A Simple (Taboo) Way to Make Everyone’s Day


Di Kantin Staf Bandara Changi, semacam pujasera dengan gerai-gerai halal dan non halal; tempat para pekerja makan pagi, siang, petang, ada berbagai pilihan hidangan Tiongkok, India, juga Indonesia (Kantin Padang yang tidak jual rendang…). Banyak hal menarik yang kulihat di sana. Salah satunya rak tempat mengembalikan nampan ini.

Setiap pengunjung yang selesai makan, diharapkan mengembalikan nampan berisi piring dan gelas yang telah mereka pakai, bukan meninggalkannya di meja. Petugas kebersihan mengambil peralatan kotor dari rak ini, bukan datang ke meja satu per satu. Mereka mendatangi meja hanya untuk mengelap.

***

Return your trays, that’s the way to make everyone’s day.

Kembalikan nampan Anda, agar semua bahagia.

Sekilas sederhana. Tapi ini benar. Petugas kebersihan tidak terlau sibuk. Pengunjung berikutnya bisa langsung menempati meja yang kosong, tanpa harus menunggu ada yang menyingkirkan alat makan yang usai dipakai.

Di rumah, aku membiasakan anak-anak untuk membawa piring ke bak cuci, setiap kali selesai makan. Sekarang setelah mereka makin besar, mereka harus mencuci sendiri piring mereka. That’s how you make everyone’s day. Ini hal sederhana yang sangat membantu menjaga rumah tetap bersih dan rapi.

Tapi pernah aku dibikin terpana karena hal ini. Aku ditegur karena telah membuat anak-anakku melakukan hal yang tabu. Laki-laki membawa piring kotor ke dapur — apalagi sampai mencuci. Dan aku waktu itu benar-benar ternganga. Di mana letak ‘tabu’-nya ikut menjaga kebersihan rumah dengan cara sederhana seperti itu? Oh, mengapa sekedar isah-isah harus jadi kewajiban perempuan dan hal memalukan bagi laki-laki?

***

Aku bersyukur bahwa Bapak dan Ibuk tidak pernah menganggap demikian. Di rumah kami, semua bertanggung jawab atas segala pekerjaan rumah. Siapa saja boleh (harus) melakukan apa saja yang diperlukan. Mengurus cucian (pakaian), cuci piring dan perabotan, nyapu-ngepel, masak. Tidak ada pekerjaan laki atau perempuan. Aku telah terlalu sempit melihat, hanya ke dalam rumah kami, dan mengira memang begitulah yang berlaku di semua rumah.

Apa ini bagian dari budaya patriarki?

Advertisements

Kapal Phinisi: Cetak Biru di Kepala

Akhir pekan kemarin aku dan anak-anak berkesempatan jalan-jalan ke Pantai Bira, di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Pantai Bira menyenangkan. Bersih, airnya jernih, dan tenang. Terlalu tenang malah. Minim ombak, jadi kurang seru, kata anak-anak.

Pantai Bira

Tapi aku ingin bercerita tentang satu tempat yang tak kalah eksotis. Pembuatan kapal Pinisi. Kapal Pinisi adalah kapal layar tradisional berukuran besar yang dibuat oleh orang Bugis atau Makassar Sulawesi Selatan. Ada dua tiang layar utama yang, yang mewakili dua kalimat syahadat, dan tujuh layar tambahan yang mewakili jumlah ayat di Surat Al-Fatihah.

Konon kapal Pinisi sudah mulai dibuat sejak sebelum tahun 1500. Nama Pinisi diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang menyarankan perbaikan struktur layar dari kapal-kapal yang sudah ada. Dia dianggap memiliki kemampuan mendesain kapal yang lebih baik. Dan kapal Pinisi yang dibuat sampai sekarang adalah sesuai bentuk yang disarankan Pinisi.

Tempat pembuatan kapal di Desa Bira ini terletak di pantai tidak jauh dari jalan raya. Agak turun sedikit, melewati jalan yang agak serem juga kalau dilewati pakai mobil. Jadi kami memutuskan parkir di jalan raya dan turun dengan jalan kaki kira-kira 200 meter.

Saat kami tiba di sana, ada lima kapal besar dan tiga kapal berukuran lebih kecil yang sedang dikerjakan. Ada rangkaian upacara yang harus dijalani di setiap tahap pembuatan. Mulai dari penebangan kayu, peletakan lunas, sampai ke peluncurannya.

