Perlawanan.

Tidak bisa tidak. Aku harus lari.
‘Pintu Gerbang’ akan dibuka besok pagi. Orang-orang akan berduyun-duyun keluar, memanfaatkan kesempatan sekali dalam seminggu untuk terhubung dengan dunia luar. Aku bisa saja mencoba menyelinap di antara mereka. Mungkin ini justru kesempatan terbaik.
Tapi tidak. Para penjaga dengan anjing-anjing besarnya pasti siap berjaga. Aku tidak bisa mengambil resiko itu.

Lewat tengah malam. Sekarang, atau terlambat. Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang dengan sesenyap mungkin.
“Hey! Mau ke mana?” sebuah suara mengejutkanku.
Itu perempuan tua yang tinggal di sebelah rumah. Kenapa dia masih berkeliaran di luar pada jam segini?
“Tidak ke mana-mana, Bu. Saya tidak bisa tidur. Gerah di dalam. Ingin menghirup udara segar sebentar,” jawabku, “Ibu sendiri mau ke mana?”
“Aku baru selesai mengecek barang dagangan yang mau dibarter di kota besok pa… eh, nanti, haha. Sebentar lagi dermaga akan ramai. Tapi aku tidak ikut pergi. Sudah tua. Biar anak-anak saja.”
Huh, syukurlah. Semoga dia tidak bohong. Semoga dia bukan mata-mata. Dia mengucapkan ‘selamat tinggal’ lalu pergi.

Perahu-perahu kecil sudah siap di tepi dermaga. Sialan. Seorang penjaga berkeliling menuntun seekor anjing. Rupanya mereka waspada lebih pagi. Berapa orang kira-kira yang mereka tugaskan sweeping sebelum dermaga buka? Apakah mereka sempat ketemu si ibu tua tadi?
Penjaga itu berjalan menjauh ke arah barat. Bagus. Perahuku ada di sudut timur sini. Kupandang langit yang gelap tanpa bulan. Juga tanpa awan. Kalau aku nekat berangkat sekarang, akankah dia melihat gerak-gerikku? Akankah dia mendengar kecipak air oleh dayungku? Lalu mengejarku?
Masa bodoh. Aku harus pergi sekarang. Perlahan kudorong perahu kecilku. Tanpa suara. Aku naik, lalu kudayung menjauh dari sudut teluk. Tidak ada suara yang menunjukkan ada orang yang mendengar atau melihatku. Kudengar percapakan lirih dan gonggong kecil anjing. Orang pertama (yang sebenarnya kedua setelah aku) yang akan pergi pagi ini sudah datang.

Dermaga seberang sudah lebih sibuk. Inilah bedanya kota dan desa. Apalagi ‘desa’ yang sengaja menutup diri, seperti tempat tinggal kami. Kudekati sebuah Vimana yang dikendarai seorang wanita. Kursi utama di bagian tengah masih kosong. Dua bangku kecil tambahan di kanan kiri juga kosong.
“Selamat pagi, Nona. Bolehkah saya menumpang?” tanyaku.
“Silakan,” jawabnya, “ada seorang pria yang akan menumpang juga.”
Rupanya sudah ada penumpang, seorang laki-laki sudah siap naik di bangku tambahan kiri. Aku melihat ke bangku tambahan kanan yang hanya kerangka besi, tidak ada bantalan. Pengemudi itu sepertinya mengerti yang kupikirkan. “Silakan duduk di tengah, tidak apa-apa. Penumpang utama saya menunggu di jalan. Kalau Anda harus turun setelah itu, terpaksa harus pindah ke bangku kanan. Tapi kalau Anda sudah turun sebelum dia naik, silakan saja duduk di tengah.”
Aku naik sambil mengucapkan terima kasih. Memang begitu. Vimana sebenarnya melayani penumpang yang sudah memesan. Tapi karena terbatasnya jumlah Vimana, sementara banyak penumpang yang membutuhkan, bangku-bangku kecil tambahan yang jelas tidak nyaman, menjadi pilihan penumpang-penumpang dadakan. Untunglah aku turun sebelum kendaraan itu tiba di tempat penumpang utama menunggu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, lalu melompat turun.
Berikutnya aku harus mencari rumah kecil yang akan melindungiku. Rumah itu milik perempuan muda yang tinggal hanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Sebenarnya aku tidak mau membahayakan hidup mereka, tapi mereka berkeras untuk menerimaku. Dan aku tidak punya pilihan lain.
Dia menyambutku dengan hangat. Dua anaknya juga langsung menyalamiku. Yang kecil bahkan minta gendong, yang langsung kululuskan.
Mungkin ini ide bagus. Para penjaga itu tidak diperkenankan menyakiti anak-anak dan perempuan. Mereka aman. Dan aku aman. Ugh. Aku merasa jahat, menggunakan mereka sebagai perisai hidup. Dalam hati aku ngilu. Aku juga perempuan, dan peraturan itu tidak berlaku untukku.

