Aku dan Ketakutan (akan) Dokter Gigi

Seingatku, awalnya aku tidak punya masalah pergi ke dokter gigi. Hingga pada suatu saat, aku TK atau mungkin kelas 1 SD, diajak ibuku ke rumah sakit untuk mencabut gigi gerahamku. Antriannya penuh, Bapak Petugas dengan sabar menanyai setiap pengunjung. Sudah pernah periksa? Kira-kira kapan? Lalu dengan sabar membuka kartu periksa satu persatu di setiap box tahun dan bulan. Belum ada kartu periksa, dan pengarsipan masih sangat manual.

Setelah pemandangan yang membosankan itu, namaku dipanggil. Masuk ke ruang periksa, aku diminta duduk di kursi kayu seperti bangku sekolah itu. Seorang petugas mendekat, menempelkan kapas dingin ke gusiku, lalu mencabut gigiku.

Langit serasa runtuh. Aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa, merambat dari gusi ke kepala dan seluruh tubuhku. Entah biusnya kurang atau bagaimana…

.

Pada masa-masa selanjutnya, aku sebisa mungkin menghindari dokter gigi. Cabut gigi sendiri, digoyang-goyang diongkek dipuntir. Hasilnya deretan gigi yang pating besasik jauh dari rapi. Pada titik Bapak mengira aku telah selesai berganti gigi, Bapak mengirim aku ke dokter gigi untuk merapikan gigi. Memakai kawat. Tetap bukan kunjungan yang kunikmati. Yang dirapikan gigi atas saja, padahal yang bawah juga zigzag. Tapi karena dana yang terbatas, mungkin pertimbangannya gigi atas yang lebih tampak, jadi itu saja yang dirapikan. Setahun pakai kawat, lalu dilepas. Badala, ternyata masih ada satu gigi seri yang belum ganti. Di antara gigi yang sudah dirapikan Bu drg. Joyo, satu gigi melesak ke dalam. Bapak sudah tidak mau keluar biaya merapikan gigi lagi.

.

Kunjungan dokter gigi berikutnya terjadi jauh bertahun berikutnya ketika gigi geraham bawah kanan mulai bolong. Itu setelah melahirkan anak kembarku, meski tidak ingat kapan tepatnya. Aku cuma ingat dokter gigi yang kukunjungi adalah dekat rumah kontrakan dulu. Bolongnya lumayan parah. “Kenapa terlambat sekali periksanya,” tanya Bu Dokter. Karena saya takut ke dokter gigi, tentu saja, jawabku. Meski lubangnya sudah cukup parah, Bu Dokter masih menyetujui opsi merawat ketimbang mencabut.

Di perjalanan, tambalannya lepas, gigi makin habis, sampai tinggal akar. Aku masih bertahan tidak berkunjung ke dokter gigi, sampai kemudian gusiku mulai infeksi. Sakitnya bukan main.

Terpaksa, lagi, aku ke dokter gigi. Kuingat itu sekitar beberapa bulan setelah melahirkan Aik. Dokter yang lain, yang sepi. Karena drg. Umi yang menambal gigiku dulu antriannya bisa sampai 30 pasien sehari. Bisa sampai pukul 12 malam. Dokter Susi memarahi aku, “Gigi busuk kaya gini kok dipelihara.” Ciut benar nyaliku. Aku diberi obat, dijadwalkan cabut. Jangan tanya ketakutan yang kurasakan. Ini cabut (akar) geraham dewasa. Teringat aku akan langit runtuh waktu kecil dulu.

Tindakan membersihkan tunggak itu sungguh depressing. Bu Dokter bukan hanya memakai masker dan sarung tangan karet, tapi juga goggle. Di dadaku dipasang celemek plastik. Semua itu untuk menapis darah yang mungkin menyiprat, katanya. Betapa seramnya!

