buruk, mungkin ini tidak harus terjadi…

*tulisan ini diikutsertakan dalam Berani Cerita #09*

Pengin ke Lombok

*postingan untuk ikut kuis idepz*

==========================

Aku selalu suka pantai. Lebih dari pegunungan. Lebih dari tempat wisata apa pun. Terutama yang landai. Berpasir. Pasirnya bersih. Airnya tenang dan jernih. Angin laut itu segar. Bersih. Beraroma kebebasan. Berjalan telanjang kaki di pantai itu kenikmatan tersendiri. Nyebur di pantai itu, surga.

Tinggal di Semarang memang dekat pantai. Tapi pantainya begitu. Jadi seringnya menghibur diri dengan pergi ke pantai-pantai Yogya, Pacitan, Wonogiri. Itu juga ndak sering-sering amat. Tambahan lagi pantai selatan itu ombaknya ganas. Bersyukur sudah bisa ke Kuta. Dekat dengan harapan. Lantas kudengar pantai-pantai di Lombok lebih mempesona. Jika Tuhan mengijinkan aku pengin pergi ke Lombok. Dan dari banyak pantai yang ada di sana, aku pengin ke Pantai Mawun. Lihat itu, lihat itu, lihat itu!!

*gambar diambil dari sini*

PS: Dep, kenapa hadiahnya bukan wisata ke Lombok sekalian?