Swaranabya di Suara Serasi

Mestinya, Sabtu lalu Swaranabya merekam dua materi lagu untuk album yang sedang dipersiapkan. Tapi Embun sang operator recording tiba-tiba menawari kami untuk siaran di radio. Ada undangan untuk acara siaran grup band indie seputar Semarang. Ini berarti jadwal rekaman mundur lagi. Jadwal job Embun hilang (setidaknya dua jam). Meskipun grup indie, Swaranabya sebenarnya tidak pas disebut ‘band’. Tapi aku, juga Iwan dan Ipank sepertinya tidak tahan untuk melepaskan kesempatan narsis di radio. Dan Embun, untungnya, OK saja jika jadwal rekaman diganti, belum tahu kapan.

Jadilah akhirnya kami bertiga, ditemani Embun, berangkat menuju studio.

photo

Tes tongsis di Rumah Record sebelum berangkat ke Studio Radio Suara Serasi.

Radio Suara Serasi adalah RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Kabupaten Semarang. Nama ‘Suara Serasi’ rasanya lebih akrab dan tidak kaku ya. Ruang siarannya masih setengah darurat, karena baru saja pindah lokasi. Tapi sedarurat-daruratnya tetap layak. Dan AC-nya dingin, sampai buku-buku jari Iwan kaku…

Penyiar yang bertugas saat itu, Mbak Novi, cantik imut ramah dan menyenangkan. Sebelum mulai acara kami sempat berkenalan dan ngobrol sebentar. Dari situ barulah kami tahu bahwa judul acaranya adalah ‘Pro ABG’. Okay… Jadi itulah kenapa grup-grup yang diundang (atau mendaftar) sebelumnya adalah band-band grunge, punk, hardcore… Duh, cocok ndak ini Swaranabya duduk di sini?

Tapi kami sudah siap di ruang siaran. The show must go on.

Maka begitulah, di sela-sela lagu pilihan Mbak Novi diudarakan, Swaranabya mendapat empat sesi on air. Dua sesi diisi dengan obrolan santai tentang apa dan bagaimana Swaranabya. Sesi ketiga dan keempat, Swaranabya membawakan dua lagu. Yang pertama adalah Dinding yang Retak di Bulan Januari, puisi Galih Pandu Adi; yang kedua Bangun Tengah Malam, puisi Irwan Bajang.

Suara serasi

Meski kedinginan oleh AC namun obrolan tetap hangat….

Respon pendengar (juga si Mbak Penyiar) menyenangkan. Banyak sms masuk yang menyatakan suka. Sayang belum sempat ngobrol interaktif karena beberapa telpon yang masuk bertepatan dengan saat Swaranabya sedang membawakan lagu.

Salah satu sms yang menggembirakan adalah dari ‘Bos’-nya Mbak Novi, aku juga tidak tahu tepatnya apa jabatan beliau. Si Boss ternyata memantau siaran dari rumah, dan suka dengan penampilan Swaranabya. Dia ingin Swaranabya diundang lagi kali lain. Siap!

Di ujung acara, sebagai closing biasanya Mbak Novi memutar lagu pilihannya. Tapi, katanya, karena dia suuuukkka banget dengan yang dibawakan Swaranabya sebelumnya, dia mempersilakan Swaranabya membawakan satu lagu lagi untuk penutupan. Jadilah kami menutup acara dengan Hasrat, puisi Neng Titin.

image

Narsis bareng Mbak Novi yang cantik dan baik hati 🙂

Dua jam yang menyenangkan. Terima kasih Suara Serasi, terima kasih Mbak Novi. Sampai jumpa lagi di udara, di kesempatan lain 🙂

Bangun Tengah Malam

Tidak. Ini bukan cerpen atau puisi. Ini cerita tentang puisi Irwan Bajang, berjudul Bangun Tengah Malam, yang kulagukan bersama Iwan dan Ipank.

Cerita berawal dari selewat wara-wara di twitter tentang lomba musikalisasi puisi tanggal 20 Desember 2013 lalu, Musim Para Penyair, yang diadakan Indiebookcorner bekerja sama dengan Warkopbardiman. Menarik. Apalagi selama ini aku belum pernah ikut lomba semacam ini. Secepat aku sempat, aku download materi yang menjadi bahan lomba. Ada 4 file pdf buku puisi milik Irwan Bajang, Bernard Batubara, Mario Lawi, dan Nanang Suryadi. Aku sengaja hanya mengambil dua buku. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak mau dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Makin banyak buku yang aku buka, pasti makin banyak puisi yang menarik untuk dimusik-kan. Dan aku akan makin bingung.

