Persembahan.

Telah kupersembahkan hati pada
kerisauan. Yang menjajah siang-siang dan malam-malam. Pada rindu yang enggan bertemu. Pada lapar yang menolak makan.

Telah kupersembahkan waktu pada kekacauan. Yang merampas
keteraturan. Pada detak yang melulu sepi. Pada jarak yang tak hendak mendekat.

Telah kupersembahkan rasa pada
nada. Tapi ke mana kesaktian getar dawai?

Advertisements

(laporan) Pertunjukan #KembangApiMalamIni

persiapan yang cukup panjang. kurasa. tapi mungkin memang sulit untuk bisa sempurna. sedikit gangguan di lighting bukan alasan untuk bilang pertunjukan kemarin tidak sukses. ide setting kafe menurutku keren sekali. keren. beneran.

Ibit dan Santa membawakan ‘Kembang Api Malam Ini’

Kelompok Musik Pembluesukan membawakan ‘Susu untuk Sari’ dan ‘Namaku Samantha Ray’

Molotov Candy menarikan ‘The Wine’

Babahe Widyo Leksono sebagai manajer kafe

Iwan dan Mas Adit, dua gitaris keren-ku; Ibit dan Santa, backing vokalku; Ipank mengetuk jimbe; pendukung di lagu ‘Kembang Api Malam Ini’

itu aku, dan dua penari dari timur tengah, membawakan ‘Kembang Api Malam Ini’

kapan lagi kalian lihat aku pakai gaun?

hm.. pada ngerubungi apa sih ini?

ada film RAN! sebagai respon terhadap cerpen Bayang-bayang, aku sedang mengusahakan ijin dari Zoex Zabidi sang creator, untuk dapat kuupload di sini, atau di tempat lain, mungkin. juga foto-foto dari Cantrik Suwoko.

oh ya. sampai saat ini belum ada upload di youtube. karena sesuatu dan lain hal. rahasia. ah. nanti juga kalian tahu kenapa.

terima kasih pada semua pendukung. Danang, atas semua supportnya. Babahe, sang manajer panggung sekaligus manajer kafe. Budi Maryono, atas apa pun. Daniel Hakiki, sang sutradara. Adhitia Armitrianto, produser acara. Sinta Pramucitra, untuk undangan mengobrol di TVKU. Cantrik Suwoko, untuk foto-foto perempuan perkasa. Umam, Bintar, Vicky, untuk tarian yang memabukkan. Sandra Palupi, Kurniawan Yunianto, Yongki, Ghany, Deska, untuk musik blues yang nakal dan mengiris. Ibit Sukma, Santa, Iwan, Adit Bagus Pradana, Ipang Baihaqi Arsyad, untuk suara-suara indah dan harmoni. Okta dan Ambar, untuk tarian yang seksi. Zoex Zabidi, Imaniar Christy, Yanuar, Icha Denisa, untuk film yang istimewa. Mbak Maret, yang siap menyajikan suguhan setiap rapat dan persiapan. Agus Maladi, atas pinjaman kursinya. Zainal Arifin, yang telah membawa bala. Daae, Diyah, Habibah, atas promosi dan ticketingnya. Dekase. Teater SS. Lacikata. Openmind Community. Linikreatif Writing and Reading. Gigih Pustaka Mandiri. Vivi Andriani, Mbah Mo, Fajar, Agus, Mas Amat, dan lain-lain yang tidak bisa kusebut satu persatu. Maaf kalau ada yang terlewat ūüėÄ

terima kasih yang datang berkunjung. tanpa kalian apa lah arti pertunjukan.

sekali lagi terima kasih, mohon maaf atas segala kekacauan, dan sampai jumpa di lain kesempatan!

Chord: Dinding yang Retak di Bulan Januari (Puisi Galih Pandu Adi)

Musikalisai puisi ini aku bawakan pada peluncuran buku Kumpulan Puisi Galih Pandu Adi:  Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat

di Kampus FIB UNDIP, tanggal 13 July 2012

rekaman sederhananya dapat diunduh di sini

=================

Am                                  F    
Dinding dinding menguburku dalam lindap Januari

Dm                     E
yang jatuh di atap-atap Continue reading

Chord: Aku Lupakan Namamu (Puisi Timur Budi Raja)

Musikalisasi puisi ini aku bawakan bersama Desta, pada peluncuran himpunan puisi Timur Budi Raja, ‘Opus 154’ di Kampus FIB UNDIP tanggal 14 Januari lalu.

