Pssst…. jangan cari aku (2)

*baca dulu cerita sebelumnya*

Pagi itu, sekitar delapan bulan yang lalu. Fad sedang kunjungan ke luar propinsi. Rey juga pamit begitu ke istrinya. Rey tidak bohong, hanya saja dia menyisihkan satu malam dari hari kunjungannya itu, untukku.

Aku dan Rey di sebuah villa di bukit. Kami masih kelelahan setelah percintaan liar malam sebelumnya. Aku masih meringkuk di lengannya.
“Untung aku bukan menteri”, katanya. Continue reading

Advertisements

Pssst…. jangan cari aku (1)

Psst…. jangan cari aku.

Untuk sementara aku akan menghilang.
Begitu kata Rey. Katanya sekarang keadaan sedang berbahaya. Dia sedang diincar musuh-musuhnya.

Huh. Aku betul-betul tidak mengerti politik. Rey memang sering bercerita tentang intrik yang terjadi di kalangan pengusaha dan pejabat. Dan aku paham semua yang diceritakan Rey. Yang aku tidak mengerti, kenapa mereka harus melakukan itu? Sikut sana sikut sini. Menjatuhkan orang lain demi melindungi diri sendiri. Continue reading

Ini Permintaan Bapak (3-habis)

Ini Permintaan Bapak (1)
Ini Permintaan Bapak (2)

Hari sudah siang, adzan dhuhur baru saja selesai dikumandangkan. Matahari mestinya sudah berada tepat di atas kepala. Tapi mendung memayungi kami yang berdesakan di halaman rumah Pak Kyai sang tabib sedari subuh hari. Mamak menyewa tikar dari pemilik rumah tempat kami menginap untuk lambaran Bapak ikut mengantri. Bapak harus ikut berdesakan, sedangkan dia tidak mungkin kuat berdiri. Jika antrian sudah mulai maju, aku mengangkat Bapak, lalu Mamak menggeser sedikit tikarnya. Continue reading

Ini Permintaan Bapak (2)

Kisah sebelumnya

Desa tempat tinggal Tabib itu sebenarnya cukup terpencil. Tapi begitu sampai di kota Gresik, semua orang bisa menunjukkan jalan ke sana. Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada hambatan berarti kalau itu menyangkut perjalanan. Kami sempat mampir ke masjid untuk mandi dan sholat, sekaligus makan. Aku membeli nasi bungkus di warung dekat masjid, dan memakannya bersama-sama Bapak, Emak dan Pak Makmur di serambi masjid. Continue reading

Ini permintaan Bapak (1)

Katanya dia hebat…
“Semua penyakit bisa disembuhkan”, kata Bapak sambil menghela nafas berat lagi.
“Kalo ada yang bilang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan satu cara, itu tidak masuk akal, Pak”, aku masih mencoba mengajak Bapak berfikir rasional.
“Aku mau mencoba, mungkin ini kesempatan terakhirku. Kita tidak tahu doa siapa yang Allah kabulkan..”
Tubuh Bapak tampak melemah lagi. Lalu perlahan dia merebahkan diri di bale-bale bambu, yang tidak pernah ditinggalkannya selama tiga bulan terakhir ini. Aku membantunya membetulkan letak kepalanya di bantal, lalu menyelimutinya. Continue reading

Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (4)

sebelumnya:
episode 1
episode 2

episode 3

“Vi…”

Suara itu… Tidak. Ini pasti halusinasiku. Tidak mungkin dia di sini. Dia tidak pernah datang di saat-saat aku membutuhkannya sebelumnya. Tidak juga sekarang. Dia pasti sudah tidak mau lagi mengenalku. Tidak mungkin dia masih menginginkanku, setelah hal nista yang menimpaku. Aku tidak boleh meragu lagi. Hanya perlu menjatuhkan diri, dan tidak akan ada yang menghalangiku lagi. Continue reading

Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (3)

rangkaian cerita:
episode 1
episode 2

episode 4

Hari ini hari ulang tahunku. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa menyelinap keluar rumah tanpa ketahuan Ayah atau Ibu, atau Pak Tarmo, atau Mbak suti pembantu kami. Sampai tadi malam aku belum menemukan ide. Tapi kurasa kali ini keberuntungan merestui rencanaku, dan memberi jalan yang sama sekali tidak terpikirkan. Continue reading