dari tepi balkon….

langit telah beribu kali berubah warna

dari biru, ungu, kelabu, hingga jingga

tapi hati tak pernah berubah cuaca.

 

 

Advertisements

aku ingin….

aku ingin pecel

aku ingin salad buah

aku ingin jus semangka

aku ingin kamu….

 

aku ingin oreo

aku ingin donat coklat

aku ingin pizza

aku ingin kamu….

 

aku ingin terbang

aku ingin berlayar

aku ingin melakukan perjalanan

aku ingin kamu….

 

aku tidak ingin apa apa

aku cuma ingin kamu….

lugut….

kita telah kehabisan gairah dan rasa ingin tahu

jika masih ada sentuh

padaku tinggal rindu yang teraniaya

segala yang lembut telah berubah menjadi lugut

tambat….

aku tak nemu tempat berlari

aku tak bisa lagi berlari

aku tak ingin lagi berlari

dalam pedih penantian

dalam perih kenangan kehilangan

luluh lantak dalam pengharapan

remuk redam

aku masih tidak bisa pergi….

bebal

setelah libur yang begitu lama, akhirnya kutemui lagi rindu-rindu. sesendok mie ayam. sepotong gerakan senam. kenikmatan dunia. tapi seperti katamu, semua hanyalah tamba kangen.

tuhan mungkin kelak akan menyediakan ruang senam dan mie ayam di surga. dan di sana juga akan ada engkau. karena di dunia aku tidak bisa mencicipimu seperti mie ayam atau senam. karena tak ada tamba kangen jika itu tentangmu.

barangkali aku telah kebas luka. terlanjur percaya waktu akan bekerja. sementara setiap detik tak henti jungkir balik kubunuh waktu. membunuh diriku. bukankah sebelum ke surga, orang harus mati terlebih dahulu?

Harap Khilaf

Kadang aku berharap kita khilaf
Lupa segala janji
Larut dalam hasrat
Sesaat
Tanpa ragu menjerat

Tapi selalu kudapati
Akhirnya kita pergi
Membawa renungan
Atau mungkin sedikit penasaran
Kemudian sedikit menyesal
Kenapa?

Benarkah kita telah berlaku benar
Dengan tidak berlaku salah?
Legakah kita telah dengan sadar
Memilih mengubah arah?

Ataukah hati masih menyimpan secuil angan
Akan datang lagi kesempatan yang tiba-tiba terasa telah kita sia-siakan?

Kadang aku berharap kita khilaf
Berhenti berpura
Lalu sambil tertawa
Melabur rasa bersalah
‘Kita bajingan, tapi aku bahagia.’