IMG_8077

Calon-calon pengarung lautan.

Kami sempat ngobrol dengan seorang Bapak pembuat kapal (dia menyebutkan nama tapi kurang jelas, dan kami juga rikuh mau nanya lagi). Dia berdelapan sedang mengerjakan satu kapal besar, beratnya nanti jika sudah jadi kira-kira 1000 ton. Kapal itu sudah dikerjakan hampir satu tahun, dan diperkirakan selesai tiga bulan lagi.

IMG_8065

Anak-anak berpose bersama Pak Azhar atau Pak Hajar (atau siapa?)

IMG_8053

Papan kayu dikeringkan maksimal sebelum dipasang.

Kayu yang dipergunakan adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari.

IMG_8054

Kapal Pinisi masa kini dilengkapi baling-baling. Hanya satu baling-baling ini untuk kapal seberat 1000 ton.

Yang menakjubkan adalah, bapak-bapak itu tidak punya gambar kerja atau cetak biru. “Pembeli tinggal bilang saja, dia mau kapal ukuran berapa, nanti kami bikin,” kata si Bapak. Setelah tahu ukuran kapal yang diminta, mereka langsung bekerja begitu saja. Menjalankan tahap demi tahap sampai selesai. Kapal itu sudah jadi sebelum dibuat, katanya. Raksasa cantik ini dipesan oleh pengusaha ekspedisi dari Jakarta, dan dibanderol 8 milyar rupiah.

IMG_8063

Celah antar papan dan lubang-lubang baut ditambal dengan dempul yang terbuat dari serbuk kayu dan lem khusus. Kerasnya sama dengan kayu besi yang asli.

IMG_8052

Si cantik dalam pengerjaan

Badan kapal yang dikerjakan Pak Azhar(?) sudah selesai. Kapal ini setinggi pohon kelapa. Dalam masa pembuatannya, untuk naik ke bagian atas kapal hanya ada tangga darurat dari papan-papan dan balok. Setiap diinjak mentul-mentul, dan licin pula. Para pembuat kapal itu santai saja naik turun sambil lari. Aku sudah mencoba naik pelan-pelan tapi tetap tidak berani sampai atas. Padahal aku pengin melihat, apakah geladak sudah dikerjakan. Akhirnya cukup harus merasa puas melihat kabin tampak dari bawah sedang dikerjakan.

Delapan orang. Satu tahun. Tanpa gambar kerja. Seribu ton. Delapan milyar. Dan kelak akan mengarungi samudera. Menjadi kapal ekspedisi, atau kapal pesiar keliling dunia. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Pinisi bisa beroperasi lebih dari 15 tahun.

Kami meninggalkan tempat itu membawa ketakjuban. Beberapa kali aku menoleh ke belakang melihat lagi, dan takjub lagi, sebelum akhirnya masuk kendaraan dan melanjutkan perjalanan.

***

Kalau punya uang delapan milyar, kamu pilih beli Lamborghini atau Kapal Pinisi?

 

Gula Tumbu dari Sulang

Selama ini mungkin banyak dari  kita yang hanya tahu bahwa tebu dibikin gula pasir, sedang gula merah dibikin dari nira kelapa atau aren. Satu hal yang membuatku mensyukuri perjalanan yang kulakukan, pengetahuan yang selalu bertambah. Ternyata tebu juga bisa dibikin gula merah.

Hari Senin lalu aku berkesempatan jalan-jalan ke Desa Kebonharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Kami berkunjung ke rumah salah satu pengrajin gula merah. Desa Kebonharjo adalah salah satu sentra tanaman tebu di Jawa Tengah. Hasil perkebunan tebu dikirim untuk diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Trangkil.

Sebagai bahan baku gula pasir, pabrik gula mensyaratkan randemen tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi randemen. Waktu panen, lama pengangkutan, kualitas varietas tebunya. Panen yang terlalu cepat atau terlambat dapat mempengaruhi kadar gula dalam tebu. Demikian juga waktu antara penebangan hingga pengolahan. Setelah lewat 24 jam, randemennya  juga akan turun, karena kadar air dalam tebu berkurang oleh penguapan. Selain permasalahan dalam ‘tubuh’ tebu sendiri, kapasitas pabrik juga mempengaruhi randemen. Mesin-mesin pabrik tebu yang ada sudah beroperasi sejak jaman berdirinya pabrik di jaman Belanda. Bisa dibayangkan, kemampuan mesin yang sudah jauh dari optimal.

