Aku dan Ketakutan (akan) Dokter Gigi

Seingatku, awalnya aku tidak punya masalah pergi ke dokter gigi. Hingga pada suatu saat, aku TK atau mungkin kelas 1 SD, diajak ibuku ke rumah sakit untuk mencabut gigi gerahamku. Antriannya penuh, Bapak Petugas dengan sabar menanyai setiap pengunjung. Sudah pernah periksa? Kira-kira kapan? Lalu dengan sabar membuka kartu periksa satu persatu di setiap box tahun dan bulan. Belum ada kartu periksa, dan pengarsipan masih sangat manual.

Setelah pemandangan yang membosankan itu, namaku dipanggil. Masuk ke ruang periksa, aku diminta duduk di kursi kayu seperti bangku sekolah itu. Seorang petugas mendekat, menempelkan kapas dingin ke gusiku, lalu mencabut gigiku.

Langit serasa runtuh. Aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa, merambat dari gusi ke kepala dan seluruh tubuhku. Entah biusnya kurang atau bagaimana…

.

Pada masa-masa selanjutnya, aku sebisa mungkin menghindari dokter gigi. Cabut gigi sendiri, digoyang-goyang diongkek dipuntir. Hasilnya deretan gigi yang pating besasik jauh dari rapi. Pada titik Bapak mengira aku telah selesai berganti gigi, Bapak mengirim aku ke dokter gigi untuk merapikan gigi. Memakai kawat. Tetap bukan kunjungan yang kunikmati. Yang dirapikan gigi atas saja, padahal yang bawah juga zigzag. Tapi karena dana yang terbatas, mungkin pertimbangannya gigi atas yang lebih tampak, jadi itu saja yang dirapikan. Setahun pakai kawat, lalu dilepas. Badala, ternyata masih ada satu gigi seri yang belum ganti. Di antara gigi yang sudah dirapikan Bu drg. Joyo, satu gigi melesak ke dalam. Bapak sudah tidak mau keluar biaya merapikan gigi lagi.

.

Kunjungan dokter gigi berikutnya terjadi jauh bertahun berikutnya ketika gigi geraham bawah kanan mulai bolong. Itu setelah melahirkan anak kembarku, meski tidak ingat kapan tepatnya. Aku cuma ingat dokter gigi yang kukunjungi adalah dekat rumah kontrakan dulu. Bolongnya lumayan parah. “Kenapa terlambat sekali periksanya,” tanya Bu Dokter. Karena saya takut ke dokter gigi, tentu saja, jawabku. Meski lubangnya sudah cukup parah, Bu Dokter masih menyetujui opsi merawat ketimbang mencabut.

Di perjalanan, tambalannya lepas, gigi makin habis, sampai tinggal akar. Aku masih bertahan tidak berkunjung ke dokter gigi, sampai kemudian gusiku mulai infeksi. Sakitnya bukan main.

Terpaksa, lagi, aku ke dokter gigi. Kuingat itu sekitar beberapa bulan setelah melahirkan Aik. Dokter yang lain, yang sepi. Karena drg. Umi yang menambal gigiku dulu antriannya bisa sampai 30 pasien sehari. Bisa sampai pukul 12 malam. Dokter Susi memarahi aku, “Gigi busuk kaya gini kok dipelihara.” Ciut benar nyaliku. Aku diberi obat, dijadwalkan cabut. Jangan tanya ketakutan yang kurasakan. Ini cabut (akar) geraham dewasa. Teringat aku akan langit runtuh waktu kecil dulu.

Tindakan membersihkan tunggak itu sungguh depressing. Bu Dokter bukan hanya memakai masker dan sarung tangan karet, tapi juga goggle. Di dadaku dipasang celemek plastik. Semua itu untuk menapis darah yang mungkin menyiprat, katanya. Betapa seramnya!

Sepanjang tindakan yang berlangsung lebih dari satu jam, Bu Dokter beberapa kali mengeluhkan sulitnya mengambil akar gigiku yang sudah fraktur. Gusiku harus dibedah, pecahan akarnya diambil satu-persatu. Lagi-lagi menegurku yang terlambat periksa, menanamkan rasa bersalah tiada habisnya. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya semua itu selesai.

.

