aku ingin….

aku ingin pecel

aku ingin salad buah

aku ingin jus semangka

aku ingin kamu….

 

aku ingin oreo

aku ingin donat coklat

aku ingin pizza

aku ingin kamu….

 

aku ingin terbang

aku ingin berlayar

aku ingin melakukan perjalanan

aku ingin kamu….

 

aku tidak ingin apa apa

aku cuma ingin kamu….

lugut….

kita telah kehabisan gairah dan rasa ingin tahu

jika masih ada sentuh

padaku tinggal rindu yang teraniaya

segala yang lembut telah berubah menjadi lugut

tambat….

aku tak nemu tempat berlari

aku tak bisa lagi berlari

aku tak ingin lagi berlari

dalam pedih penantian

dalam perih kenangan kehilangan

luluh lantak dalam pengharapan

remuk redam

aku masih tidak bisa pergi….

bebal

setelah libur yang begitu lama, akhirnya kutemui lagi rindu-rindu. sesendok mie ayam. sepotong gerakan senam. kenikmatan dunia. tapi seperti katamu, semua hanyalah tamba kangen.

tuhan mungkin kelak akan menyediakan ruang senam dan mie ayam di surga. dan di sana juga akan ada engkau. karena di dunia aku tidak bisa mencicipimu seperti mie ayam atau senam. karena tak ada tamba kangen jika itu tentangmu.

barangkali aku telah kebas luka. terlanjur percaya waktu akan bekerja. sementara setiap detik tak henti jungkir balik kubunuh waktu. membunuh diriku. bukankah sebelum ke surga, orang harus mati terlebih dahulu?

Harap Khilaf

Kadang aku berharap kita khilaf
Lupa segala janji
Larut dalam hasrat
Sesaat
Tanpa ragu menjerat

Tapi selalu kudapati
Akhirnya kita pergi
Membawa renungan
Atau mungkin sedikit penasaran
Kemudian sedikit menyesal
Kenapa?

Benarkah kita telah berlaku benar
Dengan tidak berlaku salah?
Legakah kita telah dengan sadar
Memilih mengubah arah?

Ataukah hati masih menyimpan secuil angan
Akan datang lagi kesempatan yang tiba-tiba terasa telah kita sia-siakan?

Kadang aku berharap kita khilaf
Berhenti berpura
Lalu sambil tertawa
Melabur rasa bersalah
‘Kita bajingan, tapi aku bahagia.’

Malam Puisi Edisi (bukan) Khusus Perempuan

Entah kenapa, Malam Puisi Semarang edisi Jumat 25 April 2014 lalu dihadiri 75% perempuan (berdasar pandangan mata). Barangkali karena temanya, ‘Perempuan dan Puisi’. Padahal sama sekali tidak ada maksud membatasi hadirin. Justru kupikir akan asik mengetahui pandangan laki-laki tentang ‘perempuan dan puisi’. Tentang perempuan yang berpuisi, tentang puisi oleh perempuan, tentang perempuan di dalam puisi.

20140505-084155.jpg

Salah satu hadirat ikut menghangatkan diskusi.

20140505-084222.jpg

Salah satu pembacaan puisi.

Sandra Palupi yang menjadi pemantik diskusi, mengajak audiens berdinamika untuk melihat tema-tema yang bagaimana yang lebih diminati perempuan: keluarga, cinta, tuhan. Sandra juga mengajak meraba, bagaimana citarasa kata dan diksi yang dipilih perempuan dan laki-laki dalam menulis puisi bertema sama, bisa dibedakan.

20140505-084206.jpg

Sandra Palupi, penyair perempuan yang tajam.

Satu kehormatan, malam puisi kemarin dihadiri sastrawan senior Semarang, bapak Djawahir Muhammad. Beliau merasa, perempuan adalah inspirasi tiada habis untuk menulis puisi. Hadir juga Bu Sulis Bambang dan Pak Driya, dua-duanya penyair senior penggerak komunitas Kumandang Sastra. Haru biru.

20140505-084141.jpg

Pak Djawahir memberikan petuah dan suntikan semangat untuk pecinta puisi muda di Semarang.

Pak Driya

Pentholan Komunitas Kumandang Sastra Semarang.

Di tengah acara, ada mbak-mbak berjilbab njawil aku, “Saya Otit dari Her Spirit Suara Merdeka.” Di benakku langsung melintas, wah, wawancara nih. Tapi yang lahir di bibirku, “Ya, ada yang bisa saya bantu?”

20140505-084232.jpg

Bu Sulis dan perempuan-perempuan pecinta puisi ini masuk koran. Kok cukup ya? >.<

Mbak Otit memang lebih menyoroti tentang ‘Perempuan dan Puisi’-nya, tapi tetap tidak melupakan acara Malam Puisi itu sendiri. Ya mungkin karena dia wartawan rubrik wanita, jadi dipas-paskan biar ndak overlap dengan wartawan budaya… Semoga setidaknya tetap membuat Malam Puisi lebih dikenal dan dicintai…

20140505-084309.jpg

Dan semoga para penggerak Malam Puisi Semarang tetap pinaringan kemauan, kekuatan, kesabaran dan segala yang dibutuhkan untuk menggelar Malam Puisi selanjutnya. Salam ­čÖé