the struggle is real

aku bisa naik ke atas batu ini dengan sekali pull up, lalu lompat dan duduk di atas batu. tapi kata suamiku, cara naik seperti itu terlihat gampang dan kurang dramatis untuk difoto. jadi dia mengarahkan gaya memanjat yang terlihat ‘kerja keras’ ini.

sebenarnya, di balik naik dengan pull up (yang terlihat gampang itu), ada banyak kerja keras yang justru dilakukan jauh sebelumnya. yang tidak bisa terlihat dalam gambar. tidak, bukan kerja keras khusus untuk bisa naik ke batu dengan mudah. tapi kebetulan membuat naik ke batu ini jadi mudah. cara memanjat yang terlihat sulit ini buatku ya sama saja. tapi bagi yang melihat, bisa kelihatan bagaimana aku berjuang.

sayangnya, kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang bisa dilihat. sebuah pencapaian yang tidak menyajikan sejarah perjuangan terlihat ujug-ujug dan kurang berharga. maka jangan heran ketika kepada kita dihadapkan berbagai drama proses perjuangan, lalu ditutup dengan success story yang, sebenarnya ndak sukses sukses amat. tapi karena sebelumnya kita (terpaksa atau tanpa sengaja) mengikuti rentetan kisah perjuangan, maka tampak itu sebagai sebuah pencapaian besar. mereka yang bekerja sungguh-sungguh dalam sunyi, terabaikan karena dia tidak pintar mencuri perhatian sejak awal. dan sering hasil kerja mereka pun tidak banyak diketahui. atau kurang dihargai.

***

ini soal pandai-pandainya kita mengemas cerita. bagus buat marketing. come on, setiap kita butuh menjual diri. dan setiap cara jualan, menyesuaikan pasar sasaran. no?

Taman Garuda Art Jamming

ORArT ORET, komunitas pecinta seni budaya Semarang, awalnya hanyalah sekumpulan orang yang suka menggambar. Dimulai dari kegiatan orat oret bersama, kini mereka telah memiliki agenda acara seni rutin maupun tidak rutin. Ruh komunitas ini pun semakin berkembang, untuk saling mendukung antar komunitas seni/budaya di Semarang.

Salah satu agenda rutin adalah Taman Garuda Art Jamming. Acara ini, seperti judulnya, diselenggarakan sebulan sekali di Taman Garuda di kawasan Kota Lama Semarang. Dalam acara ini ditampilkan pertunjukan seni dalam bentuk apa pun. Art performance, band, baca puisi, juga beramai-ramai menggambar sketsa suatu obyek. Siapa saja boleh ikut berpartisipasi. Kalau pun belum sempat mendaftar sebelum acara, boleh langsung datang saat acara, mengambil tempat di salah satu bagian taman, lalu perform.

20130823-194758.jpg

*Mas Dadang Pribadi dkk menggambar sketsa dua orang pecinta sepeda doltrap*

Minggu 18 Agustus 2013 lalu, aku berkesempatan datang ke acara tersebut. Acara utama hari itu adalah lomba 17an yang diikuti bule-bule entah dari mana. Lombanya standard saja. Makan kerupuk, balap karung, balap bakiak, dan lainnya. Mau pesertanya bule atau pribumi, lomba semacam itu selalu seru dan lucu. Ya kan?

Awalnya hanya ingin melihat, tapi akhirnya ikut ngejam juga bareng Deska. Itu juga hanya beberapa lagu. Anggap saja sedang membaca suasana dan mencoba beradaptasi.

20130823-194949.jpg

Rencananya bulan depan aku dan teman-teman ingin datang lagi. Ikut ngejam lebih lama lagi, lebih meriah lagi. Mengajak teman lebih banyak lagi.

Semoga agara rutin seperti ini bukan sekedar rutinitas performance, tapi benar-benar bisa membawa seni budaya di Semarang lebih berkembang.

Bulan Latihan Untuk Latree and Friends

Sebulan terakhir ini sungguh istimewa. Waktu memberiku kesempatan perform di tempat dan even yang tidak biasa.

