Semarang: Hidden Heritage

Sebenarnya ini cerita telat seminggu. Tapi tak apalah dibagi…

Tanggal 6-8 September kemarin, di Kawasan Kota Lama Semarang digelar even kerja sama lintas komunitas budaya, yang didukung penuh oleh pemerintah kota. Acara bertajuk ‘Hidden Heritage’ merupakan sebuah gerakan kreatif urban untuk pengaktifan Ruang Terbuka Publik yang inspiratif bagi Kawasan Kota Lama yang sekian lama tertidur. Berbagai acara digelar selama festival. Ada musik : Jazz, Koesplusan, Bohemian, Gambang Semarang, Reggae; atraksi barongsay, Festival Kethoprak, Kampung Antikan, Pameran Kuno-kini on the Street, Garuda Park Art Jamming, Chalk Art, seni lukis henna dan masih banyak acara lain yang menarik.

Penginnya sih semua acara didatangi. Tapi aku sudah bisa bersyukur menjadi saksi sebagian yang bisa kubagi ini:

20130918-100345.jpg

Perkumpulan Pecinta Vespa

20130918-100402.jpg

Warak Ngendog istimewa

20130918-100421.jpg

body painting dengan henna

20130918-100432.jpg

pameran foto Koeno Kini, yang menyandingkan foto-foto bangunan di kawasan kota lama tempo dulu dan masa kini…

20130918-100451.jpg

seni kreatif dengan kardus. unyuuuu…

20130918-100512.jpg

kelompok Keroncong Karimoeni di perform di Taman Garuda

20130918-100522.jpg

anak-anak ikut melukis berjamaah di kanvas agak raksasa

20130918-100541.jpg

chalk painting. super keren!

***

Sepertinya kawasan Kota Lama Semarang akan semakin hidup. Berbagai komunitas seni dan budaya di Semarang semakin rajin menggelar kegiatan di sana, baik yang rutin maupun yang tidak. Keren ya 😉

Taman Garuda Art Jamming

ORArT ORET, komunitas pecinta seni budaya Semarang, awalnya hanyalah sekumpulan orang yang suka menggambar. Dimulai dari kegiatan orat oret bersama, kini mereka telah memiliki agenda acara seni rutin maupun tidak rutin. Ruh komunitas ini pun semakin berkembang, untuk saling mendukung antar komunitas seni/budaya di Semarang.

Salah satu agenda rutin adalah Taman Garuda Art Jamming. Acara ini, seperti judulnya, diselenggarakan sebulan sekali di Taman Garuda di kawasan Kota Lama Semarang. Dalam acara ini ditampilkan pertunjukan seni dalam bentuk apa pun. Art performance, band, baca puisi, juga beramai-ramai menggambar sketsa suatu obyek. Siapa saja boleh ikut berpartisipasi. Kalau pun belum sempat mendaftar sebelum acara, boleh langsung datang saat acara, mengambil tempat di salah satu bagian taman, lalu perform.

20130823-194758.jpg

*Mas Dadang Pribadi dkk menggambar sketsa dua orang pecinta sepeda doltrap*

Minggu 18 Agustus 2013 lalu, aku berkesempatan datang ke acara tersebut. Acara utama hari itu adalah lomba 17an yang diikuti bule-bule entah dari mana. Lombanya standard saja. Makan kerupuk, balap karung, balap bakiak, dan lainnya. Mau pesertanya bule atau pribumi, lomba semacam itu selalu seru dan lucu. Ya kan?

Awalnya hanya ingin melihat, tapi akhirnya ikut ngejam juga bareng Deska. Itu juga hanya beberapa lagu. Anggap saja sedang membaca suasana dan mencoba beradaptasi.

20130823-194949.jpg

Rencananya bulan depan aku dan teman-teman ingin datang lagi. Ikut ngejam lebih lama lagi, lebih meriah lagi. Mengajak teman lebih banyak lagi.

Semoga agara rutin seperti ini bukan sekedar rutinitas performance, tapi benar-benar bisa membawa seni budaya di Semarang lebih berkembang.

