Umuk

Makan siang selalu lebih menyenangkan kalau ada teman, meski kadang aku ingin sendirian. Kali ini aku menyambut ajakan Mbak Lala untuk makan siang bareng di kantin. Aku cuma harus siap mendengar curhatnya tentang teman-teman group whatsapp SMP atau gosip panas seputar teman-teman kantor.

Kantin penuh. Tinggal ada dua kursi kosong di meja yang sudah terisi. Ada Ida dan Miska. Gabung dengan mereka sepertinya asyik juga. Mereka sudah hampir selesai makan tapi jelas sama sekali tidak keberatan tetap tinggal sampai kami selesai makan. Kesempatan untuk bergosip lebih lama dan seru.

“Anakku itu lho,” Mbak Lala memulai, “nggak bisa diakali ayahnya.”

“Diakali gimana, Mbak?”

“Ayahnya udah janji, kalau diterima di SMP 2 mau dibeliin motor.”

“Lho tahun ajaran barunya bukannya sudah lama lewat? Ini semester 2 kan?” tanya Miska.

“Masuk SMP dijanjiin motor? Lha anak segitu mau dibolehin naik motor?” aku ikut bertanya.

“Iya… makanya itu. Udah bagus dia nggak ngamuk karena ditunda beberapa bulan. Maksud suamiku ya mau ditunda beberapa bulan lagi. Bukan karena nggak ada uangnya, cuma buat nunggu sampai dia agak gede dikit. Ya kelas dua apa kelas tiga gitu lah… Tapi anaknya udah nagih terus. Ya udah terpaksa deh…”

“Kelas tiga SMP juga belum boleh kan?” aku tanya lagi.

“Trus nggak bisa diakalinya di mana?” Miska juga lanjut bertanya.

“Alaaah… anak jaman sekarang itu bongsor. Nggak kaya kita jaman dulu, kurang gizi, badan kuntet. Ini naik Vixion udah nyampai lho kakinya! Udah kuat pegang setang juga. Aku sempat degdegan lihat dia wara wiri…”

“Wah Vixion…!”

Wajah Mbak Lala berbinar bangga. Makin bangga oleh ‘wah’ dari kami bertiga.

“Wah lumayan juga itu harganya, buat beli skuter matic-ku bisa dapet dua,” Ida melambungkan Mbak Lala lebih tinggi lagi sambil meminum sisa es jeruknya.

“Iya. Itu yang kubilang nggak bisa diakali. Maksudku beli skuter matic aja, yang agak kecilan. Judulnya beliin dia tapi nanti aku juga bisa pakai. Eh jebul nggak mau. ‘Kalau motorku ya aku yang milih,’ katanya.”

Pembicaraan tentang ‘uang bukan masalah’ dan ‘masih SMP udah boleh naik motor’ masih berlangsung sampai beberapa saat, sebelum berganti topik tentang gosip tentang Tari yang merayu bos lantai dua…

.

Esok harinya, pagi-pagi, aku baru saja duduk dan mulai membuka-buka berkas, Mbak Lala mendekat ke mejaku.

“Ning, ini kalau bukan ke kamu aku ndak berani.”

“Ada apa mbak?”

“Aku pikir ini tanggal 25, ternyata belum ya.”

Jreng jreng.

“Maksudnya?”

“Aku barusan cek rekening, belum ada transfer gaji.”

“Ya belum lah mbak. Besok gajiannya.”

“Aku pinjem dari kamu dulu ya. Lima ratus. Ada kan?”

“Nggak bawa Mbak, kalau cash segitu.”

“Kamu bisa ambil ke ATM to?”

“Lha kenapa kamu nggak ambil ke ATM kamu sendiri?”

“Rekeningku yang ada ATM-nya udah kosong. Tinggal di rekening satunya yang nggak pakai ATM. Malas lah kalau ke teller cuma mau ambil segitu.”

“Ya kalau memang butuh cash ya gimana lagi? Jangan-jangan rekeningmu emang ndak ada isinya…”

“Enak aja. Ada. Tapi memang aku nggak bikin ATM karena rekening itu sengaja buat tabungan, biar ga sebentar-sebentar ambil sebentar-sebentar ambil. Jadi nggak boros.”

“Ya udah sana ambil. Ini kan keadaan mendesak.”