Sepanjang tindakan yang berlangsung lebih dari satu jam, Bu Dokter beberapa kali mengeluhkan sulitnya mengambil akar gigiku yang sudah fraktur. Gusiku harus dibedah, pecahan akarnya diambil satu-persatu. Lagi-lagi menegurku yang terlambat periksa, menanamkan rasa bersalah tiada habisnya. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya semua itu selesai.

.

Setelah itu aku tetap (bahkan makin) rajin menyikat gigi. Bukan hanya setiap kali mandi, tapi juga sebelum tidur. Ternyata masih saja ada gigi berlubang lagi di geraham belakang sisi yang lain. Aku lupa di mana menambal lubangnya. Yang jelas tambalan itu tidak bertahan lama karena kemudian gigiku pecah. Pecahannya lepas sendiri secuil demi secuil. Dan kejadian gigi tinggal akar pun berulang.

Traumaku pada cabut geraham belum hilang. Berkali-kali gusiku meradang bahkan sampai berdarah. Setiap kali aku hanya memperbanyak minum vitamin C dan memastikan gigiku bersih. Berhasil? Tidak. Sekali lagi aku harus menyerah pada dokter gigi.

Kali ini aku memilih periksa di RS. Elisabeth Semarang. Ada dua dokter yang praktik pagi, yang satu putri, masih muda, cantik dan ramah. Dia yang mencabut gigi susu Aik yang tumbuh sanggar (gigi dewasa tumbuh tapi gigi susu masih kukuh). Satu lagi putra, dari namanya kubayangkan lebih senior, drg. Darto. Aku memilih dia dengan pertimbangan, pengalamannya lebih banyak dan, tenaganya lebih besar untuk mencabut gigiku yang mungkin stubborn.

Bayangku tentang usia dokternya tidak meleset terlalu jauh, tapi tentang penampilannya jauh dari yang kubayangkan. Bukan dokter tua yang kaku dan galak. Tapi ramah dan sabar. Penuh senyum dan suaranya lembut.

Di kunjungan pertama, gusiku masih infeksi radang dan bengkak. Aku hanya diberi obat dan disuruh kembali jika sudah tidak sakit lagi. Setidaknya tiga hari setelah kunjungan itu. Aku benar-benar datang lagi di hari ketiga.

“Masih sakit?”

“Tidak.”

“Sudah kempes?”

“Sudah.”

“Jadi cabut?”

“Jadi, Dok. Saya takut, tapi saya tidak mau sakit-sakit lagi.”

Aku duduk di kursi periksa.

“Sudah pernah cabut sebelumnya?”

“Sudah, Dok. Hampir satu jam lamanya. Makanya saya takut mau cabut lagi.”

Pak Dokter tersenyum, “Yang ini kayanya gampang kok, ndak akan terlalu lama.” Dia hanya pakai masker dan sarung tangan karet. Tanpa goggle.

Suntik anestesinya tidak sakit sama sekali. Cuma cekit-cekit seperti digigit semut. Yang sakit adalah ingatanku tentang tindakan cabut gigi sebelumnya. Maka ketika dokter mulai mengeluarkan ‘linggis’ untuk menggali akar gigiku, aku memejamkan mata. Bernapas ujjay sebisanya.

Tidak sampai lima menit kemudian, “Sudah,” kata dokternya.

“Sudah?”

“Sudah, kumur pelan lalu gigit kapasnya ya…”

.

Sudah. Begitu saja. Tumpukan trauma bertahun-tahun di kepalaku, runtuh seketika.

Kenapa tidak semua dokter gigi seperti dia?

.

Ada janji tambahan pada diriku sendiri setelah ini. Tidak cukup rajin sikat gigi. Harus rajin periksa ke dokter gigi walau tidak ada keluhan. Tidak perlu tunggu  lubang kecil membesar sampai parah.

Ada keinginan menabung untuk merapikan gigi. Tapi kupikir-pikir, ketika tabungan terkumpul cukup mungkin aku sudah pensiun. Apa masih efektif pasang kawat gigi?

Advertisements

Aib

Sejak awal aku memang sudah datang dengan aib.