Setelah itu aku tetap (bahkan makin) rajin menyikat gigi. Bukan hanya setiap kali mandi, tapi juga sebelum tidur. Ternyata masih saja ada gigi berlubang lagi di geraham belakang sisi yang lain. Aku lupa di mana menambal lubangnya. Yang jelas tambalan itu tidak bertahan lama karena kemudian gigiku pecah. Pecahannya lepas sendiri secuil demi secuil. Dan kejadian gigi tinggal akar pun berulang.

Traumaku pada cabut geraham belum hilang. Berkali-kali gusiku meradang bahkan sampai berdarah. Setiap kali aku hanya memperbanyak minum vitamin C dan memastikan gigiku bersih. Berhasil? Tidak. Sekali lagi aku harus menyerah pada dokter gigi.

Kali ini aku memilih periksa di RS. Elisabeth Semarang. Ada dua dokter yang praktik pagi, yang satu putri, masih muda, cantik dan ramah. Dia yang mencabut gigi susu Aik yang tumbuh sanggar (gigi dewasa tumbuh tapi gigi susu masih kukuh). Satu lagi putra, dari namanya kubayangkan lebih senior, drg. Darto. Aku memilih dia dengan pertimbangan, pengalamannya lebih banyak dan, tenaganya lebih besar untuk mencabut gigiku yang mungkin stubborn.

Bayangku tentang usia dokternya tidak meleset terlalu jauh, tapi tentang penampilannya jauh dari yang kubayangkan. Bukan dokter tua yang kaku dan galak. Tapi ramah dan sabar. Penuh senyum dan suaranya lembut.

Di kunjungan pertama, gusiku masih infeksi radang dan bengkak. Aku hanya diberi obat dan disuruh kembali jika sudah tidak sakit lagi. Setidaknya tiga hari setelah kunjungan itu. Aku benar-benar datang lagi di hari ketiga.

“Masih sakit?”

“Tidak.”

“Sudah kempes?”

“Sudah.”

“Jadi cabut?”

“Jadi, Dok. Saya takut, tapi saya tidak mau sakit-sakit lagi.”

Aku duduk di kursi periksa.

“Sudah pernah cabut sebelumnya?”

“Sudah, Dok. Hampir satu jam lamanya. Makanya saya takut mau cabut lagi.”

Pak Dokter tersenyum, “Yang ini kayanya gampang kok, ndak akan terlalu lama.” Dia hanya pakai masker dan sarung tangan karet. Tanpa goggle.

Suntik anestesinya tidak sakit sama sekali. Cuma cekit-cekit seperti digigit semut. Yang sakit adalah ingatanku tentang tindakan cabut gigi sebelumnya. Maka ketika dokter mulai mengeluarkan ‘linggis’ untuk menggali akar gigiku, aku memejamkan mata. Bernapas ujjay sebisanya.

Tidak sampai lima menit kemudian, “Sudah,” kata dokternya.

“Sudah?”

“Sudah, kumur pelan lalu gigit kapasnya ya…”

.

Sudah. Begitu saja. Tumpukan trauma bertahun-tahun di kepalaku, runtuh seketika.

Kenapa tidak semua dokter gigi seperti dia?

.

Ada janji tambahan pada diriku sendiri setelah ini. Tidak cukup rajin sikat gigi. Harus rajin periksa ke dokter gigi walau tidak ada keluhan. Tidak perlu tunggu  lubang kecil membesar sampai parah.

Ada keinginan menabung untuk merapikan gigi. Tapi kupikir-pikir, ketika tabungan terkumpul cukup mungkin aku sudah pensiun. Apa masih efektif pasang kawat gigi?

Advertisements

Tandus.

Musim kering di puncak kering. Hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun, setia menunggu hujan turun. Siang terik berdebu. Tanpa angin. Tapi Mbah Nah menutup semua pintu dan jendela. Kera-kera mulai turun bukit mencari makan di rumah-rumah penduduk. Mbah Nah takut.

Sedikit lebih turun dari kaki bukit, dua saudara peripean duduk di teras, sambil memangku anak mereka yang belum genap selapan dan hanya selisih dua minggu. Puji istri Eko. Fitri istri Dwi, adik Eko. Mbah Wujil ketiban durian runtuh, tampa putu dua sekaligus, laki-laki semua.

“Anakku ni kayanya ga puas nyusu aku, Yu. Masih nangis terus walau udah diteteki kanan kiri. Untung Mamak sudah siap botol dan susu formula.”