Hari baru menjelang sore, kami baru selesai makan siang, ketika sebuah truk berhenti di depan rumah. Aku memandang perempuan muda tuan rumahku. Dia hanya ganti memandangku, membiarkan aku mengambil keputusan.
Anak-anak tidak perlu melihat kekerasan. Aku tidak ingin membuat para penjaga itu turun mendobrak dan berteriak-teriak mencariku. Kuletakkan sendok dan garpu, meneguk sedikit air putih, lalu keluar ke halaman. Para penumpang truk sudah turun. Tidak sebanyak yang kubayangkan. Tapi ada satu yang kuduga pasti datang. Pemimpin mereka. Wajahnya dingin dan bengis. Tanpa kata-kata dia mengarahkan bayonet di ujung senapannya ke dadaku. Aku mengangkat tangan. Ujung bayonet itu pasti tajam dan bisa menusuk menembus dadaku. Tapi dia tidak berkilat. Justru dioles semacam gemuk tebal. Apa mereka pikir, butuh pelumas agar bayonet itu licin menembus dagingku?
Dua orang penjaga mendekatiku. Seorang memegang kedua tanganku erat di belakang punggungku. Aku tidak berusaha melawan. Aku ingin tahu dulu apa yang mereka mau. Penjaga yang satu lagi mengambil gemuk dari ujung bayonet dengan ujung jari telunjuknya, lalu mengoleskan gemuk itu ke dahiku, “Jangan bergerak,” katanya. Dari tadi aku tidak bergerak, batinku.
Tidak lama kemudian wajahku telah pekat hitam oleh gemuk. Gemuk yang tampaknya hanya sedikit itu, menutup sempurna wajahku. Sekarang apa?
Si Pemimpin menarik senapannya, memandang angkuh kepadaku, “Setelah ini kamu akan kami lepas ke Hutan. Kamu punya waktu tiga hari untuk mengumpulkan…”
Yang mereka sebut ‘Hutan’ adalah tempat gelap penuh rawa dan binatang buas. Tidak ada bekal. Aku harus mencari cara sendiri untuk bertahan hidup, dan keluar membawa apa yang mereka inginkan. Tentu saja ini omong kosong. Tak seorang pun yang dilepas di Hutan berhasil keluar hidup-hidup.
Aku tidak mendengar lagi lanjutannya. Alarm berbunyi. Ini sudah Senin pagi. Aku harus bangun dan menyiapkan potato wedges yang kujanjikan untuk sarapan anak-anak.

Advertisements

circle….

seperti helai sakura yang gugur satu persatu di wajahku

setiap kecup lembut dan bisik lirih

meletakkan aku kembali

pada masa ketika senyum dan sedikit kata memberi lebih banyak makna

waktu mengajariku merawat rindu

menjaga cinta….

24 jam….

Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada apa pun yang berkesan. 
Aku punya banyak waktu semalam sebelum akhirnya tidur sedikit lewat pukul sebelas. Novel yang kubawa selesai kubaca. Iya, yang kubilang kubaca dua lembar demi dua lembar, seperti Intisari di tasmu. Novel itu bercerita tentang banyak rahasia. Dan praduga yang tumbuh karena keengganan bicara. Oleh malu. Oleh rasa tak perlu. Oleh ego.

Betapa asumsi bisa membunuhmu perlahan. Atau tiba-tiba. ‘Aku tidak pernah mengira bahwa….’ Seharusnya jangan pernah mengira! Tapi bagaimana, jika tanya tak berjawab, dan juga tak ada pertanda?