Jadi setelah scroll-scroll  file Bernard dan Irwan Bajang, aku memilih dua puisi dari masing-masing penyair. Hal pertama yang aku perhatikan dalam memilih puisi yang hendak kumusikkan, adalah tipografinya. Baru kemudian aku lihat isinya. Jika tipografinya asik tapi isinya tidak asik, tidak jadi lah kupilih.

Aku punya kebiasaan, menulis dengan tangan puisi-puisi yang hendak kulagukan. Dari empat puisi yang kupilih itu, Bangun Tengah Malam yang pertama kali kusalin. Pada saat menulis larik pertama, ‘bangun tengah malam’, di benakku langsung mengalir nada untuk kalimat itu. Aku sempat berhenti sejenak sebelum lanjut menulis. Terus terang ini aneh, belum pernah begini. Aku menuliskan baris berikut dan berharap ada nada lagi muncul. Ternyata tidak. Tapi… karena sudah muncul nada, setidaknya di baris pertama, aku memutuskan memilih puisi ini dan mengabaikan tiga lainnya. Aku bahkan lupa yang mana, tiga itu.

Boleh dibilang, keinginanku mengikuti kompetisi ini lebih karena ingin terlibat dengan pelaku musikalisasi dari luar Semarang. Bukan menargetkan kemenangan atau hadiah. Melagukan puisi sejak 2010, selama ini aku dan teman-teman rasanya hanya uplek-uplekan di seputar Semarang, Kendal, Kudus, Pati. Sampai-sampai ada yang menjulukiku ‘jago kandang’. Memang bersama Atisejati aku bisa ke Solo dan Yogya. Tapi itu beda…

Ini benar-benar proyek kebut-kebutan. Dua hari membuat komposisi, satu hari latihan, dan besoknya direkam. Akhirnya ‘Bangun Tengah Malam’ launch di soundcloud. Sungguh lucu, ketika aku mengabari si empunya puisi, aku ditanya apakah aku sudah mendengarkan musikalisasi atas puisi yang sama, di CD yang disertakan dalam buku Kepulangan Ke Lima. Loh. Jadi puisi ini sudah dibuat musikalisasinya? Aku baru tahu. Tentu saja belum pernah dengar. Kubilang: nanti mas, kalau aku menang kompetisi ini, aku akan pakai hadiahnya untuk beli buku dan albumnya.

Sebenarnya, aku tidak pernah pede ikut lomba yang penilaiannya dengan vote dari pemirsa. Untungnya di Musim Para Penyair, vote hanya diberi porsi 25%, sedang 75% penilaian dari juri. Meskipun begitu aku tetap rajin promosi ke sana kemari. Tiap hari pasang link di FB dan Twitter. Bahkan memberanikan diri njawil teman-teman dan terus terang minta dukungan. “Tolong putar ya, tinggalin komen, tinggalin hati….” Aduh.  Jan-jane aku rikuh kalau disuruh melakukan ini… Alhamdulillah aku punya teman-teman baik yang dengan senang hati memberi dukungan. Terima kasih semua. Maaf ya kalau ngiklannya kelewatan…

Setelah sempat diundur seminggu, akhirnya Sabtu, 18 Januari 2014 diumumkan juga hasil lombanya. Juri memilih Bangun Tengah Malam-ku menjadi pemenang lomba. Bersyukur banget. Apalagi saingannya datang dari mana-mana. Yogya, Gresik, Bali, Surabaya. Senang. Tapi kemudian sebal. Sebal yang sekaligus senang. Piye jal. Panitia mengundangku untuk hadir di malam puncak Musim Para Penyair. Untuk menerima hadiah, sekaligus perform beberapa lagu. Senang karena diundang. Sebal karena mendadak. Tapi tetap menang senangnya sih…

image

image_1

MPP3

Jadi kemarin, berangkatlah aku bersama Iwan dan Ipank dan Lulu, menghadiri malam penganugerahan pemenang lomba musikalisasi dan baca puisi di Musim Para Penyair. Ketemu langsung dengan (dan mendapat buku bertanda tangan) penyairnya . Dan yang  lebih menyenangkan adalah perasaan baru yang muncul karena tampil di depan audiens yang benar-benar baru. Berkenalan dengan teman-teman baru. Lihat, aku bukan jago kandang 😀

Musim Para Penyair yang mengajak kita merayakan puisi dengan gembira ini menyenangkan. Menjadikan puisi bukan lagi hal yang mengajak kita berkerut dahi. Serius tapi terasa ringan. Kita diajak belajar mengenal, menulis, membaca, dan mengapresiasi puisi dalam bentuk karya yang berbeda. Mudah-mudahan terus berkelanjutan dan lebih meriah lagi.