Sementara jika diolah sendiri, walaupun dengan cara tradisional, randeman tebu bisa lebih tinggi. Jika gula hasil pabrik randemennya sekitar 5-7 saja, dengan diolah senidiri hasilnya bisa 10-11. Sehubungan dengan kapasitas mesin pabrik juga, pabrik tidak bisa menerima hasil panen tebu setiap saat. Karena itu dibuat jadwal yang disepakati antara petani dengan pabrik. Setiap petani mengirim hasil panen pada hari tertentu. Dengan cara ini diharapkan tidak ada antrian truk bermuatan tebu. Tebu yang dibawa dari perkebunan bisa langsung diolah sebelum 24 jam.

Karenanya banyak petani tebu Desa Kebonharjo yang memilih mengolah sendiri hasil panenan mereka menjadi gula merah. Bahkan ada juga pengrajin gula merah yang tidak punya kebun tebu. Mereka membeli tebu yang tidak disetor ke pabrik. Ada 18 pengusaha pengrajin gula merah di sana.

image

Pembuatan gula merah dari tebu di Desa Kebonharjo masih dilakukan secara tradisional. Batang-batang tebu diperas dengan mesin khusus (lupa tidak moto gambarnya…). Air perasan tebu dialirkan melalui pipa ke kuali besar paling ujung. Satu set tungku pembuatan gula merah terdiri dari sembilan kuali. Sambil terus diobori, cairan diaduk dan secara bertahap dipindahkan dari tungku pertama hingga tungku terakhir. Waktu yang dibutuhkan sampai cairan gula siap untuk dicetak antara satu sampai dua jam.

image_2

Setelah kekentalan cairan tepat (entah bagaimana mengukurnya, sepertinya bapak-bapak pengrajin itu pakai feeling dan kira-kira saja saking sudah ahli), gula dicetak di dalam tumbu (bakul bambu) berukuran besar. Karena cetakan yang unik inilah, gula merah produksi Desa Kebonharjo lebih dikenal sebagai ‘gula tumbu’. Berat satu tumbu gula setelah jadi bisa mencapai 150 kg. Wow.

image_3

Satu tim yang terdiri dari 4-5 orang bisa memproduksi gula merah 50 tumbu seminggu, sekitar 70-100 kuintal seminggu. Seminggu sekali, gula yang sudah padat dicetak ini akan diambil oleh pengepul, untuk kemudian dikirimkan ke pabrik kecap. Orang Tua dan Indofood adalah dua pabrik kecap besar yang juga mengambil bahan baku gula merah tradisional ini.

image_4

 

Kelompok petani pengrajin gula merah di Desa Kebonharjo, saat ini sedang bersiap untuk lebih mengembangkan produksi mereka. Dengan bantuan pemerintah dan beberapa lembaga penelitian, sedang dirintis pembuatan gula merah yang lebih higienis dalam cetakan kecil untuk konsumsi rumah tangga. Selain itu juga pengolahan limbah tebunya untuk pupuk organik dan etanol.

Semoga inovasi mereka berhasil, sehingga lebih banyak manfaat yang dihasilkan. Dan kita bisa ikut menikmati gula merah dalam ukuran yang lebih bersahabat untuk ditenteng ibuk-ibuk yang belanja di pasar 😀

 

 

Bangun Tengah Malam

Tidak. Ini bukan cerpen atau puisi. Ini cerita tentang puisi Irwan Bajang, berjudul Bangun Tengah Malam, yang kulagukan bersama Iwan dan Ipank.

Cerita berawal dari selewat wara-wara di twitter tentang lomba musikalisasi puisi tanggal 20 Desember 2013 lalu, Musim Para Penyair, yang diadakan Indiebookcorner bekerja sama dengan Warkopbardiman. Menarik. Apalagi selama ini aku belum pernah ikut lomba semacam ini. Secepat aku sempat, aku download materi yang menjadi bahan lomba. Ada 4 file pdf buku puisi milik Irwan Bajang, Bernard Batubara, Mario Lawi, dan Nanang Suryadi. Aku sengaja hanya mengambil dua buku. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak mau dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Makin banyak buku yang aku buka, pasti makin banyak puisi yang menarik untuk dimusik-kan. Dan aku akan makin bingung.