“Udah dibilangin nggak cucok antri di teller ambil dikit…”

“Ya ambil yang banyaaaak! Biar cucok!”

“Aku nggak butuh banyak… cuma butuh lima ratus aja buat menyambung hidup hari ini. Nanti malem suamiku pulang bawa uang buat aku. Kan sayang kalau tabunganku aku ambil sekarang.”

“Ya tapi aku nggak ada cash lima ratuuuus…”

“Ya makanya kamu ke ATM…”

“Lihat ini kerjaanku segini… aku nggak tahu kapan kelar dan bisa ke ATM. Ini aja kayanya buat maksi aku bakalan pesen GoFood dan makan di ruangan.”

“Nggak harus sekarang, Non. Pokoknya hari ini. Kamu masih punya waktu sampai nanti sore. Oiya, hari ini aku harus pulang tepat jam empat. Jadi sebelum itu ya?”

Jreng jreng! Ini orang mau pinjam uang kok perintahnya seperti dia yang punya uang dan aku kacungnya.

Aku buka dompet, ada tiga lembar ratusan ribu. Kuambil dua lembar dan kusodorkan ke depannya.

“Nih ada dua ratus. Kalau mau ambil. Kalau nggak mau ya sudah. Aku nggak ke ATM hari ini.”

Dengan cemberut dia mengambil lembaran uang itu dariku lalu balik kanan.

“Besok gajian, jangan lupa balikin ya!” teriakku. Tidak ada jawaban. Ah Su.

Advertisements

Calo

*Dimuat di Jagad Jawa SOLOPOS, Kamis, 26 Oktober 2017

Rudy nglebokake amplop saka Pak Rohmat ing jero tase.

“Mugi lancar nggih Pak. Supados keng putra enggal saged makarya kanthi ayem. Panjenengan ugi lega…”

“Ya Mas. Dadi wong tuwa pancen ora bisa cul-culan, nadyan bocah wis rampung anggone sekolah. Dhuwit sak mono kanggo aku akeh banget. Anggonku nglumpukake saka kana kene. Ning yen kanggo bocah, aku ora bakal etungan.”

“Kasinggihan Pak. Panjenengan tuladha tumrap kula, anggenipun ndhukung lare mboten ngangge wates.”

“Yakin isa ketampa ta Mas?”

“Tepangan kula punika tiyang penting wonten Pemda Pak. Sak mangertos kula pikantuk jatah nanging kula inggih mboten mangertos, pinten kursi. Lha punika kula cepet-cepetan ndhaptaraken Mbak Mia. Mugi-mugi tasih katut…”

“Yen ora katut?”

“Menawi dereng katut, kula konduraken sedaya beya ingkang sampun panjenengan paringaken kula.”

“Yen ketampa aku kudu nggenepi?”

Rudy mung manthuk sambi mesem. Pak Rohmat ngunjal ambegan.

***

Loro. Kalah cacak menang cacak. Continue reading

Arab Gila!

Aku rindu pacarku yang Arab tapi mengajariku Bahasa Belanda.

***

Dia bicara padaku dengan Bahasa Inggris. Sesekali membiarkanku menjawab dengan Bahasa Indonesia, tapi ketika aku mulai panjang dan rumit dia akan, “English please.”

That’s good. Because both our English are limited. But it is also a little bit frustrating. Ketika aku ndak ngerti apa Bahasa Inggrisnya, lalu bicara Bahasa Indonesia, dan dia makin ndak ngerti. Dan berakhir dengan lambaian tangan, “Whatever!”

Aku menuliskan namaku dengan huruf Arab, dan dia sangat bangga aku bisa. Aku tidak bisa Bahasa Arab selain ana-anta huwa-hiya hadza-hadzihi dan beberapa kata benda di sekitar kita seperti buku dan meja dan kawan-kawannya. Tapi pacar Arabku sama sekali tidak ingin mengajariku Bahasa Arab. “Too complicated. I’d rather spend my time with you doing something else.” Yeah, me too, Honey. Lucunya, sesekali dia bicara padaku dalam Bahasa Belanda. Karena dia pernah sekolah di Belanda. Aku buta, jadi tidak bisa mengukur pula seberapa fasih Bahasa Belanda-nya. Dia bertanya apa aku mau belajar Bahasa Belanda yang katanya tidak serumit Bahasa Arab, aku tidak tertarik. “I’d rather spend my time with you doing something else,” kataku.