Bagi yang belum mendengarkan, atau ingin mendengarkan lagi, atau ingin download supaya bisa didengarkan lagi dan lagi, silakan kunjungi soundcloud-ku.

Terima kasih Mas Irwan, Bagustian, Warkopbardiman, kawan-kawan di Yogya. Semoga bisa jumpa di lain kesempatan.

Taman Garuda Art Jamming

ORArT ORET, komunitas pecinta seni budaya Semarang, awalnya hanyalah sekumpulan orang yang suka menggambar. Dimulai dari kegiatan orat oret bersama, kini mereka telah memiliki agenda acara seni rutin maupun tidak rutin. Ruh komunitas ini pun semakin berkembang, untuk saling mendukung antar komunitas seni/budaya di Semarang.

Salah satu agenda rutin adalah Taman Garuda Art Jamming. Acara ini, seperti judulnya, diselenggarakan sebulan sekali di Taman Garuda di kawasan Kota Lama Semarang. Dalam acara ini ditampilkan pertunjukan seni dalam bentuk apa pun. Art performance, band, baca puisi, juga beramai-ramai menggambar sketsa suatu obyek. Siapa saja boleh ikut berpartisipasi. Kalau pun belum sempat mendaftar sebelum acara, boleh langsung datang saat acara, mengambil tempat di salah satu bagian taman, lalu perform.

20130823-194758.jpg

*Mas Dadang Pribadi dkk menggambar sketsa dua orang pecinta sepeda doltrap*

Minggu 18 Agustus 2013 lalu, aku berkesempatan datang ke acara tersebut. Acara utama hari itu adalah lomba 17an yang diikuti bule-bule entah dari mana. Lombanya standard saja. Makan kerupuk, balap karung, balap bakiak, dan lainnya. Mau pesertanya bule atau pribumi, lomba semacam itu selalu seru dan lucu. Ya kan?

Awalnya hanya ingin melihat, tapi akhirnya ikut ngejam juga bareng Deska. Itu juga hanya beberapa lagu. Anggap saja sedang membaca suasana dan mencoba beradaptasi.

20130823-194949.jpg

Rencananya bulan depan aku dan teman-teman ingin datang lagi. Ikut ngejam lebih lama lagi, lebih meriah lagi. Mengajak teman lebih banyak lagi.

Semoga agara rutin seperti ini bukan sekedar rutinitas performance, tapi benar-benar bisa membawa seni budaya di Semarang lebih berkembang.

Tentang Peka; Tentang ‘Ibu, Bapak di Mana?’

Sering kita merasa orang lain tidak bisa peka. Pernahkah terpikir, orang lain pun bisa merasa demikian tentang kita?

***

Pagi ini ada hantaman di dada, ketika aku menandai Kang Putu dalam video yang kuunggah. Video rekaman saat kemarin sore aku membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’ untuk ke sekian kalinya.

Sebenarnya lagu ini tercipta dengan cara yang tidak biasa. Saat itu aku diminta oleh Budi Maryono, pemilik penerbit Gigih Pustaka Mandiri, untuk membawakan satu lagu yang diangkat dari buku ‘Nyanyian Penggali Kubur’ karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) dalam rangkaian roadshow buku tersebut. Sebenarnya waktu yang diberikan cukup longgar, sekitar dua minggu. Entah kenapa,  meskipun aku bisa merasakan semua cerpen di buku itu, terasa sulit banget memilih satu dan menyanyikannya. Jadi aku bilang, aku ikut, tapi entah bisa memenuhi permintaannya atau tidak.

Sehari menjelang acara di Kudus, di mana seharusnya aku ikut berpartisipasi, aku menetapkan cerpen ‘Langit Gelap tanpa Bintang’. Cerpen ini bercerita tentang kepedihan seorang ibu, yang setiap malam harus menjawab pertanyaan anaknya, tentang di mana bapaknya. Si Bapak, diceritakan hilang entah ke mana, oleh kekejaman penguasa pada suatu era.

Aku mengutip beberapa kalimat. Menyelipkan beberapa kalimatku sendiri. Lalu nggenjreng gitar sambil membaca apa yang kutuliskan. Aku sendiri masih merasa ajaib. Dalam kurang dari satu jam, lagu itu terbentuk begitu saja. Masih kasar, tapi aku memberanikan diri menelpon Budi Maryono; aku ikut, dan bernyanyi.