Jadi setelah scroll-scroll  file Bernard dan Irwan Bajang, aku memilih dua puisi dari masing-masing penyair. Hal pertama yang aku perhatikan dalam memilih puisi yang hendak kumusikkan, adalah tipografinya. Baru kemudian aku lihat isinya. Jika tipografinya asik tapi isinya tidak asik, tidak jadi lah kupilih.

Aku punya kebiasaan, menulis dengan tangan puisi-puisi yang hendak kulagukan. Dari empat puisi yang kupilih itu, Bangun Tengah Malam yang pertama kali kusalin. Pada saat menulis larik pertama, ‘bangun tengah malam’, di benakku langsung mengalir nada untuk kalimat itu. Aku sempat berhenti sejenak sebelum lanjut menulis. Terus terang ini aneh, belum pernah begini. Aku menuliskan baris berikut dan berharap ada nada lagi muncul. Ternyata tidak. Tapi… karena sudah muncul nada, setidaknya di baris pertama, aku memutuskan memilih puisi ini dan mengabaikan tiga lainnya. Aku bahkan lupa yang mana, tiga itu.

Boleh dibilang, keinginanku mengikuti kompetisi ini lebih karena ingin terlibat dengan pelaku musikalisasi dari luar Semarang. Bukan menargetkan kemenangan atau hadiah. Melagukan puisi sejak 2010, selama ini aku dan teman-teman rasanya hanya uplek-uplekan di seputar Semarang, Kendal, Kudus, Pati. Sampai-sampai ada yang menjulukiku ‘jago kandang’. Memang bersama Atisejati aku bisa ke Solo dan Yogya. Tapi itu beda…

Ini benar-benar proyek kebut-kebutan. Dua hari membuat komposisi, satu hari latihan, dan besoknya direkam. Akhirnya ‘Bangun Tengah Malam’ launch di soundcloud. Sungguh lucu, ketika aku mengabari si empunya puisi, aku ditanya apakah aku sudah mendengarkan musikalisasi atas puisi yang sama, di CD yang disertakan dalam buku Kepulangan Ke Lima. Loh. Jadi puisi ini sudah dibuat musikalisasinya? Aku baru tahu. Tentu saja belum pernah dengar. Kubilang: nanti mas, kalau aku menang kompetisi ini, aku akan pakai hadiahnya untuk beli buku dan albumnya.

Sebenarnya, aku tidak pernah pede ikut lomba yang penilaiannya dengan vote dari pemirsa. Untungnya di Musim Para Penyair, vote hanya diberi porsi 25%, sedang 75% penilaian dari juri. Meskipun begitu aku tetap rajin promosi ke sana kemari. Tiap hari pasang link di FB dan Twitter. Bahkan memberanikan diri njawil teman-teman dan terus terang minta dukungan. “Tolong putar ya, tinggalin komen, tinggalin hati….” Aduh.  Jan-jane aku rikuh kalau disuruh melakukan ini… Alhamdulillah aku punya teman-teman baik yang dengan senang hati memberi dukungan. Terima kasih semua. Maaf ya kalau ngiklannya kelewatan…

Setelah sempat diundur seminggu, akhirnya Sabtu, 18 Januari 2014 diumumkan juga hasil lombanya. Juri memilih Bangun Tengah Malam-ku menjadi pemenang lomba. Bersyukur banget. Apalagi saingannya datang dari mana-mana. Yogya, Gresik, Bali, Surabaya. Senang. Tapi kemudian sebal. Sebal yang sekaligus senang. Piye jal. Panitia mengundangku untuk hadir di malam puncak Musim Para Penyair. Untuk menerima hadiah, sekaligus perform beberapa lagu. Senang karena diundang. Sebal karena mendadak. Tapi tetap menang senangnya sih…

image

image_1

MPP3

Jadi kemarin, berangkatlah aku bersama Iwan dan Ipank dan Lulu, menghadiri malam penganugerahan pemenang lomba musikalisasi dan baca puisi di Musim Para Penyair. Ketemu langsung dengan (dan mendapat buku bertanda tangan) penyairnya . Dan yang  lebih menyenangkan adalah perasaan baru yang muncul karena tampil di depan audiens yang benar-benar baru. Berkenalan dengan teman-teman baru. Lihat, aku bukan jago kandang 😀

Musim Para Penyair yang mengajak kita merayakan puisi dengan gembira ini menyenangkan. Menjadikan puisi bukan lagi hal yang mengajak kita berkerut dahi. Serius tapi terasa ringan. Kita diajak belajar mengenal, menulis, membaca, dan mengapresiasi puisi dalam bentuk karya yang berbeda. Mudah-mudahan terus berkelanjutan dan lebih meriah lagi.