Masjid Setitik Cahaya

Empat tahun terakhir ini, setiap lebaran aku berkunjung ke rumah pembantuku, biasanya sekalian mengantar dia pulang, karena jalurnya bisa dilewati sekalian kami pulang mudik. Sebenarnya kampung pembantu kami ini secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Tapi secara geografis letaknya lebih dekat ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Untuk sampai ke kampungnya, kami melewati Kecamatan Gantiwarno, yang diguncang gempa dahsyat tahun 2006 lalu.

Awal kami mulai berkunjung ke sana dulu, masih ada sisa-sisa gempa. Beberapa rumah yang masih belum direhab dan runtuhan di sana sini yang belum sempat dirapikan. Ada dua bangunan baru yang menarik yang kami lalui. Yang pertama adalah sebuah sekolah dasar yang dibangun dengan biaya sumbangan dari pembaca koran Suara Merdeka. Nama sekolahnya pun ‘SD PEMBACA SUARA MERDEKA’.  Sekolah itu dibangun sebagai bantuan kepada masyarakat korban gempa.

Bangunan menarik lainnya adalah sebuah masjid yang dibangun di Desa Pacing. Masjidnya kecil dan bentuknya unik. Beberapa kali lewat, baru kemarin aku dan suami menyempatkan mampir dan sholat dhuhur di sana. Pengin sih tanya-tanya tentang masjid itu, tapi tidak ada siapa pun yang bisa ditanya. Embak juga ndak pernah sholat di situ, karena ada masjid yang lebih dekat dengan rumahnya.

image_1Tampak Luar Masjid ‘Setitik Cahaya’

imageMihrab Masjid

photoPuisi Rusli Lutan yang ditulis di atas prasasti, dipasang di halaman masjid. 

Nama masjid itu tidak seperti nama masjid pada umumnya yang memakai bahasa Arab. ‘Setitik Cahaya’, sama dengan judul sebuah puisi di prasasti yang dipasang di luar masjid. Puisi yang ditulis oleh Rusli Lutan untuk korban bencana gempa Mei 2006. Aku sendiri belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Setelah googling, baru kutahu rupanya beliau adalah alumni Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, dan sudah menulis buku “Pembaruan Pendidikan Jasmani Di Indonesia”.

Berikut puisi yang terpahat itu:

SETITIK CAHAYA

Sunyi kelam malam
Tangis memelas
Bayi minta cahaya
oh… oh kembalilah

Luluh luka
Mengambang rasa
Menangkap hampa
Bayang-bayang dalam pecahan kaca
Kerap lenyap gelap tiada
Tapi terpulang pada-Mu jua

Cicipi getir geram air mata
Menyirami bumi
Membasuh cakrawala
Riuh bocah
Purnama jenaka
Pelangi menari di kaki Merapi
Oi, besok embun bening kembali

Puisi yang penuh harapan setelah bencana yang begitu mengenaskan. Sekarang, lebih 6 tahun setelah bencana, memang hampir tidak terlihat lagi sisa kepedihan masa itu. Setitik cahaya telah berpendar terang.

Warak Ngendhog bertanya: Kamu Puasa Kapan?

Kamu puasa kapan?

Tanggal 1 Ramadhan…

Ya iya lah. Puasa tanggal 1 Ramadhan. Tapi tanggal 1 Ramadhanmu itu kapan? Dulu, dulu banget, tak perlu muncul pertanyaan seperti ini. Muslim seantero Indonesia Raya akan memulai puasa Ramadhan pada tanggal (Masehi) yang sama. Lebaran pun bareng. Coba kuinta-ingat, sejak kapan kita mulai dibuat bingung mau puasa dan lebaran kapan. Sepuluh tahun yang lalu? Atau lebih? Yang satu menentukan tanggal dengan hitungan matematis. Yang lain lebih mantap kalau meneropong bulan. Dua-duanya mestinya bisa diterima ya. Tinggal mantepnya yang mana. Nah itu lah yang bikin jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 Syawal jadi berbeda-beda.

Ini jadi sebuah keribetan tersendiri loh. Misalnya di keluarga besar kami dari Embah dari garis ibuku, yang sepakat untuk berkumpul setiap lebaran hari ke-3. Nah kalau lebarannya beda-beda, hari ke-3nya beda-beda, bagaimana mau bisa ngumpul? Akhirnya ditambahkan ‘hari ke-3 lebaran sesuai pengumuman pemerintah.’ Bukan sesuai pengumuman Muhammadiyah, NU, atau kelompok organisasi Islam lain apa pun.