Banyak yang suka. Ada yang bilang aku biadab karena membuatnya menitikkan air mata. Maka dari perform ke perform, beberapa kali kubawakan lagu ini. Aku membawakannya sebagai bagian dari show, dan karena merasa banyak yang menyukainya. Baru kemudian aku menyadari, ada seorang teman yang pergi keluar ruangan ketika tahu aku akan membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’. Dia tidak tahan, dan meskipun kesehariannya garang, dia menjadi cengeng setiap harus mendengar lagu ini.

Kang Putu sendiri, si pemilik cerpen, pernah mengatakan bahwa lagu ini mengiris-iris perasaannya. Karenanya aku bertanya terlebih dahulu, apakah dia mau kuberi rekaman audio mp3 sederhananya. Dia mau. Dan katanya, setelah berulang kali diputar, ada suatu beban seperti dilepas pelan-pelan. Bagiku itu melegakan.

Tapi pagi ini, Kang Putu bilang, dia tidak bisa terus menerus mendengarkan lagu ini. Bukan berarti dia keberatan. Aku boleh tetap menyanyikannya kapan aku mau, ‘the show must go on‘.

***

Kurasa, hanya pada saat pertama kali kubawakan lagu itu lah, aku benar-benar menyanyi dengan hati (sepenuhnya).

duet with Adith

Jujur saja, ketika akhirnya aku berduet dengan Adith pun, juga karena dia bilang suka sangat lagu itu, dan sudah menyiapkan aransemen khusus untuk mengiringi aku, solo. Siapa yang tidak ingin?  Mungkin kemarin itu, aku telah tanpa sadar meletakkan hati dan bernyanyi lebih sebagai sebuah pertunjukan. Berharap audiens menyukai penampilan kami. Bertepuk tangan. Memuji.

Iya sih. Pasti ada kekecewaan jika audiens tidak  merasa mendapatkan apa-apa dari penampilan kita. Karena memang itu tujuan sebuah pertunjukan, memberikan sesuatu kepada penonton. Tapi mungkin harus kupikirkan lagi, jika urusannya sudah menyinggung kepekaan sebagian orang. Bukan sekedar ‘the show must go on’. Atau biasa aja?

Bulan Latihan Untuk Latree and Friends

Sebulan terakhir ini sungguh istimewa. Waktu memberiku kesempatan perform di tempat dan even yang tidak biasa.

Tanggal 15 April aku diajak mas Timur Budi Raja untuk tampil di Pembukaan Festival Gua dan Air di Gua Pancur, Pati. Ini adalah panggung paling eksotis yang pernah kuinjak. Perform di dalam gua yang dasarnya digenangi air. Aku sudah membayangkan tempat yang ames, dingin dan gelap. Tapi semua itu hilang ketika kami berada di dalamnya. Lampu yang dipasang bukan cuma memberi terang, tapi memberi efek indah, terpantul stalagtit dan stalagmit. Dan air kolamnya, percaya atau tidak, hangat.
Yang bikin lebih eksotis adalah perjalanan ke venue acara. Malam, hujan deras, dan lokasi yang jauh dari jalan raya. Lumayan terencil di tepi hutan. Aha, romantis sekali!

gua pancur

Lalu tanggal 22 April aku ditemani Iwan, Ipank dan Ibit, berkesempatan tampil di Pembukaan Pameran Industri Kreatif di Hotel Ciputra. Ini pertama kalinya aku perform di sebuah hotel, berbintang pula. Hmmm… bukan audiens ideal, tapi ini pengalaman baru. We have our own places to belong, ya kan?

20130513-074746.jpg

Senangnya bisa ambil bagian di syukuran ulang tahun ke-2 Komunitas Lacikata. Sederhana namun khidmat. Di sini lebih nyaman, jujur saja. Akrab, meriah, hangat. Bagiku kesederhanaan adalah kemewahan tersendiri. Selamat ya, kawan-kawan.

20130513-074907.jpg

Dan Sabtu tanggl 11 Mei kemarin, kami mendapat kehormatan untuk ikut memeriahkan pembukaan pameran lukisan, Rekreasi Visual Nh. Dini di Oudetrapp Gallery di kawasan kota lama Semarang. Iya, Nh. Dini. Beliau ternyata gemar melukis. Lukisannya rasa Chinese Painting. Ah… mimpi apa aku bisa bernyanyi untuk beliau, membawakan sebuah lagu yang kucipta khusus dari novel beliau. Iwan, gitarisku, sampai meriang saking dege-degannya. Whatta…

20130513-072805.jpg

Rangkaian perform ini lumayan sih, sebagai latihan menjelang acara awal Juni nanti. Tentu saja ditambah latihan-latihan khusus yang lain.

