circle….

seperti helai sakura yang gugur satu persatu di wajahku

setiap kecup lembut dan bisik lirih

meletakkan aku kembali

pada masa ketika senyum dan sedikit kata memberi lebih banyak makna

waktu mengajariku merawat rindu

menjaga cinta….

24 jam….

Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada apa pun yang berkesan. 
Aku punya banyak waktu semalam sebelum akhirnya tidur sedikit lewat pukul sebelas. Novel yang kubawa selesai kubaca. Iya, yang kubilang kubaca dua lembar demi dua lembar, seperti Intisari di tasmu. Novel itu bercerita tentang banyak rahasia. Dan praduga yang tumbuh karena keengganan bicara. Oleh malu. Oleh rasa tak perlu. Oleh ego.

Betapa asumsi bisa membunuhmu perlahan. Atau tiba-tiba. ‘Aku tidak pernah mengira bahwa….’ Seharusnya jangan pernah mengira! Tapi bagaimana, jika tanya tak berjawab, dan juga tak ada pertanda?

Ini waktu yang persis dengan semalam. Ketika kuputuskan meletakkan buku. Berhenti menunggu. Atau setidaknya melanjutkan lagi besok pagi. Keputusan yang persis dengan semalam. Berhenti menunggu, atau melanjutkan menunggu lagi esok hari.

Aku jeri. Apa yang kutunggu?

Ternyata golf itu menyenangkan!

Setelah sekian tahun bertahan terhadap ajakan suami untuk bermain golf, akhirnya aku luluh juga. Hari ini, seharian aku berlatih, dan ternyata menyenangkan!

Pertama-tama ajar titis.


nyamar jadi bendera hole ⛳️

begini lebih gampang..

hampir!

Well. Ndak papa beda hobi sama suami. Ndak papa juga ndak bisa mengikuti. Kita cuma harus tahu cara bersenang-senang biar semua hepi. Ya kan?

It Only Hurts if You Love….

Kucing Inne mati karena tabrak lari di depan rumahnya. Inne menjerit sampai tetangga-tetangga keluar melihat ada apa. Setelah mereka tahu yang terjadi, inilah yang keluar dari mulut mereka: ah, cuma kucing…

Kucingku mati karena wabah distemper. Bahkan meskipun sudah kubawa ke dokter hewan dan dirawat di klinik. Aku menangis. Seorang kawanku tertawa dan menganggapku konyol dan berlebihan. Mungkin cuma sopan santun yang mencegah dia mengatakan aku bodoh atau gila, karena telah menghabiskan uang untuk mengobati kucing yang akhirnya toh mati juga.

***

Kau bisa berkata, “Ah, gitu aja…,”

Tapi tak akan sakit kalau tak cinta.

Karena Kau Lubang, Bukan Keledai

  
I.

Ketika setahun yang lalu aku divonis harus operasi karena usus yang mluntir dan lengket, itu mengerikan sekaligus melegakan. Mengerikan saat melihat hasil x-Ray keadaan perutku (dan karenanya masuk akal bagaimana sakit yang ditimbulkan) dan hasil foto ususku yang diambil dengan HP dokterku saat operasi berlangsung. Melegakan karena itu adalah jawaban dari penderitaan bertahun-tahun di mana aku didagnosa maag (yang ternyata bukan). Oh, dan menakjubkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi.

II.

Beberapa orang dengan serius menasehatiku untuk berhenti beryoga, karena menganggap itulah penyebab lengket ususku. Yang lain mengingatkan untuk tidak terlambat makan karena menganggap itulah penyebabnya: perut kosong, tidak ada makanan yang lewat, usus merapat. 

Sebagai pasien yang didiagnosa ‘maag kronis’ selama bertahun-tahun tentu saja aku sudah mewaspadai segala penyebab kambuhnya. Tidak telat makan, tidak pedas, tidak asam, tidak soda. Makanya aku selalu heran, separah apa kerusakan lambungku sampai sebegitu parah tiap bulan kambuh padahal sudah dijaga sebisa mungkin. Dan sungguh aku tidak nemu penjelasan ilmiah tentang beryoga dapat menyebabkan usus mluntir…

III.

Kata dokter, lengket karena adhesi bisa terjadi lagi tapi bisa dicegah. Banyak olah raga dan mengkonsumsi vitamin E. Olahraga yang dilakukan pun harus yang variatif, yang memungkinkan posisi perut dinamis tidak statis. Lari, misalnya, meskipun keras dan melelahkan tapi posisi tubuh/perut tegak terus. Dokter menyarankan berenang. Atau latihan di gym dengan berbagai alat. Atau pilates. Atau yoga. Supaya ada variasi posisi tubuh; tegak, miring, berbaring. Jadi bagaimana yoga yang disarankan oleh dokter untuk mencegah terjadinya adhesi usus, justru menjadi penyebab adhesi?

IV. 

Muntah dan kembung bukan melulu disebabkan telat makan lalu maag kambuh. Tapi juga oleh sakit ‘sesederhana’ masuk angin dan kecapekan.

V.

Tidak ada orang yang ingin sakit. Kamu tidak tahu apa yang dilalui orang lain — dan trauma yang mungkin dialami; tidak cukup untuk mengatakan seseorang telah lalai menjaga kesehatan dan membiarkan diri jatuh ke lubang yang sama. 

VI.

Orang mungkin perlu mengalami ‘bagaima rasanya’ untuk berhenti asal bicara.

Dua Belas Lewat Dua

IMG_8101.JPG

Lewat tengah malam. Di alam mimpi langit masih terang. Jalan setapak kehilangan arah.

Angin meniupkan resah pada penantian yang terabaikan. Kesepian adalah perayaan ketidakpastian.

Masih ada rerumputan meninggi menanti disibak. Jika, dan hanya jika kau benar menanti….