Tanggal 15 April aku diajak mas Timur Budi Raja untuk tampil di Pembukaan Festival Gua dan Air di Gua Pancur, Pati. Ini adalah panggung paling eksotis yang pernah kuinjak. Perform di dalam gua yang dasarnya digenangi air. Aku sudah membayangkan tempat yang ames, dingin dan gelap. Tapi semua itu hilang ketika kami berada di dalamnya. Lampu yang dipasang bukan cuma memberi terang, tapi memberi efek indah, terpantul stalagtit dan stalagmit. Dan air kolamnya, percaya atau tidak, hangat.
Yang bikin lebih eksotis adalah perjalanan ke venue acara. Malam, hujan deras, dan lokasi yang jauh dari jalan raya. Lumayan terencil di tepi hutan. Aha, romantis sekali!

gua pancur

Lalu tanggal 22 April aku ditemani Iwan, Ipank dan Ibit, berkesempatan tampil di Pembukaan Pameran Industri Kreatif di Hotel Ciputra. Ini pertama kalinya aku perform di sebuah hotel, berbintang pula. Hmmm… bukan audiens ideal, tapi ini pengalaman baru. We have our own places to belong, ya kan?

20130513-074746.jpg

Senangnya bisa ambil bagian di syukuran ulang tahun ke-2 Komunitas Lacikata. Sederhana namun khidmat. Di sini lebih nyaman, jujur saja. Akrab, meriah, hangat. Bagiku kesederhanaan adalah kemewahan tersendiri. Selamat ya, kawan-kawan.

20130513-074907.jpg

Dan Sabtu tanggl 11 Mei kemarin, kami mendapat kehormatan untuk ikut memeriahkan pembukaan pameran lukisan, Rekreasi Visual Nh. Dini di Oudetrapp Gallery di kawasan kota lama Semarang. Iya, Nh. Dini. Beliau ternyata gemar melukis. Lukisannya rasa Chinese Painting. Ah… mimpi apa aku bisa bernyanyi untuk beliau, membawakan sebuah lagu yang kucipta khusus dari novel beliau. Iwan, gitarisku, sampai meriang saking dege-degannya. Whatta…

20130513-072805.jpg

Rangkaian perform ini lumayan sih, sebagai latihan menjelang acara awal Juni nanti. Tentu saja ditambah latihan-latihan khusus yang lain.

20130513-075100.jpg

Iya, akan ada persembahan khusus di awal Juni nanti. Insya allah. Semoga ya 🙂

Atisejati Berkata Kaca

Sabtu, 15 Desember 2012 lalu, di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, diselenggarakan peluncuran buku antologi puisi ‘Berkata Kaca’ karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati. Terus terang aku belum mengenal dua penyair senior ini secara pribadi. Eng… sejujurnya, mendengar nama mereka berdua ya baru-baru saja ini, karena diajak pentas bersama Atisejati memusikpuisikan karya mereka.

Dalam acara peluncuran ini, selain dibawakan dalam bentuk musik-puisi oleh Atisejati, beberapa puisi dari buku Berkata Kaca dibacakan oleh penyair-penyair dari Solo, Yogya, Gresik bahkan Makassar. Acara diakhiri dengan diskusi membedah buku. Aku tidak akan menceritakan isi diskusi, karena aku memang hanya mengikuti sebentar, tidak tuntas. Lagian ndak terlalu ngerti juga…

 DSC_0793mbak Dhenok Kristianti membawakan puisinya

Jadi aku mau bercerita tentang Atisejati saja. Yang setelah latihan yang awur-awuran itu, hasilnya sangat memuaskan. Aku yang setiap latihan nyebul suling selalu error, pada saat tampil hampir tanpa error. Iya, cuma hampir. Tapi kan cuma hampir. *halah*. Nada tinggi di akhir Sajak Batu, yang biasanya putus kecekik, pada saat pentas meluncur mulus dan manis. Keren lah pokoknya.

IMG-20121215-01786Sebelum pentas: Latree, Leak, Luluk, Adit. Harusnya ada Pendi, tapi dianya sedang sibuk instalasi untuk video dan lampu…

DSC_0779

Atisejati di panggung. Mas Leak selalu punya cara untuk menyampaikan pengantar setiap puisi dengan ringan tapi kena.

DSC_0809diskusi bersama pembicara Andrik Purwasito dipandu moderator Leak Sosiawan

Buat yang penasaran, seperti apa kerennya penampilan Atisejati, bisa cek rekaman sederhananya. Iya di youtube. Di mana lagi 😀

Ada 4 puisi yang dibawakan malam itu. Ini linknya:

Sajak Bertanya 

Sajak Kegelisahan

Sajak Batu

Sebelum Epitaph Berakhir

Selamat menikmati, sampai jumpa dengan Atisejati di pentas selanjutnya!