“Ya sama. Ini juga gitu. Udah diteteki, udah ditambahi susu formula, masih nangis juga. Kayanya minta maem.”

“Lah mbok dikasih maem,” kata Mbah Wujil.

“Tapi kata bidan, kalau belum enam bulan belum boleh dikasih maem, Mak,” kata Fitri.

“Kenapa katanya, kok harus nunggu enam bulan? Bojomu dulu belum puput juga sudah tak suapi. Lihat sekarang gedenya gagah rosa begitu.”

“Wah ya ndak tahu. Pokoknya gitu. Biar sehat, sampai enam bulan diteteki thok. Kalau bisa jangan disambung susu dot.”

“Ya karepmu. Dikandhani wong tuwek kok ngeyel.”

“Ya kan ini sudah disambung, Mak, pakai dot dan susu yang Mamak beliin…. Nanti kalau masih nangis terus, boleh deh Mamak kasih maem.”

.

Bayi itu bisanya menangis. Pipis. Eek. Sumuk. Minta digendong. Digigit semut. Lapar. Nangis. Dan bayi lapar itu makanannya susu. Bukan tajin. Bukan pisang. Bukaan biskuit mari digerus dicampur air.

Bayi udah diteteki masih nangis mungkin karena pengin ngempeng dan nyaman dipeluk. Mungkin belum kenyang karena belum cukup nyusu. Belum tentu air susu emaknya kurang. Bisa jadi ngemutnya ndak pas jadi susunya ndak ngalir lancar. Bisa jadi anaknya males ngenyut. Kalau tetekmu sampai mbangkaki keras dan bajumu basah oleh tetesan air susu tak terminum, bagaimana bisa kamu bilang susumu kurang?

Bayi itu bisanya menangis. Kalau dia langsung ngomong nanti emaknya pingsan. Dan seandainya bisa ngomong, mereka mungkin akan bilang, ‘Mak, aku mau nyusu, netek yang banyak. Aku ndak mau maem pisang!’

.

Apakah tandus bukit dan kampung ini, akan terus menjaga ketandusan pikir orang-orang yang tinggal di sana?

Yang Terekam dari ‘Doa untuk Darmanto Jatman’

Aku sendiri tidak mengenal beliau secara pribadi; ketemu pun belum pernah. Namun masih terkesan suara beliau di radio, ketika masih sehat dulu. Nama beliau sebagai sastrawan, budayawan, penyair, memberi arti yang besar bagi kehidupan sastra di Semarang.

Sabtu tanggal 20 Januari 2018 lalu, digelar acara ‘Do’a untuk Darmanto Jatman’ di beranda Kantor Suara Merdeka. Mengenang, mengirim doa, dan mengantarkan kepergian beliau seminggu sebelumnya. Sebuah keistimewaan, menjadi bagian dari acara ini, bersama para tokoh sastra Semarang dan bahkan nasional; sahabat-sahabat Pak Darmanto. Sesungguhnya aku merasa kecil, berada di antara Emha Ainun Najib, Prie GS, Sosiawan Leak, Timur Sinar Suprabana, Handry TM, dan tokoh sastra Semarang lainnya.

(Terima kasih Suara Merdeka.)

Mendengarkan ‘kenangan’ dari mereka yang pernah (dan masih) dekat dengan Pak Darmanto Jatman, satu hal yang kutangkap, bahwa setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk. Namun kenanglah yang baik, simpanlah yang baik, lanjutkan yang baik.

Seperti puisi ‘Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua’ yang kubawakan bagian awalnya bersama Ibit Sukma, walau kata-katanya mbeling dan suasananya riang, namun aku menangkap sebuah pengakuan tentang keakuan yang ternyata adalah sebuah kelemahan; juga sanjungan serta terima kasih atas kekuatan kesetiaan yang menghidupkan.

.

Hal yang juga menjadi catatan bagiku, adalah kemuliaan Ibu Mur, garwa  Pak Darmanto Jatman yang setia mendampingi dalam susah dan senang, sampai saat penghabisan. Aku malu.


Semoga pemikiran-pemikiran brilian Darmanto Jatman dapat tetap menginspirasi pelaku sastra di mana saja, juga pelaku kehidupan di masa kapan saja.

Sugeng tindak, Pak.