Bagi yang belum mendengarkan, atau ingin mendengarkan lagi, atau ingin download supaya bisa didengarkan lagi dan lagi, silakan kunjungi soundcloud-ku.

Terima kasih Mas Irwan, Bagustian, Warkopbardiman, kawan-kawan di Yogya. Semoga bisa jumpa di lain kesempatan.

Semarang: Hidden Heritage

Sebenarnya ini cerita telat seminggu. Tapi tak apalah dibagi…

Tanggal 6-8 September kemarin, di Kawasan Kota Lama Semarang digelar even kerja sama lintas komunitas budaya, yang didukung penuh oleh pemerintah kota. Acara bertajuk ‘Hidden Heritage’ merupakan sebuah gerakan kreatif urban untuk pengaktifan Ruang Terbuka Publik yang inspiratif bagi Kawasan Kota Lama yang sekian lama tertidur. Berbagai acara digelar selama festival. Ada musik : Jazz, Koesplusan, Bohemian, Gambang Semarang, Reggae; atraksi barongsay, Festival Kethoprak, Kampung Antikan, Pameran Kuno-kini on the Street, Garuda Park Art Jamming, Chalk Art, seni lukis henna dan masih banyak acara lain yang menarik.

Penginnya sih semua acara didatangi. Tapi aku sudah bisa bersyukur menjadi saksi sebagian yang bisa kubagi ini:

20130918-100345.jpg

Perkumpulan Pecinta Vespa

20130918-100402.jpg

Warak Ngendog istimewa

20130918-100421.jpg

body painting dengan henna

20130918-100432.jpg

pameran foto Koeno Kini, yang menyandingkan foto-foto bangunan di kawasan kota lama tempo dulu dan masa kini…

20130918-100451.jpg

seni kreatif dengan kardus. unyuuuu…

20130918-100512.jpg

kelompok Keroncong Karimoeni di perform di Taman Garuda

20130918-100522.jpg

anak-anak ikut melukis berjamaah di kanvas agak raksasa

20130918-100541.jpg

chalk painting. super keren!

***

Sepertinya kawasan Kota Lama Semarang akan semakin hidup. Berbagai komunitas seni dan budaya di Semarang semakin rajin menggelar kegiatan di sana, baik yang rutin maupun yang tidak. Keren ya 😉

Cantik Batik Wonogiren

Entah sejak kapan tepatnya, batik telah menjadi bagian dari keseharian fesyen kita. Pegawai negeri di lingkungan Provinsi Jawa Tengah punya setidaknya satu hari dalam sepekan diharuskan memakai pakaian batik. Di banyak kantor swasta juga demikian. Di kalangan yang tidak ngantor pun, batik telah menjadi kecintaan tersendiri.

Beragam motif dan warna batik semakin berkembang. Lepas dari motof-motif baku berpakem, para pengrajin batik semakin kreatif dan terus mengembangkan motif baru. Bahkan kita bisa memesan motif yang diinginkan.

Adalah Mbak Lely, seorang pengrajin batik di Wonogiri Jawa Tengah, yang setia mengembangkan usaha batik tulis dengan bendera usaha ‘Hasil Jaya’. Usaha kerajinan batik yang dia jalankan sekarang, telah dirintis oleh ibunya sejak tahun 80-an. Setelah sempat vakum di tahun 90, mbak Lely mencoba bangkit lagi di tahun 95 dengan fokus ke batik khas Wonogiren.

Yang khas dari batik Wonogiren adalah remakan (pecahan) yang memenuhi bidang gambar menjadi latar belakang motifnya.