20130513-075100.jpg

Iya, akan ada persembahan khusus di awal Juni nanti. Insya allah. Semoga ya 🙂

Atisejati Berkata Kaca

Sabtu, 15 Desember 2012 lalu, di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, diselenggarakan peluncuran buku antologi puisi ‘Berkata Kaca’ karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati. Terus terang aku belum mengenal dua penyair senior ini secara pribadi. Eng… sejujurnya, mendengar nama mereka berdua ya baru-baru saja ini, karena diajak pentas bersama Atisejati memusikpuisikan karya mereka.

Dalam acara peluncuran ini, selain dibawakan dalam bentuk musik-puisi oleh Atisejati, beberapa puisi dari buku Berkata Kaca dibacakan oleh penyair-penyair dari Solo, Yogya, Gresik bahkan Makassar. Acara diakhiri dengan diskusi membedah buku. Aku tidak akan menceritakan isi diskusi, karena aku memang hanya mengikuti sebentar, tidak tuntas. Lagian ndak terlalu ngerti juga…

 DSC_0793mbak Dhenok Kristianti membawakan puisinya

Jadi aku mau bercerita tentang Atisejati saja. Yang setelah latihan yang awur-awuran itu, hasilnya sangat memuaskan. Aku yang setiap latihan nyebul suling selalu error, pada saat tampil hampir tanpa error. Iya, cuma hampir. Tapi kan cuma hampir. *halah*. Nada tinggi di akhir Sajak Batu, yang biasanya putus kecekik, pada saat pentas meluncur mulus dan manis. Keren lah pokoknya.

IMG-20121215-01786Sebelum pentas: Latree, Leak, Luluk, Adit. Harusnya ada Pendi, tapi dianya sedang sibuk instalasi untuk video dan lampu…

DSC_0779

Atisejati di panggung. Mas Leak selalu punya cara untuk menyampaikan pengantar setiap puisi dengan ringan tapi kena.

DSC_0809diskusi bersama pembicara Andrik Purwasito dipandu moderator Leak Sosiawan

Buat yang penasaran, seperti apa kerennya penampilan Atisejati, bisa cek rekaman sederhananya. Iya di youtube. Di mana lagi 😀

Ada 4 puisi yang dibawakan malam itu. Ini linknya:

Sajak Bertanya 

Sajak Kegelisahan

Sajak Batu

Sebelum Epitaph Berakhir

Selamat menikmati, sampai jumpa dengan Atisejati di pentas selanjutnya!

Awur-awuran ala Atisejati*)

Ketika mulai bergabung dengan Atisejati sekitar bulan November 2010 dulu, aku tinggal tahu jadi 10 puisi-musik yang ada di album ‘Hati Kata-kata’. Tugasku hanya mendengar, menghapalkan, lalu ikut membawakannya di pentas-pentas Atisejati setelah itu.

Awal 2012, Atisejati berproses mengerjakan musikalisasi puisi-puisi baru. Setiap anggota mendapat jatah puisi yang harus dimusikkan. Aku dengan keterbatasan kemampuan musikku, selalu mengerjakan musikalisasi puisi dengan sederhana. Mengingat lagu-lagu di Album Hati Kata-kata yang menurutku sangat ‘kaya’, aku sempat minder. Toh tetap aku lakukan bagianku semampunya. Pada bagian-bagian tertentu aku stuck dan menyerah.

Ketika kuperdengarkan hasil komposisiku kepada teman-teman anggota yang lain, ah ya, benar saja. Ada hal yang membuat mereka tertawa, karena komposisiku yang terlalu sederhana, yang bahkan katanya lebih cocok dibawakan oleh girl band. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku malah merasa tersanjung, karena bahkan komposisi yang sederhana itu tetap dipakai. Tentu saja, harus dipoles lagi.

“Nanti kita awur bareng-bareng, kita juga biasanya begitu”

Begitu kata Adith, arranger andalan Atisejati. Ngawur, katanya. Asem tenan. Bagaimana sebuah pekerjaan ngawur bisa menghasilkan karya yang begitu keren?

IMG-20121209-01705

Maka di materi-materi baru, aku ikut terlibat, ‘ngawur’ bersama mengerjakan beberapa musikalisasi puisi. Sama sekali tidak ngawur. Aku lebih suka menyebutnya ‘merdeka’. Tidak terkekang satu warna, siapa saja bisa usul. Dan yang mungkin bisa dibilang ngawur (saking merdekanya) adalah, main tabrak dalam aransemen musik dan vokalnya. Tapi toh hasilnya asik banget. Continue reading