Awur-awuran ala Atisejati*)

Ketika mulai bergabung dengan Atisejati sekitar bulan November 2010 dulu, aku tinggal tahu jadi 10 puisi-musik yang ada di album ‘Hati Kata-kata’. Tugasku hanya mendengar, menghapalkan, lalu ikut membawakannya di pentas-pentas Atisejati setelah itu.

Awal 2012, Atisejati berproses mengerjakan musikalisasi puisi-puisi baru. Setiap anggota mendapat jatah puisi yang harus dimusikkan. Aku dengan keterbatasan kemampuan musikku, selalu mengerjakan musikalisasi puisi dengan sederhana. Mengingat lagu-lagu di Album Hati Kata-kata yang menurutku sangat ‘kaya’, aku sempat minder. Toh tetap aku lakukan bagianku semampunya. Pada bagian-bagian tertentu aku stuck dan menyerah.

Ketika kuperdengarkan hasil komposisiku kepada teman-teman anggota yang lain, ah ya, benar saja. Ada hal yang membuat mereka tertawa, karena komposisiku yang terlalu sederhana, yang bahkan katanya lebih cocok dibawakan oleh girl band. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku malah merasa tersanjung, karena bahkan komposisi yang sederhana itu tetap dipakai. Tentu saja, harus dipoles lagi.

“Nanti kita awur bareng-bareng, kita juga biasanya begitu”

Begitu kata Adith, arranger andalan Atisejati. Ngawur, katanya. Asem tenan. Bagaimana sebuah pekerjaan ngawur bisa menghasilkan karya yang begitu keren?

IMG-20121209-01705

Maka di materi-materi baru, aku ikut terlibat, ‘ngawur’ bersama mengerjakan beberapa musikalisasi puisi. Sama sekali tidak ngawur. Aku lebih suka menyebutnya ‘merdeka’. Tidak terkekang satu warna, siapa saja bisa usul. Dan yang mungkin bisa dibilang ngawur (saking merdekanya) adalah, main tabrak dalam aransemen musik dan vokalnya. Tapi toh hasilnya asik banget. Continue reading

Janaka 1000 – Pentas Peringatan 75 Tahun Ngesti Pandhawa

*dari pentas Janaka 1000, Wayang Orang Ngesti Pandhawa; Sabtu, 17 Nopember 2012*

Setiap Sabtu malam, di Gedung Wayang Orang Ngesti Pandhawa dipentaskan satu lakon. Tapi berbeda dengan Sabtu malam lainnya, kali ini lakon wayang orang dipentaskan oleh para seniman dari 4 kota (Semarang, Yogyakarta, Solo, Jakarta). Tarifnya juga beda, yang biasanya 20 ribu rupiah, kali ini ada tiga pilihan: 25 ribu untuk balkon, 50 untuk festival dan 75 ribu untuk VIP. Dan gedung pertunjukan penuh penonton. Edisi khusus ini adalah dalam rangka peringatan ulang tahun Kelompok Ngesti Pandhawa yang ke-75. Tujuh puluh lima! Wow.

Aku sendiri tidak terlalu hapal nama-nama seniman wayang orang. Tapi jelas aku kenal (siapa juga yang tidak?) Didik Nini Thowok, seniman tari yang nyentrik asal Yogya. Pria lembut ini membuka acara dengan tariannya yang entah judulnya apa. Kreasinya khas Didik banget. Metamorfosa dari satu tarian ke tarian lain. Kostumnya berlapis dan dibuka satu persatu. Jangan bayangkan strip tease. Yang ini sama sekali tidak saru.  Entah tubuh Didik terbuat dari apa, di mana tulangtulangnya. Gerakannya gemulai sekaligus jenaka. Dimulai dengan tarian mandarin, Didik tampil cantik dengan gaun ungu dan payung. Kemudian berubah menjadi wanita berkebaya membawakan tarian jawa, tari modern, dan berakhir dengan kostum seksi penari dangdut. Dari semua itu, entah kenapa yang ini yang bisa tertangkap gambarnya…

***

Diawali dengan setting di sebuah alas gung liwang liwung, lengkap dengan dhemit yang gentayangan, Lesmana sedang galau karena jatuh cinta. Suatu kebetulan datang Betari Durga. Dia merasa iba pada Lesmana dan membantu Lesmana untuk mewujudkan keinginannya bersanding dengan Sembadra. Tentu ini bukan hal mudah, karena Sembadra adalah istri Janaka, ksatria Madukara. Betari Durga mengubah wujud Lesmana menjadi Janaka. Continue reading