***

Aku -biasanya- takut gelap. Rasanya ruangan jadi sempit, dingin, dan bikin sesak dada. Makanya aku tidak pernah suka pergi ke gua. Segala piknik berbau gua sama sekali tidak menarik bagiku. Itu bukan refreshing. Itu stressing.

Tapi pacar Arab-ku membuatku suka gelap. Dia membuat gelap menjadi berwarna, dan hangat. Aku melihat   dan merasakan apa-apa yang tak nampak. Wajah tampan dan cambang halusnya -yang segera jadi panjang jika dia lupa atau malas bercukur dua hari saja- bisa kulihat dalam gelap. Juga kedalamannya. Sentuhan lebih peka menggantikan mata. Mungkin begitulah orang–orang buta melihat.

Aku tidak suka ruangan ber-AC, tidak tahan dingin. Aku bisa berakhir terus bersin-bersin dengan hidung berair.

Tapi pacar Arab-ku membuat ruangan ber-AC nyaman. “I’ll show you how to find warmth in aircond room.”

Lalu dia menanggalkan seluruh pakaian kami, dan menarik aku dalam peluknya.

“Masih dingin,” kataku.

“You’re a beginner.”

Lalu dia membawaku ke kasur, membaringkan kami berdua, menarik selimut menutup tubuh kami dengan sempurna.

“It’s dark,” kataku.

“You don’t need to see. Feel me.”

Pagi hari aku mendapati selimut kami sudah terjatuh ke lantai, dan kami berkeringat.

***

Aku rindu pacar Arab-ku. Tapi dia punya pacar di Arab. Yang sudah dia janjikan akan dia nikahi.

“There’s noway you’re gonna marry me, right?”

“Of course there is. If you would come with me to Arab.”

“And what about your girl friend?”

“I can marry you both.”

“Enak aja!”

“Yes of course, enak!”

“No it’s not enak!”

“But you said enak?”

“Nooooo! I meant it’s not enak!”

“Yes it is! Why…”

“Whatever!”

***

Aku tidak mau ikut ke Arab. Menikah dengan pacar Arab-ku. Lalu harus pakai cadar ke mana-mana. Dan sebenarnya tidak bebas ke mana-mana. Apalagi harus berbagi dengan pacar Arab-nya. Mana tahan.

Jadi kubiarkan dia pulang ke Arab, kembali bekerja ke perusahaan minyak yang membiayainya bersekolah di Indonesia.

“Kenapa sih kamu sekolah di Indonesia? Bukan ke Inggris, atau Amerika?”‘

“So I can meet you.”

“Yeah. And then leave me.”

“You don’t want to come with me.”

“You don’t want to stay.”

“I can’t stay.”

“I can’t go.”

***

Aku rindu pacar Arabku. Terakhir dia bicara padaku lewat Skype. Video call. Wajahnya tampan maksimal. Esok paginya akan menikah.

“I love you,” katanya.

“I know.”

“But…”

“I know.”

Lama kami diam. Membiarkan kamera tetap menyampaikan wajah kami.

“I hope you are happy,” kataku.

“I hope you are too.”

“I am when you are.”

He kissed me good bye. Then gone forever. Segala hal yang menghubungkan kami diputus. Aku yang minta.

***

Aku rindu pacarku yang Arab tapi mengajariku Bahasa Belanda.

Yaa habibie… Wat doe je nu? Ik mis je.

GENDAM

*dimuat di Jagad Jawa Solopos tanggal 9 Juni 2016*

gendam

 

Raine Prapto katon pucet. Mripate kosong. Durung kena dijak omong.

“Prap! Piye Prap?”

Nanging Prapto bola-bali mung odhah adhuh karo njenggungi sirahe dhewe.

“Ilang. Amblas. Modyar akuh! Kurang ajar!”

“Apa sing ilang? Apa sing amblas? Sapa sing kurang ajar?”

Prapto mung gedheg, “Embuh, aku ora ngerti… aku ora ngerti…”

Kira-kira jam sewelasan mau Prapto pamit arep menyang bank, jare mung arep ngeprint buku rekeninge. Mergane gaji saben sasi dikirim langsung menyang celengane, banjur dijupuk menawa sakwayah-wayah butuh nganggo kertu ATM. Jane ya bisa ngerti sisane dhuit neng bank isih pira. Nanging dinggo patut-patut jarene, ben bukune ora kosong. Tur bisa ethok-ethok ngecek, mlebu metune dhuit kepiye.