***

Di Semarang, ada satu tradisi asik menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selain pasar DUGDERAN yang digelar beberapa hari (eh, tepatnya sebulan atau dua minggu ya?) sebelum Ramadhan, gongnya adalah pawai Warak Ngendhog yang digelar di hari terakhir Bulan Syakban. Kalau sudah gelar pawai ini, tandanya nanti malamnya sudah mulai sholat Tarawih, dan besoknya puasa.

(eh itu linknya ke Wiki bahasa inggris, keterangan lebih lengkap boleh lihat lagi di http://www.visitsemarang.com/artikel/warak-ngendog)

Salah satu berkah bekerja di kantor yang sekarang ini adalah, bisa nonton pawak Warak Ngendhog langsung di depan kantor. Seperti hari ini. Kali ini pawai diberi judl Kirab Budaya. Aku ketinggalan openingnya, DrumBand dari Akpol, padahal itu yang dari pagi kutunggu-tunggu. Keren banget mereka itu… Continue reading

Mamie dan Raden Saleh

Sebenarnya aku ingin terlebih dahulu menulis tentang peluncuran Pocong Nonton Tivi. Tapi ada kendala teknis untuk upload gambar. Jadi biar aku bercerita tentang sedikit acara senang-senang di sela keprihatinan ketika, menjenguk kakak iparku yang sakit (semoga dia lekas sembuh).

Hal menyenangkan pertama adalah aku bertemu Mamie Lily, blogger Anging Mamiri yang tinggal di Jakarta. Beruntung banget karena kantor Mamie dekat dengan rumah sakit tempat kakakku dirawat. Dan terima kasih sekali, Mamie mau repot-repot datang ke rumah sakit, sehingga aku tidak perlu nunak-nunuk mencari lokasi untuk ketemuan. Terima kasih lagi, udah ditraktir makan siang… Si Mamie ini ternyata orangnya lembuuuut banget. Padahal tadinya bayanganku, dia itu agak centil gitu. Haha, maaf ya Mie 😀

Hal yang menyenangkan selanjutnya adalah mengunjungi pameran lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional Indonesia. Gratis, bayangkan! Pameran ini berlangsung tanggal 3-17 Juni 2012. Ketika membaca soal akan diadakannya pameran ini di timeline Gunawan Muhammad, aku cuma bisa berdoa semoga sukses, tanpa membayangkan bakal bisa datang. Jadi merasa ada blessing in disguise di balik kunjunganku menengok kakakku.

Waktu aku datang pengunjungnya tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari dan jam kerja. Kubayangkan di jam-jam sepulang kerja pengunjungnya akan banyak hingga berdesak-desak. Apalagi pada akhir pekan. Biasanya, di sebuah pameran lukisan dilarang mengambil gambar. Terlebih lagi pelukis besar seperti Raden Saleh. Tadinya aku sudah bersiap mau nyolong-nyolong ambil gambar pakai handphone. Ternyata itu tidak perlu, karena bahkan yang pakai kamera segede termos pun dibiarkan saja oleh satpamnya!

image

Ini salah satu lukisan favoritku, Berburu Banteng. Lukisan cat minyak di atas kanvas. Aku tidak sempat memperhatikan ukurannya. Besar banget pokoknya. Minimal lebarnya 150cm. Lihat deh, terasa banget ‘berburu’nya. Riuh, tegang, keras. Kata Bapak, Raden Saleh itu aliran lukisannya naturalisme. Tapi juga dibilang romantisme. Entah itu sebutan general untuk semua lukisannya, atau sebagian naturalis dan sebagian romantis. Yang jelas agak sulit buatku menganggap lukisan perburuan banteng itu romantis. Bahkan yang lukisan potret, terasa kaku. Beberapa potret yang dipasang adalah potret bangsawan eropa. Semuanya begitu, kaku, ndak manis. Aku moto satu potret bangsawan wanita. Setelah sampai di rumah, baru kusadari bukan saja kaku tanpa senyum, tapi wajah si nyonya ini terkesam kejam. Jadi tidak kupasang. Continue reading