the struggle is real

aku bisa naik ke atas batu ini dengan sekali pull up, lalu lompat dan duduk di atas batu. tapi kata suamiku, cara naik seperti itu terlihat gampang dan kurang dramatis untuk difoto. jadi dia mengarahkan gaya memanjat yang terlihat ‘kerja keras’ ini.

sebenarnya, di balik naik dengan pull up (yang terlihat gampang itu), ada banyak kerja keras yang justru dilakukan jauh sebelumnya. yang tidak bisa terlihat dalam gambar. tidak, bukan kerja keras khusus untuk bisa naik ke batu dengan mudah. tapi kebetulan membuat naik ke batu ini jadi mudah. cara memanjat yang terlihat sulit ini buatku ya sama saja. tapi bagi yang melihat, bisa kelihatan bagaimana aku berjuang.

sayangnya, kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang bisa dilihat. sebuah pencapaian yang tidak menyajikan sejarah perjuangan terlihat ujug-ujug dan kurang berharga. maka jangan heran ketika kepada kita dihadapkan berbagai drama proses perjuangan, lalu ditutup dengan success story yang, sebenarnya ndak sukses sukses amat. tapi karena sebelumnya kita (terpaksa atau tanpa sengaja) mengikuti rentetan kisah perjuangan, maka tampak itu sebagai sebuah pencapaian besar. mereka yang bekerja sungguh-sungguh dalam sunyi, terabaikan karena dia tidak pintar mencuri perhatian sejak awal. dan sering hasil kerja mereka pun tidak banyak diketahui. atau kurang dihargai.

***

ini soal pandai-pandainya kita mengemas cerita. bagus buat marketing. come on, setiap kita butuh menjual diri. dan setiap cara jualan, menyesuaikan pasar sasaran. no?

tambat….

aku tak nemu tempat berlari

aku tak bisa lagi berlari

aku tak ingin lagi berlari

dalam pedih penantian

dalam perih kenangan kehilangan

luluh lantak dalam pengharapan

remuk redam

aku masih tidak bisa pergi….

fear

dalam kelemahan
aku telah menjadi begitu ketakutan
lalu menakutkan
dan kau ketakutan
dan aku makin ketakutan lagi

aku makin melemah lagi
dan kali ini kurasa tak akan ada yang peduli.

Kisah Serumpun Bambu *)

Tak ada ikatan seperti saudara kandung. Ikatan secara biologis yang tidak bisa dimungkiri, bahwa orang-orang yang hidup sebagai pribadi-pribadi yang berbeda, lahir dari darah yang sama. Aku tahu, ikatan darah tak selalu sebanding dengan ikatan rasa. Tak sedikit yang begitu sulit menjadi dekat lahir batin dengan saudara sekandung. Bahkan bermusuhan.

20140326-084917.jpg

ilustrasi oleh Mbakyuku. dia pengen pulang >.<

Pada setiap cerita yang masuk telinga di hari-hariku, aku bersyukur bahwa kami bersaudara tetap hidup sebagai saudara, meskipun mungkin tidak sempurna di mata sebagian orang. Sejak kecil sampai sekarang setelah kami bisa dibilang tua, persaudaraan kami penuh warna. Kami bukan orang-orang penuh kelembutan, yang mengisi hidup hanya dengan penuh senyum dan belaian. Kami bisa bertengkar. Saling berteriak. Banting pintu. Banting handphone. Melempar kata-kata yang menyakiti. Meskipun seingatku, belum pernah kami saling menyakiti secara badani. Tapi hal-hal seperti itu tidak pernah disimpan lama.

Barangkali itu hanya cara kami (yang terbentuk menjadi keras) untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran masing-masing, ketika suara pelan tidak sanggup menyampaikan. Lebih baik begitu. Toh akhirnya kami lebih suka kembali ke suasana tawa tanpa memendam apa-apa. Sungguh tak enak menyimpan perasaan dan pemikiran, tidak berani mengungkapkan, hanya karena takut dikatakan tidak sopan. Tidak hanya pada saudara, pada orang tua kami pun, kami selalu mengungkapkan apa yang kami pikirkan. Apa adanya. Dan berkah bagi kami, bahwa Bapak Ibu begitu terbuka menerima setiap pemikiran yang berbeda.