Bali-bali bocahe kaya wong linglung, kanca-kancane sing weruh dadi bingung. Bareng sawetara, Prapto wis rada tenang. Wis diwenehi ngombe, dijak maca alfatehah barang.

“Kurang ajar tenan, dhuitku ilang amblas.”

***

Ora kaya biyasane, aku mau rada dheg-dhegan nalika ngantri madhep mbak-mbak Customer Service.Dudu merga mbak-mbake anyar lan katon kinyis-kinyis, ning mbuh merga apa aku dhewe ya ora ngerti.

Rong puluh yuta. Persis angka sing metu ing struk ATM wingi sore. Pancen kudune ngono. Maune aku ngarep-arep, sapa ngerti ATM-e kleru, banjur angka sing metu ing buku sing dicetak langsung bisa dadi patang puluh utawa seket. Hayo jelas kuwi ora mungkin, mula aku ya mung ngguyu yen kelingan pengarep-arepku kuwi.

“Wonten malih ingkang saged kula biyantu, Pak?” pitakone mbak CS sing ngladeni.

“Mboten Mbak, sampun, maturnuwun.”

Rampung ngeprint aku langsung metu saka bank. Mlaku bali menyang kantor. Aku pancen ora nggawa sepeda montor, wong bank-e ora adoh saka kantor. Mung butuh limang menit yen mlaku alon-alon.

Metu saka pager bank, dumadakan aku dicedhaki wong lanang sing pawakane gedhe dhuwur, praupane bagus resik. Wong kuwi ngeplak pundhakku sajak kanca lawas, “Mas, piye kabare?”

Aku durung sempat kelingan sapa wong kuwi, ujug-ujug bareng kelingan, aku wis linggih ing buk cagak gendera pinggir dalan. Thenger-thenger nyekeli kertu ATM. Piye aku ora bingung? Ngapa kok aku nyekel kertu ATM ndomblong ing pinggir dalan?

Kanthi dheg-dhegan aku enggal mlayu bali menyang bank, marani mesin ATM sing ngadeg ing ngarep lawang. Rada nggregeli aku nglebokake kertu lan mijet angka sandi.

Modyar tenan.

Dhuitku kari telung ewu limangatus rupiah.

***

“Kok isa? Kowe mlaku sambi ngalamun apa piye?” Slamet takon sajak ora ngandel.

“Lha ya mbuh to Met. Rumangsaku ya aku ora ngalamun. Malah atiku bungah, celenganku rada lumayan. Aku bisa nukokkake ali-ali mas kanggo bojoku sing arep ulang tahun minggu ngarep.”

“Ha kuwi kan yo isa uga dadi ngalamun. Kowe mbayangke bojomu ngguya-ngguyu nampa pawenehmu. Banjur kowe diambungi. Kowe mlaku karo ngguya-ngguyu dhewe mbayangke bojomu.”

“Dhapurmu ah Met! Bojoku ki ora usah diwenehi ali-ali mas wis saben dina ngambungi aku. Lha pa bojomu sing saben dina mung prengat-prengut mecuca mecucu?”

“Wahahaha…. rumangsamu!”

***

Prapto durung ndhodhog lawang, nanging Murni  wis mbukakke lawang amarga krungu swara sepeda montore mlebu pager. Raine katon sumringah, kaya biyasane yen Prapto mulih. Ngambung pipine Prapto, banjur tase Prapto dijaluk, diselehake ndhuwur meja cilik cedhak tipi.

Prapto lungguh kanthi lemes.

“Ngapa he Mas? Kok katon lemes? Gaweyane akeh banget?”

Prapto gedheg.

“Didukani Pak Kepala?”

Prapto gedheg maneh.

“Lha ana apa?” Murni lungguh ing sandhinge, nyekeli tangane bojone sing sajak ora kuwat lungguh jejeg.

“Sepurane ya Mur. Iki mau aku kena alangan…”

Murni meneng. Nyawang Prapto. Ngenteni terusane.