Jangan Jadi #JempolMurahan

Membagi berita, kutipan, foto, gambar, artikel bohong dari sumber yang tidak jelas; tanpa klarifikasi tanpa cek dan ricek; berarti ikut menyebar fitnah. Situ ndak takut dosa? (Maaf ya, habisnya dari pengalaman selama ini, yang sering nyebar konten hoax juga hobi ngomongin surga-neraka pahala-dosa).

Apa-apa yang jelekin orang menarik untuk disebarkan. Bikin diri merasa lebih baik dari orang lain. Padahal yang namanya melihat kejelekan sendiri bak ‘ngilo githoke dhewe‘. Susah!

Katanya dapat info ‘dari saudaraku di Surabaya’. Sudah cek saudaranya dapat dari mana? Sudah coba cari sendiri berita/artikel penyeimbang?

Katanya ini info dari ‘DR. SOLIKIN ahli politik’. Sudah cek dia itu siapa? Suaminya dr. Siti?

Ayolah, pinteran sedikit. Ndak perlu banyak piknik, yang penting banyak tanya (pada orang yang keilmuannya bisa dipertanggungjawabkan), banyak baca (jangan bacaan sampah tapinya). Sampah dan racun bertebaran di internet. Pilah pilih mana yang menyehatkan mana yang merusak.

*ilustrasi diambil dengan ijin dari daenggasing.com

Ayolah, tahan jempolnya kalau gatel mau share hal-hal yang belum jelas, meskipun kelihatan heboh dan bakal menarik respon banyak orang.

Ayolah, jangan jadi #JempolMurahan!

Artikel #jempolMurahan lain dari Tukang Loenpia:

1. Jangan Jadikan Jempolmu Murahan

2. Jangan Jadi Bagian Jempol Murahan

3. Apakah Jempol Murahan?

4. Biar Jempolmu Nggak Jadi #JempolMurahan

5. Jempolmu Kadaluarsa

6. Nggak Mau Jempol Murahan?

7. Kamu Kaum Jempol Murahan?

8. Cek Sebelum Share

9. Musuh Baru di Media Sosial

10. Tentang Jempol Murahan dan Echo Chamber

Calo

*Dimuat di Jagad Jawa SOLOPOS, Kamis, 26 Oktober 2017

Rudy nglebokake amplop saka Pak Rohmat ing jero tase.

“Mugi lancar nggih Pak. Supados keng putra enggal saged makarya kanthi ayem. Panjenengan ugi lega…”

“Ya Mas. Dadi wong tuwa pancen ora bisa cul-culan, nadyan bocah wis rampung anggone sekolah. Dhuwit sak mono kanggo aku akeh banget. Anggonku nglumpukake saka kana kene. Ning yen kanggo bocah, aku ora bakal etungan.”

“Kasinggihan Pak. Panjenengan tuladha tumrap kula, anggenipun ndhukung lare mboten ngangge wates.”

“Yakin isa ketampa ta Mas?”

“Tepangan kula punika tiyang penting wonten Pemda Pak. Sak mangertos kula pikantuk jatah nanging kula inggih mboten mangertos, pinten kursi. Lha punika kula cepet-cepetan ndhaptaraken Mbak Mia. Mugi-mugi tasih katut…”

“Yen ora katut?”

“Menawi dereng katut, kula konduraken sedaya beya ingkang sampun panjenengan paringaken kula.”

“Yen ketampa aku kudu nggenepi?”

Rudy mung manthuk sambi mesem. Pak Rohmat ngunjal ambegan.

***

Loro. Kalah cacak menang cacak. Continue reading

GENDAM

*dimuat di Jagad Jawa Solopos tanggal 9 Juni 2016*

gendam

 

Raine Prapto katon pucet. Mripate kosong. Durung kena dijak omong.

“Prap! Piye Prap?”

Nanging Prapto bola-bali mung odhah adhuh karo njenggungi sirahe dhewe.

“Ilang. Amblas. Modyar akuh! Kurang ajar!”

“Apa sing ilang? Apa sing amblas? Sapa sing kurang ajar?”

Prapto mung gedheg, “Embuh, aku ora ngerti… aku ora ngerti…”

Kira-kira jam sewelasan mau Prapto pamit arep menyang bank, jare mung arep ngeprint buku rekeninge. Mergane gaji saben sasi dikirim langsung menyang celengane, banjur dijupuk menawa sakwayah-wayah butuh nganggo kertu ATM. Jane ya bisa ngerti sisane dhuit neng bank isih pira. Nanging dinggo patut-patut jarene, ben bukune ora kosong. Tur bisa ethok-ethok ngecek, mlebu metune dhuit kepiye.