Ini waktu yang persis dengan semalam. Ketika kuputuskan meletakkan buku. Berhenti menunggu. Atau setidaknya melanjutkan lagi besok pagi. Keputusan yang persis dengan semalam. Berhenti menunggu, atau melanjutkan menunggu lagi esok hari.

Aku jeri. Apa yang kutunggu?

Ternyata golf itu menyenangkan!

Setelah sekian tahun bertahan terhadap ajakan suami untuk bermain golf, akhirnya aku luluh juga. Hari ini, seharian aku berlatih, dan ternyata menyenangkan!

Pertama-tama ajar titis.


nyamar jadi bendera hole ⛳️

begini lebih gampang..

hampir!

Well. Ndak papa beda hobi sama suami. Ndak papa juga ndak bisa mengikuti. Kita cuma harus tahu cara bersenang-senang biar semua hepi. Ya kan?

It Only Hurts if You Love….

Kucing Inne mati karena tabrak lari di depan rumahnya. Inne menjerit sampai tetangga-tetangga keluar melihat ada apa. Setelah mereka tahu yang terjadi, inilah yang keluar dari mulut mereka: ah, cuma kucing…

Kucingku mati karena wabah distemper. Bahkan meskipun sudah kubawa ke dokter hewan dan dirawat di klinik. Aku menangis. Seorang kawanku tertawa dan menganggapku konyol dan berlebihan. Mungkin cuma sopan santun yang mencegah dia mengatakan aku bodoh atau gila, karena telah menghabiskan uang untuk mengobati kucing yang akhirnya toh mati juga.

***

Kau bisa berkata, “Ah, gitu aja…,”

Tapi tak akan sakit kalau tak cinta.

Karena Kau Lubang, Bukan Keledai

  
I.

Ketika setahun yang lalu aku divonis harus operasi karena usus yang mluntir dan lengket, itu mengerikan sekaligus melegakan. Mengerikan saat melihat hasil x-Ray keadaan perutku (dan karenanya masuk akal bagaimana sakit yang ditimbulkan) dan hasil foto ususku yang diambil dengan HP dokterku saat operasi berlangsung. Melegakan karena itu adalah jawaban dari penderitaan bertahun-tahun di mana aku didagnosa maag (yang ternyata bukan). Oh, dan menakjubkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi.

II.

Beberapa orang dengan serius menasehatiku untuk berhenti beryoga, karena menganggap itulah penyebab lengket ususku. Yang lain mengingatkan untuk tidak terlambat makan karena menganggap itulah penyebabnya: perut kosong, tidak ada makanan yang lewat, usus merapat. 

Sebagai pasien yang didiagnosa ‘maag kronis’ selama bertahun-tahun tentu saja aku sudah mewaspadai segala penyebab kambuhnya. Tidak telat makan, tidak pedas, tidak asam, tidak soda. Makanya aku selalu heran, separah apa kerusakan lambungku sampai sebegitu parah tiap bulan kambuh padahal sudah dijaga sebisa mungkin. Dan sungguh aku tidak nemu penjelasan ilmiah tentang beryoga dapat menyebabkan usus mluntir…

III.

Kata dokter, lengket karena adhesi bisa terjadi lagi tapi bisa dicegah. Banyak olah raga dan mengkonsumsi vitamin E. Olahraga yang dilakukan pun harus yang variatif, yang memungkinkan posisi perut dinamis tidak statis. Lari, misalnya, meskipun keras dan melelahkan tapi posisi tubuh/perut tegak terus. Dokter menyarankan berenang. Atau latihan di gym dengan berbagai alat. Atau pilates. Atau yoga. Supaya ada variasi posisi tubuh; tegak, miring, berbaring. Jadi bagaimana yoga yang disarankan oleh dokter untuk mencegah terjadinya adhesi usus, justru menjadi penyebab adhesi?

IV. 

Muntah dan kembung bukan melulu disebabkan telat makan lalu maag kambuh. Tapi juga oleh sakit ‘sesederhana’ masuk angin dan kecapekan.

V.

Tidak ada orang yang ingin sakit. Kamu tidak tahu apa yang dilalui orang lain — dan trauma yang mungkin dialami; tidak cukup untuk mengatakan seseorang telah lalai menjaga kesehatan dan membiarkan diri jatuh ke lubang yang sama. 

VI.

Orang mungkin perlu mengalami ‘bagaima rasanya’ untuk berhenti asal bicara.