“Aku mau menyang bank niliki celengan. Rada lumayan, ana rongpuluh yuta. Rencanane sesuk aku arep ngajak kowe menyang toko mas golek ali-ali cilik-cilikan. Nanging…”

Prapto mbaleni sepisan meneh apa kang wis dicritakake menyang Slamet. Banjur ndhingkluk, ora wani nyawang raine Murni. Ora kuwat yen kudu weruh katresnane kuciwa.

“Oalah Mas…”

“Aku njaluk ngapura tenan, Mur. Aku ora ngira bisa kena kedaden kaya ngene. Kowe kelingan ta, aku nate kandha, crita-crita wong kena gendam kuwi mung ngarang.”

“Mas… kok sampeyan isa mikir kaya ngono. Wong kena alangan kok diarani ngarang…”

“Hayo kuwi Mur. Mbok menawa aku kena omonganku dhewe. Saiki malah aku sing ngrasakke…”

Murni ngelus-elus gegere Prapto. Ora kandha apa-apa.

“Aku njaluk ngapura tenan…”

“Iya-iya  Mas, ora usah bola-bali ngomong ngono. Piye meneh wong wis kedaden. Dudu salah sampeyan…”

“Jare Slamet kuwi salahku. Aku ngalamun merga seneng rumangsa nduwe dhuwit akeh, trus mbayangke nyeneng-nyenengke awakmu….”

Murni ngrangkul bojone kanthi tresna, “Maturnuwun wis sampeyan pikirke semono Mas. Ning yen dhuite saiki ilang, ya ora kena ditangisi. Suk maneh wae kudu luwih ngati-ati.”

“Kowe ora nesu Mur?”

“Ora….”

“Aku saiki ora duwe celengan babar blas. Mung telung ewu mangatus….”

“Lha kuwi duwe celengan telung ewu mangatus!” Murni ngguyu bungah sajak krungu celengane Prapto telung puluh lima yuta.

Prapto mung bisa mesem nyawang bojone sing tansah nrima, nadyan dheweke lagi kere sak kere-kerene.

Oalah Met, iki lho, bojoku tak waduli dhuitku amblas isih tetep ngambungi….

***

“Nyoh! Wis ya. Lunas.”

“Hehe… ya ya ya. Maturnuwun Prap. Seneng yen urusan bisnis lancar kaya ngene iki.”

“Lancar gundhulmu! Aku bangkrut!”

“Lha kuwi jenenge resiko! Wong bisnis ki bisa bathi bisa cotho!”

“Kowe bathi aku sing cotho!”

“Iki kan lagi sepisan… jane wingi kowe sempat bathi sepuluh yuta ta?”

“Sedhela, sakdurunge mbok glembuk supaya bathine pindhah menyang tanganmu.”

“Ora kena nyalahke kancane…, sing mutuske arep mandheg utawa terus ki kowe dhewe. Ya jajal kapan-kapan dibaleni meneh, sapa ngerti awake dhewe padha bathine,” Ranto kandha sinambi drijine ngetung dhuit sing ditibakke Prapto.

“Ora sudi! Wis cukup aku urusan karo kowe. Aja nganti mbaleni.”

Prapto mungkur tanpa pamit. Rasa salah kang ngantebi pundhake wis ora tanggung-tanggung. Dheweke kudu ngapusi Slamet, ngapusi Marni. Ethok-ethok kena gendam, kanggo nyaur utang kalah main karo Ranto bandar dhadhu bajingan.

 

Semarang, Mei 2016

Kuis: Pembantu Oh Pembantu.

image1

Pagi ini dengan mengucap bismillah aku berangkat menuju sebuah desa di lereng gunung Sumbing. Tujuanku adalah menemui mantan pembantuku. Ada tiga orang di sana. Ketiganya keluar karena akan menikah. Aku berharap bisa bertemu setidaknya salah satu. Aku butuh bantuan. Mencari pembantu.

Karena pembantu yang sekarang, yang sudah lebih dari delapan tahun bertahan, minta ijin berhenti bekerja. Bukan. Bukan karena akan menikah juga. Tapi karena dia pengin istirahat bekerja. Alasan yang mungkin terdengar absurd. Tapi bagiku tidak. Ya. Karena aku sudah terbiasa dengan keabsurdannya….

Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak mengambah desa itu. Banyak yang berubah. Jalan-jalan yang dulu makadam berubah jadi aspal atau rabat beton. Banyak rumah yang dulu gubug menjadi tembok. Tapi aku masih mengenali rumah Mbak Tin dan Mbak Nay. Pertama aku mengunjungi Mbak Tin. Anaknya sudah dua. Perempuan semua.