Bali-bali bocahe kaya wong linglung, kanca-kancane sing weruh dadi bingung. Bareng sawetara, Prapto wis rada tenang. Wis diwenehi ngombe, dijak maca alfatehah barang.

“Kurang ajar tenan, dhuitku ilang amblas.”

***

Ora kaya biyasane, aku mau rada dheg-dhegan nalika ngantri madhep mbak-mbak Customer Service.Dudu merga mbak-mbake anyar lan katon kinyis-kinyis, ning mbuh merga apa aku dhewe ya ora ngerti.

Rong puluh yuta. Persis angka sing metu ing struk ATM wingi sore. Pancen kudune ngono. Maune aku ngarep-arep, sapa ngerti ATM-e kleru, banjur angka sing metu ing buku sing dicetak langsung bisa dadi patang puluh utawa seket. Hayo jelas kuwi ora mungkin, mula aku ya mung ngguyu yen kelingan pengarep-arepku kuwi.

“Wonten malih ingkang saged kula biyantu, Pak?” pitakone mbak CS sing ngladeni.

“Mboten Mbak, sampun, maturnuwun.”

Rampung ngeprint aku langsung metu saka bank. Mlaku bali menyang kantor. Aku pancen ora nggawa sepeda montor, wong bank-e ora adoh saka kantor. Mung butuh limang menit yen mlaku alon-alon.

Metu saka pager bank, dumadakan aku dicedhaki wong lanang sing pawakane gedhe dhuwur, praupane bagus resik. Wong kuwi ngeplak pundhakku sajak kanca lawas, “Mas, piye kabare?”

Aku durung sempat kelingan sapa wong kuwi, ujug-ujug bareng kelingan, aku wis linggih ing buk cagak gendera pinggir dalan. Thenger-thenger nyekeli kertu ATM. Piye aku ora bingung? Ngapa kok aku nyekel kertu ATM ndomblong ing pinggir dalan?

Kanthi dheg-dhegan aku enggal mlayu bali menyang bank, marani mesin ATM sing ngadeg ing ngarep lawang. Rada nggregeli aku nglebokake kertu lan mijet angka sandi.

Modyar tenan.

Dhuitku kari telung ewu limangatus rupiah.

***

“Kok isa? Kowe mlaku sambi ngalamun apa piye?” Slamet takon sajak ora ngandel.

“Lha ya mbuh to Met. Rumangsaku ya aku ora ngalamun. Malah atiku bungah, celenganku rada lumayan. Aku bisa nukokkake ali-ali mas kanggo bojoku sing arep ulang tahun minggu ngarep.”

“Ha kuwi kan yo isa uga dadi ngalamun. Kowe mbayangke bojomu ngguya-ngguyu nampa pawenehmu. Banjur kowe diambungi. Kowe mlaku karo ngguya-ngguyu dhewe mbayangke bojomu.”

“Dhapurmu ah Met! Bojoku ki ora usah diwenehi ali-ali mas wis saben dina ngambungi aku. Lha pa bojomu sing saben dina mung prengat-prengut mecuca mecucu?”

“Wahahaha…. rumangsamu!”

***

Prapto durung ndhodhog lawang, nanging Murni  wis mbukakke lawang amarga krungu swara sepeda montore mlebu pager. Raine katon sumringah, kaya biyasane yen Prapto mulih. Ngambung pipine Prapto, banjur tase Prapto dijaluk, diselehake ndhuwur meja cilik cedhak tipi.

Prapto lungguh kanthi lemes.

“Ngapa he Mas? Kok katon lemes? Gaweyane akeh banget?”

Prapto gedheg.

“Didukani Pak Kepala?”

Prapto gedheg maneh.

“Lha ana apa?” Murni lungguh ing sandhinge, nyekeli tangane bojone sing sajak ora kuwat lungguh jejeg.

“Sepurane ya Mur. Iki mau aku kena alangan…”

Murni meneng. Nyawang Prapto. Ngenteni terusane.