Aib. Di desa ini perempuan akan segera menikah setelah lulus SMA. Bahkan setelah lulus SMP, kalau tidak melanjutkan ke SMA. Aku menikahi laki-laki desa ini saat usiaku hampir 25, usia ketika perempuan-perempuan lain sudah punya dua tiga anak.

Aib. Di desa ini perempuan harus merantau dan bekerja. Para suami yang tinggal di rumah mengolah sawah. Aku memilih berhenti belerja setelah menikah, dan membiarkan suamiku bekerja mencari nafkah.

Aib. Di desa ini perempuan yang habis melahirkan meminum jamu-jamu, memakai param dan pilis di jidatnya. Lalu setiap hari kerjanya hanya menyusui si bayi. Semua cuci popok dan memandikan bayi adalah tugas neneknya. Aku menolak minum jamu dan mengoleskan param dan pilis. Aku melarang nenek bayiku mencucikan apa pun, juga terus-terusan menggendong bayiku. Aku minggat ketika peringatanku tidak dihiraukan.

Aib. Di sini bayi-bayi baru lahir langsung disuapi pisang atau biskuit mari dicampur air. Aku menentang keras siapa pun yang akan menyuapkan selain air susuku sampai habis masa ASI ekslusif. Katanya bayiku menangis karena lapar. Kubilang aku akan kasih makan kalau bayiku bisa bilang ‘aku lapar.’

Aib. Di sini bayi berumur satu tahun dipasangi perhiasan lengkap mulai cincin, gelang, dan kalung, juga anting untuk yang perempuan. Aku menolak memasang apa pun. Aku dianggap bikin malu karena keluarga kami jadi tampak miskin di mata orang sedesa.

Aib. Karena kemudian aku hamil anak kembar. Di sini punya bayi kembar adalah kutukan, pembawa sengsara, pembawa sial. Setiap orang berusaha menghibur dengan berkata, “Jangan malu, jangan sedih. Manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan.” Gila. Tuhan memberiku anugerah ganda tapi aku diperlakukan seolah sedang menerima musibah.

Aib. Karena kemudian aku melahirkan anak istimewa yang mereka bilang tidak normal. Aku melihat sendiri, di desa ini seorang anak berkebutuhan khusus yang mengidap epilepsi bunuh diri karena dikucilkan, dianggap gila dan semua orang takut tertular.

Ada masa aku mencoba menahan diri untuk tidak membuat lebih banyak aib. Mencoba beradaptasi dengan apa-apa yang masih bisa aku jalani. Tapi aku lelah. Aku tidak peduli lagi jika segala aku membawa lebih banyak aib bagi mereka, sedang sebenarnya aku melakukan yang terbaik untuk diriku dan anak-anakku.

Perlawanan.

Tidak bisa tidak. Aku harus lari.
‘Pintu Gerbang’ akan dibuka besok pagi. Orang-orang akan berduyun-duyun keluar, memanfaatkan kesempatan sekali dalam seminggu untuk terhubung dengan dunia luar. Aku bisa saja mencoba menyelinap di antara mereka. Mungkin ini justru kesempatan terbaik.
Tapi tidak. Para penjaga dengan anjing-anjing besarnya pasti siap berjaga. Aku tidak bisa mengambil resiko itu.

Lewat tengah malam. Sekarang, atau terlambat. Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang dengan sesenyap mungkin.
“Hey! Mau ke mana?” sebuah suara mengejutkanku.
Itu perempuan tua yang tinggal di sebelah rumah. Kenapa dia masih berkeliaran di luar pada jam segini?
“Tidak ke mana-mana, Bu. Saya tidak bisa tidur. Gerah di dalam. Ingin menghirup udara segar sebentar,” jawabku, “Ibu sendiri mau ke mana?”
“Aku baru selesai mengecek barang dagangan yang mau dibarter di kota besok pa… eh, nanti, haha. Sebentar lagi dermaga akan ramai. Tapi aku tidak ikut pergi. Sudah tua. Biar anak-anak saja.”
Huh, syukurlah. Semoga dia tidak bohong. Semoga dia bukan mata-mata. Dia mengucapkan ‘selamat tinggal’ lalu pergi.