Setelah kangen-kangenan beberapa saat, aku menyampaikan maksud kedatanganku.

“Oh. Sebentar. Siapa ya Bu, dekat sini yang bisa diajak…”

Lalu dia teringat ada seorang. Aku diminta tinggal di situ, dia mau mendatangi seorang yang mungkin mau. Beberapa menit kemudian dia kembali.

“Ada Bu. Tapi anaknya hari ini sedang pergi bekerja ke kota. Kata ibunya, untuk kepastiannya nunggu dia pulang nanti sore.”

Itu. Agak sulit. Aku harus pulang sebelum sore, agar tidak kemalaman tiba di rumah. Jadi aku pesan saja nanti supaya ditanyakan, dan aku dikabari hasilnya lewat telepon.

Lalu kami berdua mengunjungi rumah Mbak Nay. Mbak Nay juga sudah punya dua anak. Ih, gemes.

“Adik saya bisa diajak Bu. Dia lagi cari kerja.”

Karena Mbak Tin sudah nembung ke tetangganya, Siti, dia minta adik Mbak Nay untuk menunggu keputusan Siti nanti sore. Kalau Siti tidak bisa, baru tawarkan kesempatan ke adiknya. Kami sepakat.

Lepas dhuhur aku pulang. Di perjalanan, Mbak Nay menelpon, “Ibu, kata suami saya, Siti itu kurang baik. Sebaiknya jangan dia.”

Hm. Aku menduga Mbak Nay berkata begitu karena ingin adiknya yang diajak. Demi menghargai Mbak Tin, aku bilang, “Kita lihat nanti ya Mbak. Nanti aku cek lagi ke Mbak Tin.”

Belum lagi sampai di rumah, Mbak Tin menelpon. Siti mau.

Antara ingin bilang alhamdulillah atau astaghfirullah. Jaman sekarang cari pembantu bukan hal gampang. Jika ada yang mau, dengan keadaan yang sudah terlebih dulu kuceritakan, itu anugerah. Tapi aku teringat kata-kata Mbak Nay.

“Oke Mbak Tin. Aku ingin memastikan Siti benar-benar mantap dan bukan coba-coba. Supaya aku tidak repot musti cari-cari lagi kalau dia nanti tidak kerasan.”

Mbak Siti menelpon aku sendiri. Meyakinkan bahwa dia sudah mantap. Dan siap dijemput kapan saja.

Aku mengabari Mbak Nay lewat SMS. Minta maaf karena tidak bisa menerima adiknya bekerja. Mendoakan adiknya segera dapat bekerja di tempat yang baik.

“Ya Bu. Ndak papa. Tapi nanti Ibu tolong hati-hati ya.”

Kenapa?

Suami Mbak Nay menelpon. Dia minta maaf, menjelaskan bahwa dia bukan bermaksud menyodor-nyodorkan adik istrinya dan menghalangi Siti. Tapi menurut anak-anak muda di sekitar rumah mereka, Siti itu. Nganu. Suka mengambil yang bukan miliknya.

Oh. Ini adalah kabar yang paling tidak ingin kamu dengar tentang seorang (calon) pembantu. Mendadak aku ingat meme tentang memercayakan dompet dan anak pada pembantu. Sialan.

Okay. Jadi harus ada yang dipikirkan lagi.

Malam sebelum Isya, Siti SMS lagi.

Bu, sy dijemput bsk pagi ya, biar sy tdk usah kerja d krtk lg.

Oh, maaf Mbak, kalau besok pagi ga bisa. Aku kerja, Bapak juga harus  keluar kota. Kamu kerja aja dulu seperti biasa. Nanti kalau mau jemput aku kabari.

Ya bu. Tp kl bs secepatnya ya.

Lha kenapa to Mbak, kok buru-buru?

***

Sampai bangun pagi hari ini Siti belum menjawab pertanyaanku. Kenapa dia sebegitu ingin secepatnya berangkat bekerja di rumahku? Sementara aku masih belum tahu harus bagaimana.

Menurutmu, aku harus bagaimana?

==============================

Tinggalkan komen pendapat Anda. Salah satu komen menarik berhak mendapatkan sebuah souvenir menarik dari Malaysia seperti ilustrasi di atas. Expired by 9 June 2016. Terima kasih!