Kami mendapat cinta yang kurang lebih sama dari Bapak dan Ibu. Mungkin saja Bapak atau Ibu mencintai salah satu dari kami lebih dari yang lain. Tapi orang tua kami adalah orang hebat yang sanggup mengelola kecintaan mereka sehingga tidak pernah ada cemburu di antara kami. Ketika kami berlima telah menikah semua, anak Bapak Ibu menjadi sepuluh. Kami menjadi sepuluh bersaudara. Tidak ada (rasa) menantu. Tidak ada (rasa) ipar. Kadang aku merasa, Ibu lebih menyayangi suamiku ketimbang aku, hahaha…

Anak-anak kami, cucu-cucu Bapak Ibu, hidup lebih dari sekedar bersepupu. Anakku bisa mbingungi  kalau sudah rindu pada anak bungsu kakak sulungku. Melihat mereka bertemu bisa tertawa sampai berurai air  mata. Seperti yang perlahan menetes dari sudut mata mereka, ketika gembira saat jumpa, atau ketika harus berpisah dengan penuh enggan.

Di rumah kami ada jilbab besar yang sampai (hampir) menutup jari. Ada kerudung yang tidak pernah nyaman melewati bahu dan dipakai seperlunya. Ada kepala yang dibiarkan terbuka rambutnya ke mana-mana. Di rumah kami berkibar banyak bendera partai, juga bendera golput. Rumah kami penuh warna, dan tidak sekali pun warna-warna itu kami biarkan menjadi perusak suasana.

Kami tinggal terpisah di beberapa kota di Pulau Jawa. Tapi tidak pernah kami berhenti bicara. Selalu ada denting dari chat group  keluarga yang anggotanya adalah semua anak dan cucu Bapak Ibu (kecuali bayi-bayi yang belum diperkenankan memegang handphone). Kami jauh. Tapi dekat. Dan sebisa mungkin kami mengatur waktu untuk bisa semuanya bertemu.

Tulisan ini mungkin lahir dari rindu. Bulan ini ada tanggal merah dekat Minggu. Barangkali kami bisa merancang sebuah acara kemah atau naik gunung. Atau sekedar nglesot saja di teras rumah Bapak sambil main kartu.

*) Judul diambil dari judul sebuah sinetron di TVRI tahun 80-an.

Aku Malu Jadi Ibu

Mestikah aku berdarah-darah berkisah tentang Ibuk (lagi)?

Meski aku tahu tak pernah cukup kata-kata menceritakan tentang Ibuk. Bahkan sampai sekarang setelah sekian lama aku jadi ibu, Ibuk tetaplah ibu bagiku. Dan aku tetap anak perempuannya yang bengal.

Akhir-akhir ini, di banyak momen di hari-hariku, aku diam sejenak mengingat Ibuk. Ketika bangun di pagi hari, aku mengingat Ibuk yang pada jam sama pasti sudah selesai menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Ketika melemparkan baju kotor ke dalam mesin cuci, aku mengingat Ibuk yang sering harus mencuci malam-malam. Dengan air yang harus ditimba seember-demi seember dari sumur. Karena pagi sampai siang dia mengajar. Dan kadang banyak hal lain harus dikerjakan sepulangnya.

Ketika sakit aku ingat Ibuk. Ketika makan aku ingat Ibuk. Ketika bercermin memakai baju sebelum berangkat berkerja aku ingat Ibuk.

Ibu apa lah aku ini dibanding Ibukku.

Lalu aku menghibur diri dengan melihat anak-anakku. Kebutuhan sandang pangan juga hiburan mereka tercukupi. Mereka belajar di sekolah terbaik yang bisa aku berikan.

Lalu aku pamer di blog tentang kehebatan anak-anakku. Aku memajang keceriaan dan kehebatan mereka seperti lukisan di dinding ajang pameran. Yang juara kelas. Yang juara lomba ini itu. Yang pinter main musik. Yang kreatif. Yang rajin membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Sebenarnya dengan sadar aku sedang menutupi segala kekuranganku menjadi ibu. Yang masih sering egois mementingkan kesenangan sendiri. Yang masih sering mengabaikan anak. Dengan memamerkan kehebatan anak-anakku, sebenarnya aku juga sedang ingin dilihat sebagai ibu yang hebat, karena berhasil mendidik anak menjadi seperti itu.

Aku memamerkan ketabahan mempunyai anak yang berkebutuhan khusus. Memajang setiap kemajuan hasil terapinya, seolah itu adalah buah kesabaranku.

Sedang sebenarnya aku sering tertekan dan mungkin depresi. Mengutuki diri sendiri karena kesalahan yang sampai mati aku sendiri tidak akan sanggup memaafkan — apa lagi anakku.