Perahu-perahu kecil sudah siap di tepi dermaga. Sialan. Seorang penjaga berkeliling menuntun seekor anjing. Rupanya mereka waspada lebih pagi. Berapa orang kira-kira yang mereka tugaskan sweeping sebelum dermaga buka? Apakah mereka sempat ketemu si ibu tua tadi?
Penjaga itu berjalan menjauh ke arah barat. Bagus. Perahuku ada di sudut timur sini. Kupandang langit yang gelap tanpa bulan. Juga tanpa awan. Kalau aku nekat berangkat sekarang, akankah dia melihat gerak-gerikku? Akankah dia mendengar kecipak air oleh dayungku? Lalu mengejarku?
Masa bodoh. Aku harus pergi sekarang. Perlahan kudorong perahu kecilku. Tanpa suara. Aku naik, lalu kudayung menjauh dari sudut teluk. Tidak ada suara yang menunjukkan ada orang yang mendengar atau melihatku. Kudengar percapakan lirih dan gonggong kecil anjing. Orang pertama (yang sebenarnya kedua setelah aku) yang akan pergi pagi ini sudah datang.

Dermaga seberang sudah lebih sibuk. Inilah bedanya kota dan desa. Apalagi ‘desa’ yang sengaja menutup diri, seperti tempat tinggal kami. Kudekati sebuah Vimana yang dikendarai seorang wanita. Kursi utama di bagian tengah masih kosong. Dua bangku kecil tambahan di kanan kiri juga kosong.
“Selamat pagi, Nona. Bolehkah saya menumpang?” tanyaku.
“Silakan,” jawabnya, “ada seorang pria yang akan menumpang juga.”
Rupanya sudah ada penumpang, seorang laki-laki sudah siap naik di bangku tambahan kiri. Aku melihat ke bangku tambahan kanan yang hanya kerangka besi, tidak ada bantalan. Pengemudi itu sepertinya mengerti yang kupikirkan. “Silakan duduk di tengah, tidak apa-apa. Penumpang utama saya menunggu di jalan. Kalau Anda harus turun setelah itu, terpaksa harus pindah ke bangku kanan. Tapi kalau Anda sudah turun sebelum dia naik, silakan saja duduk di tengah.”
Aku naik sambil mengucapkan terima kasih. Memang begitu. Vimana sebenarnya melayani penumpang yang sudah memesan. Tapi karena terbatasnya jumlah Vimana, sementara banyak penumpang yang membutuhkan, bangku-bangku kecil tambahan yang jelas tidak nyaman, menjadi pilihan penumpang-penumpang dadakan. Untunglah aku turun sebelum kendaraan itu tiba di tempat penumpang utama menunggu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, lalu melompat turun.
Berikutnya aku harus mencari rumah kecil yang akan melindungiku. Rumah itu milik perempuan muda yang tinggal hanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Sebenarnya aku tidak mau membahayakan hidup mereka, tapi mereka berkeras untuk menerimaku. Dan aku tidak punya pilihan lain.
Dia menyambutku dengan hangat. Dua anaknya juga langsung menyalamiku. Yang kecil bahkan minta gendong, yang langsung kululuskan.
Mungkin ini ide bagus. Para penjaga itu tidak diperkenankan menyakiti anak-anak dan perempuan. Mereka aman. Dan aku aman. Ugh. Aku merasa jahat, menggunakan mereka sebagai perisai hidup. Dalam hati aku ngilu. Aku juga perempuan, dan peraturan itu tidak berlaku untukku.