Bisa dengarkan versi piano ngawurnya di sini

atau lihat video live performnya di sini

=================================================

Am                     F                  Am                  G
Aku lupakan namamu ketika hatiku pelan-pelan pergi Continue reading

Dari Launching Buku Anak-anak Kapak

Akhirnya buku antologi puisi Anak-anak Kapak karya Muhammad Baihaqi Latif, Rabu Pagisyahbana, Devi Maya dan M Akid AH diluncurkan tanggal 27 Mei 2012 lalu di Joglo TBRS Semarang.

Sebagai pembahas materi adalah Adin Mbuh dan Purwono Nugroho Adi. Aku tidak mendengarkan dengan seksama, jadi takutnya lucu atau malah salah kalau bikin semacam resume di sini. Setidaknya aku menangkap salut yang disampaikan Adin Mbuh kepada mereka yang memilih menulis, dan terlebih lagi puisi, sebagai bentuk aktualisasi diri. Terlepas dari apakah puisi itu masih sekedar tempat sampah aka tempat curhat atau sudah bisa menyuarakan hidup di luar penulisnya.


rabu pagi syahbana


devi maya


m akid


purwono adi, adin mbuh, janoary

Ada banyak penampil yang ikut mangayubagya terbitnya Anak-anak Kapak. Selain pembacaan puisi oleh tiga penyairnya (M Baihaqi Latif berhalangan hadir) ada Imaniar yang menampilkan seni gerak, respon Puisi Mata Boneka. Ada Wika Setyawan dan rombongan yang melagukan sekaligus membacakan tiga puisi. Ada banyak penyair lain, Ganjar Sudibyo, Arif Fitra Kurniawan, Kurniawan Yunianto, Galih Pandu Adi, dan lain-lain yang aku tidak sempat saksikan karena aku pulang duluan…

Musikalisasi keren oleh Wika dan teman teman bisa dilihat di sini. Sayang aku ndak punya fotonya.

Seperti kujanjikan waktu itu, aku bersama Iwan membawakan puisi Devi Maya, Darah Kerinduan untuk Ayah.

Videonya dapat dilihat di sini.

Hasil rekamannya dalam bentuk mp3 dapat didownload di sini.

***

Selamat kepada para penyair, semoga buku ini tidak menjadi pertanda hadir lalu sudah.

Sub Urban Love: a Catastrophe

Sub Urban Love
Catastrova Prima
Klnik dan Rumah Jeruk
2012

Aku membaca buku ini secara acak, memilih judul yang terdengar menarik buatku. Yang pertama kali kubaca adalah ‘Tokek dan Sepatu’. Haha, gubrak. Ternyata isinya tentang semut yang jatuh cinta pada manusia.

Setelah itu aku lompat ke sana kemari. Dan memutuskan memilih ‘Catastrophe’ untuk dimusikalisasi. Catastrophe judul yang menarik. Isinya, bukan cerpen. Bukan cerita, menurutku. Lebih sebuah grenengan akan kebebalan, kalau tidak mau disebut kebodohan diri sendiri.

Seluruh cerita di buku ini adalah tentang cinta. Bukan sekedar cinta dua anak manusia, kau juga akan menemukan cinta pada orang tua, sahabat, anak, saudara. Yang indah, yang luka, yang bebal. Apakah aku terluka membacanya? Ah, Prim, Galuh melukaiku. Dan Lost. Dan Surat dari Fukuoka. Yang lain, mungkin aku yang sudah bebal dengan cinta-cintaan…

Ketika malam Minggu lalu aku membawakan Catastrophe di Launching Sub Urban Love, itu tangan kiriku baru saja dicabut infusnya. Dan sudah hampir 2 minggu tidak pegang gitar. Sepanjang jalan aku mencoba memainkan gitar angin. Hasilnya penampilan yang serba apa adanya…

Semoga berkenan adanya. Kalau ada kesempatan aku ingin mengulang membawakannya dengan lebih baik. Oh ya, terima kasih mbak MC yang sudah bersedia menjadi cagak mic. Dan terima kasih mas… err… mas siapa ya, atas pinjaman gitarnya.

Bagi  yang penasaran, rekaman sederhana dengan handphone sederhana atas lagu sederhana yang diiringi secara sederhana dengan gitaran sederhana, Catastrophe, bisa di download di sini.

I hope this song means more than a review, ‘coz it does to me.

secuil kesemrawutan(ku) dari pentas Atisejati di Parade Budaya IAIN

because ‘semrawut’ is my middle name.

tanggal kapan itu, aku dapat sms dari mas Leak untuk mengamankan tanggal 21 Desember, karena akan diajak tampil di IAIN Walisongo. oh ya, aku bisa amankan tanggal dari kegiatan apa pun; kecuali tugas kantor!

tanggal 17 pagi aku mendapat surat perintah untuk menghadiri rapat di Solo yang diselenggarakan tanggal 21 pagi.  tak dhung! Continue reading