Detak Detak

Buat Ultah MFF

Sketsa oleh Edmalia

Pukul 06.08.59.

Dunia berputar seperti biasa. Orang-orang bergerak seperti tidak akan terjadi apa-apa. Matahari masih terbit di pagi hari, setelah dibangunkan oleh kokok ayam jago milik Wak Adul. Bi Rum masih berjualan bubur sayur di teras rumahnya yang reyot. Si Kembar Utin Itin masih berangkat sekolah sambil bergandeng tangan dan berjalan setengah melompat riang.

Mereka tidak tahu detak-detak yang kuhitung mundur sejak enam jam delapan menit lima puluh sembilan detik yang lalu. Jam dinding doorprize jalan sehat 17-an dua tahun yang lalu masih bekerja dengan baik dan akurat, baru dua kali ganti baterai. Gambarnya yang pudar mendadak menggambar wajah entah lelaki entah perempuan, muram namun keras dan mengintimidasi. Setiap detak jarumnya mengingatkan aku untuk bersiap. Aku keluar rumah dan berjalan dengan langkah sewajar mungkin. Tersenyum sekilas pada ibu kosku,  Tante Lusi, yang berjemur sambil memangku Dudung, kucingnya. Aku tidak ingin terlihat mencurigakan.

Saatnya segera tiba. Kuperiksa lagi ranselku. Memastikan benda itu sudah berada di sana dengan aman. Aku sudah merancangnya berhari-hari dengan teliti. Kusimpan dengan hati-hati, jangan sampai salah kejadian karena keteledoran. Di angkutan umum aku memilih duduk tidak berdesakan dengan penumpang lain. Ranselku tidak boleh terhimpit sembarangan.

Pukul 07.23.42.

Matahari mulai tinggi. Udara mulai panas. Jalanan sibuk oleh lalu lalang kendaraan dan manusia berbagai bentuk dan ukuran. Aku melebur di keramaian meredam detak jantung yang semakin tidak karuan. Kulangkahkan kaki mendekat ke kafe yang kutuju. Perlahan membuka pintu. Masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di beberapa meja tersebar.

Aku mendekat ke bar. Sang barista berhenti menggoyang shakernya. Matanya menatap tajam padaku. Hampir saja aku berhenti karena kehilangan tenaga. Tapi aku berhasil menguasai diri dan tetap berjalan menujunya.

Kuletakkan ranselku di lantai. Kubuka perlahan dan kukeluarkan box yang sudah kusiapkan tadi pagi.

“Selama bertahun mengerjakan hal ini untuk banyak orang, aku tidak pernah mencurahkan tenaga pikiran sebanyak untuk yang satu ini. Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Aku tidak pernah menganggap salah, perempuan bicara duluan. Aku akan terima apa pun sikapmu setelah ini. Tapi aku tidak mau hanya terus menunggu dan menyiksa diri.”

Kusodorkan box itu. Dia membuka tanpa kata-kata. Sebuah kue ulang tahun berbentuk kamera DSLR sedetilnya, karena kutahu selain kopi dia juga penggila fotografi.

“Selamat ulang tahun, Bar. Aku mencintaimu. Bolehkah aku menjadi kekasihmu?”

====================

Postingan yang terlambat untuk ulang tahun ke-3 Monday Flash Fiction 

Banyu

Cerita cekak iki dipasang ing Jagad Jawa, Solopos, 29 Oktober 2015

==============================================


Dina iki aku bali rada gasik timbang biyasane. Jam lima wis tekan ngomah. Bu Citro, tangga ngarep omah nganti nyemantakke, “Kadingaren sampun kondur, Jeng?”

Sajake Bu Citro uga lagi bali saka lelungan, nembe nutup pager. “Kula bibar saking dalemipun Pak Juri. Nyuwun tulung badhe ndhudhuk sumur. Sampun asat saestu. Kala wau kula tumbas toya galonan kangge asah-asah. Sedinten dereng adus.” Bu Citro ngguyu sedhih.

“Katuran mundhut toya saking keran kula lho, Eyang. “

“Ah, sampun. Mangke sumur panjenengan malah kasatan kados gadhahan kula…”

Aku ora kepenak arep neruske rembugan. Aku pamit mlebu. Continue reading