Hari baru menjelang sore, kami baru selesai makan siang, ketika sebuah truk berhenti di depan rumah. Aku memandang perempuan muda tuan rumahku. Dia hanya ganti memandangku, membiarkan aku mengambil keputusan.
Anak-anak tidak perlu melihat kekerasan. Aku tidak ingin membuat para penjaga itu turun mendobrak dan berteriak-teriak mencariku. Kuletakkan sendok dan garpu, meneguk sedikit air putih, lalu keluar ke halaman. Para penumpang truk sudah turun. Tidak sebanyak yang kubayangkan. Tapi ada satu yang kuduga pasti datang. Pemimpin mereka. Wajahnya dingin dan bengis. Tanpa kata-kata dia mengarahkan bayonet di ujung senapannya ke dadaku. Aku mengangkat tangan. Ujung bayonet itu pasti tajam dan bisa menusuk menembus dadaku. Tapi dia tidak berkilat. Justru dioles semacam gemuk tebal. Apa mereka pikir, butuh pelumas agar bayonet itu licin menembus dagingku?
Dua orang penjaga mendekatiku. Seorang memegang kedua tanganku erat di belakang punggungku. Aku tidak berusaha melawan. Aku ingin tahu dulu apa yang mereka mau. Penjaga yang satu lagi mengambil gemuk dari ujung bayonet dengan ujung jari telunjuknya, lalu mengoleskan gemuk itu ke dahiku, “Jangan bergerak,” katanya. Dari tadi aku tidak bergerak, batinku.
Tidak lama kemudian wajahku telah pekat hitam oleh gemuk. Gemuk yang tampaknya hanya sedikit itu, menutup sempurna wajahku. Sekarang apa?
Si Pemimpin menarik senapannya, memandang angkuh kepadaku, “Setelah ini kamu akan kami lepas ke Hutan. Kamu punya waktu tiga hari untuk mengumpulkan…”
Yang mereka sebut ‘Hutan’ adalah tempat gelap penuh rawa dan binatang buas. Tidak ada bekal. Aku harus mencari cara sendiri untuk bertahan hidup, dan keluar membawa apa yang mereka inginkan. Tentu saja ini omong kosong. Tak seorang pun yang dilepas di Hutan berhasil keluar hidup-hidup.
Aku tidak mendengar lagi lanjutannya. Alarm berbunyi. Ini sudah Senin pagi. Aku harus bangun dan menyiapkan potato wedges yang kujanjikan untuk sarapan anak-anak.

circle….

seperti helai sakura yang gugur satu persatu di wajahku

setiap kecup lembut dan bisik lirih

meletakkan aku kembali

pada masa ketika senyum dan sedikit kata memberi lebih banyak makna

waktu mengajariku merawat rindu

menjaga cinta….

24 jam….

Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada apa pun yang berkesan. 
Aku punya banyak waktu semalam sebelum akhirnya tidur sedikit lewat pukul sebelas. Novel yang kubawa selesai kubaca. Iya, yang kubilang kubaca dua lembar demi dua lembar, seperti Intisari di tasmu. Novel itu bercerita tentang banyak rahasia. Dan praduga yang tumbuh karena keengganan bicara. Oleh malu. Oleh rasa tak perlu. Oleh ego.

Betapa asumsi bisa membunuhmu perlahan. Atau tiba-tiba. ‘Aku tidak pernah mengira bahwa….’ Seharusnya jangan pernah mengira! Tapi bagaimana, jika tanya tak berjawab, dan juga tak ada pertanda?

Ini waktu yang persis dengan semalam. Ketika kuputuskan meletakkan buku. Berhenti menunggu. Atau setidaknya melanjutkan lagi besok pagi. Keputusan yang persis dengan semalam. Berhenti menunggu, atau melanjutkan menunggu lagi esok hari.

Aku jeri. Apa yang kutunggu?

Ternyata golf itu menyenangkan!

Setelah sekian tahun bertahan terhadap ajakan suami untuk bermain golf, akhirnya aku luluh juga. Hari ini, seharian aku berlatih, dan ternyata menyenangkan!

Pertama-tama ajar titis.


nyamar jadi bendera hole ⛳️

begini lebih gampang..

hampir!

Well. Ndak papa beda hobi sama suami. Ndak papa juga ndak bisa mengikuti. Kita cuma harus tahu cara bersenang-senang biar semua hepi. Ya kan?