“Aku mau menyang bank niliki celengan. Rada lumayan, ana rongpuluh yuta. Rencanane sesuk aku arep ngajak kowe menyang toko mas golek ali-ali cilik-cilikan. Nanging…”

Prapto mbaleni sepisan meneh apa kang wis dicritakake menyang Slamet. Banjur ndhingkluk, ora wani nyawang raine Murni. Ora kuwat yen kudu weruh katresnane kuciwa.

“Oalah Mas…”

“Aku njaluk ngapura tenan, Mur. Aku ora ngira bisa kena kedaden kaya ngene. Kowe kelingan ta, aku nate kandha, crita-crita wong kena gendam kuwi mung ngarang.”

“Mas… kok sampeyan isa mikir kaya ngono. Wong kena alangan kok diarani ngarang…”

“Hayo kuwi Mur. Mbok menawa aku kena omonganku dhewe. Saiki malah aku sing ngrasakke…”

Murni ngelus-elus gegere Prapto. Ora kandha apa-apa.

“Aku njaluk ngapura tenan…”

“Iya-iya  Mas, ora usah bola-bali ngomong ngono. Piye meneh wong wis kedaden. Dudu salah sampeyan…”

“Jare Slamet kuwi salahku. Aku ngalamun merga seneng rumangsa nduwe dhuwit akeh, trus mbayangke nyeneng-nyenengke awakmu….”

Murni ngrangkul bojone kanthi tresna, “Maturnuwun wis sampeyan pikirke semono Mas. Ning yen dhuite saiki ilang, ya ora kena ditangisi. Suk maneh wae kudu luwih ngati-ati.”

“Kowe ora nesu Mur?”

“Ora….”

“Aku saiki ora duwe celengan babar blas. Mung telung ewu mangatus….”

“Lha kuwi duwe celengan telung ewu mangatus!” Murni ngguyu bungah sajak krungu celengane Prapto telung puluh lima yuta.

Prapto mung bisa mesem nyawang bojone sing tansah nrima, nadyan dheweke lagi kere sak kere-kerene.

Oalah Met, iki lho, bojoku tak waduli dhuitku amblas isih tetep ngambungi….

***

“Nyoh! Wis ya. Lunas.”

“Hehe… ya ya ya. Maturnuwun Prap. Seneng yen urusan bisnis lancar kaya ngene iki.”

“Lancar gundhulmu! Aku bangkrut!”

“Lha kuwi jenenge resiko! Wong bisnis ki bisa bathi bisa cotho!”

“Kowe bathi aku sing cotho!”

“Iki kan lagi sepisan… jane wingi kowe sempat bathi sepuluh yuta ta?”

“Sedhela, sakdurunge mbok glembuk supaya bathine pindhah menyang tanganmu.”

“Ora kena nyalahke kancane…, sing mutuske arep mandheg utawa terus ki kowe dhewe. Ya jajal kapan-kapan dibaleni meneh, sapa ngerti awake dhewe padha bathine,” Ranto kandha sinambi drijine ngetung dhuit sing ditibakke Prapto.

“Ora sudi! Wis cukup aku urusan karo kowe. Aja nganti mbaleni.”

Prapto mungkur tanpa pamit. Rasa salah kang ngantebi pundhake wis ora tanggung-tanggung. Dheweke kudu ngapusi Slamet, ngapusi Marni. Ethok-ethok kena gendam, kanggo nyaur utang kalah main karo Ranto bandar dhadhu bajingan.

 

Semarang, Mei 2016

Banyu

Cerita cekak iki dipasang ing Jagad Jawa, Solopos, 29 Oktober 2015

==============================================


Dina iki aku bali rada gasik timbang biyasane. Jam lima wis tekan ngomah. Bu Citro, tangga ngarep omah nganti nyemantakke, “Kadingaren sampun kondur, Jeng?”

Sajake Bu Citro uga lagi bali saka lelungan, nembe nutup pager. “Kula bibar saking dalemipun Pak Juri. Nyuwun tulung badhe ndhudhuk sumur. Sampun asat saestu. Kala wau kula tumbas toya galonan kangge asah-asah. Sedinten dereng adus.” Bu Citro ngguyu sedhih.

“Katuran mundhut toya saking keran kula lho, Eyang. “

“Ah, sampun. Mangke sumur panjenengan malah kasatan kados gadhahan kula…”

Aku ora kepenak arep neruske rembugan. Aku pamit mlebu. Continue reading