Untuk ukuran batik tulis tangan, harga batik Hasil Jaya termasuk murah. Sepotong kain dua meter dijual antara 150-250 ribu rupiah. Batik jarik dengan motif pakem ‘hanya’ 750 ribu. Hanya? Hm… iya. Di tempat lain, batik jarik tulis halus harganya bisa mencapai dua juta 😀

20130906-075411.jpg

Batik yang baru selesai dicanting, setelah ini diwarna dan dibersihkan lilin malam-nya.

20130906-075418.jpg

Batik jarik halus. Motifnya rumit dan sesuai pakem.

20130906-075426.jpg

Batik modern wonogiren dengan aneka warna.

20130906-075434.jpg

Mbak Lely, pemilik usaha batik Hasil Jaya.

Mbak Lely juga menerima pesanan untuk seragam dengan motif yang sudah tersedia atau motif pesanan khusus. Lucu-lucu. Ada seragam kantor di Kecamatan Baturetno yang penghasil mete, gambarnya jambu mete. Ada seragam kantor BKKBN yang gambarnya alat-alat kontrasepsi. Dan aku memesan batik untuk seragam ikatan alumni dengan gambar jembatan, gedung bertingkat dan tower!

20130906-075448.jpg

Batik Wonogiren kupadu dengan lurik Troso Jepara

Kalau ke Wonogiri jangan lupa ya, mampir ke toko batik Mbak Lely 😉

Masjid Setitik Cahaya

Empat tahun terakhir ini, setiap lebaran aku berkunjung ke rumah pembantuku, biasanya sekalian mengantar dia pulang, karena jalurnya bisa dilewati sekalian kami pulang mudik. Sebenarnya kampung pembantu kami ini secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Tapi secara geografis letaknya lebih dekat ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Untuk sampai ke kampungnya, kami melewati Kecamatan Gantiwarno, yang diguncang gempa dahsyat tahun 2006 lalu.

Awal kami mulai berkunjung ke sana dulu, masih ada sisa-sisa gempa. Beberapa rumah yang masih belum direhab dan runtuhan di sana sini yang belum sempat dirapikan. Ada dua bangunan baru yang menarik yang kami lalui. Yang pertama adalah sebuah sekolah dasar yang dibangun dengan biaya sumbangan dari pembaca koran Suara Merdeka. Nama sekolahnya pun ‘SD PEMBACA SUARA MERDEKA’.  Sekolah itu dibangun sebagai bantuan kepada masyarakat korban gempa.

Bangunan menarik lainnya adalah sebuah masjid yang dibangun di Desa Pacing. Masjidnya kecil dan bentuknya unik. Beberapa kali lewat, baru kemarin aku dan suami menyempatkan mampir dan sholat dhuhur di sana. Pengin sih tanya-tanya tentang masjid itu, tapi tidak ada siapa pun yang bisa ditanya. Embak juga ndak pernah sholat di situ, karena ada masjid yang lebih dekat dengan rumahnya.

image_1Tampak Luar Masjid ‘Setitik Cahaya’

imageMihrab Masjid

photoPuisi Rusli Lutan yang ditulis di atas prasasti, dipasang di halaman masjid. 

Nama masjid itu tidak seperti nama masjid pada umumnya yang memakai bahasa Arab. ‘Setitik Cahaya’, sama dengan judul sebuah puisi di prasasti yang dipasang di luar masjid. Puisi yang ditulis oleh Rusli Lutan untuk korban bencana gempa Mei 2006. Aku sendiri belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Setelah googling, baru kutahu rupanya beliau adalah alumni Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, dan sudah menulis buku “Pembaruan Pendidikan Jasmani Di Indonesia”.

Berikut puisi yang terpahat itu:

SETITIK CAHAYA

Sunyi kelam malam
Tangis memelas
Bayi minta cahaya
oh… oh kembalilah

Luluh luka
Mengambang rasa
Menangkap hampa
Bayang-bayang dalam pecahan kaca
Kerap lenyap gelap tiada
Tapi terpulang pada-Mu jua

Cicipi getir geram air mata
Menyirami bumi
Membasuh cakrawala
Riuh bocah
Purnama jenaka
Pelangi menari di kaki Merapi
Oi, besok embun bening kembali

Puisi yang penuh harapan setelah bencana yang begitu mengenaskan. Sekarang, lebih 6 tahun setelah bencana, memang hampir tidak terlihat lagi sisa kepedihan masa itu. Setitik cahaya telah berpendar terang.