Aku menggambar citra di mana-mana bahwa aku ini ibu ideal pujaan anak-anak. Yang melimpahkan cinta tiada habis dan mendapat balasan cinta yang sama. Seolah aku ini ibu bijak yang memberi ruang pilihan terarah pada anak-anakku. Seolah aku ini ibu yang demokratis, yang selalu mengajak mereka duduk bicara dari hati ke hati.

Sedang sebenarnya segala kehebatan anak-anakku adalah milik mereka. Hanya Tuhan dan aku sendiri yang tahu ibu macam apa aku ini.

Aku malu jadi ibu. Karena asal-asalan menjadi ibu. Karena tidak bisa menjadi ibu yang lebih baik, sebaik yang seharusnya aku mampu.

derak

bersama pagi ketika muadzin sedang berdiri mengumumkan subuh, seperti engsel pintu berkarat ada yang berderak dalam tubuh. entah di bagian mana. aku miring ke kanan dia berbunyi. aku miring ke kiri dia hilang. aku duduk dia berbunyi. aku berbaring dia hilang lagi.

kadang terdengar seperti dari dalam dada. lalu pindah ke perut. keriyutnya menusuk kuping, melinukan hati.

tapi bagaimana jika derak itu ternyata dari dalam hati?

Gratis.

Untuk prompt Lampu Bohlam #16 – gratis

===================================================

Pukul 16.05. Dian meraih tasnya lalu bergegas berangkat. Janji dengan Wiwid untuk ketemu di Kafe Melati jam 16.30. Walau sekedar temu kangen, dia tidak mau ngaret.

Sampai di sana ternyata Wiwid juga baru parkir.

“Haaaai…!” sapanya sambil mengunci pintu mobil. Dian meletakkan helm di spion motornya.

Wiwid memeluk Dian erat sambil cipika cipiki. Terlihat kegembiraan yang sangat, seperti juga yang sedang dirasakan Dian. Sudah lima belas tahun lebih mereka tidak bertemu.

“Ya ampun, kamu ga berubah ya, masih aja ceking begitu. Ga dikasih makan sama suamimu?” Wiwid memulai obrolan sambil memasuki kafe.

“Enak aja. Aku diet mati-matian ini. Jaga makan, olah raga. Biar udah punya anak body tetep oke, ndak mbedhah kaya kamu…” Lalu mereka tertawa bersama.

Mereka dulu teman sekamar kos jaman kuliah. Meskipun hanya beberapa bulan, karena Wiwid kemudian pindah ke kos yang lebih dekat dengan kampus. Sejak setelah lulus hampir tak pernah mereka berkomunikasi lagi. Keajaiban Facebook yang mempertemukan mereka. Sungguh sebuah kejutan bahwa ternyata, setelah bertahun Wiwid mengikuti suami keliling Indonesia, sekarang mereka tinggal satu kota.

Sore begitu meriah dengan cerita kenangan kegilaan masa muda. Dian sampai tersedak mengingat ketika mereka dimarahi ibu kos karena nekat memencet telpon yang sudah dikunci dengan menyusupkan lidi, sampai tagihan membengkak…

“Eh, kamu sekarang nulis ya? Bener kan? Yang kamu pasang di FB itu buku kamu?” tanya Wiwid.

“Iya… belajar nulis… Ada teman yang membantu menerbitkan…”

“Wow kereeen… eh, boleh dong aku dapat gratisan satu… buat mantan teman sekamar…” Wiwid terkikik sambil mencubit lengan Dian. Dian terdiam sejenak.

“Hm… boleh sih. Aku juga boleh dong, dapat gratisan tas daganganmu, satu. Buat  mantan teman sekamar…” Dian ikut ngikik dan gantian mencubit lengan Wiwid.

Wiwid terdiam. Matanya terbelalak. “What? Ah kamu Di. Tas daganganku itu biar KW tapi super. Bukan asal KW. Kulit asli, desain dijamin 100% mirip aslinya. Harganya yang paling murah dua juta… masa kamu tega minta gratisan?”

Dian mengemasi tasnya.

“Dan buku itu dikerjakan dengan tenaga dan pikiran. Nulisnya ga selesai setahun. Mau nyetak juga bayar orang untuk edit, layout, desain cover, beli kertas. Masa kamu tega minta gratisan?”

Wiwid terdiam.

“Eng… Aku harus pulang ni, jemput anakku pulang les sebentar lagi. Makasih ya ketemuannya. Aku yang bayar billnya, santai aja.”

Dian menyalami dan mencium pipi Wiwid yang masih terdiam. Membayar ke kasir, dan berlalu meninggalkan sore yang membuatnya tertawa getir.